Bila tentara-tentara Yahudi Israel senantiasa membunuh kaum Muslim Palestina dengan kejam, maka intelektual-intelektual Yahudi mengendalikan negeri-negeri Muslim dengan membentuk lembaga-lembaga survei.

Burhanuddin Muhtadi yang kini terkenal sebagai pengamat politik, ternyata semasa kuliah di Faculty of Asean Studies, Australian National University, pernah membuat tulisan yang memojokkan intelektual Islam. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia ini,  saat itu menulis di Graduate Journal of Asia-Pacific Studies, 2007, dengan judul The Conspiracy of Jews: The Quest for Anti-Semitism in Media Dakwah (Konspirasi Yahudi: Pencarian Anti Semitisme di Media Dakwah).

Direktur Indikator Politik Indonesia (IPI), Burhanudin Muhtadi yang menjadi salah satu lembaga survei pro Jokowi-JK melalui quick count-nya memenangkan pasangan nomor urut dua (Jokowi-JK).

Burhanudin Muhtadi meyakini kalau hitung cepatnya itu benar. Bahkan, dia menuding kalau hitungan real count KPU berbeda jauh dengan hasil hitungannya, maka KPU telah salah hitung.

Selain Indikator, masih ada lagi sejumlah lembaga survei yang memenangkan pasangan Jokowi-JK, yakni Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Populi Center, CSIS, Litbang Kompas, RRI, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dan Poltracking Institute.

Beberapa waktu lalu menjelang pemilu 9 April 2014 Burhanudin juga meremehkan fatwa MUI. Ketika pimpinan MUI mengeluarkan agar umat Islam memilih caleg Muslim, Dosen UIN dan Paramadina ini buru-buru menyatakan : “Saya yakin seruan FUI-MUI itu tidak akan punya efek besar.”

Sosok liberal kelahiran Rembang 1977 yang kini dinilai takabur ini tak diragukan keliberalannya karena dia adalah Editor di Jaringan Islam Liberal (JIL), Jakarta (sejak tahun 2001), masa awal dikenalnya JIL. Bahkan sejak kuliah di Australia, Burhanuddin sudah menunjukkan dirinya membela Yahudi, hingga Burhanudin Muhtadi cenderung mengikuti pendapat orientalis, bahwa tidak ada konspirasi Yahudi.

Inilah sorotannya.

***

Klaim kemenangan quick count pro Jokowi takabur

Sabtu, 12 Juli 2014 / 16:03 WIB

JURNAL3.COM | JAKARTA – Klaim kemenangan lembaga survei Pro Jokowi_JK yang menyatakan hasil quick count-nya adalah yang paling benar merupakan sikap takabur.

Mantan Juru bicara Presiden Abdurahman Wahid alias Gus Dur, Adhie Massardi mengatakan, klaim kemenangan yang dilansir itu dilakukan oleh lembaga survei yang sudah tidak memiliki intregritas.

“Itu pernyataan orang takabur, karena semua lembaga survei di negeri ini sudah kehilangan integritas dan kredibilitasnya,” tegas Adhie, Sabtu (12/07/2014).

Menurut Adhie, mereka mau bekerja atas bayaran si pemesan atau dibayar dengan konsesi politik.

“Semua itu dilakukan demi kepentingan klien mereka. Tak peduli hal itu merusak iklim demokrasi kita,” lanjutnya.

Untuk diketahui, Direktur Indikator Politik Indonesia (IPI), Burhanudin Muhtadi yang menjadi salah satu lembaga survei pro Jokowi-JK melalui quick count-nya memenangkan pasangan nomor urut dua.

Dia meyakini kalau hitung cepatnya itu benar. Bahkan, dia menuding kalau hitungan real count KPU berbeda jauh dengan hasil hitungannya, maka KPU telah salah hitung.

Selain Indikator, masih ada lagi sejumlah lembaga survei yang memenangkan pasangan Jokowi-JK, yakni Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Populi Center, CSIS, Litbang Kompas, RRI, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dan Poltracking Institute.@salsa/jurnal3.com

***

Yahudi dan Lembaga Survei

Sabtu, 12/07/2014 13:33:35

Nuim Hidayat
Redaktur Tabloid Suara Islam


Bila tentara-tentara Yahudi Israel senantiasa membunuh kaum Muslim Palestina dengan kejam, maka intelektual-intelektual Yahudi mengendalikan negeri-negeri Muslim dengan membentuk lembaga-lembaga survei.

Entah Burhanudin sadar atau tidak, makalah ilmiahnya tentang Majalah Media Dakwah menguntungkan Yahudi. Dalam artikel itu Burhanudin Muhtadi yang saat itu menjadi mahasiswa Australian National University meniadakan teori konspirasi Yahudi. Burhan memuji intelektual politik AS (Yahudi) William Liddle dan tokoh-tokoh liberal di Indonesia. Ia pun mengritisi dengan sinis pendapat pakar politik Islam, Prof Amien Rais.  Artikelnya yang dimuat di Graduate Journal of Asia-Pacific Studies, 2007, itu diberi judul : The Conspiracy of Jews: The Quest for Anti-Semitism in Media Dakwah. (Lebih lanjut baca : http://www.suara-islam.com/read/index/10586/Burhanudin-Muhtadi-Membela-Yahudi–Memojokkan-Islam)

Selain aktif menulis makalah atau artikel yang banyak menguntungkan kepentingan Barat, Burhan kini juga memimpin lembaga survei : Indikator Politik Indonesia. Lembaganya itu kini sering aktif bekerjasama dengan stasiun MetroTV untuk mempropagandakan pemikiran politiknya atau angka-angka hasil survei lembaganya.

Bila Burhan ‘hanya’ memuji Liddle dari Australia, maka Saiful Mujani, Denny Ja dan Eep Saefullah Fatah adalah murid langsung kesayangan Liddle di Ohio State University. Mujani bukan hanya menjadi murid, sampai sekarang ia bersahabat akrab dengan gurunya itu dan sering menulis buku berdua. Mujani yang dikenal juga sebagai pemikir liberal di Indonesia –mereka bertiga bergabung dengan Jaringan Islam Liberal- membuat LSI di Indonesia. Saat ini ia membuat SMRC, Saiful Mujani Research and Consulting. SMRC selain membuat survei-survei untuk pemilihan kepala daerah, wakil rakyat dan calon presiden, mereka juga memberikan advokasi atau paket-paket strategi pemenangan calon.

Denny JA tidak jauh beda. Pada mulanya Denny dengan Mujani bergabung membuat LSI, Lembaga Survei Indonesia. Akhirnya mereka berdua pisah dan mendirikan lembaga masing-masing. Denny mengklaim telah berhasil dengan lembaganya, menjadikan puluhan calon kepala daerah sukses meraih jabatannya. Ia pun beriklan di berbagai media massa bahwa hasil surveinya selalu paling cepat dan paling akurat. Denny dan Mujani diakui memang yang pertama kali memperkenalkan metode quick count untuk pemilihan umum di Indonesia.

Selain memperkenalkan lembaga survei, Denny juga aktif menggalang pemikiran-pemikiran liberal di Indonesia. Ia pernah menulis kumpulan puisi ‘Atas Nama Cinta’ yang isinya penuh dengan pemikiran-pemikiran liberal. Diantaranya : propaganda pernikahan antar agama, propaganda lesbi/homo, propaganda pluralism dan lain-lain.

Lewat bukunya yang berjudul Atas Nama Cinta, penerbit Rene Book, yang terdiri dari 216 halaman, Denny mencoba mengampanyekan pemikirannya. Perlu diketahui, penerbit Rene Book ini juga yang menerbitkan buku Irshad Mandji: Allah, Liberty and Love. Dalam karyanya ini, Denny menuliskan puisi-puisi yang intinya mengajak kepada kebebasan, pembelaan terhadap non Islam dan penyamaan agama. Puisi Denny ini memang diluncurkan besar-besaran. Selain dipromosikan besar-besaran di Gramedia beberapa bulan lalu, buku ini juga dilombakan resensinya di Majalah Tempo, dilombakan videonya, dibedah di beberapa tempat dan lain-lain. Banyak tokoh memuji buku Denny ini diantaranya Komaruddin Hidayat, Ignas Kleden, Bondan Winarno, M Sobary dan lain-lain. Beberapa tokoh menyebutnya genre baru puisi –tapi sebenarnya model puisi ini telah dimulai oleh Taufiq Ismail.

Gaya puisinya memang cukup bagus, tapi isinya melenakan dan ‘membodohkan’. Karena ia menggabungkan antara fakta dan fiksi. Detail kejadian atau tokoh itu fiksi, tapi peristiwanya menurutnya fakta. Bagi mereka yang awam –‘khususnya masalah Islam dan sosial politik’- bisa hanyut oleh puisi Denny ini.

Dalam puisinya tentang Cinta Terlarang Batman dan Robin, misalnya, Denny pintar memainkan kata-kata untuk membela kaum Gay. Di puisi itu ia mengambarkan kisah cinta antara Amir dan Bambang. Amir seorang yang sebenarnya rajin ibadah digambarkan punya kelainan seksual genetis menyenangi pria. Meski mencoba menikahi dua wanita –sesuai pesan ibunya agar segera menikah—tapi akhirnya kandas. Ia tetap mencintai Bambang seorang gay yang akhirnya menjadi aktivis gay internasional. Bila Hanung Bramantyo kemudian menfilmkan naskah puisi Denny ini –dengan latar belakang pesantren dan kabarnya film ini akan dirilis Oktober 2012 ini— maka sebenarnya Hanung dan Denny bisa dikatakan menggambarkan kejelekan Muslim dan membela opini bahwa gay adalah masalah genetika. Padahal para ahli banyak menyatakan bahwa gay atau homoseksual banyak diakibatkan oleh lingkungan. Karena kalau itu masalah gen tidak bisa disembuhkan, maka pertanyananya untuk apa adanya pendidikan? Bukankah banyak gen yang berotak bodoh di dunia ini?

Begitu juga ketika Denny JA bercerita tentang kisah cinta Romi dan Yuli. Puisi ini sudah dibuat filmnya oleh Hanung. Di puisi ini Hanung berkisah tentang Romi dan Yuli. Ayahnya Romi berasal dari Cikeusik yang merupakan komunitas Ahmadiyah. Sedangkan ayah Yuli dari kalangan Muslim yang anti-Ahmadiyah. Tapi Romi dan Yuli memutuskan untuk tetap meneruskan kisah cinta mereka. Bedah buku dan pemutaran video puisi esai Denny JA ini menjadi puncak acara lomba sastra antar SLTP dan SLTA se- Provinsi Banten pada awal Juni lalu.  (lihat http://puisi-esai.com/2012/06/04/pelajar-banten-bedah-buku-denny-ja-tanamkan-toleransi-beragama-lewat-sastra/)

Sedangkan dalam film yang berjudul Batas yang merupakan pemenang pertama (berhadiah 20 juta) lomba Review untuk buku puisi Denny, jelas-jelas film itu pluralisme atau mempropagandakan perkawinan antar agama. Di film yang berdurasi total 7 menit 1 detik itu, pembuat film Ahmad Syafari mengisahkan percintaan antara Dewi yang Muslimah dan Albert yang Kristen. Mereka cukup lama berpacaran, tapi karena bapaknya Dewi melarang menikah dengan lain agama (Albert) maka akhirnya Dewi menikah dengan laki-laki Muslim. Cuma digambarkan di situ meski keluarganya cukup kaya, Dewi tidak bahagia, ia sering melamun ke Albert dan mengingat masa lalunya dengannya. Apalagi di rumahnya Dewi harus mencopot sepatu suaminya (tiap) sehabis pulang kantor. Sementara Albert hidup sederhana dan tetap di gereja yang sederhana (lihat www.puisi-esai.com).

Film pendek itu memang secara halus menghina Islam. Ketika bapak Dewi dengan pakaian putih dan kopiah putih mengatakan ‘dengan arogan’: “Aku sangat malu menjadi orang tua yang kena murka Allah, aku tak akan tahan menjadi insan yang dilaknat hanya membiarkan anaknya menempuh jalan yang sesat.”  Selain itu penggambaran wanita Muslimah yang mencopot sepatu suaminya ketika pulang kantor, juga berlebihan. Karena peristiwa ini jarang terjadi di keluarga-keluarga Muslim.

000

Kini Denny membuat gerakan ‘Indonesia Tanpa Diskriminasi’ untuk mengegolkan agenda politiknya. Ia mengeluarkan uang milyaran baik untuk pembuatan buku, film maupun iklan-iklan di media massa. Inti gerakannya ini adalah Indonesia tidak boleh membeda-bedakan warganya berdasarkan agama, suku dan lain-lain. Seolah-olah idenya ini menarik dan benar, padahal dibalik itu ia sedang mendukung hegemoni kelompok etnis non pribumi dan asing terhadap sumberdaya ekonomi Indonesia. Dan pemikirannya ini berbahaya, karena ia meniadakan konsep mayoritas dan minoritas agama di Indonesia. Padahal masalah agama di Indonesia, adalah identitas politik yang penting dalam pengambilan kebijakan di Indonesia.

Denny memang punya pengaruh besar dalam politik di Indonesia. Di dunia akademik, Denny JA mendirikan Lembaga Survei Indonesia (LSI, 2003) Lingkaran Survei Indonesia (LSI, 2005), Asosiasi Riset Opini Publik (AROPI, 2007), serta Asosiasi Konsultan Politik Indonesia (AKOPI, 2009).  Melalui empat organisasi ini,  Denny JA dianggap  founding father tradisi baru survei opini publik dan konsultan politik Indonesia. Di dunia politik (2004-2012), Denny JA diberi label king maker. Ini berkat perannya membantu kemenangan presiden dua kali (2004, 2009), 23 gubernur dari 33 propinsi seluruh Indonesia dan 51 bupati/walikota.

Sedangkan Eep Saefulloh Fatah kini moncer dengan lembaga surveinya Pollmark Indonesia. Ia menjadi konsultan politik Jokowi sejak Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta (2012). Eep juga masuk dalam daftar aktivis Jaringan Islam Liberal yang dimotori oleh Ulil Abshar Abdalla.

Sebenarnya ada satu lagi murid kesayangan Liddle di Indonesia. Yaitu Rizal Mallarangeng. Rizal yang pernah aktif membantu Megawati ketika presiden, entah mengapa, akhirnya menyeberang ke Golkar. Ia kini sangat dekat dengan Aburizal Bakrie. Kemana-mana ia sering mendampingi bos nomor satu Golkar itu. Baik saat olahraga (tenis) maupun lobi-lobi politik. Bahkan Rizal juga ‘menodong’ Bakrie untuk membiayai program-programnya di Freedom Institute.

Rizal yang latarbelakang akademisnya ekonomi politik ini, sering menjadi ‘host’ dalam mengegolkan kepentingan-kepentingan bisnis Amerika disini. Diantaranya ia menjadi wakil perusahaan minyak AS, Exxon Mobil, untuk memenangkan tender proyek minyak di Cepu. Prestasinya dalam liberalisasi politik adalah membentuk Freedom Institute di Jalan Proklamasi Jakarta. Ketika membentuk perpustakaan Freedom Institute ia bercerita dengan bangga mendapat bantuan dari Liddle satu milyar untuk membeli buku-buku untuk perpustakaannya.

Walhasil Barat, khususnya AS dan Australia, lewat intelektual-intelektual yang dididiknya kini berhasil menancapkan kuku kepentingannya yang dalam di Indonesia. Baik dalam kepentingan bisnis maupun politik. Lewat lembaga-lembaga survey di Indonesia, mereka senantiasa menerima informasi dan data yang actual tentang perkembangan politik Indonesia terkini dan ke depan. Dan kita seringkali tergagap-gagap melihat ‘zig-zag’ gerakan politik mereka. Wallahu azizun hakim.*

http://www.suara-islam.com/read/index/11395/Yahudi-dan-Lembaga-Survei

***

Burhanudin Muhtadi Membela Yahudi, Memojokkan Islam

Nuim Hidayat
Redaktur Tabloid Suara Islam

Amien Rais: “Saya tidak habis berpikir, bagaimana William Liddle, yang Yahudi “tengik” itu, dapat diberi halaman yang begitu panjang di Ulumul Qur’an”

Burhanuddin Muhtadi yang kini terkenal sebagai pengamat politik, ternyata semasa kuliah di Faculty of Asean Studies, Australian National University, pernah membuat tulisan yang memojokkan intelektual Islam. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia ini,  saat itu menulis di Graduate Journal of Asia-Pacific Studies, 2007, dengan judul The Conspiracy of Jews: The Quest for Anti-Semitism in Media Dakwah (Konspirasi Yahudi: Pencarian Anti Semitisme di Media Dakwah).  Makalah berbahasa Inggris sepanjang 24 halaman itu intinya  Burhanuddin membela orientalis Yahudi dan memojokkan intelektual Islam. Majalah Media Dakwah yang pernah diterbitkan DDII, Amien Rais, Daud Rasyid dan awak redaksi Media Dakwah berada pada pihak yang salah dan William Liddle, Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid dan Harun Nasution pada pihak yang benar. Kesimpulannya, Burhanudin meniadakan adanya konspirasi Yahudi di dunia internasional.

Artikel itu dimulai dengan sinisme kepada Harian Republika yang memberitakan tentang kejadian WTC 2001 silam. Ia juga sinis terhadap Media Dakwah, Suara Hidayatullah dan Sabili yang menyebut adanya konspirasi Yahudi pada hancurnya dua gedung WTC, 11 September 2011.

Peneliti politik andalan UIN Jakarta dan Paramadina ini juga mengritik Mohammad Natsir karena sinis terhadap Yahudi: “In addition, the founder of the DDII, Mohammed Natsir, was well known as a long standing anti- Semite. He characterized the Jews as, ‘worms on the leaves of banana trees.’ (Selain itu, pendiri DDII, Mohammad Natsir dikenal pendiriannya sebagai anti semit. Natsir menamakan Yahudi sebagai ‘cacing pada daun pohon pisang’).  Burhanuddin mendukung penuh William Liddle, Nurcholish, Abdurrahman Wahid dan Jaringan Islam Liberal.  Ia setuju dengan tulisan pakar politik AS William Liddle dalam tulisannya ‘Skripturalisme Media Dakwah: Satu Bentuk Pemikiran dan Aksi Politik Islam Masa Orde Baru’.

Burhanuddin membuat sub judul : Media Dakwah, Paranoia, and Conspiracy Theory. Dianggapnya Media Dakwah seringkali tulisan-tulisannya ‘reduksionis’ dan ‘menyederhanakan masalah.’  Ia juga mendukung pendapat Liddle bahwa Yahudi juga mendapat keselamatan dalam Alquran. Sebagaimana dinyatakan pembela pluralisme, seperti Nurcholish Madjid, Jalaluddin Rahmat dll. Mereka menafikan puluhan ayat Alquran yang menyatakan bahwa kaum Yahudi adalah sering menolak perintah Allah, pembunuh Nabi dan terutama menolak kenabian Rasulullah Muhammad saw.

Dalam kesimpulannya akhirnya Burhanudin menyalahkan Media Dakwah, sebagai pendorong kaum Muslim Indonesia bersikap anti Semit dan paranoid terhadap Yahudi. Kata Burhan: “Akhirnya, Media Dakwah telah memberikan kontribusi signifikan terhadap dorongan anti-Semit pada sikap kaum Muslim Indonesia, dengan cara majalah yang disponsori DDII ini memicu pola pikir paranoid terhadap Yahudi. Segala sesuatu yang terjadi yang negatif efek terhadap Islam dikaitkan dengan orang-orang Yahudi. Mengenai persaingan ideologis dalam gerakan Islam Budaya, Media Dakwah telah berupaya untuk mendelegitimasi  lawan, terutama Nurcholish, dengan klaim yang kuat bahwa dia adalah bagian dari konspirasi internasional Yahudi. Menggunakan kerangka konseptual Bale dari teori konspirasi, jelas bahwa Media Dakwah terperangkap dalam sebuah teori konspirasi. Ini tidak hanya produk yang fantastis gaya paranoid, tetapi juga alat untuk memobilisasi dukungan terhadap ‘musuh’.”

Siapa William Liddle?

R. William Liddle adalah ahli politik dari Amerika. Ia lahir pada 18 Januari 1938. Indonesianis (orientalis) ini dikenal sebagai pengamat politik Indonesia dan aktif menulis tentang permasalahan politik di Indonesia. Profesor dari Ohio State University ini mempunyai murid-murid yang ‘hebat’ yang berperan besar dalam perpolitikan di Indonesia. Diantaranya: Rizal Mallarangeng yang sekarang salah satu Ketua DPP Golkar, Saeful Mujani dan Denny JA perintis ‘Quick Count’ pemilu di tanah air dan Dodi Ambardi pemilik sebuah lembaga riset.  Liddle telah melakukan pengamatan politik di Indonesia sejak tahun 1960-an hingga saat ini.

Ketika terjadi polemik sekulerisme Nurcholish di TIM 90-an, Liddle mendukung aktif Nurcholish. Ia secara terbuka menyatakan setuju konsep Nurcholish tentang ‘pluralisme agama’. Ia setuju adanya istilah Islam (I besar yang menunjuk pada institusi agama) dan islam (i kecil yang menunjuk pada makna kepasrahan diri. Ia bersepakat dengan tokoh paramadina itu, adanya istilah ‘yahudi islam’. Dukungannya yang kuat terhadap ide-ide Nurcholish tahun 90-an itu, yang menyebabkan pakar politik Amien Rais dengan spontan menyatakan Liddle sebagai ‘Yahudi Tengik’.

Dukungannya terhadap tokoh sekulerisme Indonesia ini juga nampak ketika Nurcholish sakit di Singapura. Jauh-jauh dari AS ia menjenguk dan menyalami Nurcholish yang dirawat di negeri Singa saat itu. Liddle juga bersikap sinis terhadap istri Eep Saefullah Fatah, Sandrina Malakiano, ketika mengubah penampilannya menjadi jilbab. Eep adalah bekas murid Liddle di Ohio State University.

Awal tahun 2013 ini ia meluncurkan buku terbarunya “Memperbaiki Mutu Demokrasi di Indonesia: Sebuah Perdebatan“ yang diluncurkan di Sekolah Pasca Sarjana Universitas Paramadina, Jakarta, 7 Februari 2013 lalu.

Ia pun tidak lupa akhir-akhir ini memberi komentarnya  tentang ‘gonjang-ganjing’ PKS. Dalam wawancaranya dengan Radio Jerman, Deutsche Welle. Ia menyatakan terus terang tidak khawatir terhadap perkembangan PKS atau HTI, ia lebih khawatir adanya kecenderungan arah Golkar yang ke kanan (lebih Islami).

Ketika radio itu bertanya : Apakah anda melihat partai tengah seperti Golkar kini cenderung semakin kanan untuk menarik dukungan kelompok yang dulu memilih partai Islam? Bill Liddle menjawab:  “Ya saya khawatir begitu. Ada kecenderungan partai tengah seperti Golkar sekarang semakin ke kanan. Saya khawatir Golkar menjadi ke-Islam-Islam-an (secara aspirasi politik-red). Itu lebih berbahaya, karena menyangkut perlindungan terhadap warga negara. Saya melihat di masa depan, kemungkinan kelompok minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah akan semakin terancam. Itu mengkhawatirkan karena mereka tidak mendapat perlindungan dari polisi serta sistem politik. Saya lebih khawatir soal itu ketimbang kemungkinan radikaliasi kelompok Islamis seperti PKS atau HTI (Hizbut Tahrir Indonesia-red).”

Ia juga mengingatkan:  “Anda harus ingat sejarah, dulu Golkar lebih populer di daerah daripada di Jawa, dan jangan lupa suara santri lebih banyak di luar Jawa. Lalu ketika terjadi perpecahan di partai Golkar tahun 1999, kelompok non santri seperti Edi Sudrajat hengkang, angkat kaki dari Golkar. Akibatnya, yang tinggal adalah orang seperti Akbar Tandjung yang punya jaringan santri (Akbar Tandjung dikenal sebagai tokoh HMI-red). Jadi Golkar sejak 1999 sudah menjadi lebih Islami ketimbang sebelumnya. Sudah lama saya menyaksikan partai besar seperti Golkar dan juga Demokrat, memposisikan diri untuk menampung aspirasi umat Islam. Bahkan ada pemimpin Golkar yang bilang kepada saya: kami ingin dianggap ramah terhadap Islam. Misalnya dalam Undang-Undang Anti Pornografi, Golkar mendukung undang-undang itu, dengan tujuan agar suara umat Islam masuk ke mereka.

Entah mengapa, Burhanudin Muhtadi cenderung mengikuti pendapat orientalis, bahwa tidak ada konspirasi Yahudi. Ulah William Liddle mendukung penuh sekulerisme Nurcholish dan Leonard Binder (pakar politik Amerika) meluncurkan istilah ‘pertama kali’ Liberal Islam dengan  penerbitan bukunya “Islamic Liberalism”, mungkin belum cukup baginya bukti adanya ‘konspirasi itu’. Bila pendirian negara Yahudi Israel 1948 dan pemboikotan besar-besaran kemenangan Hamas dalam Pemilu 2006 di Palestina,  pun ditolaknya  sebagai konspirasi Yahudi, jangan-jangan ia sendiri nun jauh di sana berkonspirasi dengan orientalis  untuk meniadakan teori ‘konspirasi Yahudi’.

Bisa saja Media Dakwah dalam satu dua kalimat salah mengungkapkan makna. Tapi secara umum Media Dakwah benar. Konspirasi Yahudi benar adanya, baik terlihat maupun tidak dan apalagi mayoritas kaum Yahudi adalah pendukung negara Yahudi Israel. Hanya ‘satu dua’  atau minoritas yang menentang pendirian negara ini.  Maka benar firman Allah SWT : “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang perbuatan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS Al Maidah 78-79).

Beberapa waktu lalu menjelang pemilu 9 April 2014 Burhanudin juga meremehkan fatwa MUI. Ketika pimpinan MUI mengeluarkan agar umat Islam memilih caleg Muslim, Dosen UIN dan Paramadina ini buru-buru menyatakan : “Saya yakin seruan FUI-MUI itu tidak akan punya efek besar.” Wallahu a’lam bisshawab.

Si online, Minggu, 13/04/2014 21:48:06

(nahimunkar.com)

(Dibaca 8.459 kali, 1 untuk hari ini)