Semoga ada yang menantangnya untuk mubahalah

Said Aqil Siradj menjawab tentang ayat larangan memilih pemimpin kafir.

Said mengatakan, ada ayat,

{ لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ} [آل عمران: 28]

  1. Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. [Al ‘Imran28]

Kata Said Aqil Siradj: “Itu konteksnya kalau ada pemimpin yang memenuhi syarat. Jadi kalau ada dua calon, muslim – non muslim, sama-sama memenuhi syarat. Sama2 mempunyai kapasitas, kapabelitas, mempunyai akhlaq integritas yang baik, sama-sama orangnya mampu, adil, bersih; maka kita harus mendahulukan yang muslim, harus itu. Jangan sampai kita mengangkat yang non muslim. Tapi kalau kira2 yang muslimnya semuanya blepotan, hanya ada yang adil yang kira2 pantas jadi pemimpin kapasitasnya dan integritasnya maksimal baik (itu) non muslim, yang muslimnya kurang memenuhi syarat, tidak memenuhi syarat, maka pilihlah yang adil ini. Di dunia. Ini masalah dunia, ini saya katakan. Walau di akherat, urusan akherat yang muslim masuk surga dapat pahala lah dari imannya, yang (non) muslim akan dapat sanksilah dari kekufurannya.”

Demikian petikan dari sebagian klarifikasi SAS yang beredar di video, mengenai memilih pemimpin.

Perlu kita pertanyakan. Said Aqil membatasi ayat itu, landasannya dari mana? Dari urusan dunia, katanya? Bukankah ketika larangan itu ditegaskan, memang mengenai kepemimpinan di dunia? Kenapa kemudian SAS batasi bahwa ini urusan dunia, lalu ayatnya didebat?

Apakah Al-Qur’an melarangnya itu mengenai pengangkatan pemimpin di akherat?

Said mengakui adanya sanksi untuk non muslim di akherat atas kekufurannya. Lhah, kenapa SAS tidak mengemukakan bahwa berkilah-kilah ini tadi adalah akan mendapatkan sanksi pula di akherat atas sikap mendebatnya terhadap ayat?

Kalau bantahan SAS terhadap ayat itu diikuti, lantas apa gunanya ada ayat larangan itu? Karena walau yang kafir itu sudah terindikasi aneka macam keburukan pun oleh media-media busuk dan para pengusungnya tetap disebut lebih hebat dibanding calon yang muslim. Sedang ayat yang melarang pilih orang kafir sebagai pemimpin tersebut sudah bisa ditekuk oleh aneka sanjungan itu tadi, atas dalih dari SAS. Bukankah itu merupakan aba-aba untuk dua kejahatan besar?

Satu, membunuh karakter Muslim.

Dua, membunuh ayat Allah.

Betapa jahatnya!

Sebagai bandingan betapa beraninya SAS menlikung ayat, coba kita lihat ayat larangan orang mukmin menikahi wanita musyrikat.

{وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ} [البقرة: 221]

  1. Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. [Al Baqarah221]

Apakah boleh dikilahi bahwa itu kalau wanita musyrik itu cantiknya sama dengan yang muslimah, hartanya sama, secara keturunan terhormatnya sama dan seterusnya, baru tidak boleh menikahi wanita-wanita musyrik. Tetapi kalau yang muslimahnya tidak secantik yang musyrik, tidak sekaya wanita musyrik, blepotan semua, … ya nikahi lah wanita yang musyrik itu. Ini kan urusan dunia. Adapun di akherat, nanti lelaki muslim yang menikahi itu tadi masuk surga karena keimanannya, sedang yang musyrikat itu tadi dapat sanksi karena kemusyrikannya. Boleh kah begitu?

Kalau jawabannya boleh, lantas apa gunanya ada larangan?

Jelas-jelas SAS sama dengan membantah ayat. Itupun demi membela jago kafir. Padahal, sudah ada penegasan dari Allah Ta’ala:

{وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الْكَافِرُونَ} [العنكبوت: 47]

Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang kafir [Al ‘Ankabut47]

{وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ} [العنكبوت: 49]

Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim [Al ‘Ankabut49]

{ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ} [لقمان: 32]

Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar [Luqman32]

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦ [سورة الأحزاب,٣٦]

  1. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata [Al Ahzab36]

Terhadap keberanian SAS menlikung ayat tentang larangan memilih orang kafir sebagai pemimpin itu semoga ada yang berani menantangnya untuk mubahalah.

Syukur-syukur bisa terjadi seperti Syaikh Amritsari menantang mubahalah Mirza Ghulam Ahmad nabi palsu Ahmadiyah. Kemudian terjadilah mubahalah. Tidak berapa lama setelah mubahalah itu nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad kemudian terserang sakit kolera yang sangat hebat, hingga berhari-hari berak dan kencing di tempat tidurnya. Maka ketika meninggal, orang menyebutnya meninggal di wc. Karena tempat tidurnya ya wc nya itu. https://www.nahimunkar.org/mirza-ghulam-ahmad-matinya-di-tempat-tidur-dipenuhi-kotorannya-sendiri/

(nahimunkar.com)