Foto: Aksi protes pecah di Ibukota Iran, Teheran


Bekasi- Iran yang selama ini mengenalkan dirinya sebagai republik Islam tengah mengalami gejolak dalam negeri. Aksi protes massa pecah di berbagai wilayah, menuntut perbaikan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Pengamat Syiah, Ustadz Farid Okbah melihat bahwa polemik itu terjadi karena sistem pemerintahan negara Iran yang menganut ‘wilayatul faqih’. Sedangkan, republik Islam sendiri yang dikenalkan oleh Iran, menurutnya tak dipraktekan sama sekali.

“Republik Iran hanya cover saja supaya meyakinkan dunia. Sementara yang dilakukan tidak seperti itu, yang dilakukan itu adalah wilayatul faqih,” ungkapnya saat dihubungi melalui sambungan suara oleh Kiblat.net, Kamis (04/01/2018).

Dai yang merupakan anggota Persatuan Ulama Internasional itu menjelaskan, wilayatul faqih secara prakteknya sama seperti otoriterisme. Di mana, kekuasaan dipegang oleh satu orang saja yaitu Ali Khamenei.

Dia menambahkan bahwa dalam Islam, tak mengenal sistem serupa itu. Menurutnya, Islam telah mengenalkan sistem syuro dalam pemerintahan yang diisi oleh sejumlah orang. Bukan seperti wilayatul faqih.

“Jadi kekuasaan dipegang satu orang, dan itu tidak merepresentasikan Islam. Karena dalam Islam ada sistem syuro. Sedangkan di sana wilayatul faqih. (Sistem) syuro itu tidak berlaku di mereka, yang ada itu adalah ketergantungan terhadap imam besar mereka,” ungkapnya.

Selama ini juga, lanjut Farid, bahwa Iran terkenal dengan negaranya yang makmur. Namun dari pengamatannya, Farid Okbah melihat bahwa hal demikian hanya pecitraan di luar negeri saja.

“Korupsinya besar-besaran, marahlah rakyatnya mereka menuntut kekayaan negara. Sehingga ada seorang perempuan dengan bahasa Iran protes dan menyebut ada wanita Iran yang menjual diri dengan harga sampai 200 dolar, itu kan menjual harga diri. Namun selama ini fakta itu tidak pernah diungkap di media-media umum,” ungkapnya.

“Ketika terjadi demo seperti ini, barulah terbongkar bobrok-bobroknya. Berbohong itu memang ajaran syiah, ini kan taqiyah dan itu menyampaikan berbeda dengan yang sebenarnya. ini sama saja dengan kebohongan yang ditutup-tutupi dan sekarang sudah terbuka semuanya,” lanjutnya.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Syafi’i Iskandar / kiblat.net

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.277 kali, 1 untuk hari ini)