Ahok dan Bos Podomoro yang ditangkap KPK


Eramuslim.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) pada Kamis (31/3), yang melibatkan pihak legislatif dan pengmbang properti. KPK akhirnya menerapkan Ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta Mohamad Sanusi sebagai tersangka, diikuti Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land Ariesman Widjaja dan Personal Assistant PT Agung Podomoro Land Trinanda Prihantoro.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menilai, korupsi yang dilakukan Ariesman Widjaja dan Mohamad Sanusi sebagai bentuk korupsi raksasa. Penangkapan dilakukan terkait suap untuk memuluskan rancangan peraturan daerah mengenai reklamasi di Teluk Jakarta dari pengembang. Saat ini, DPRD DKI membahas Raperda Rencana Zonasi dan Wilayah Pesisir Pantai Utara (RZWP3K) serta revisi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Rencana Tata Ruang Pantura Jakarta.

“KPK sangat prihatin dan kami bisa mengatakan ini bisa dikategorikan grand corruption karena dari awal kami berlima ingin menyasar korupsi-korupsi besar yang melibatkan swasta dan yang paling penting lagi ini contoh paripurna di mana korporasi mempengaruhi kebijakan publik,” katanya di gedung KPK Jakarta, Jumat (1/4).

Ariesman selama ini dikenal sangat dekat dengan Ahok. Bahkan, Ahok mengaku mendapat banyak bantuan dana CSR dari Ariesman, sehingga ia sampai tidak keberatan disebut sebagai gubernur Podomoro. Pendiri LSI Denny JA ikut menyoroti kasus yang menimpa Podomoro itu kemungkinan bisa menyeret dan membuat nama baik Ahok tercoreng dalam pertarungan di Pilkada DKI 2017. Berikut analisis Denny JA melalui akun Twitter, ‏@DennyJA_WORLD:

Dengan dijadikannya presdir Podomoro Land sebagai tersangka oleh KPK dalam hubungannya dengan korupsi reklamasi pantai, Akankah itu menjadi titik balik citra Ahok dalam Pilkada DKI?

Akankah kasus itu bergulir sedemikian rupa, memakan waktu lama, menjadi pusat berita, dan berefek memburuknya opini publik atas Ahok, dari hero ke zero?

Akankah kasus Podomoro berubah menjadi skandal, Podomoro-Gate bagi Ahok? Atau justu berujung membuat nama Ahok lebih harum?

Jawabnya, ini sangat tergantung dari kemahiran Ahok dan team-nya dalam mengelola isu itu.

Ibarat pertandingan bola, kasus Podomoro itu bola lambung di mulut gawang. Jelas striker kesebelasan lain bersemangat menggoalkannya.

Kini tergantung kiper Ahok apakah ia bisa menangkap bola, lalu dengan strategi Catenaccio melakukan pertahanan maha ketat, bahkan balik menyerang dan menggoalkan pertahanan lawan.

Jika secara hukum bisa dibuktikan ada kesalahan Ahok dalam proyek besar reklamasi pantai itu, dan kesalahan ini diputuskan oleh lembaga hukum berwibawa seperti KPK, jelas ini akan menjadi the beginning of the ending dari Ahok. Jika ini yang terjadi, Ahok segera masuk museum.

Namun jika tak ada bukti hukum dari institusi legal yang menyeretnya, Ahok tetap bisa survive, bahkan bertambah perkasa, sejauh Ahok dan teamnya mampu meyakinkan publik atas beberapa indikasi.

Di luar kasus hukum, pertarungan opini publik atas Ahok atas kasus Podomoro sudah bergulir. Ke depan, akan semakin bergulir dan menjadi head line opini publik, terutama di social media.

Secara cepat saya melakukan searching di Om Google. Ini ada enam jenis berita soal Ahok dalam hubungannya dengan reklamasi pantai yang beredar di social media yang punya efek opini publik.

Tentu banyak lagi berita lain. Namun saya sarikan dalam enam pokok saja.

1) #tangkapAhokgubernurPodomoro kini menjadi trending topic.

Trending topic ini menjadi pertanda awal bahwa isu itu cukup diminati publik, dan sudah ada SMS (Social Media Soldiers) yang menggarapnya.

2) Berita Podomoro sebagai perusahaan yang mendapat banyak keuntungan dari reklamasi pantai. Harga sahamnya naik ketika izin reklamasi pantai dikeluarkan.

Ini menjadi amunisi bahwa sudah ada pihak yang bertambah kaya akibat keluarnya ijin reklamasi itu.

3) kopi surat Ahok selaku gubernur di bulan desember 2014 yang ikut mengeluarkan (memperpanjang) izin bagi reklamasi pantai itu.

Ahok berdalih bahwa izin itu dikeluarkan gubernur sebelumnya, Foke. Namun jelas pula di bulan Desember 2014, Ahok sendiri selaku gubernur yang memperpanjang izin itu.

4) Berita gubernur Ahok digugat Walhi dan kesatuan nelayan tradisional karena dianggap melanggar aturan dan menjalankan kebijakan publik yang merusak lingkungan hidup.

Walhi representasi suara kepentingan publik untuk lingkungan hidup yang dihormati. Track record-nya sudah jauh.

Kesatuan nelayan yang merasa terancam nafkahnya merupakan representasi rakyat kecil yang cepat menarik simpati publik.

Gabungan dua kekuatan ini yg melawan gubernur Ahok, apalagi ternyata pengusaha Taipan reklamasi pantai itu kini tersangka KPK, akan menjadi babak baru.

5) Berita bahkan menteri Susi menyatakan izin Ahok untuk reklamasi pantai itu menyalahi aturan.

Menteri Susi juga tokoh yang diyakini publik kredibilitasnya. Jika ia melawan Ahok untuk isu reklamasi pantai, instink publik akan berdenting; Aha! Apakah ada “udang di balik bakwan” dari semua izin perpanjangan ini?

6) Berita Ahok ikut menyebut dirinya gubernur Podomoro karena begitu sering ia meminta bantuan Podomoro untuk CSR (corporate social responsibility).

Kedekatan Ahok dengan Podomoro akan segera terkena apa yang disebut guilty by association. Seandainya Ahok tak bersalah, tapi ia oleh opini publik tetap “disalahkan” karena diasosiasikan dengan si tersangka KPK: Podomoro yg mendapatkan perpanjangan izin darinya.

Kita menunggu apa yang akan dilakukan Ahok dan teamnya atas kasus reklamasi pantai dan Podomoro.

Jelas Ahok bukan pemain sore. Begitu pula team-nya. Apakah Ahok mampu seperti kesebelasan terkenal Italia di bawah pemain legendaris Paolo Rossi? Di tahun 1982, Rossi sangat telaten menghadapi gempuran lawan, dan mengolahnya menjadi serangan balik mematikan.

Ahok harus meyakinkan publik bahwa ia tak hanya tegas pada rakyat kecil. Tapi ia juga tegas dengan para Taipan yang melanggar aturan. Jika tidak Ahok akan menjadi politisi biasa yang melakukan the politics as usual.(ts/rol/eramuslim.com) – Ahad, 25 Jumadil Akhir 1437 H / 3 April 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.589 kali, 1 untuk hari ini)