Denny Siregar sok-sokan pengen dipenggal, mau jadi tumbal katanya, demi bisa menggerakkan banyak orang.

 

“Dipenggal oleh gerombolan setan berbaju agama adalah sebuah kehormatan..

 

Percayalah. Kusediakan kepalaku jika itu menjadi jalan untuk menggerakkan banyak orang..,” kicau Denny Siregar di akun twitternya kemarin, Rabu (18/11/2020).

 

Sesumbar Si Desi ini langsung dikuliti netizen.

 

“Lah sampah ..! 

 

Kemarin aja lo ngumpet kagak keluar kluarvl waktu di cari orang tasik..

Sok sok an pengen dipenggal..! 

 

Lo baru liat orang FPI aja udah kumat jantung lo..!” balas akun @Rubby63275173.

 

Seperti diketahui hingga saat ini Denny Siregar tidak memenuhi panggilan polisi dalam kasus penghinaan santri Tasikmalaya.

 

Tak datangnya Denny Siregar dinilai membuktikan bahwa terlapor takut diperiksa.

Lah sampah ..! 

Kemarin aja lo ngumpet kagak keluar kluarvl waktu di cari orang tasik..
Sok sok an pengen dipenggal..! 

Lo baru liat orang FPI aja udah kumat jantung lo..!

— Andi (@Rubby63275173) November 18, 2020

[PORTAL-ISLAM.ID] Kamis, 19 November 2020 SOSIAL MEDIA

***

Kasus Denny Siregar Hina Pesantren Mandeg di Kepolisian, Ada Apa

Posted on 2 September 2020

by Nahimunkar.org

 

Kasus Denny Siregar Hina Pesantren Mandeg di Kepolisian, Ada Apa

Silakan simak ini.

***

Kasus Denny Siregar (yang dilaporkan karena dinilai telah menghina santri dan pesantren di Tasikmalaya) Mandeg, FPI: Negara Kita Sakit Keras…
Hingga saat ini, tidak sekalipun Denny Siregar dipanggil pihak berwajib untuk diperiksa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hingga detik ini kasus dugaan tindak pidana penghinaan atau pencemaran nama baik yang dilakukan Denny Siregar, belum ada tindak lanjut yang berarti. Sejak dilimpahkan ke Polda Jawa Barat, pelapor justru tidak menerima sama sekali perkembangan kasus tersebut. Bahkan, sampai saat ini, tidak sekalipun Denny Siregar dipanggil pihak berwajib untuk diperiksa atas kasus hukum yang menjeratnya.

Menanggapi fenomena ini, Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman mengaku, pesimistis kasus Denny Siregar tersebut bakal ditindaklanjuti. Sehingga, tidak ada harapan bagi kasus kasus yang dilakukan oleh mereka akan diproses.

“Negara kita tengah sakit keras termasuk aspek law enforcement,” tegas Munarman saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (27/8).

Massa menggelar aksi di Taman Kota Tasikmalaya dan melakukan konvoi ke Polresta Tasikmalaya, Jumat (7/8). Aksi itu dilakukan agar polisi cepat menuntaskan kasus Denny Siregar yang dinilai telah menghina santri dan pesantren di Tasikmalaya. – (Republika/Bayu Adji P)

Menurut Munarman, bermunculannya para penista agama yang semakin massif dan terang-terangan ini adalah indikasi dari kelemahan penegakan hukum. Sebagai negara hukum, seharusnya berbagai penistaan agama tersebut harus diperlakukan sebagai kriminal dan penjahat yang berbahaya, karena akan menimbulkan gesekan sosial yang makin tajam.

“Kita merasakan bersama sejak beberapa tahun terkahir, ada ketimpangan dalam proses penegakan hukum. Oleh karena perlu pembenahan besar besaran dalam aspek ini,” keluh Munarman.

Munarman berpendapat, bahwa para penjahat agama tersebut bermunculan dari kebodohan dan kedunguan. Bahkan, secara sengaja menginginkan terjadinya benturan sosial berbasiskan agama. Oleh karena itu, jika memang benturan sosial berbasis agama tidak diinginkan terjadi maka harusnya pihak berwajib memprorses kasus Denny Siregar secara serius.
Sebelumnya, seperti diberitakan Republika.co.id, pimpinan Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi Kota Tasikmalaya, ustaz Ahmad Ruslan Abdul Gani mengaku, belum menerima perkembangan kasus dugaan tindak pidana penghinaan dan pencemaraan nama baik yang dilakukan Denny Siregar sejak dilimpahkan ke Polda Jabar.
Padahal sebagai pelapor, Ahmad Ruslan menilai, berhak menerima perkembangan kasus itu. Menurutnya, seharusnya pihak Polda Jabar bersikap terbuka terkait penanganan kasus hukum Denny Siregar. Sebagai pelapor, Ruslan ingin mengetahui sampai sejauh mana kasus itu berjalan.
Rep: Ali Mansur/ Red: Agus Yulianto
republika.id Kamis 27 Aug 2020 17:17 WIB

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 101 kali, 101 untuk hari ini)