“Densus 88 dengan segala fasilitasnya telah menjadi pelaku inpunitas (pelaku penghilangan nyawa yang lolos dari investigasi tanpa proses hukum) dan pelanggar HAM berat. Kasus pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh Densus 88 sampai saat ini masih berlanjut dan belum ada yang bisa menghentikannya,” tandas Direktur Kontra Terorisme Dan Kontra Separatisme Pushami, Yusuf Sembiring, dalam rilisnya, Rabu (8/5/2013).

Inilah berita-berita tentang itu.

***

PUSHAMI Minta Masyarakat Adukan Densus 88 Bila Lakukan Pelanggaran HAM

tangkap densus 88

Jakarta (An-Najah.net) – Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI) menghimbau kepada seluruh segenap masyarakat berkewarganegaraan Indonesia (WNI) yang telah mendapatkan perlakuan diskriminasi dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) baik terhadap diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan hak miliknya.

Demikian itu dikatakan Direktur Kontra Terorisme Dan Kontra Separatisme Pushami, Yusuf Sembiring, dalam rilisnya kepada an-najah.net, Rabu (8/5/2013) ketika menyikapi sepak terjang Densus 88 yang kerap terlibat dalam penyiksaan dan extra-judicial killings, membunuh menggunakan senjata tanpa Standard Operational Procedure (SOP) kepada terduga “teroris” yang tanpa senjata dan tanpa perlawanan

“Sebagaimana diatur dalam Undang-undang Hak Asasi Manusia (HAM) akibat dampak dari fitnah terorisme dan atau teror di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) oleh Densusi 88 ini, untuk segera melaporkan kepada kami dengan terganggunya Hak atas Rasa Aman Tenteram sebagaimana diatur dalam Undang-undang Hak Asasi Manusia (HAM) untuk ditindaklanjuti melakukan upaya hukum sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku,” Kata Yusuf.

Lebih dari itu, PUSHAMI juga mendesak DPR khususnya Komisi III untuk segera membentuk panja kemudian dilanjutkan dengan proses hukum kepada KaDensus 88, Bareskrim Mabes Polri dan BNPT.

“Karena jelas dan tegas telah melakukan pelanggaran hak azasi manusia sebagaimana diatur dalam Undang undang No. 39 Tahun 1999 Tentang HAK ASASI MANUSIA dan terhadap personil Densus sebagai aparat kepolisian penegak hukum NKRI yang telah melakukan penembakan harus ditindak tegas sebagaimana pula diatur dalam Undang-undang No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Azasi Manusia,” tandasnya. (qathrunnada/an-najah.net) Publikasi: Kamis, 28 Jumadil Akhir 1434 H / 9 Mei 2013 09:00

***

Densus 88 Dinilai Kerap Bunuh Tertuduh Teroris Yang Tidak Melawan

 densus bawa terduga teroris

Densus 88 bawa terduga teroris

Jakarta (An-Najah.net) – Sepak terjang Detasemen Khusus 88 Antiteror kini mulai mencuat lagi. Kali ini mereka melakukan pengejaran terhadap terduga “teroris” yang dituduh akan meledakkan Kedubes Myanmar. Bahkan Baku tembak terjadi antara Densus 88 dengan sejumlah orang yang diduga “teroris” di Kampung Batu Rengat RT 02/08 Desa Cigondewah Hilir, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, sekitar pukul 11.00 WIB, Rabu (8/5/2013).

“Densus 88 juga sering kali terlibat dalam penyiksaan dan extra-judicial killings, membunuh menggunakan senjata tanpa Standard Operational Procedure (SOP) kepada terduga “teroris” yang tanpa senjata dan tanpa perlawanan,” tegas Direktur Kontra Terorisme Dan Kontra Separatisme Pushami, Yusuf Sembiring, dalam rilisnya kepada an-najah.net, Rabu (8/5/2013).

Lebih dari itu, Yusuf menilai Densus 88 dengan segala fasilitasnya telah menjadi pelaku inpunitas (pelaku penghilangan nyawa yang lolos dari investigasi tanpa proses hukum) dan pelanggar HAM berat. Kasus pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh Densus 88 sampai saat ini masih berlanjut dan belum ada yang bisa menghentikannya.

Bahkan, sampai detik in, masih banyak praktik impunitas dalam bentuk penyiksaan yang dilakukan oleh Densus 88 di dalam tahanan maupun diluar tahanan terhadap para terduga “teroris”.

“Lalu apa gunanya pemerintah Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan (Convention Against Torture) dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi Penyiksaan pada 28 September 1998,” tanya Yusuf retoris.

Atas hal-hal tersebut, lanjut Yusuf, Densus seringkali melakukan klaim terhadap kelompok Islam tertentu sebagai bagian dari kelompok ini dan itu tanpa bukti yang jelas. Bahkan melakukan prakondisi terhadap kasus “terorisme”.

“Densus seringkali menyalahgunakan kewenangannya untuk memaksa terduga “teroris” mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya,” pungkasnya. (qathrunnada/an-najah.net) Publikasi: Kamis, 28 Jumadil Akhir 1434 H / 9 Mei 2013 08:10

***

Inilah Sejumlah Orang yang Ditangkap dan Ditembak Mati Densus 88

BANDUNG (voa-islam.com) – Densus 88 kembali menembak mati dan melakukan penangkapan sejumlah orang di beberapa tempat.

Tiga orang meninggal dunia dalam pengepungan sebuah rumah yang beralamat di RT 02 RW 08 Kampung Baturengat, Desa Cigondewah Hilir, Margaasih, Bandung, Jawa Barat, pada Rabu (8/5/2013).

Salah seorang kontributor voa-islam.com di lokasi melaporkan bahwa pengepungan sebenarnya telah berlangsung sejak sekitar pukul 10.00 WIB. Penduduk yang berada di sekitar pun sempat diminta menyingkir dari TKP.

Entah mengapa drama penggerebekan yang katanya dilakukan pasukan elit Densus 88 itu berjalan begitu lama dan memakan waktu lebih dari 8 jam. Bahkan beberapa stasiun televisi kerap melaporkan secara live layaknya sebuah film action.

Hingga pada akhirnya sekitar pukul 18.30 WIB sempat terdengar rentetan tembakan dan setelah itu terdengar suara ledakan keras.

“Iya ada suara rentetan tembakan ke sebuah rumah. Barusan terdengar suara ledakan keras dari dalam rumah,” ujar Dillah melaporkan kepada voa-islam.com, Rabu (8/5/2013).

Dari informasi yang dihimpun awalnya ada sekitar empat orang di lokasi yang menjadi sasaran pengepungan Densus 88 tersebut.

“Menurut informasi awalnya ada sekitar empat orang. Densus masuk ke rumah, setelah suara tembakan sudah berhenti,” imbuhnya.

Pihak aparat kepolisian akhirnya mengumumkan bahwa tiga orang yang berada di dalam rumah saat pengepungan meninggal dunia. Mereka adalah Budi Syarif alias Angga, Sarane dan Jonet. Sementara satu orang yang ditangkap dalam kondisi hidup adalah Haris Fauzi.

Sebelumnya pada Selasa (7/5/2013) pukul 15.30 WIB di Jalan Cipacing Bandung, Polri melakukan penangkapan terhadap William Maksum alias Acum alias Dadan.

Selain itu Densus 88 juga melakukan penyergapan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah dan menembak mati seorang bernama Abu Roban alias Untung alias Bambang Nangka. Sementara Sugiyanto ditangkap hidup.

Satu orang lainnya bernama Faisal alias Boim ditangkap di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Setelah menangkap Faisal alias Boim, Densus 88  juga menggerebek rumah di Jalan Aria Putra RT 03/03 Nomor 31, Ciputat Induk, Tangerang Selatan serta menangkap dua orang bernama Aris dan Endang.

Penyergapan juga dilakukan di Dusun Kembaran, Desa Ungaran, Kecamatan Kutowinangun, Kebumen. Dari lokasi tersebut Densus 88 menangkap Wagino dan Farel. Namun hingga pukul 23.00 WIB tengah malam pengepungan masih terjadi. [Ahmed Widad] Rabu, 08 May 2013

(nahimunkar.com)

(Dibaca 669 kali, 1 untuk hari ini)