Oleh: Titik puspa, S.Pd

Pemerhati Anak, Alumni IKIP Bojonegoro

Densus 88 melakukan penggerebekan kepada terduga teroris yang bernama Siyono yang bertempat tinggal di Dusun Brengkungan, desa Pogung Kecamatan Cawas Klaten Jawa Tengah. Kediaman tersebut juga dijadikan sekolah untuk anak usia dini yaitu RA Terpadu Amanah Ummah. Penggerebekan sekitar pukul 10 WIB, Kamis bertepatan dengan anak-anak masih berada di sekolah dan bersiap-siap akan pulang.

Tidak hanya sampai di situ ternyata tak tanggung-tanggung Densus 88 menurunkan 10 truk lengkap dengan personilnya. Sehingga membuat anak-anak ketakutan dan menangis. Anak-anak  yang seharusnya selesai belajar dan akan pulang dengan perasaan yang gembira justru dikejutkan oleh tindakan Densus 88.

Cara tersebut jelas menunjukkan bahwa Densus 88 tidak hanya menghargai tempat pendidikan dan merusak etika saja, tetapi juga melukai jiwa anak-anak. Pada anak usia dini, anak mengalami masa keemasan dimana anak akan sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dari luar. Pada usia ini  perkembangan anak sangat drastis dimulai dari perkembangan berfikir, perkembangan emosi, perkembangan motorik, perkembangan fisik dan perkembangan sosial.

Perkembangan ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak di masa yang akan datang. Apabila pada masa ini anak mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan bisa jadi mengalami kecemasan bahkan trauma. Pada usia dini ini pula anak-anak sangat mudah untuk meniru apa saja yang dia lihat dan dengarkan.

…Densus 88 menurunkan 10 truk lengkap dengan personilnya. Sehingga membuat anak-anak ketakutan dan menangis…

Mirisnya Densus 88 malah mendatangi tempat sekolah Anak Usia dini dimana anak-anak tersebut mendengar dan melihat secara langsung tindakan penggerebekan. Sehingga anak-anak tersebut mengalami kekerasan psikis. Dimana kekerasan psikis tersebut tidak bisa diidentifikasi secara langsung karena tidak menimbulkan bekas yang nyata. Kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yaitu trauma ynag mendalam. Tidak hanya trauma saja yang dialami anak-anak tersebut akibat ulah Densus 88 tetapi bisa jadi anak-anak tersebut meniru tindakan Densus 88.

Disinyalir kinerja Densus 88 mendapat kucuran dana dari Amerika Serikat yang tidak tanggung-tanggung yakni sebesar 18 juta Triliun. Dana tersebut tidak untuk menyejahterakan rakyat tetapi malah untuk membantai rakyat.Tidak hanya mengakibatkan nyawa yang melayang tetapi trauma pada anak-anak usia dini. Bukan tidak mungkin anak-anak tersebut mengalami trauma bahkan meniru tindakan Densus 88. Lalu akan menjadi apa generasi penerus ini?

Sebenarnya Densus 88 sudah tahu tempat tinggal Siyono yang digunakan sebagai sekolah. Seharusnya Densus 88 dalam melakukan aksi penggerebekan terduga teroris Siyono tersebut di luar jam sekolah sehingga tidak mengganggu anak-anak.

Densus 88 sebagai aparat seharusnya menjaga, melindungi dan mengayomi anak-anak, bukannya malah menunjukkan kekerasan di depan mereka. Parahnya mereka ini membawa senjata lengkap yang membuat anak-anak ketakutan bahkan sampai menangis dan trauma. Mengingat apa yang dilakukan Densus 88, memang badan ini seharusnya dibubarkan saja. (riafariana/voa-islam.com) – Senin, 3 Rajab 1437 H / 11 April 2016

Ilustrasi: Google

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.301 kali, 1 untuk hari ini)