• Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mencatat, sedikitnya ada tiga dugaan pelanggaran hak asasi manusi (HAM) yang dilakukan tim Detasemen Khusus (Densus 88), dalam melakukan operasi pemberantasan teroris di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), sejak tahun 2006 hingga 2013.

Koordinator KontraS Haris Azhar mengatakan hal tersebut. Dia juga menambahkan, tiga peristiwa itu mereka sebut sebagai “22.11.22” sebagaimana diambil dari tanggal penindakan teroris oleh Densus 88 yakni 22 Oktober 2006, 11 dan 22 Januari 2007.

“Ada tiga rangkaian kekerasan yang terjadi di Poso untuk mencari dpo (daftar pencarian orang) teroris yang dicari Polda Sulteng maupun Densus,” kata Haris dalam konferensi pers mengenai ‘Perlu Penyelidikan Independen atas Praktik Penyiksaan dan Brutalitas Densus 88 di Poso’ di Kantor KontraS, Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (11/3/2013).

Dia mengatakan, tiga peristiwa itu adanya penggunaan kekerasaan maupun kekuatan kepolisian dalam melakukan penindakan di luar prosedur tetap (Protab) kepolisian.

“Menyebabkan prosedur penanganan di luar prosedur dan adanya implikasi penangkapan di luar prosedur,” kata dia.

Lebih lanjut dia mengatakan, atas tiga kejadian itu sedikitnya 18 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Korban tersebut, menurutnya tidak hanya berasal dari DPO, namun juga warga sipil lainnya.

“Ada seorang tenaga medis yang hanya berjanggut dan menggunakan celana ke atas mendapatkan perlakuan kekerasan,” tandasnya.

Seperti diketahui, sebuah video yang menggambarkan Densus 88 menyiksa beberapa orang yang diduga tertuduh teroris beredar di dunia maya. Video berdurasi sekira 13 menit lebih itu, diunggah ke situs Youtube berjudul “Video kekejaman Densus 88”.

Dalam video tersebut, digambarkan penyiksaan terhadap orang yang disangka teroris. Rekaman itu menunjukkan sikap para anggota Densus 88 yang kejam menindas terduga teroris.

Video tersebut diduga memiliki kesamaan dengan video yang diceritakan dan digambarkan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsuddin ketika menyerahkan video kekerasan aparat kepada Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis 28 Februari 2013.

 

(mhd) Haris Kurniawan

Senin,  11 Maret 2013  −  15:32 WIB/ Sindonews.com

***

Membongkar Cara Kerja Densus 88

Oleh: Harits Abu Ulya

Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA)

densus 88 a

Densus 88 telah melakukan apa saja yang mereka inginkan dan kemudian membuat cerita (dramatisasi) yang bisa membenarkan tindakan tersebut.

Maka tereksposnya video menjadi konfirmasi kebenaran cerita tindakan luar biasa biadabnya yang dilakukan oleh aparat. Dan sekali lagi ini menjadi starting point bagi semua pihak yang terkait untuk berani evaluasi kinerja Densus 88 selama ini. Tidak perlu menunggu sampai satu demi satu kedzaliman ini terpampang dihadapan publik secara telanjang. Sekecil apapun kedzaliman adalah kedzaliman yang harus disikapi sebagaimana mestinya. Bukan berusaha ditutupi dan dibela dengan berbagai cara dan upaya. Berikut sedikit contoh bagaimana arogansi dan kebiadaban sistemik yang dirancang Densu 88.

Kita bisa berangkat dari kasus terbunuhnya Abu Uswah (Asmar) dan Ahmad Kholil  (Abu Kholid) di teras masjid Nurul Afiyah komplek RS Wahidin Sudirohusodo Makassar, Sulsel pada Jumat, 4 Januari 2013 lalu. Banyak bukti dan kesaksian yang mengendap, dua orang itu terbunuh tanpa ada perlawanan.

Kejadiannya cukup singkat, aparat Densus 88 begitu selesai eksekusi dua orang kemudian segera membersihkan jejak tindakan mereka. Darah yang menggenang di teras segara disiram bersih tanpa jejak, seluruh selongsong peluru di sekitar kejadian di pungut bersih termasuk proyektil yang tidak bersarang di tubuh korban. Intinya semua jejak berusaha dihilangkan.

Di hadapan publik pihak Humas Polri menyampaikan secara sepihak tentang sebab tewasnya dua orang tersebut, dengan cerita mereka melawan dan membahayakan bahkan di TKP ditemukan barang bukti berupa senjata (senpi).

Keterangan ini diaminkan oleh media tanpa ada informasi pembanding yang digali secara obyektif. Semua pernyataan aparat tidak pernah bisa di konfirmasi kebenarannya, kebenaran yang tersimpan di balik mulut-mulut saksi mata yang terkunci karena rasa takut tidak pernah digali dan terungkap ke publik.

Sementara pihak Densus 88 juga tidak pernah melakukan rekonstruksi ulang atas apa yang mereka lakukan. Inilah salah satu contohnya, dan masih banyak realitas serupa dalam kasus ekstra judicial killing oleh Densus 88 atas terduga “teroris”.

Ke depan kita akan melihat dan menunggu apa yang dihasilkan dari investigasi Komnas HAM atas pelanggaran HAM serius yang dilakukan aparat Densus 88. Dan waktu akan menjawab benarkah keadilan akan berpihak kepada Islam dan umatnya, atau akankah umat ini dibuat frustasi yang akhirnya mengambil jalan pintas sendiri-sendiri untuk menuntut keadilan yang menjadi haknya. Wallahu a’lam bisshawab. [Ahmed Widad] VOA-ISLAM.COM Rabu, 06 Mar 2013

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 1.566 kali, 1 untuk hari ini)