state terorisme

  • Komnas HAM menyesalkan pernyataan polisi yang berlawanan dengan fakta di lapangan. Komnas HAM meminta Kapolri untuk mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya agar warga di Poso tenang.
  • Dari Mabes Polri seperti biasa bagian penerangan/Humasnya (Brigjen.Pol, Boy Rafli) juga memberikan keterangan di depan insan media tentang kronologi dan alasan aparat keamanan kenapa harus melumpuhkan target hingga tewas. Dan media mengaminkan, bahkan media seperti TV One ambil peran untuk memutar balik fakta serta bernafsu menyudutkan masyarakat Poso dan mendewakan aparat Densus 88.
  • Dari semua terduga teroris versi Densus 88 dan BNPT yang tewas, adakah  mekanisme yang bisa membuktikan bahwa benar-benar mereka teroris?. Yang terjadi adalah drama (sandiwara) pengadilan atas orang yang sudah membujur kaku bahkan sudah terkubur di liang lahat. Sebuah kejahatan yang luar biasa!.
  • Para pemegang kebijakan (Presiden, Kapolri, DPR) harusnya serius mau mengkaji dan evaluasi ulang pola-pola penindakan yang dominan mengedepankan kekerasan oleh aparat Densus 88. Karena kekerasan produk aparat telah melahirkan sikap antipasti masyarakat terhadap aparat penegak hukum (Polisi).
  • DI DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS  SUDAH ADA PETUNJUK NYATA.

Sekarang masyarakat cukup cerdas menyikapi, tidak begitu mudah mempercayai begitu saja opini dan propaganda media (seperti TV One, dll) dalam isu terorisme secara umum maupun kasus yang ada di Poso. Dari penelusuran  CIIA di lapangan didapatkan fakta realita yang berbeda.

Temuan di lapangan, warga Poso yang tewas (Ahmad Nudin) yang dituduh teroris dieksekusi Densus 88 dalam kondisi tidak berdaya. Korban tidak dalam posisi melawan untuk menembak petugas atau mengeluarkan tembakan seperti yang diungkapkan Brigjen Boy Rafli di Jakarta, tapi fakta yang terjadi adalah terduga  melarikan diri. Dan korban tidak sama sekali bersenjata seperti yang dituduhkan oleh aparat dan diaminkan oleh media TV. Bahkan TV  One mengumbar kebohongan ke publik dengan menuduh terduga yang tewas telah melepas tembakan 6 (enam) kali. Ini dusta semua.

Inilah realitasnya, jika tidak disadari dan ada perubahan langkah yang lebih bijak proporsional dan tepat, kita bisa ambil kesimpulan bahwa kekerasan yang terjadi adalah fabrikasi secara sistemik dan meluas. Indonesia telah berubah menjadi “state terrorism”.

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS AL-MAAIDAH/ 5:82)

{الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (67) وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ } [التوبة: 67، 68]

67. orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[berlaku kikir]. mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.

68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS At-Taubah/ 9 : 67-68).

Dalam hal dibunuhnya Umat Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim. ( Hr. An-Nasa-I (Vii/82), Dari ‘Abdullah Bin ‘Amr Radhiyallahu Anhu. Diriwayatkan Juga Oleh At-Tirmidzi (No. 1395). Hadits Ini Dishahihkan Oleh Syaikh Al-Albani Dalam Shahiih Sunan An-Nasa-I Dan Lihat Ghaayatul Maraam Fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal Wal Haraam (No. 439).

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dahsyatnya siksa bagi pembunuh orang mu’min dengan sengaja:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا  [النساء : 93]

93. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS AN-NISAA’/4: 93)

Senjata  Umat Islam di antaranya adalah doa. Sedang doa yang paling mustajab adalah doa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berdoa untuk manusia-manusia semacam itu:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْوَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

Inilah berita-beritanya.

***

Komnas HAM Tindakan Densus Provokasi Warga Poso

PALU (voa-islam.com) – Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Siane Indriani membeberkan kronologis penembakan Ahmad Nudin di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, yang terjadi Senin (10/6/2013) kemarin. Menurut Siane, proses penembakan Nudin alias Bondan versi polisi berbeda denga versi Komnas HAM.

Hal itu dibeberkan Siane melalui pernyataan tertulis, Selasa (11/6/2013). Menurut Siane, kejadian yang menewaskan Nudin bermula pada Senin (10/6/2013) pukul 15.35 WITA. Saat itu Nudin berboncengan dengan temannya mengendarai motor Revo bernomor polisi DN 4159 EI. Nudin saat itu dibuntuti polisi di Jalan Pulau Seram.

Pada pukul 15.40 WITA di Jalan Pulau Irian, tepatnya di depan Lorong Jalan Pulau Seribu, motor yang dikendarai Nudin ditabrak oleh mobil polisi yang membuntuti itu. Kronologi ini berbeda dengan versi polisi. Menurut polisi, Nudin menabrak mobil polisi.

Setelah motor terjatuh, dua orang tersebut melarikan diri ke Lorong Pulau Seribu. Polisi melepaskan tembakan delapan kali, Nurdin tertembak. Sedangkan temannya kabur.

Menurut polisi, Nudin menembaki aparat. Polisi memberikan tembakan balasan.

Motor yang tertinggal di tempat kejadian diamankan oleh anggota TNI di Poso. Pukul 20.00 WITA, massa menuju Polres Poso meminta jasad Nudin. Namun, permintaan itu tidak dikabulkan polisi. Sebelumnya terdengar suara tiang listrik dipukul berkali-kali.

Komnas HAM menyesalkan pernyataan polisi yang berlawanan dengan fakta di lapangan. Komnas HAM meminta Kapolri untuk mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya agar warga di Poso tenang.

“Kami menyesalkan tindakan Densus 88 yang sangat represif sehingga malah memprovokasi kemarahan warga,” kata Siane. [Widad/Ant]

***

Selasa, 11 Jun 2013

Bentrok Antara Warga & Aparat di Poso Kembali Pecah Pada Selasa Pagi

bentrok warga dan polisi

 POSO (voa-islam.com) – Selasa (11/6/2013) pagi sekitar pukul 07.30 WITA aparat gabungan dari TNI dan kepolisian Poso menyisir jalur Kayamanya hingga kelurahan Moengko di Poso Sulawesi Tengah. Aparat kepolisian dari Brimob khususnya bersiap-siap dengan jumlah yang sangat besar di sekitar kompleks Hotel Kartika.

Dari informasi yang berhasil dihimpun sumber voa-islam.com di TKP, penyisiran ini dilakukan untuk mencari provokator dalam aksi massa pada hari sebelumnya, Senin (10/6/2013) sore didepan Polres Pasar Poso dan RSUD Poso.

 Selain itu, kedatangan aparat gabungan tersebut juga untuk membubarkan kerumunan warga dan konsentrasi massa di sekitar jalur Kayamanya. Menurut salah satu keterangan warga, mereka menuntut kepada pihak kepolisian untuk mengembalikan jenazah seorang warga Poso yang dibunuh Densus 88 pada Senin kemarin.

“Kami disini, dan para warga menuntut agar jenazah Ahmad Nudin yang dibunuh Densus 88 dikembalikan,” kata Robby, salah satu warga Poso kepada voa-islam.com, Selasa pagi.

Aksi solidaritas warga dan masyarakat Poso tersebut untuk menuntut dikembalikannya jenazah Ahmad Nudin yang ditabrak, kemudian ditembak mati oleh Densus 88 di jalan Pulau Irian yang dekat pertigaan dengan SMA 3 pada Senin sore.

Meskipun sejak Senin sore hingga malam hari para warga sudah berdemontrasi di depan Polres Pasar Poso dan RSUD Poso, jenazah Ahamd Nudin tidak segera dikembalikan. Jenazah Nudin diketahui warga malah dibawa Densus 88 ke Palu.

 Karena pada Senin sore hingga malam tuntutan mereka tidak dipenuhi, maka pada keesokan harinya, mereka hendak melakukan aksi solidaritas kembali. Namun sangat disayangkan, aparat gabungan malah menggunakan cara-cara represif untuk membubarkan kerumunan warga.

Tanpa melakukan mediasi terlebih dahulu, aparat Brimob langsung menembakkan gas air mata dan peluru ke arah warga. Peluru yang dilepaskan aparat pun bukan peluru karet, namun peluru tajam sebagaimana yang digunakan aparat pada saat bentrok dengan warga pada Senin sore di depan RSUD Poso.

 Warga yang kaget dengan serangan mendadak dari aparat kepolisian tersebut, sontak mencari tempat berlindung. Tapi karena tidak ada tempat berlindung yang begitu aman, akhirnya para warga nekat dan memutuskan melawan serangan brutal aparat Brimob dengan melempari batu yang ada di pinggir jalan.

Hingga berita ini ditulis, bentrokan antara warga masyarakat dengan aparat sudah terhenti sejak siang tadi. Pasalnya kota Poso diguyur hujan yang cukup deras hingga saat ini. Tuntutan warga tetap sama, yakni meminta jenazah Ahmad Nudin yang dibunuh Densus 88 untuk dikembalikan kepada pihak keluarga.

“Kami tidak akan berhenti menuntut dan berdemo serta melakukan perlawanan hingga jenazah Nudin dikembalikan,” tegas warga berinisial HN. [UD]

***

 CIIA: Indonesia Telah Berubah Menjadi State Terrorism

Densus 88 Menebar Teror Paska Bom Mapolres Poso

Oleh: Harits Abu Ulya

Pemerhati Kontra-Terorisme & Direktur CIIA

Sangat memprihatinkan! inilah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan langkah aparat keamanan khususnya Densus 88 dalam mengurai teror di Poso. Paska peristiwa bom Mapolres Poso (3 Juni 20130), aparat Densus 88 dibantu aparat kepolisian setempat secara intensif menggelar operasi terbuka dan tertutup.

Tak pelak akhirnya melahirkan kondisi ketidaknyamanan bagi masyarakat Poso, apalagi cara-cara yang dipertontonkan oleh aparat Densus 88 cenderung arogan. Bahkan akhirnya memicu kemarahan warga muslim Poso kota, otomatis makin memperkeruh suasana.

Tindakan-tindakan law enforcement yang mengedepankan kekerasan dengan target orang yang baru terduga berujung pada kematian target, membuat masyarakat Poso marah. Bahkan menarget Mapolres Poso menjadi sasaran amuk. Tidak lain karena ulah aparat Densus 88 main tembak terduga hanya dengan alasan membahayakan petugas di lapangan.

Dari Mabes Polri seperti biasa bagian penerangan/Humasnya (Brigjen.Pol, Boy Rafli) juga memberikan keterangan di depan insan media tentang kronologi dan alasan aparat keamanan kenapa harus melumpuhkan target hingga tewas. Dan media mengaminkan, bahkan media seperti TV One ambil peran untuk memutar balik fakta serta bernafsu menyudutkan masyarakat Poso dan mendewakan aparat Densus 88.

Kita yakin sekarang masyarakat cukup cerdas menyikapi, tidak begitu mudah mempercayai begitu saja opini dan propaganda media (seperti TV One, dll) dalam isu terorisme secara umum maupun kasus yang ada di Poso. Dari penelusuran  CIIA di lapangan didapatkan fakta realita yang berbeda, berikut kronologi  peristiwa kekerasan aparat Densus 88 di Poso (SenIn, 10 Juni 2013):

  1. Sekitar Pukul 15.35 wita terduga yang bernama Ahmad Nudin mengendarai motor Revo DN 4159 EI yang sudah dibuntuti oleh aparat Densus 88 melintas di Jalan. P Seram.Terduga pulang dari sholat Ashar di Masjid al Muhajirin.
  2. Sekitar pukul 15.40 wita ketika target (terduga) sampai di Jalan. P Irian tepatnya di depan  lorong jalan P. Seribu, motor dengan pengendaranya (terduga) tersebut ditabrak oleh Densus 88 dengan mobil yang telah membuntuti sebelumnya.
  3. Setelah motor dan terduga terjatuh yang berjumlah dua orang sempat melarikan diri masuk ke arah lorong P.Seribu.
  4. Karena melihat terduga lari, kemudian Densus 88 melepaskan tembakan  sebanyak 7 kali lebih. Dan akhirnya 1 (satu) orang berhasil di tangkap dengan luka tembak di beberapa bagian. Dan 1 (satu) lagi berhasil melarikan diri. Sementara sepeda motor yang dipakai oleh terduga tertinggal di TKP dan kemudian di amankan oleh anggota koramil Poso kota.
  5. Akhirnya berita menyebar ke masyarakat Poso dan membuat situasi memanas  karena bunyi tiang listrik dipukul bertalu-talu oleh massa.Hingga pukul 20.00 WITA bentrok terjadi antara warga Muslim Poso dengan bersenjatakan batu menghadapi aparat kepolisian dan TNI di desa Kayamanya. Bahkan kemudian sebagian masyarakat yang marah atas tindakan aparat Densus 88 bergerak ke arah Mapolres Poso dengan membakar ban bekas.
  6. Masyarakat yang bergerak ke arah Mapolres Poso menuntut jenazah salah satu korban tewas tetapi tidak dipenuhi.
  7. Temuan di lapangan, warga Poso yang tewas (Ahmad Nudin) yang dituduh teroris dieksekusi Densus 88 dalam kondisi tidak berdaya. Korban tidak dalam posisi melawan untuk menembak petugas atau mengeluarkan tembakan seperti yang diungkapkan Brigjen Boy Rafli di Jakarta, tapi fakta yang terjadi adalah terduga  melarikan diri. Dan korban tidak sama sekali bersenjata seperti yang dituduhkan oleh aparat dan diaminkan oleh media TV. Bahkan TV  One mengumbar kebohongan ke publik dengan menuduh terduga yang tewas telah melepas tembakan 6 (enam) kali. Ini dusta semua.

Dari peristiwa di atas sangat patut disesalkan, seolah-olah jalan persuasive dan dialog bukan lagi jalan bagi orang-orang berakal untuk menyelesaikan masalah. Arogansi kekuasaan menjadi penentu benar dan salah atas rakyat jelata.

Kalau kita berfikir obyektif, kenapa aparat tidak menjunjung supremasi hukum? Benarkah mereka yang terbunuh adalah teroris? Jikapun benar bahwa mereka adalah teroris apakah mereka layak harus dibunuh? Sejauh apa level keterlibatan mereka dalam kasus terorisme hingga layak begitu saja harus tewas dieksekusi? Apalagi dibunuh di luar prosedur pengadilan. Bukankah negara ini (Indonesia) menganut negara hukum? Dan setiap warganya dijamin sama di hadapan hukum bahkan harus dijamin dengan azas praduga tak bersalah (presumption of innocence).

Bisa saja seseorang menjadi buron dan target karena ditemukan alat bukti, saksi yang bisa mengarah dan menjeratnya. Bahkan menyangkanya, kemudian mengadilinya. Akan tetapi sebelum pengadilan mengetok palu bahwa seseorang divonis bersalah maka tetap saja dia bebas dari segala tuduhan dan harus dijamin dari segala bentuk tindakan yang malanggar hak azasi mereka.

Logika pengadilan yang berjalan juga masih memberikan ruang dan kesempatan bagi tervonis untuk kasasi bahkan sampai naik ke grasi. Semua orang juga mengetahui, tidak semua terduga bisa menjadi tersangka, dan tidak semua tersangka  kemudian berubah menjadi terdakwa. Dan tidak semua terdakwa kemudian bisa divonis salah seperti tuduhan jaksa hingga harus menjadi narapidana. Di lapangan banyak kasus salah tangkap dalam isu terorisme, itu harus diakui.

Dari semua terduga teroris versi Densus 88 dan BNPT yang tewas, adakah  mekanisme yang bisa membuktikan bahwa benar-benar mereka teroris?. Yang terjadi adalah drama (sandiwara) pengadilan atas orang yang sudah membujur kaku bahkan sudah terkubur di liang lahat. Sebuah kejahatan yang luar biasa!.

Para pemegang kebijakan (Presiden, Kapolri, DPR) harusnya serius mau mengkaji dan evaluasi ulang pola-pola penindakan yang dominan mengedepankan kekerasan oleh aparat Densus 88. Karena kekerasan produk aparat telah melahirkan sikap antipati masyarakat terhadap aparat penegak hukum (Polisi).

Lihatlah Poso, begitu Densus 88 buat ulah kemudian pergi, sisanya adalah kebencian masyarakat muslim Poso dan akhirnya digeneralisir, menempatkan semua aparat kemananan di Poso adalah musuh. Inilah realitasnya, jika tidak disadari dan ada perubahan langkah yang lebih bijak proporsional dan tepat, kita bisa ambil kesimpulan bahwa kekerasan yang terjadi adalah fabrikasi secara sistemik dan meluas. Indonesia telah berubah menjadi “state terrorism”. [CIIA/11 Juni 2013] VOA-ISLAM.COM Selasa, 11 Jun 2013

(nahimunkar.com)

(Dibaca 414 kali, 1 untuk hari ini)