• Densus 88 menembak mati dua orang yang sedang berada di sebuah warung kopi, Jalan Pahlawan, Kota Tulungagung, Jawa Timur, Senin (22/7/2013)/ 13 Ramadhan 1434H. Kedua orang tersebut menurut aparat diketahui bernama Dayat dan Rizal asal Medan.
  • Penembakan dan penangkapan empat terduga teroris itu terjadi di warung kopi belakang halte bus Jalan Pahlawan, Kota Tulungagung, sekitar pukul 08.45 WIB.
  • Menurut saksi mata, para terduga tersebut ditembak oleh Densus 88 dari jarak dekat dan tanpa perlawanan.
  • “Mereka ditembak dari jarak kurang satu meter. Tidak terlihat ada upaya perlawanan.”
  • “Dari banyak kesaksian, dua orang tewas dan dua orang hidup dibawa Densus dengan kondisi bisa dipastikan babak belur itu tanpa perlawanan sama sekali. Apakah ini cara profesional dan SOP yang harus dilestarikan? Apakah orang-orang yang statusnya baru terduga harus seperti itu hukumannya? Pembunuhan di luar pengadilan itu indikasi rendahnya kualitas aparat kontra terorisme di lapangan dengan semua unitnya.”

 

***

Di dalam Al-Qur’an dan hadits  sudah ada petunjuk nyata.

{الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (67) وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ } [التوبة: 67، 68]

67. orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[berlaku kikir]. mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.

68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS At-Taubah/ 9 : 67-68).

Dalam hal dibunuhnya Umat Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim. ( Hr. An-Nasa-I (Vii/82), Dari ‘Abdullah Bin ‘Amr Radhiyallahu Anhu. Diriwayatkan Juga Oleh At-Tirmidzi (No. 1395). Hadits Ini Dishahihkan Oleh Syaikh Al-Albani Dalam Shahiih Sunan An-Nasa-I Dan Lihat Ghaayatul Maraam Fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal Wal Haraam (No. 439).

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dahsyatnya siksa bagi pembunuh orang mu’min dengan sengaja:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا  [النساء : 93]

93. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS AN-NISAA’/4: 93)

Senjata  Umat Islam di antaranya adalah doa. Sedang doa yang paling mustajab adalah doa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berdoa untuk manusia-manusia semacam itu:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

Inilah beritanya

***

Saat Umat Islam Khusyu’ Ibadah Ramadhan, Densus Umbar Nafsu Membunuh

 densus bunuh

JAKARTA (voa-islam.com) – Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya mengecam sikap Densus 88 yang mengumbar nafsu membunuhnya, disaat umat Islam sedang khusyu’ menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

Hal itu disampaikan pemerhati kontra terorisme tersebut menyikapi aksi brutal Densus 88 yang kembali menembak mati dua orang di Tulungagung, Jawa Timur, Senin kemarin.

“Saya sebenarnya speechless atas kejadian ini, di bulan Ramadhan dimana umat Islam lagi khusyu’ ibadah puasa ternyata sebaliknya Densus 88 “beribadah” mengumbar nafsu membunuhnya kepada orang yang hanya diduga teroris,” ungkap Harits Abu Ulya kepada voa-islam.com, Senin (22/7/2013).

…di bulan Ramadhan dimana umat Islam lagi khusyu’ ibadah puasa ternyata sebaliknya Densus 88 “beribadah” mengumbar nafsu membunuhnya…

Menurutnya, aksi brutal tersebut adalah gambaran hukum rimba negeri ini, dimana yang kuat akan menang dan yang lemah menjadi tumbal.

“Sejahat dan seburuk apapun rupa iblis, saya belum pernah menyaksikan gerombolan iblis membunuh manusia dengan cara brutal dan jalanan. Inilah negeri dengan hukum rimba, yang kuat yang menang. Yang lemah akan jadi tumbal keangkaramurkaan dan kedurjanaan. Apalagi jika kelompok para durjana itu mendapatkan mandat atas nama Undang Undang “kebenaran” versi mereka,” jelasnya.

Harits mengungkapkan selama ini menurut versi BNPT pendekatan persuasif seolah dianggap tidak efektif menangani terorisme.

“Maka pertanyaannya kenapa aparat Densus 88 di lapangan tidak belajar teknik melumpuhkan target agar bisa diseret ke pengadilan? Apa non persuasif itu bagi BNPT dan Densus 88 artinya harus membunuh? Belajar dari kasus demi kasus, maka sebenarnya siapa yang memelihara dan menjadi sumber kekerasan dan terorisme di Indonesia saat ini? Apa dengan membunuh target terduga teroris kemudian akan selesai urusan? Tentu tidak, karena akan menjadi titik tolak baru lahirnya ideologi kebencian dan dendam kepada aparat keamanan khususnya Densus 88 dan orang-orang BNPT,” bebernya.

Sejahat dan seburuk apapun rupa iblis, saya belum pernah menyaksikan gerombolan iblis membunuh manusia dengan cara brutal dan jalanan. Inilah negeri dengan hukum rimba…

“Dari banyak kesaksian, dua orang tewas dan dua orang hidup dibawa Densus dengan kondisi bisa dipastikan babak belur itu tanpa perlawanan sama sekali. Apakah ini cara profesional dan SOP yang harus dilestarikan? Apakah orang-orang yang statusnya baru terduga harus seperti itu hukumannya? Pembunuhan di luar pengadilan itu indikasi rendahnya kualitas aparat kontra terorisme di lapangan dengan semua unitnya,” sambungnya.

Ia menilai bukan hal yang sulit untuk membuat legitimasi tindakan tersebut. Sebab bagi pihak aparat  dengan mudah bisa jumpa pers menjelaskan kenapa harus ditembak mati, bahkan kemudian membeberkan barang bukti.

Ditambah asumsi di lapangan cerita aparat dalam kondisi darurat karena terduga membawa senpi dan bom siap ledak.

“Kebenaran statemen tersebut belum teruji, tapi lebih sebagai langkah menutup semua potensi yang bisa menyudutkan aparat. Human error dalam kasus kontra terorisme sudah kerap terjadi, salah tangkap, salah tembak, tapi semua dianggap legal hanya karena mereka dicap; terduga/terkait/tersangka/buron terorisme,” ujarnya.

Dari banyak kesaksian, dua orang tewas dan dua orang hidup dibawa Densus dengan kondisi bisa dipastikan babak belur itu tanpa perlawanan sama sekali. Apakah ini cara profesional dan SOP yang harus dilestarikan?

Seperti diberitakan sebelumnya, Densus 88 menembak mati dua orang yang sedang berada di sebuah warung kopi, Jalan Pahlawan, Kota Tulungagung, Jawa Timur, Senin kemarin. Kedua orang tersebut menurut aparat diketahui bernama Dayat dan Rizal asal Medan.

Dua orang lainnya dalam kondisi terluka kini tengah dikeler aparat adalah Mugi Hartanto (38) yang beralamatkan di Dusun Gambiran Desa Gambiran RT 01 RW 01 Kecamatan Pagerwojo Tulungagung. Serta Sapari (49) warga Dusun Krajan RW 04 RT 01 Desa Penjor Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung.

Menurut penuturan para saksi mata, tidak ada sama sekali perlawanan dari para terduga. Kejadian berlangsung cepat dan kedua orang tersebut meninggal ditempat kejadian. [Ahmed Widad] Selasa, 23 Jul 2013

***

Senin, 22 Jul 2013

Di Bulan Ramadhan Densus 88 Tembak Mati 2 orang Meski tak Melawan

TULUNGAGUNG (voa-islam.com) – Seperti diutarakan Direktur CIIA, Harits Abu Ulya, di bulan suci Ramadhan ini ternyata tak membuat BNPT dan Densus 88 meredam nafsu membunuhnya.

Hal itu terbukti dengan kasus penembakan terhadap dua orang pria di Jalan Pahlawan, Kota Tulungagung, Jawa Timur.

Lagi-lagi menurut saksi mata, para terduga tersebut ditembak oleh Densus 88 dari jarak dekat dan tanpa perlawanan.

“Mereka ditembak dari jarak kurang satu meter. Tidak terlihat ada upaya perlawanan, hanya salah satu pria terlihat sempat berdiri dan bergerak ke belakang Mbak Mimin (penjual warung kopi) sebelum ditembak di bagian kepalanya hingga tewas,” kata Suprianto, salah seorang saksi mata yang mengaku melihat langsung peristiwa penggerebekan dan penembakan, Senin (22/7/2013).

Suprianto berada tak jauh dari lokasi penembakan saat kejadian. Meski tak menyebut persis posisinya saat itu, Suprianto memastikan melihat langsung kronologi penembakan dan penangkapan empat terduga teroris yang terjadi di warung kopi belakang halte bus Jalan Pahlawan, Kota Tulungagung, sekitar pukul 08.45 WIB.

Setelah menembak salah satu terduga yang bergerak ke belakang penjaga warung kopi, anggota Densus 88 yang sama juga menembak satu dari tiga terduga lainnya yang masih duduk. Kesaksian tersebut dibenarkan warga lain yang berada tak jauh dari lokasi penggerebekan.

Suyadi dan Suroso, misalnya, mereka mengatakan bahwa tembakan dilakukan hanya beberapa detik setelah beberapa pria mengendarai Toyota Xenia turun dan menghampiri keempat pria terduga teroris tersebut.

“Tidak ada perkelahian ataupun kericuhan. Begitu mereka (Densus) turun lalu terdengar suara tembakan tiga kali dan dua pria yang ada di warung Mbak Min roboh. Dua pria lainnya lalu diringkus di tempat dan dirobohkan di pinggir jalan,” tutur Suyadi, tukang becak yang mangkal tak jauh dari lokasi kejadian.

Kapolda Jatim Irjen Pol Unggung Cahyono beralasan bahwa penembakan terpaksa dilakukan karena kedua terduga masing-masing membawa senjata api dan bom rakitan. Namun demikian ia sama sekali tak menjelaskan apakah para terduga melakukan perlawanan. [Widad/mtr/ant]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.222 kali, 1 untuk hari ini)