Sumber foto : regional.kompas.com


Peringatan nyata dari Allah Ta’ala sering tidak dijadikan pelajaran oleh manusia. Hingga terjadilah kenyataan yang mengenaskan. Desa Banyak Maksiat Kekurangan Ustadz, maka Diterjang Bencana, sedangkan Kota Banyak Ustadz tapi Tak Digubris (atau bahkan sebagian ustadz juga tak peduli Ancaman Allah Ta’ala), maka Pengusung Syiah–Liberal pun Didukung Dukung.

Kejadian di Garut Jawa Barat berupa bencana banjir seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi yang hatinya masih menerima nasihat. Berikut ini cuplikan singkat yang perlu disimak.

***

Pengakuan Kakek di Garut: Itulah kenapa Allah Meluluhlantakan Kampung Kami

Kakek : Coba kau lihat dari jembatan, dari jembatan ke sungai jaraknya sangat jauh. Tidak masuk akal kalau air sungai bisa tumpah ke kampung kami.
Saya: Ya, saya sudah lihat dari jembatan. Tapi memang karena mungkin hujan yang begitu deras membuat luapan yang dahsyat.

Kakek : Mungkin saja. Tapi, selama saya tinggal disini. Ada satu hal yang membuat saya sedih. Bahkan murka.
Saya: kenapa kek? boleh saya tau?

Kakek : Jangan kamu kira kampung yang jauh dari perkotaan bebas dari zina. Zina disini sangat marak. Bahkan, kampung ini tempat yang aman untuk anak muda berzina.
Saya: Hemmmmm

Kakek  itu melanjutkan ceritanya,
Kakek : Disini, di sungai ini. Sudah terlalu banyak bayi-bayi tak berdosa dibuang. Dibantu oleh bidan-bidan kampung yang tidak bertanggung jawab membantu proses aborsi. Disini kami kekurangan Ustad yang menasehati kami. Itulah yang membuat kebanyakan orang di kampung ini jauh dari Allah yang akhirnya membuat mereka tidak takut berbuat maksiat.

Demikin kutipan singkat dari tulisan berjudul Allah memberikan Pelajaran dari bencana Garut, Oleh: Almisky yang diposting abdul hakin di akun fb. 28/9 2016.

***

Dalam penuturan kakek itu, banyak maksiat (zina), banyak  bidan-bidan kampung yang tidak bertanggung jawab membantu proses pengguguran kandungan (wanita hamil hasil zina), dan kekurangan ustadz untuk membimbing. Akibatnya banyak bayi hasil zina dibuang ke sungai, maka Allah menimpakan banjir ke kampung maksiat itu, walau agak jauh dari jembatan kali.

Di tempat lain, di Kota banyak ustadz, namun masyarakat belum tentu mengikuti nasihat-nasihatnya. Atau sebagian ustadz ada yang ikut anut grubyuk teman-temannya, sehingga sangat disayangkan; ikut mendukung-dukung orang yang ditengarai berfaham liberal pluralisme agama alias kemusyrikan baru. Bahkan masih pula mengusung program penyusupan syiah di dunia pendidikan Indonesia lewat kerjasama dengan pemerintah syiah Iran pembantai Umat Islam. Tetapi orang itu didukung-dukung dicalonkan dalam pilkada DKI Jakarta 2017.

Begitu juga, banyak ustadz tidak digubris, sehingga sebagian orang mengaku Islam tapi mendukung calon gubernur kafir, padahal itu jelas haram bagi Umat Islam.

Dengan modal tidak menggubris para ustadz pula, sudah dinasihati bahwa wanita itu tidak boleh jadi pemimpin, namun diusung juga.

Bagaimana naib Umat Islam, ketika nasihat-nasihat yang sejatinya berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits saja tidak digubris lagi, bahkan di antara barisan terdepan untuk tidak menggubris itu juga sebagian para Ustadz?

Ketika seperti itu, Umat Islam tinggal merujuk kepada nasihat dari Allah Ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩ [سورة النساء,٥٩]

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya [An Nisa’:59]

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ} [المائدة: 105]

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan [Al Ma’idah:105]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.266 kali, 1 untuk hari ini)