Ilustrasi mushaf Alquran


Hasil Penelitian Badan Litbang dan Diklat Depag tentang paham-paham keagamaan liberal pada masyarakat perkotaan di Yogyakarta (Dipresentasikan 14 Nov. 2006): Alquran bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah SWT kepada Muhammad saw, melainkan merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman.

Pada 5 Mei 2006, Sulhawi Ruba, 51 tahun, dosen mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, di hadapan 20 mahasiswa Fakultas Dakwah, menerangkan posisi Alquran sebagai hasil budaya manusia. Sebagai budaya, posisi Alquran tidak berbeda dengan rumput. Sebagai budaya, Alquran tidak sakral. Yang sakral adalah kalamullah secara substantif. “Ia lalu menuliskan lafaz Allah pada secarik kertas sebesar telapak tangan dan menginjaknya dengan sepatu. “Alquran dipandang sakral secara substansi, tapi tulisannya tidak sakral,” katanya setengah berteriak, dengan mata yang sedikit membelalak.

Dari Fakta yang telah dipaparkan di atas, dapat kita lihat kecerobohan dan kesalahan besar yang dilakukan oleh Nars Hamid Abu Zaid yang dikembangkan oleh salah satu dosen UIN Jakarta yaitu, Sulhawi Ruba sebagaimana yang telah penulis nukilkan di atas.

Masaah yang serupa yakni, Desakralisasi Alquran sering terjadi hampir di seluruh UIN/IAIN ditanah air, Sebab hal tersebut sudah menjadi lumrah di sebahagian idiologi mahasiswa UIN. Tentunya atas dasar Ilmu dan buku-buku yang mereka gunakan apalagi di perkuat oleh sebahagian dosen-dosen mereka yang mendeklarasikan kesesatan tersebut. Bahkan sudah terorganisir virus-virus yang seperti pada fakta yang telah penulis kutipkan di atas.

Timbulnya aksi pelecehan dari kalangan dosen dan mahasiswa terhadap Alquran yang seperti ini, tidak lain dan tidak bukan karena epistimologi ilmu yang mereka pelajari keliru. Dimana pada endingnya melahirkan aplikasi yang sangat fatal pula. Sebab mereka mengkaji Islam dengan kacamata orang barat, terutama para orientalis yang sangat benci terhadap Islam.

Anehnya lagi, sebagian besar dari mereka mempelajari Islam di Amerika Serikat sampai mendapat gelar Doktor bahkan Profesor. Mereka itulah yang mengisi hampir diseluruh pergurungan tinggi Indonesia, dari tingkat S1 sampai S3 bahkan tingkat profesor.

Ini adalah salah satu bentuk kesengajaan musuh-musuh Islam dalam rangka merusak Idiologi dan pemahaman umat Islam terutama dikalangan Akademisi serta kampus-kampus Islam yang sering kita kenal dengan Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Kerena tempat tersebut sangat setrategis bagi mereka menyuntikkan virus pemikiran yang dibentuk dan dikemas lewat seminar dan diskusi Ilmiyah yang mereka agendakan.

Lahirnya tindakan melecehkan Alquran, disebabkan mereka meyakini bahwa Alquran secara teks ataupun tulisan adalah output dan produk manusia yaitu, khalifah Utsman Bin Affan, akan tetapi mereka menyakini kesucian Alquran terletak pada subtansi dan isi kandungan dari ayatnya.

Inilah hasil dari liberalisasi Agama yang melahirkan virus subtantif. Mereka menyakini yang terpenting dalam memahami sesuatu adalah subtansi dan isinya tanpa memperdulikan sampulnya. Virus subtansi inilah yang mengakar kuat pada pemikiran mereka yang menghantarkan kepada pelecehan Alquran yang dengan ringannya mereka membuang dan membanting bahkan menginjak-nginjak Alquran. Sebab yang terpenting bagi mereka adalah isi dari ayatnya bukan pada tulisannya belaka.

Kekeliruan besar dari kata ”subtansi” ini yaitu, sering sekali dengan rasionalisme terlalu kebablasan sehingga meletakkan ukuran sesuatu atas timbangan berdasarkan akal dan hawa nafsu yang di Tuhankan. Ketika seseorang menakar setiap sesuatu berdasarkan subtansinya, ia akan selalu terjerumus kepada kesesatan seperti yang dialami oleh orang liberal dan sekular. Jadi apa-apa yang terlihat dinilai berdasarkan subtansi yang penting isinya, sangat tidak tepat sekali kalau seperti ini realitanya.

Sebagaimana yang telah dikatakan oleh salah satu aktivis liberal dan gender, Musdah Mulia, ia mengatakan bahwa esensi dan subtansi dari nikah itu adalah mencapai kebahagiaan pasangan tanpa melihat kepada jenis kelaminnya, dalam artian tidak mengapa nikah sesema jenis yang penting bahagia.

Tentu hal tersebut sangat keliru sepengetahuan penulis. Secara Logika saja kita bisa menolak istilah subtansi yang selalu mereka jadikan senjata untuk memojokkan Alquran. Saya memberikan permisalan yang mudah dipahami. “Suatu saat datang kepada anda pak walikota dengan membawa sepucuk surat, lalu diberikan kepada anda selaku kepala desa untuk disampaikan kepada warga setempat. Lalu anda terima surat tersebut dengan penuh rasa hormat serta berterima kasih atas surat tersebut. Kemudian anda menyobek dan menginjak surat tersebut berdasarkan isi dan subtansi yang diinginkan oleh pak wali kota.”

Pada saat itu anda sudah tahu dan mengerti jadi tidak perlu lagi lembaran kertas tersebut disimpan, yang pentingkan Subtansinya. Kira-kira pada saat itu pula bagaimana perasaan wali kota ?! tentunya akan marah sebab anda tidak menghargai surat darinya.

Bagaimana dengan Firman Allah??!!… Dalam Islam, Alquran secara teks dan subtansi apalagi, adalah hal yang sangat sakral dan suci dihadapan umat Islam, bahkan menyentuhnya pun berpahala dan tidak jarang kita menciumnya setelah jatuh, misalnya apalagi membacanya terkadang harus berwudhu’ terlebih dahulu.

Bahkan dalam salah satu mazhab fiqih Islam sangat menekankan untuk tidak menyimpan dan meletakkannya dalam kondisi terbuka atau terbalik ketika tidak dibaca. Islam Agama yang sangat konprehensip apalagi dalam masalah adab terhadap Alquran. sampai-sampai seseorang yang berkehendak untuk membacanya harus berwhudu’ dan bersuci terlebih dahulu sebagaimana tertera dalam Firman Allah QS al Waqi’ah ayat 79. ” Tiada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan“.

Dikatakan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Jarir berkata : telah menceritakan kepada kami Al A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Tasur, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Qotadah (” Tiada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”) Qotadah berkata :” Tiada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” adapun didunia maka orang majusi dan orang munafik yang najis juga menyentuhnya.”

“Ulama’ lainnya berkata (Tiada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”) maksudnya dari jinabat dan hadas. mereka berkata : ”lafadz ayat tersebut adalah khobar sedangkan maknanya adalah perintah.”mereka berkata : ” Yang dimaksud dengan Al-Qur’an disini adalah mushaf sebagaimana riwayat imam Muslim dari Umar sesungguhnya Rasululloh shoillallohu alaihi wasallam melarang bepergian ke negara musuh dengan membawa qur’an khawatir di ambil musuh.

Mereka juga berhujjah dengan riwayat Imam Malik dalam kitab muwato’nya dari Abduloh bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm bahwa sesunguhya dalam surat yang ditulis oleh Rasululloh shollalohu alaihi wasallam untuk Amr bin Hazm ”Janganlah menyentuh Alquran kecuali orang yang suci “Abu Dawud meriwayatkan dalam kitab marosil dari hadisnya zuhri berkata : ”Aku membaca dalam lembaran kepunyaan abu bakar bin mhammad bin amer bin hazm sesunggunya Rasululloh sholallohu alaihi wasallam berkata ” janganlah menyentuh alqur’an kecuali orang yang suci”.

Di antara pendapat para sahabat dalam masalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Sa’ad bin Abi Waqash Dari Mush’ab bin Saad bin Abi Waqash,“Aku memegang mushfah di hadapan Sa’ad bin Abi Waqash lalu aku menggaruk-garuk kemaluanku”. Beliau lantas berkata, “Engkau menyentuh kemaluanmu?”. “Benar”, jawabku. Beliau berkata, “Berdirilah lalu berwudhulah”. Aku lantas bangkit berdiri dan berwudhu lalu aku kembali.Al Baihaqi dalam al Khilafiyat 1/516 mengatakan, “Riwayat ini shahih, diriwayatkan oleh Malik dalam al Muwatha’. Riwayat di atas juga dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 1/161 no. 122.
  1. Salman al Farisi Dari Abdurrahman bin Yazid dari Salman, Kami bepergian bersama Salman. Suatu ketika beliau pergi untuk buang hajat setelah kembali aku berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdillah, berwudhulah agar kami bisa bertanya kepadamu tentang ayat-ayat Alquran”. Beliau berkata, “Silahkan bertanya namun aku tidak akan menyentuhnya. ‘Sesungguhnya tidaklah menyentuhnya melainkan orang-orang yang disucikan’(QS al Waqiah:77)”.

Kami pun mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau dan beliau bacakan beberapa ayat kepada kami sebelum beliau berwudhu. Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa riwayat dari Salman itu shahih. Jadi kesimpulannya, Alquran adalah kitab yang sangat sakral bagi umat Islam, teks dan subtansinya sama saja berdasarkan ayat dan hadist-hadist yang telah penulis kemukakan di atas.

Adapun pendapat orang yang mengatakan bahwa subtansi Alquran lah yang sakral bukan teks dan lembarannya. Yang kita lihat sekarang adalah, pendapat produk liberal sesat dan menyesatkan umat yang tidak sangat ilmiyah apalagi berdasarkan wahyu dari Allah dan Rasul-Nya.

Memang ada sikap yang di benarkan oleh syari’at Islam ketika lembaran mushaf Alquran berserakan misalnya, saat itu pula seseorang boleh membakarnya khawatir terinjak dan lain sebagainya. Sebagaimana yang telah di pendapat Imam-Imam mazhab kita dan pendapat Ulama Sunni sebagai berikut : Komite Fatwa Kerajaan Arab Saudi (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah) dalam kompilasi fatwanya menyebutkan, mushaf yang tak lagi terpakai, kitab, dan kertas-kertas di ma na tertulis ayat-ayat Alquran ma ka hendaknya dikubur di tempat yang laik, jauh dari lalu lintas manusia atau lokasi yang menjijikkan.

Opsi lain yang bisa ditempuh ialah dibakar. Hal ini sebagai bentuk penghormatan dan menghindari perendahan Al Quran. Dibakar: Maliki dan Syafi’i Dipendam: Hanafi, Hanbali, dan Ibn Taimiyyah Dibakar dan atau dipendam: Komite Fatwa Kerajaan Arab Saudi. Begitulah pendapat dan upaya para ulama kita berfatwa dalam rangka mejaga kesakralan dan kesucian Alquran untuk menagkis statemen sekte-sekte yang tidak senang dengan Islam, termasuk kaum Liberal akan selalu berusaha meredupkan cahaya Allah dengan memojokkan nilai-nilai Islam terutama kitab sucinya yaitu Alquran. Akan tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang Musyrik tidak Ridho di Mukabumi ini. Hanya angan-angan belaka merekalah yang ingin meredupkan cahaya tersebut.Wallahu A’lam Bissawab.

Hairul Qiram

Mahasiswa Komunikasi & Penyiaran Islam, Universitas Ibn Khaldun Bogor

Sumber: suara-islam.com/Senin, 28/12/2015 16:57:45

(nahimunkar.com)