Fatwa MUI mengenai hukum Perdukunn, silakan simak di bagian bawah.

Mempercayai Perkataan (ramalan) dukun bisa jadi kafir

Dukun (santet dan semacamnya) hukumannya hukum bunuh menurut Islam. Sedangkan maling hukumannya adalah potong tangan. Jadi kejahatan dukun itu lebih parah, karena merusak iman, hingga hukumannya pun hukum bunuh.

Karena dukun itu merusak iman, maka ada ancaman dalam hadits:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Orang yang mendatangi tukang ramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam..” (Hadis Riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad dari sebagian istri Nabi [Hafshah])

ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻛَﺎﻫِﻨﺎً ﺃَﻭْ ﻋَﺮَّﺍﻓﺎً ﻓَﺼَﺪَّﻗَﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓَﻘَﺪْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ

Orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya maka orang tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam..”
(Hadis Riwayat Imam Ahmad dan al-Hakim dari Abu Hurairah)

Silakan simak berita ini, dan bagian bawah ada fatwa MUI mengenai Hukum Perdukunan, dan berita tentang hukum bunuh bagi para dukun di Saudi Arabia.

 

***

Desmond Duga Megawati Konsultasi dengan Dukun soal Nomor Urut Parpol, Demokrat: Hahaha...

 

Politisi Partai Demokrat Cipta Panca Laksana menyoroti pernyataan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Desmond J. Mahesa yang menduga Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berkonsultasi dengan dukun soal nomor urut parpol di Pemilu 2024.

 

Cipta Panca tampak kegirangan saat mendengar pernyataan Desmond yang berkelakar soal dukun.

 

Hal itu disampaikan Cipta Panca dalam akun Twitter pribadinya, pada Rabu 21 September 2022.

 

“Nah gitu dong biar rame sekalian masa Demokrat aja yang dapat spotlight media, hahaha,” ujar Cipta Panca.

 

Sebelumnya, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri mengusulkan agar nomor urut parpol tidak diubah di Pemilu 2024 nanti.

 

Mengenai hal ini, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Desmond J. Mahesa menilai usulan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar nomor urut parpol tetap sama, bukan merupakan usulan tiba-tiba.

 

Desmond berkelakar bahwa usulan itu adalah hasil konsultasi Megawati ke dukunnya.                      

 

“Bu Mega itu berpendapat mungkin hasil konsultasi dengan dukun ya,” kata Desmond di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (20/9/2022).

 

Ditanya dukun apa yang dimaksud, Desmond tidak menjawab lugas.

 

“Dukunnya Bu Mega lah,” jawab Desmond.

 

Sementara itu ditanya apakah Gerindra setuju dengan usulan Megawati, Desmond juga tidak menegaskan.

 

Ia hanya berujar bahwa kan melakukan hal serupa dulu, yakni berkonsultasi dengan dukun. “Saya juga mau bertanya pada dukun, apakah nomor Gerindra yang lalu bagus atau tidak,” ujar Desmond.

 

“Ya kita bertanya pada dukun, Bu Mega pada dukun, Gerindra juga dengan dukunnya,” ujar Desmond. 

 

Sumber: wartaekonomi

Foto: Politisi Partai Demokrat Cipta Panca Laksana/Net

oposisicerdas.com, Rabu, September 21, 2022 Politik

***

Fatwa MUI tentang Hukum Perdukunan dan Peramalan

Posted on 22 Februari 2021

by Nahimunkar.org

Fatwa MUI tentang Hukum Perdukunan dan Peramalan

PERDUKUNAN (KAHANAH) DAN PERAMALAN (‘IRAFAH)

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor: 2/MUNAS VII/MUI/6/2005
Tentang
PERDUKUNAN (KAHANAH) DAN PERAMALAN (‘IRAFAH)

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H/ 26-29 Juli 2005 M, setelah:

>> Menimbang :

1. Bahwa akhir-akhir ini semakin banyak praktek perdukunan (kahanah) dan peramalan (‘iraafah) di masyarakat serta semakin marak tayangan media massa, baik cetak maupun elektronik yang berhubungan dengan hal tersebut..

2. Bahwa hal tersebut telah meresahkan umat dan dapat membawa masyarakat kepada perbuatan syirik (menyekutukan Allah), dosa paling besar yang tidak diampuni Allah subhanahu wa ta’ala..

3. Bahwa untuk menjaga kemurnian tauhid dan menghindarkan masyarakat dari aktivitas yang dapat membawa kepada kemusyrikan, Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang Perdukunan (kahanah) dan Peramalan (‘iraafah) untuk dijadikan pedoman..

>> Mengingat :

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰ لِكَ لِمَنْ يَّشَآءُ  ۚ  وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَـرٰۤى اِثْمًا عَظِيْمًا

  
 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar..” (QS. al-Nisa’ [4]: 48)

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰ لِكَ لِمَنْ يَّشَآءُ   ۗ  وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًاۢ بَعِيْدًا

  
 

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia tersesat sejauh-jauhnya..” (QS. al-Nisa’ [4]: 116)

وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَكَاَنَّمَا  خَرَّ مِنَ السَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ اَوْ تَهْوِيْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ  مَكَانٍ سَحِيْقٍ

  
 

“… Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh..” (QS. al-Hajj [22]: 31)

قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰه

  
 

“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah..” (QS. al-Naml [27]: 65)

وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَاۤ اِلَّا هُوَ ۗ  وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۗ  وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)..” (QS. al-An’am [6]: 59)

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖۤ اَحَدًا اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِنَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًا

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak akan memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridlai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya..” (QS. al-Jin [72]: 26-27)

اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِ ۚ  وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ ۚ  وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِ ۗ  وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۗ  وَّمَا تَدْرِيْ نَـفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal..” (QS. Luqman [31]: 34)

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ  لَهٗۤ اِلَّا هُوَ ۗ  وَاِنْ يَّمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌوَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهٖ   ۗ  وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ

“Jika Allah menimpakan suatu kemudlaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Dia-lah Yang Berkuasa atas sekalian hamba-Nya, dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui..” (QS. al-An’am [6]: 17-18)

  
 

2. Hadits Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam, antara lain :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

  
 

“Orang yang mendatangi tukang ramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam..” (Hadis Riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad dari sebagian istri Nabi [Hafshah])

ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻛَﺎﻫِﻨﺎً ﺃَﻭْ ﻋَﺮَّﺍﻓﺎً ﻓَﺼَﺪَّﻗَﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓَﻘَﺪْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ

  
 

“Orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya maka orang tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam..” (Hadis Riwayat Imam Ahmad dan al-Hakim dari Abu Hurairah)

ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﺣَﺎﺋِﻀًﺎ ﺃَﻭْ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻓِﻲ ﺩُﺑُﺮِﻫَﺎ ﺃَﻭْ ﻛَﺎﻫِﻨًﺎ ﻓَﺼَﺪَّﻗَﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓَﻘَﺪْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ 

  
 

“Orang yang mendatangi (bersetubuh dengan) istri yang sedang haid, atau (bersetubuh dengan) istri dari duburnya atau mendatangi dukun kemudian membenarkan apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya orang tersebut telah lepas (kafir) dari apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam..” (Hadis Riwayat Imam Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِﻱِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻧَﻬَﻰ ﻋَﻦْ ﺛَﻤَﻦِ ﺍﻟْﻜَﻠْﺐِ ﻭَﻣَﻬْﺮِ ﺍﻟْﺒَﻐِﻲِّ ﻭَﺣُﻠْﻮَﺍﻥِ ﺍﻟْﻜَﺎﻫِﻦِ 

  
 

“Dari Abu Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pemanfaatan harga jual beli anjing, bayaran pelacuran (perzinahan) dan upah dukun..” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Mas’ud)

مفاتيح الغيب خمس لا يعلمها إلا الله تعالى: لا يعلم أحد ما يكون في غد إلا الله تعالى، ولا يعلم أحد ما يكون في الأرحام إلا الله تعالى، ولا يعلم متى تقوم الساعة إلا الله تعالى، ولا تدري نفس بأي أرض تموت إلا الله تعالى، ولا يدري أحد متى يجيء المطر إلا الله تعالى

  
 

“Kunci perkara ghaib itu ada lima, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya melainkan Allah Ta’ala: (1) Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok selain Allah Ta’ala, (2) tidak ada seorang pun mengetahui apa yang ada di dalam kandungan selain Allah Ta’ala, (3) tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat selain Allah Ta’ala, (4) tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati selain Allah Ta’ala, dan (5) tidak seorang pun yang mengetahui kapan hujan akan turun selain Allah Ta’ala..” (Hadis Riwayat Imam Bukhari dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)

ﻣَﻦْ ﻋَﻠَّﻖَ ﺗَﻤِﻴﻤَﺔً ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺷْﺮَﻙَ

“Orang yang menggantungkan (memakai) jimat maka dia telah melakukan perbuatan syirik..” (Hadis Riwayat Imam Ahmad, Thabrani dan al-Hakim dari Uqbah bin Amir al-Juhany)

  
 

3. Kaidah Fiqh :

ﻣﺎﺩﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻓﻬﻮ ﺣﺮﺍﻡ \ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﺘﻮﺻﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻓﻬﻮ ﺣﺮﺍﻡ

  
 

“Segala jalan yang menuju kepada sesuatu yang haram, maka jalan (wasilah) itu juga haram..”

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

  
 

“Mencegah kemafsadatan lebih didahulukan dari pada menarik kemashlahatan..”

  
 

>> Memperhatikan :

Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII MUI 2005..

  
 

***

  
 

Dengan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,

  
 

MEMUTUSKAN

  
 

Menetapkan : FATWA TENTANG PERDUKUNAN (KAHANAH) DAN PERAMALAN (‘IRAAFAH)

  
 

1. Segala bentuk praktek perdukunan (kahanah) dan peramalan (‘iraafah) hukumnya Haram..

2. Mempublikasikan praktek perdukunan (kahanah) dan peramalan (‘iraafah) dalam bentuk apapun hukumnya Haram..

3. Memanfaatkan, menggunakan dan/atau mempercayai segala praktek perdukunan (kahanah) dan peramalan (‘iraafah) hukumnya Haram..

  
 

***

  
 

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal : 21 Jumadil Akhir 1426 H

28 Juli 2005 M

  
 

MUSYAWARAH NASIONAL VII MAJELIS ULAMA INDONESIA

Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa

  
 

K.H. Ma’ruf Amin

(Ketua)

  
 

Drs. Hasanuddin, M.Ag

(Sekretaris)

***

  
 

——○●●○——

  
 

Ditulis ulang oleh : Esha Ardhie

Ahad, 08 Oktober 2017

  
 

*PDF Fatwa bisa diunduh pada Halaman Download

© Fatwa MUI Tentang Hukum Perdukunan Dan Peramalan | AL MUKHTASHAR
Source: https://eshaardhie.blogspot.com/2017/10/fatwa-mui-tentang-hukum-perdukunan-dan-peramalan.html


(nahimunkar.org)

 ***

 

 

 

Persatuan Dukun, Persatuan Maling, dan Gerombolan Setan Bisu

Posted on 10 Februari 2021

by Nahimunkar.org

  • Persatuan Dukun… dan Persatuan Maling… Coba Bandingkan

 
 

Ilustrasi. Dukun2 di Negara Saudi Dihukum Mati. Foto/ dok. Net/ nahimunkar.org

Dukun (santet dan semacamnya) hukumannya hukum bunuh menurut Islam. Sedangkan maling hukumannya adalah potong tangan. Jadi kejahatan dukun itu lebih parah, karena merusak iman, hingga hukumannya pun hukum bunuh.

Misalnya ada Persatuan Maling Nusantara, dan berani terang2an mengumumkan keberadaannya, apakah penguasa di negeri ini akan diam saja?

Bila diam saja berarti sama dengan membiarkan sebagai negeri maling secara resmi. Nah, Persatuan Dukun Nusantara itu lebih buruk lagi bila dibanding misalnya Persatuan Maling Nusantara. Maka bila dibiarkan, entah azab Allah macam apa yang akan ditimpakan terutama kepada para punggawa yang ‘seharusnya tidak membiarkannya’ namun membiarkannya.

Sedangkan para ulama dan tokoh Islam yang mampu bersuara untuk mencegahnya namun diam saja, maka jangan salahkan bila statusnya serendah apa yang disebut dengan istilah Setan Bisu syaithoonun Akhros. Bila jumlahnya banyak, maka boleh jadi sebutannya adalah ‘gerombolan setan bisu’. Dan itu sama dengan mengundang azab dan bencana dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

— Mengenai setan bisu, silakan simak ini:
(*) Abu Ali Ad-Daqqooq An-Naisaburi Asy-Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang berdiam diri dari (menyampaikan) kebenaran, maka ia adalah Syaithon Akhros (yakni setan yg bisu dari jenis manusia).” (Disebutkan oleh imam An-Nawawi di dlm Syarah Shohih Muslim).

(*) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah jg pernah berkata: “Orang yang berdiam diri dari menyampaikan kebenaran (padahal ia mampu menyampaikannya, pent) adalah Syaithon Akhros (Setan yg Bisu dari jenis manusia).” (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).

(*) Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Agama dan kebaikan apalagi yg ada pada seseorang yg melihat larangan-larangan Allah dilanggar, batas-batas-Nya diabaikan, agama-Nya ditinggalkan, dan sunnah Rasul-Nya dibenci. Orang yg hatinya dingin, lisannya diam (dari menyampaikan kebenaran dan mengingkari kemungkaran, pent), dia adalah Syaithon Akhros (Setan yg bisu dr jenis manusia), sebagaimana orang yg berbicara dengan kebatilan dinamakan Syaithon Naathiq (Setan yg berbicara dr jenis manusia).

https://www.nahimunkar.org/mengenal-ciri-ciri-setan-bisu-dan-setan-yang-berbicara/

 
 

Azab dan Bencana karena Membiarkan Kemunkaran -Kemaksiatan

  
 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلاَ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهِ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ

Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia secara umum karena perbuatan khusus (yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang) hingga mereka melihat kemungkaran di tengah-tengah mereka, mereka mampu mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Jika itu yang mereka lakukan, Allah mengazab yang umum maupun yang khusus. (HR Ahmad, sanadnya hasan menurut Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul Bari).

Nabi saw. menjelaskan, maraknya zina dan riba sebagai penyebab kehancuran sebuah masyarakat. Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ الله‏ِ

Apabila zina dan riba telah tampak di suatu kampung, sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah bagi mereka. (HR ath-Thabarani dan al-Hakim, shahih menurut Az-Zahabi).

Membiarkan merajalelanya kemunkaran akan mengakibatkan kerusakan. Kerusakan, atau azab yang terjadi akibat perbuatan maksiat atau munkar itu tidak hanya menimpa pelakunya, namun juga orang lain yang tidak terlibat langsung. Realitas ini digambarkan Rasulullah saw. dengan sabdanya:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُوْدِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيْهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوْا عَلَى سَفِيْنَةِ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِيْنَ فِيْ أَسْفَلَهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوْا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا ِفي نَصِيْبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوْهُمْ وَمَا أَرَادُوْا هَلَكُوْا جَمِيْعًا وَإِنْ أَخَذُوْا عَلَى أَيِدِيْهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيْعاً

Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika hendak mengambil air, melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Mereka berkata, “Seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.” Apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa; jika mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka selamat dan menyelamatkan semuanya. (HR al-Bukhari).

(nahimunkar.org)