LANGSA – Pemerintah Aceh benar-benar menjaga kesucian rakyatnya. Di mana seorang perempuan di kota Langsa, Aceh, yang diperkosa setelah kedapatan sedang berduaan dengan pria bukan mahramnya,dihukum cambuk,  kata pejabat kejaksaan setempat, hari Jumat (21/11)

Pelaku pemerkosaan yang berjumlah delapan orang diproses berdasarkan hukum pidana negara dan telah divonis.

Meski menjadi korban perkosaan, perempuan itu juga tetap menjalani proses hukum syariah, karena melanggar qanun tentang khalwat atau hanya berduaan di dalam rumah dengan lawan jenis yang bukan mahram, kata Kepala Kejaksaan Negeri Langsa Miftahul Arifin.

“Wanita itu dimasukkan ke Undang-Undang Qanun karena wanita itu yang melakukan khalwat, zina dengan laki-laki yang bukan suami-istri (yang sah) sehingga mereka dikenakan undang-undang kekhususan Aceh.

“Kemudian dia diperkosa oleh beberapa orang yang menemukan sehingga mereka yang memperkosa, katakanlah bukan memperkosa ya, orang yang sama sama dewasa memaksakan diri berbuat begitu itu dimasukkan ke Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, sehingga pelakunya dimasukkan ke pidana penjara tidak dimasukkan ke undang-undang kekhususan,” kata Miftahul.

Perda Syariah di Aceh mengatur lima hal yang akan diproses sesuai hukum syariah Islam yakni pelanggaran mengenai ibadah, miras, judi, khalwat (mesum) serta jinayat (hukum pidana materil), seperti dijelaskan oleh Ibrahim Latif, Kepala Dinas Syariat Islam kota Langsa kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Namun Kepala Kajari Langsa Miftahul Arifin mengatakan menambahkan karena hukum pidana untuk para pelaku perkosaan diyakini lebih berat dibandingkan cambuk.

“Kalau hukum cambuk kan untuk membuat jera, agar yang bersangkutan tidak mengulangi perbuatannya. Jika masih diulangi, akan dinasihati, jika masih belum berubah ya mungkin orang itu tidak cocok tinggal di Aceh,” ujarnya.

Selain perempuan tersebut, delapan orang lain juga menjalani hukum cambuk di Langsa hari Jumat (21/11) karena judi. Kehidupan di Aceh menerapkan hukum Syariah, sekalipun belum sempurna secara keseluruhan, tapi ini sudah memberikan arti yang penting, terutama menjaga kemuliaan masyarakat Aceh. [jj/dbs/voa-islam.com]

(nahimunkar.com)