Senin 15 Safar 1436 / 8 December 2014 15:00

DALAM Islam setiap anak laki-laki diperintahkan untuk di sunat, namun kini telah dibuktikan secara ilmiah manfaatnya. Bahkan manfaat sunat telah dibuktikan ilmuwan barat lebih besar daripada risikonya.

Sebelumnya, perdebatan mengenai etika prosedur dan risiko penyunatan telah lama berkecamuk. Dan beberapa orang percaya pemotongan bagian kecil dari alat kelamin laki-laki ini mempengaruhi fungsi seksual mereka.

Namun para pejabat Amerika Serikat, khususnya, kini telah mengatakan bukti medis yang ada dapat mendukung prosedur tersebut. Pengumuman itu datang dari draft pedoman yang telah lama ditunggu, oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), yang baru yang dirilis.

Ini adalah pertama kalinya Pemerintah Amerika merilis sebuah laporan mengenai prosedur penyunatan. Sementara pedoman menunda untuk membolehkan orangtua menyunati anak-anak mereka yang baru lahir, keuntungan sunat bagi kesehatan telah terbukti.

Prosedur sunat terbukti bermanfaat dilakukan karena kuman dapat tumbuh di bawah kulup (bagian dari kulit yang disunat). Para pejabat CDC menemukan bahwa sunat dapat menurunkan risiko pria dari penyakit menular seksual, kanker penis, dan bahkan infeksi saluran kemih.

Sebagaimana dilansir dari Dailymail, Jumat (5/12/2014), pedoman baru ini adalah hasil dari penelitian selama tujuh tahun, setelah sejumlah penelitian yang berpengaruh di Afrika menunjukkan bahwa sunat dapat membantu menghentikan penyebaran virus HIV-AIDS.

“Manfaat sunat pada laki-laki telah menjadi lebih dan lebih jelas lagi selama sepuluh tahun terakhir,” kata Dr. Aaron Tobian, peneliti Johns Hopkins University yang terlibat dalam salah satu studi di Afrika. Namun pedoman ini penting, karena jumlah bayi laki-laki baru lahir yang disunat telah merosot, tambahnya.

Dalam pedoman baru, CDC mengatakan ada bukti kuat bahwa sekarang sunat laki-laki dapat mengurangi risiko pria terkena HIV dari pasangan wanita yang terinfeksi oleh 50 sampai 60 persen, mengurangi risiko herpes kelamin dan strain human papillomavirus (HPV) tertentu sampai 30 persen atau lebih, menurunkan kemungkinan infeksi saluran kemih pada masa bayi, dan kanker penis.

Pedoman ini juga mengatakan sunat lebih aman dilakukan pada bayi yang baru lahir dan anak-anak daripada laki-laki dewasa, karena komplikasi yang mungkin terjadi, selain pendarahan kecil dan rasa sakit yang paling umum dirasakan.

Para pejabat CDC merekomendasikan pemberian prosedur kepada pria yang telah aktif secara seksual dan belum menjalani sunat, mengingat sunat juga bermanfaat bagi pria dewasa juga. Ini terutama dikhususkan pada pria yang dianggap lebih berisiko tertular HIV.

Namun, pedoman CDC yang masih diberikan kesempatan untuk dipertimbangkan masyarakat selama 40 hari ke depan, berpotensi untuk menarik oposisi dari kelompok advokasi antisunat. Meskipun telah dipraktekkan oleh penganut Yahudi dan Muslim selama ribuan tahun, praktek sunat belum umum dikenal di Amerika Serikat sampai abad ke-20.

Dalam sejarah, diperkirakan hanya 25 persen dari bayi laki-laki Amerika disunat pada tahun 1900. Ini secara bertahap menjadi norma budaya pada 1950-an dan 1960-an hingga melampaui 80 persen. Tapi, kemudian tren menjadi terbalik.

Hal ini disebabkan oleh perubahan demografi, terutama saat penduduk Amerika Serikat mulai diramaikan oleh pertumbuhan keturunan Meksiko-Amerika dan kelompok etnis lainnya yang tidak menjadikan praktek sunat sebagai tradisi.

Pada tahun 2010 tingkat bayi yang disunat turun menjadi sekitar 58 persen, menurut perkiraan CDC. Walau demikian, kini lebih banyak bukti medis yang mendukung praktek ini, terutama dari tiga studi berpengaruh di Afrika yang membuktikan manfaatnya bagi pengendalian penyebaran HIV dan penyakit menular seksual lainnya. [irma/islampos/dailymail]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 607 kali, 1 untuk hari ini)