Di Flyer Seminar Dukun Ada Logo GP Ansor dan Supported by NU Online

 

(GP Ansor dan NU Online Cari Apa?)

  • Ketua PC Matan Banyuwangi, Agus M. Bisyri Ichwan menjawab singkat saat ditanya apakah acara tersebut merupakan acara resmi Matan bersama dengan GP Ansor Banyuwangi.
  • “Iya,” jawab Gus Bisyri singkat saat dikonfirmasi TIMESIndonesia, Jumat (19/2/2021).
  • Namun Ketua PC GP Ansor Banyuwangi, H. Ikhwan Arief tidak menjawab saat dihubungi terkait benar tidaknya acara seminar internasional tentang dukun yang terlanjur viral itu.

     

  •  

  • Dukun (santet dan semacamnya) hukumannya hukum bunuh menurut Islam. Sedangkan maling hukumannya adalah potong tangan. Jadi kejahatan dukun itu lebih parah, karena merusak iman, hingga hukumannya pun hukum bunuh.
    (Lha kok malah ada persatuan dukun, malah mau mengadakan seminar, malah kerjasama dengan GP Ansor, malah tercantum Supported by NU Online? Apakah manusia2 yang dari kalangan NU itu sengaja terang2an menentang Islam? Atau sengaja merusak Islam pakai jurusan yang sangat diharamkan oleh Islam? Semoga saja tidak begitu.)

Silakan simak ini.

***

 

Ada Logo GP Ansor dan Supported by NU Online di Flyer Seminar Dukun Internasional


Seminar Internasional dengan tema ‘Dukun dan Perdamaian Dunia’ menjadi viral lantaran pencatutan nama dai kondang, Gus Miftah secara sepihak oleh panitia seminar dukun tanpa ada konfirmasi.

 

Dalam flyer acara seminar yang rencananya akan digelar pada Sabtu, 6 Maret 2021 pukul 13.00 Wib itu terdapat logo GP Ansor, Matan Banyuwangi dan Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) serta supported by NU Online.

 

Ketua PC Matan Banyuwangi, Agus M. Bisyri Ichwan menjawab singkat saat ditanya apakah acara tersebut merupakan acara resmi Matan bersama dengan GP Ansor Banyuwangi.

 

“Iya,” jawab Gus Bisyri singkat saat dikonfirmasi TIMESIndonesia, Jumat (19/2/2021).

 

Namun Ketua PC GP Ansor Banyuwangi, H. Ikhwan Arief tidak menjawab saat dihubungi terkait benar tidaknya acara seminar internasional tentang dukun yang terlanjur viral itu.

 

Masyarakat tentu juga ingin tahu apakah benar acara itu merupakan agenda resmi dari organisasi terpelajar, GP Ansor Banyuwangi atau hanya sekedar ikut-ikutan saja.

 

Selain Gus Miftah, di flyer itu juga tercantum nama dan foto Gus Rofiq selaku staf ahli supranatural Gus Dur sebagai keynote speaker.

 

Sedangkan pematerinya yaitu Mochtar Nabeel (Pengamat Supranatural dari Universitas Al-Azhar), Abdul Fatah Hasan (Ketua Umum Perdunu), Fatchan Himami Hasan (Bendahara Umum PC GP Ansor Banyuwangi), dan Ali Nurfatoni sebagai Sekjen Perdunu yang juga Kepala Desa Sumberarum.

 

Tak hanya itu, bahkan dalam acara tersebut si pembuat juga mengambil logo media online TIMES Indonesia secara sepihak tanpa ada dikonfirmasi terlebih dahulu.

 

Syamsul Arifin, Kabiro TIMES Indonesia biro Banyuwangi mengaku kecewa terhadap panitia Seminar Internasional Dukun dan Perdamaian Dunia yang rencananya dilaksanakan di Kabupaten Banyuwangi pada Sabtu (6/3/2021) bulan depan.

 

“Pihak TIMES Indonesia biro Banyuwangi tidak pernah mendapat konfirmasi dari pihak panitia dari kegiatan tersebut. Tiba-tiba saja kami mengetahui logo media kami sudah tertera dalam flyer yang sudah beredar,” tegas Syamsul Arifin, Jumat (19/3/2021).

 

Atas dasar itu, Manajemen TIMESIndonesia biro Banyuwangi berencana akan menemui Ketua PCNU Banyuwangi guna melakukan koordinasi dan menanyakan perihal benar tidaknya kegiatan seminar dukun itu adalah dari Nahdlatul Ulama (NU). (*)

@geloranews

19 Februari 2021

***

 

Persatuan Dukun, Persatuan Maling, dan Gerombolan Setan Bisu

Posted on 10 Februari 2021

by Nahimunkar.org


 Ilustrasi. Dukun2 di Negara Saudi Dihukum Mati. Foto/ dok. Net/ nahimunkar.org

 

Persatuan Dukun, Persatuan Maling, dan Gerombolan Setan Bisu
Persatuan Dukun… dan Persatuan Maling… Coba Bandingkan

Dukun (santet dan semacamnya) hukumannya hukum bunuh menurut Islam. Sedangkan maling hukumannya adalah potong tangan. Jadi kejahatan dukun itu lebih parah, karena merusak iman, hingga hukumannya pun hukum bunuh.

Misalnya ada Persatuan Maling Nusantara, dan berani terang2an mengumumkan keberadaannya, apakah penguasa di negeri ini akan diam saja?

Bila diam saja berarti sama dengan membiarkan sebagai negeri maling secara resmi. Nah, Persatuan Dukun Nusantara itu lebih buruk lagi bila dibanding misalnya Persatuan Maling Nusantara. Maka bila dibiarkan, entah azab Allah macam apa yang akan ditimpakan terutama kepada para punggawa yang ‘seharusnya tidak membiarkannya’ namun membiarkannya.

Sedangkan para ulama dan tokoh Islam yang mampu bersuara untuk mencegahnya namun diam saja, maka jangan salahkan bila statusnya serendah apa yang disebut dengan istilah Setan Bisu syaithoonun Akhros. Bila jumlahnya banyak, maka boleh jadi sebutannya adalah ‘gerombolan setan bisu’. Dan itu sama dengan mengundang azab dan bencana dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

— Mengenai setan bisu, silakan simak ini:
(*) Abu Ali Ad-Daqqooq An-Naisaburi Asy-Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang berdiam diri dari (menyampaikan) kebenaran, maka ia adalah Syaithon Akhros (yakni setan yg bisu dari jenis manusia).” (Disebutkan oleh imam An-Nawawi di dlm Syarah Shohih Muslim).

(*) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah jg pernah berkata: “Orang yang berdiam diri dari menyampaikan kebenaran (padahal ia mampu menyampaikannya, pent) adalah Syaithon Akhros (Setan yg Bisu dari jenis manusia).” (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).

(*) Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Agama dan kebaikan apalagi yg ada pada seseorang yg melihat larangan-larangan Allah dilanggar, batas-batas-Nya diabaikan, agama-Nya ditinggalkan, dan sunnah Rasul-Nya dibenci. Orang yg hatinya dingin, lisannya diam (dari menyampaikan kebenaran dan mengingkari kemungkaran, pent), dia adalah Syaithon Akhros (Setan yg bisu dr jenis manusia), sebagaimana orang yg berbicara dengan kebatilan dinamakan Syaithon Naathiq (Setan yg berbicara dr jenis manusia).

https://www.nahimunkar.org/mengenal-ciri-ciri-setan-bisu-dan-setan-yang-berbicara/
***

 
 

Azab dan Bencana karena Membiarkan Kemunkaran -Kemaksiatan

  
 



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِنَّ
اللهَ
عَزَّ
وَجَلَّ
لاَ
يُعَذِّبُ
الْعَامَّةَ
بِعَمَلِ
الْخَاصَّةِ
حَتَّى
يَرَوْا
الْمُنْكَرَ
بَيْنَ
ظَهْرَانَيْهِمْ
وَهُمْ
قَادِرُونَ
عَلَى
أَنْ
يُنْكِرُوهُ
فَلاَ
يُنْكِرُوهُ
فَإِذَا
فَعَلُوا
ذَلِكَ
عَذَّبَ
اللهِ
الْخَاصَّةَ
وَالْعَامَّةَ


Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia secara umum karena perbuatan khusus (yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang) hingga mereka melihat kemungkaran di tengah-tengah mereka, mereka mampu mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Jika itu yang mereka lakukan, Allah mengazab yang umum maupun yang khusus. (HR Ahmad, sanadnya hasan menurut Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul Bari).

Nabi saw. menjelaskan, maraknya zina dan riba sebagai penyebab kehancuran sebuah masyarakat. Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا
ظَهَرَ
الزِّنَا
وَالرِّبَا
فِي
قَرْيَةٍ
فَقَدْ
أَحَلُّوْا
بِأَنْفُسِهِمْ
عَذَابَ
اللهِ


Apabila zina dan riba telah tampak di suatu kampung, sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah bagi mereka. (HR ath-Thabarani dan al-Hakim, shahih menurut Az-Zahabi).

Membiarkan merajalelanya kemunkaran akan mengakibatkan kerusakan. Kerusakan, atau azab yang terjadi akibat perbuatan maksiat atau munkar itu tidak hanya menimpa pelakunya, namun juga orang lain yang tidak terlibat langsung. Realitas ini digambarkan Rasulullah saw. dengan sabdanya:

مَثَلُ
الْقَائِمِ
عَلَى
حُدُوْدِ
اللهِ
وَالْوَاقِعِ
فِيْهَا
كَمَثَلِ
قَوْمٍ
اسْتَهَمُوْا
عَلَى
سَفِيْنَةِ
فَأَصَابَ
بَعْضُهُمْ
أَعْلَاهَا
وَبَعْضُهُمْ
أَسْفَلَهَا
فَكَانَ
الَّذِيْنَ
فِيْ
أَسْفَلَهَا
إِذَا
اسْتَقَوْا
مِنَ
الْمَاءِ
مَرُّوا
عَلَى
مَنْ
فَوْقَهُمْ
فَقَالُوْا
لَوْ
أَنَّا
خَرَقْنَا
ِفي
نَصِيْبِنَا
خَرْقًا
وَلَمْ
نُؤْذِ
مَنْ
فَوْقَنَا
فَإِنْ
يَتْرُكُوْهُمْ
وَمَا
أَرَادُوْا
هَلَكُوْا
جَمِيْعًا
وَإِنْ
أَخَذُوْا
عَلَى
أَيِدِيْهِمْ
نَجَوْا
وَنَجَوْا
جَمِيْعاً


Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika hendak mengambil air, melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Mereka berkata, “Seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.” Apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa; jika mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka selamat dan menyelamatkan semuanya. (HR al-Bukhari).

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 346 kali, 1 untuk hari ini)