Ada beberapa hal yang memang sudah menjadi fitrah pada diri manusia, sehingga mengamininya tidak memerlukan pengajaran sebelumnya. Sebagaimana cerita seorang sahabat datang kepada Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersama seorang budak wanita non-Arab untuk dimerdekakan. Maka beliau bertanya padanya, “Di manakah Allah Ta’ala?”

Budak tersebut menjawab:

فِي السَّمَاءِ

“Di atas langit.”

Rasulullah bertanya lagi, “Maka, siapakah aku?”

Budak tersebut menjawab:

أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ

“Engkau adalah Rasulullah.”

Maka Rasulullah mengatakan bahwa dia adalah seorang budak beriman. Beliau pun memerintahkan untuk memerdekakannya.

Hadits di atas diriwayatkan oleh para imam ahli hadits, di antaranya Imam Malik, Ahmad, Muslim, Abu Daud dan lainnya.

Perhatikan pula bahwa yang Rasulullah tanyakan berkenaan dengan esensi penting dari dua kalimat syahadat. Tentang Allah, kemudian tentang Rasul-Nya.

Mengetahui keduanya adalah hal yang sudah difitrahkan oleh Allah terhadap manusia. Terutama menganggap bahwa Allah di atas langit. Semua hamba mengenalinya. Budak saja bisa mengenalinya, maka bagaimana dengan orang merdeka berpendidikan?! Juga orang non-Arab saja memahaminya, maka tentulah yang Arab memahaminya pula.

Maka, Ibnu Qutaibah pernah berkata:

وَالْأُمَمُ كُلُّهَا -عَرَبِيُّهَا وَعَجَمِيُّهَا- تَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى فِي السَّمَاءِ مَا تُرِكَتْ عَلَى فِطَرِهَا وَلَمْ تُنْقَلْ عَنْ ذَلِكَ بِالتَّعْلِيمِ.

“Dan para umat seluruhnya -baik Arab maupun non-Arab- berkata: Sesungguhnya Allah Ta’ala di atas langit. Fitrah para umat itu tidak pernah ditinggalkan dan (ilmu semacam itu) tidak dinukilkan melalui taklim (pengajaran).” [Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits, h. 395]

Maksudnya, pengetahuan semacam ini tanpa diajari dan ditalqin pun, manusia sudah memahaminya.

Tapi, tidak sedikit orang punya ilmu, bisa bahasa Arab, hafal al-Qur’an dan al-Hadits, justru mengingkari hal semacam ini. Bahkan, mengatakan bahwa pertanyaan ‘di manakah Allah?’ adalah pertanyaan kemungkaran. Padahal jelas-jelas Nabi Muhammad tidak mengingkarinya, bahkan beliau pernah bertanya seperti itu.

Begitulah….jika berilmu tapi tidak berusaha mengikuti manhaj Salaf, melainkan sekadar ikut tradisi, atau logika subjektif, atau perasaan semata.

Via Fb Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimnkar.com)

(Dibaca 663 kali, 1 untuk hari ini)