Dalam menghadapi permasalahan, manusia setidaknya ada dua tipe:

  1. yang membaca permasalahan dari satu sudut pandang (sering kali bersifat subjektif).
  2. yang mampu memahami substansi permasalahan yang dihadapi.

Cara berpikir orang2 pertama cenderung lebih terbatas, solusi yang terlahir lebih nampak realistis, namun sering kali mereka menemui permasalahan lain dari solusi yang mereka jalankan.

Sementara cara berpikir no.2 sekilas terkesan “tidak menggigit”, namun sering kali solusinya benar-benar solutif. Ibaratnya mengatasi masalah tanpa masalah (bukan pegadaian lho 🙂 ).

Contoh :

Nabi pernah ditanya tentang hukum berwudhu dengan air laut, beliaupun menjawab, “Laut itu suci airnya dan halal bangkai hewannya”.

Jawaban diatas adalah jawaban cerdas, Nabi membaca substansi permasalahan yang dihadapi penanya bukan hanya dalam urusan wudhu.

Sementara jika orang tipe pertama, dia akan mencukupkan dengan jawaban, “boleh”.

Contoh lain (dakwah) :

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita menghadapi kemajemukan, baik cara pandang ataupun keyakinan. Sementara aturan syari’at bersifat sangat sempurna dan paripurna.

Bagi tipe pertama, mereka sering kali mengedepankan perbedaan dan kurang mampu membaca situasi masyarakat.

Misal, ketika menjumpai sekelompok orang yang membenci jenggot dan celana cingkrang, sikap yang ditunjukkan adalah menjadikan mereka sebagai “musuh sunnah”. Ajakan mereka gencar pada seputar dua perkara yang dianggap sangat penting ini… sehingga secara tidak langsung, tujuan utama berdakwah yaitu mengajak manusia kepada pemurnian ibadah kepada Allah (tauhid), sedikit banyak tergeser.

Pandangannya menyempit, jika melihat ada orang yang mencukur jenggot dan tidak cingkrang, langsung bergumam dalam hati, “bukan ikhwan kita…”. Tapi anehnya, dia akan mengeluarkan orang-orang yang meski berjenggot dan cingkrang dari lingkaran “ikhwan kita”, karena kesalahan-kesalahan yang ‘hanya mereka yang dapat mengukurnya’.

Sementara tipe kedua, mereka lebih luwes, pandangan mereka lebih luas, substansi utama dikedepankan (dakwah tauhid), dengan tidak melupakan tuntunan syari’at yang lain.

Mereka menyanyangi saudara muslim lainnya dengan penuh ketulusan, mereka tidak mencela saudaranya yang terjatuh dalam kesalahan, justru mereka mengajakknya agar tersadar. Mereka biasanya bersikap lebih tenang dan tidak terburu-buru.

Dua tipe sifat diatas bagi saya bukan sekedar bawaan, namun itu adalah didikan. Seseorang bisa dengan mudah dididik menjadi tipe pertama, meski sebenarnya dia berkarakter tenang. Begitu pula sebaliknya.

Tipe kedua lebih sulit diraih, karena ia membutuhkan ilmu, pengalaman, dan pembiasaan… tapi bukankah dakwah itu memang harus berdasarkan “bashiroh”?

Wallahu a’lam.

‪#‎semoga_menjadi_renungan_bermanfaat.

أبو العباس أمين الله di Pekalongan

(nahimunkar.com)

(Dibaca 540 kali, 1 untuk hari ini)