• HMI Tegaskan Ajaran Laduni Aliran Sesat

Meulaboh– Dialog antara ulama dari dua Kabupaten yaitu Aceh Barat, dan Nagan Raya dengan pengikut aliran Laduni yang laksanakan di di gedung pertemuan Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat Senin (03/08), berakhir ricuh.

Sebelum acara dimulai sebanyak 20 pengikut aliran Laduni terlihat siap untuk berdialog, namun ribuan massa yang yang menyaksikan dialog tersebut membuat kerusuhan sehingga suasana menjadi panas, pihak muspika Aceh Barat memutuskan untuk menunda acara dialog tersebut.

Untuk menghindari amukan warga, sekelompok pengikut aliran laduni tersebut hendak dikeluarkan dari gedung untuk digiring kedalam mobil pengaman jenis Panser, warga langsung melempari pengikut laduni dengan batu, dan saat itu kerusuhan pun terjadi dimana massa menghujani pengikut laduni dengan batu saat hendak menuju masuk kedalam panser untuk diamankan pihak kepolisian.

Akibatnya pihak kepolisian setempat mengambil tindakan dengan melepaskan tembakan ke udara dan tembakan gas air mata, dalam kerusahan tersebut satu unit mobil sedan mengalami kaca pecah terkena lemparan batu.

Selain mobil sedan tersebut, sebanyak 5 sepeda motor warga yang diparkir disisi jalan raya nyaris hancur digiling panser saat menggiring pengikut aliran laduni tersebut.

Pantuan Diliputnews.com para pengikut aliran Laduni yang diduga sesat tersebut tersebar didua kabupaten Nagan Raya dan Aceh Barat, dan sebelum acara dimulaipun meraka terlihat membawa kitab yang diyakininya.

Diliputnews Senin, 03 September 2012. Pkl. 18:51 WIB Oleh : Muhclis | Aceh Barat

***

Pertemuan MPU – Laduni Berakhir Ricuh

Belasan Tembakan Bubarkan Massa

Meulaboh-Pertemuan lanjutan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) dan pengikut Laduni di Kantor Darmawanita Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, Senin (3/9) siang, sekira pukul 14.50 WIB, berujung ricuh.

Pertemuan untuk mengenal lebih dalam cara beribadah aliran ini, gagal terlaksan. Ini karena ratusan massa mengepung lokasi diskusi keburu emosi melihat 21 pengikut Laduni tersebut. Aksi lempar batu tak terelakan.

Pantauan Koran ini di lokasi, suara umpatan dan makian disampaikan massa kepada pengikut Laduni tak berhenti sedetikpun. Padahal, sebanyak 21 pengikut Laduni, MPU, dan pimpinan Pasantren baru saja duduk di kursi disediakan. Emosi massa tersulut tinggi, tanpa terkontrol. Mereka marah karena mendengar beberapa kebiasaan beribadah aliran ini sangat bertentangan dengan ibadah agama Islam pada umumnya. Petugas keamanan dari pihak Polisi dan TNI diturunkan kelokasi tak mampu meredam kemarahan warga. Diskusi pun tak dapat berlangsung.

Ketua MPU Aceh Barat, Abu Abdul Rani, melempar handuk putih kepada pihak kepolisian. “Kami tidak berani menjamin kegiatan ini dapat berlangsung. Sebaiknya, para pengikut ini harus dievakuasi ke Meulaboh terlebih dahulu, agar tidak terjatuhnya korban jiwa. Massa telah tersulut emosi,” katanya kepada aparat keamanan saat itu.

Puluhan personil Polisi berpakaian lengkap mulai membuat pagar betis di depan pintu Kantor Darmawanita. Mobil Reo dirapatkan pas pada pintu kantor tersebut. Massa yang sadar kalau 21 pengikut Laduni akan dievakuasi keluar kantor pun mulai menumpuk pada bagian depan kantor. Belum lagi habis, pengikut Laduni diangkut petugas, lemparan batu dari massa dilakukan secara bertubi-tubi ke arah truk. Kosentrasi massa kala itu, merapat diri ke Mobil Reo untuk memukul pengikut aliran itu.

Polisi terpaksa mengeluarkan belasan kali tembakan ke udara, guna memecahkan kerumunan massa. Namun massa yang tersulut emosinya seakan tak merespon gertakan suara senjata polisi itu, hingga petugas melepaskan tembakan gas air mata. Kerumunan massa akhirnya buyar. Mobil Reo melihat ruang untuk jalan, langsung melanjutkan kendaraannya.Namun, dari 21 pengikut Laduni yang ada, hanya 19 orang yang berhasil diangkut petugas. Semenetara dua orang pengikut Laduni masih tersisa di dalam kantor. Polisi pun langsung melarikan untuk mengamankan keduanya kedalam kamar.
Selang puluhan menit, kembali mobil Reo tiba kelokasi untuk mengevakuasi dua orang yang tersisa.

Namun emosi warga tetap sama seperti saat dilakukan evakuasi pertama.Kapolres Aceh Barat, AKBP Artanto SIK, mengaku emosi warga tidak dapat terkontrol. Sebanyak 50 puluhan personil untuk mengamankan lokasi diskusi, namun tetap belum cukup untuk mengamankan lokasi kantor Darmawanita Kecamatan Kaway XVI, itu. “Jadi setelah MPU Kecamatan dan MPU kabupaten mengatakan tidak yakin mampu melaksanakan diskusi itu.

Saya langsung perintahkan anggota saya untuk mengevakuasi pengikut Laduni ke Kantor. Jika tidak, maka akan jatuh korban jiwa,” jelasnya.

Sementara pihak MPU dan seluruh ulama di Aceh Barat melakukan rembuk, untuk menyikapi masalah ini.

Akibat kerusuhan tersebut, tercatat sebanyak enam unit kendaraan rusak, terdiri dari lima unit sepeda motor rusak (satu rusak parah) dan satu unit kendaraan roda empat (Kaca mobil pecah). Sedangkan beberapa warga yang terkena gas air mata, terlihat dioleskan Pepsodent pada bagian wajah mereka. (den)rakyataceh.com Selasa, 4 September 2012 | 10:13

***

HMI Tegaskan Ajaran Laduni Aliran Sesat

Meulaboh – Menyikapi keberadaan ajaran agama Islam Laduni di Kabupaten Aceh Barat, kemarin (2/9), Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Meulaboh, Ridwandi, meminta MPU dan seluruh ulama di daerah secepat mungkin mengambil langkah cepat, sebelum semangkin ramai masyarakat awam yang terpengaruh ikut masuk aliran sesat itu.

“Sekarang saja telah ada sekitar 10 orang pengikut aliran Laduni di Kabupaten Aceh Barat. Kalau para Ulama dan organisasi Islam lainnya tidak merespon cepat, mungkin para pengikutnya akan terus bertambah banyak,” tegas Ridwandi, Ketua HMI Cabang Meulaboh.

Terpengaruhnya beberapa orang warga Aceh Barat menjadi pengikut setia Laduni, dinilai HMI, karena minim pemahaman tentang ajaran agama Islam. Kekhawatiran terus bertambah pengikut aliran sesat ini, bisa dikategorikan karena tipisnya iman seseorang. Sehingga sangat mudah terpengaruh saat diasut masuk menjadi pengikut Laduni.

Mendengar kebiasaan pengikut beribadah aliran Laduni ini, tentu sangat bertolak belakang dengan aktivitas ibadah umat berbagama Islam pada umumnya. Karena pada aliran Laduni tidak menunaikan ibadah shalat Jum’at, hanya melakukan shalat tiga waktu dalam sehari, dan mempercayai jika guru mereka adalah malaikat dan kebiasaan aneh lainnya. “Ini jelas aliran sesat,” tegas Ridwandi.

HMI Meulaboh sangat mengharapkan kepada masyarakat setempat agar jangan merespon secara emosional terhadap keberadaan aliran tersebut, yang dikhawatirkan dapat menimbulkan tindakan main hakim sendiri.

“Masyarakat jangan cepat emosi untuk dalam menyikapi keberadaan aliran Laduni ini. Pokoknya jangan sampai macam kasus yang di Sampang lah, sampai ada jatuh korban jiwa. Biarlah Ulama yang berbicara untuk membubarkan aliran sesat tersebut” pintanya.

Lima warga Aceh Barat pengikut Laduni adalah, dua orang dari Desa Meunasah Rambut, yakni Bakhtiar dan Tgk Joni atau disapa Tgk Beliu Tapa. Sedangkan empat pengikut dari Desa Beureugang, adalah Aji, Jhon, Zulkifli, dan Zulkarnaini. (den) NUSANTARA – ACEH

Senin, 03 September 2012 , 12:03:00/ .jpnn

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.491 kali, 1 untuk hari ini)