sumber gambar: ahnaf27.wordpress.com


Di antara bisnis yang tidak akan pernah kehabisan pasar adalah bisnis kuliner. Sekitar tiga kali dalam sehari, semua jenis rumah makan dari yang sederhana sampai mewah dipenuhi pembeli dari berbagai kelas masyarakat.

Khusus di daerah metropolitan, soal makanan tidaklah semudah masyarakat perkampungan yang lebih sering menyantap masakan olahan sendiri. Lantaran alasan sibuk, gengsi, dan lainnya, soalan hidangan pengenyang perut ini menjadi hal lumrah yang makin menggurita.

Tengoklah tiap jam makan siang di daerah perkantoran atau pusat perbelanjaan. Hampir semua tempat makan dipenuhi pengunjung. Baik yang benar-benar lapar atau sekadar menikmati berbagai sajian minuman.

Sekali dalam sepekan, khususnya malam Ahad, cobalah jalan untuk sekadar survei ke pusat perbelanjaan. Kita akan mendapati antrian sejak masuk tempat parkir. Ada begitu banyak orang yang sengaja jalan untuk sekadar mengenyangkan perutnya.

Seringkali, banyak keluarga yang sengaja tidak masak di akhir pekan-meski hari-hari biasa juga tidak masak-karena ingin menikmati sajian di rumah makan yang sudah diincar jauh-jauh hari sebelumnya.

Tak jarang pula, soalan makanan ini jatuh kepada tindakan berlebihan. Baik dari kuantitas dengan banyak makan yang ujungnya mubadzir sampai berlebih-lebihan dalam soal kualitas. Dimana ada begitu banyak orang yang mengerahkan kemampuan terbaik untuk hal yang mubah ini hingga melalaikan yang sunnah atau wajib.

Padahal, apa yang hanya mubah ini telah berubah menjadi mubadzir (terlarang) dan berubah lagi menjadi berlebih-lebihan. Dua-duanya merupakan larangan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, meski dianggap lumrah oleh masyarakat masa kini yang mengklaim diri sebagai gaul.

“Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. al-An’am [6]: 141)

“Makan, minum, dan berpakaianlah tanpa berlebih-lebihan dan sombong.” tutur Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari Rahimahullahu Ta’ala dalam Shahih-nya.

Sejenak mari bertanya, mengapa hal yang kini dianggp lumrah bahkan wah ini termasuk sesuatu yang langsung dilarang oleh Allah Ta’ala dalam ayat-Nya dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dalam haditsnya?

“Maksudnya,” tutur Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan ayat ini, “janganlah kalian berlebih-lebihan dalam makan karena dapat berbahaya bagi pikiran dan badan.”

Nah!

Wallahu a’lam. [Pirman/Bersamadakwah] – Aug 21, 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.961 kali, 1 untuk hari ini)