Di Singkil Gereja Liar Dibakar, Presiden Jokowi Sigap Bereaksi! Namun Saat Mesjid Tolikara Dibakar, Jokowi Malah Undang Perwakilan Gereja Injili (pihak dibalik kerusuhan ) ke Istana

Di Singkil beredar luas buku tanpa penerbit yg berisi penghinaan pada ajaran Islam.

Atas kejadian tersebut, umat Islam yang mempersoalkan malah mendapat intimidasi.

Intimidasi dan tekanan terhadap umat Islam terus terjadi, hingga akhirnya meledak menjadi peristiwa 13 Oktober 2015 (gereja liar kecil, dibakar massa).

 Peristiwa di Singkil tersebut secara cepat dimanfaatkan dan diekploitasi oleh media sekuler dan aktivis liberal serta aktivis gereja untuk mencabut PBM MENAG & MENDAGRI NO 8/9 THN. 2006, dan melakukan kampanye negatif terhadap Islam, menurut hasil investigasi tim FPI.

Berikut ini berita yang menyoroti kasus Singkil.

***

Di Singkil Gereja Liar Dibakar, Presiden Jokowi Sigap Bereaksi! Namun Saat Mesjid Tolikara Dibakar, Jokowi Malah Undang Perwakilan Gereja Injili

– Harsindo.COM. Jokowi Bicara Soal Kerusuhan Aceh Singkil Lewat Media Sosial. Di akun Facebook Presiden Joko Widodo, dia memposting pernyataanya sekitar 4 jam yang lalu. Jokowi bilang telah mendapatkan laporan mengenai peristiwa yang terjadi di Aceh Singkil, Selasa kemarin.
Aceh Singkil
Terkait insiden pembakaran gereja di Desa Suka Makmur, Kabupaten Aceng Singkil, Aceh, Selasa (13/10) kemarin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung sigap mengambil sikap memerintahkan Kapolri untuk segera bertindak. Hal ini sangat bertolakbelakang saat insiden pembakaran mesjid di Tolikara dimana Jokowi tidak se sigap itu. Kali ini Jokowi dengan cepat berkomentar melalui media sosial resminya.
Melalui postingannya, dia telah memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Pandjaitan dan Kapolri Badrodin Haiti untuk mengambil langkah cepat dalam menghentikan kekerasan di sana.
Jokowi juga menyayangkan kejadian kekerasan yang berlatar agama dan berkeyakinan karena telah merusak makna dari Kebhinekaan Tunggal Ika.
“Saya telah mendapatkan laporan mengenai peristiwa kekerasan yang terjadi di Aceh Singkil, selasa kemarin. Untuk itu, saya telah perintahkan Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Pandjaitan dan Kapolri Badrodin Haiti untuk segera mengambil langkah cepat dalam menghentikan kekerasan, menjamin perlindungan bagi setiap warga negara, membangun perdamaian dan kerukunan bersama. Penegakan hukum juga harus dilakukan dengan tegas sehingga peristiwa seperti ini tidak terulang lagi.
Kekerasan atas nama apapun, apalagi berlatar agama dan keyakinan merusak kebhinekaan tunggal ika. Saya harap peristiwa ini tidak merembet kemana-mana dan bisa diselesaikan dengan baik dan adil.”
Sampai berita ini diturunkan nih gan harsindo.com, di fan page yang telah diikuti oleh 5 juta lebih anggota Facebook tersebut, mendapatkan respon yang sangat beragam.
Tak hanya melalui Facebook, Jokowi juga berkomentar melalui akun Twitter miliknya yang beralamat di @Jokowi. Dia juga memposting pesan untuk menghentikan kekerasan yang terjadi di Aceh.
“Hentikan kekerasan di Aceh Singkil. Kekerasan berlatar apapun, apalagi agama dan keyakinan merusak kebhinekaan -Jkw”
Insiden kerusuhan terjadi di Desa Suka Makmur, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, sekitar pukul 11.00 WIB. Kerusuhan bermula ketika sekelompok orang bersenjata tajam mendatangi salah satu gereja di Desa Suka Makmur dan membakarnya.
Massa yang berjumlah ratusan orang itu, menurut sang bupati, membakar satu bangunan gereja kecil yang tidak mempunyai izin tersebut dan merupakan bangunan illegal.

harsindo.com

***

Beda dengan Tragedi Tolikara, Insiden Aceh Singkil Langsung Direspon Jokowi

Insiden terkait rumah ibadah ini mengingatkan pada peristiwa sebelumnya saat terjadi penyerangan jamaah shalat Idul Fitri dan pembakaran masjid serta sejumlah kios milik umat Islam pada momen Idul Fitri 1436 H, Jumat 17 Juli 2015 lalu.

Namun saat itu, Presiden Jokowi tidak langsung memberikan respon. Setelah kejadian tersebut, Jokowi malah mengundang perwakilan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) yang merupakan pihak dibalik kerusuhan untuk datang ke Istana.  (SI Online) Kamis, 15/10/2015 16:00:42

***

Laporan Tim Investigasi FPI Aceh Terkait Insiden di Singkil :

[1]. Singkil adalah kabupaten baru, pemekaran dari kabupaten Aceh Selatan pada 2 April 1999.

[2]. Nama Singkil berasal dari nama ulama yang berdakwah pada abad 16, syech Abdurrauf Assingkili.

[3]. Kristen masuk ke Singkil tahun 1930, melalui penginjil yang berasal dari Salak Pakpak Barat bernama pendeta I. W. Banurea.

[4]. Bekerjasama dengan perusahaan perkebunan Socfindo, gereja banyak didirikan untuk karyawan yang berasal dari Pakpak.

[5]. Tahun 1968, saat Teungku Daud Beureu’eh sebagai Gubernur Militer, sempat mendatangi Kecamatan Lipat Kajang dan Desa Rimo, meminta gereja-gereja ditutup karena Aceh Daerah Istimewa Syariat Islam.

[6]. Tahun 1979, penginjil dari Gereja Tuhan Indonesia mendirikan gereja di desa Gunung Meriah, hal ini menimbulkan reaksi masyarakat.

[7]. Tanggal 11 Juli 1979, di Lipat Kajang, ditanda tangani perjanjian antara 8 ulama dan 8 pengurus gereja, bahwa gereja tidak akan didirikan kecuali dengan izin Pemda, dan tanggal 13 Oktober 1979 dilakukan ikrar perjanjian tersebut oleh masing-masing 11 orang perwakilan Islam dan Kristen yang juga ditanda tangani Pemda Aceh Selatan waktu itu.

[8]. Perjanjian tersebut terus dilanggar oleh pihak Kristen.

[9]. Oktober 2011, kembali dibuat perjanjian, bahwa gereja yang berizin hanya 1 unit di Kuta Kerangan, Undung-Undung 4 unit, di Gampong Keras, Gampong Napagaluh, Gampong Suka Makmur dan Gampong Lae Gecih, selain itu harus dibongkar.

[10]. Perjanjian ini tidak diindahkan, kenyataan berdiri 20 gereja, dengan tidak melalui prosedur sesuai dengan ketentuan PBM Menteri Agama dan Mendagri No. 8/9 Thn. 2006, Qanun Kabupaten Aceh Singkil No. 7 Thn. 2002.

[11]. Jemaat gereja adalah dari Luaq Kabupaten Singkil.

[12]. 20 September 2011, masyarakat mendatangi kantor Pemda, dan diterima oleh Assisten I, Drs. Azmil meyampaikan data banyaknya gereja liar tak berizin, dan Pemkab Singkil akan melakukan penertiban.

[13]. Juni 2012, di Singkil beredar luas buku tanpa penerbit yg berisi penghinaan pada ajaran Islam.

[14]. Atas kejadian tersebut, umat Islam yang mempersoalkan malah mendapat intimidasi.

[15] Intimidasi dan tekanan terhadap umat Islam terus terjadi, hingga akhirnya meledak menjadi peristiwa 13 Oktober 2015.

[16] Peristiwa di Singkil tersebut secara cepat dimanfaatkan dan diekploitasi oleh media sekuler dan aktivis liberal serta aktivis gereja untuk mencabut PBM MENAG & MENDAGRI NO 8/9 THN. 2006, dan melakukan kampanye negatif terhadap Islam.

[17]. Dari perspektif intelijen, terlihat jelas adanya operasi intelijen Asing untuk mengekploitasi konflik agama di satu sisi dan memunculkan indegenous people (masyarakat asli/adat) di sisi lain.

[18]. Di Singkil yang diangkat intoleransi umat Islam, di Tolikara diangkat hak masyarakat adat untuk mengatur daerahnya.

[19] Dalam dokumen Global Trend 2015 dan dokumen gelar pasukan oleh SOCOM (South Ocean Command), keduanya adalah dokumen resmi pemerintah Amerika, jelas sekali issue hak adat dan 4 titik konflik 1 issue intoleran (Aceh, Papua, Kalimantan, Ambon, Bali) akan di dorong dan dieksploitasi.

[20] Selesai

HATI-HATI DENGAN KONFLIK CIPTAAN

Ketua Bidang Keorganisasian Front Pembela Islam (FPI) Munarman mengajak kaum Muslim Indonesia berhati-hati dan waspada di dalam menyikapi munculnya berbagai peristiwa kekerasan yang belakangan ini kerap terjadi. Dan khusus mengenai aksi pembakaran gereja di Aceh Singkil dia berharap umat Islam tidak terpancing emosinya.

”Dari sudut pandang intelejen, peristiwa kekerasan yang muncul pada perayaan hari besar keagamaan jelas punya makna dan target tertentu.Tampaknya ada pihak yang ingin memancing emosi umat Islam karena peristiwa kekerasan di hari raya keagamaan oleh masyarakat awam bisa langsung diasosiasikan dengan simbol agama. Cara ini ampuh, terutama ketika ada pihak yang ingin melakukan mobilsasi massa,” kata Munarman, Rabu (14/10)

Menurut dia, beberapa informasi dan data yang dikumpulkan dari ‘pihak luar’ atau asing, Indonesia di tahun 2015 memang berusaha diletupkan berbagai tindakan kekerasan. Isunya adalah dengan meledakan konflik berbasis agama, adat, dan soal kedaerahan lainnya. Dalam hal ini wilayah yang diduga akan dijadika target adalah Aceh, Papua, Kalimantan, Ambon, serta Bali.

”Lima wilayah itu akan dijadikan ‘pemicu’ ledakan konflik kekerasan sosial. Jadi data Mapping Global Future tahun 2015 yang saya baca itulah memang ada kesesuaian antara munculnya berbagai peristiwa yang belakangan terjadi. Ingat kasus pembakaran masjid di Tolikara Papua terjadi pada Idul Fitri. Sedangkan kasus di Aceh Singkil terjadi pada perayaan tahun baru hijrah. Saya kira tak ada yang kebetulan,” ujarnya.

Atas munculnya peristiwa, Munarman menyatakan umat Islam waspada. Apalagi kini tampak sekali ada suasana yang ingin membenturkan posisi antar kelompok masyarakat, adat, dan agama.

(Tim News FPI) suara-islam.com, Kamis, 15/10/2015 11:24:19

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.773 kali, 1 untuk hari ini)