Sejumlah menteri dinilai sebagai pelaksana setia liberalisme yang gigih. Bahkan menteri agama Lukman Hakim Saifuddin sangat berlebihan mengakomodasi paham liberal dengan menerima aliran sesat Bahai dan juga mentolerir hak murtad. Yang kini berbalik menghantam Presiden Joko niscaya puluhan nama Relawan, LSM, dan tokoh-tokoh PDI-P sendiri. Nama-nama yang sejak awal diprediksi akan diangkat sebagai menteri seperti Maruar Sirait, Rieke Diah Pitaloka, Eva Kusuma Sundari, Efendi Simbolon, ternyata tersingkir begitu saja.  Untuk mengobatai kekecewaan kemudian Maruar dijanjikan akan diberi tugas tersendiri, begitu juga Eva yang akan diplot memegang sebuah badan pemerintah. Tapi Efendi Simbolon, mungkin tidak pernah dijanjikan apa-apa. Kini tampak meradang mengomentari setiap program vital Presiden Joko-JK, seperti kenaikan BBM bersubsidi. Lebih sengit lagi Simbolon mengomentari peluncuran kartu-kartu : Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Indonersia Sejahtera, seharusnya masih kurang katanya. Kata Simbolon hendaknya ditambah lagi Kartu Indonesia Kaya,nKartu Indonesia Senang, Kartu Indonesia Anti Galau dan sekalian Kartu Indonesia Masuk Surga, ujar Simbolon sarkastis dan menyindir Presiden Joko yang identik dengan kartu-kartu itu, namun pelaksanaannya sangat bermasalah.

Peluncuran tiga kartu : Kartu Indonesia Sehat, Pintar, dan Sejahtera oleh Presiden Joko didampingi Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani dan Mensos Khofifah Indar Parawansa, pada 3 November, hanya beberapa jam kemudian kecaman bertubi-tubi muncul di sejumlah media online. Anggaran yang akan digunakan membiayai kartu-kartu canggih itu dipertanyakan gencar. 

Jika dikatakan anggaran sudah siap, asalnya dari mana?  Anggaran berasal dari APBN 2015 jelas tidak termaktub rencana kartu-kartu Presiden Joko ini. Apalagi diketahui anggaran utk itu mencapai Rp6,44 Trilyun jumlah yang sangat besar. Sebagai presiden,  Joko Widodo tidak bisa “sakpenak udelle dhewe”, (semaunya sendiri)  tahu-tahu dalam waktu dua-tiga minggu meluncurkan program dengan anggaran sangat besar tanpa persetujuan DPR. Apalagi hanya beberapa hari setelah peluncuran kartu-kartu itu pelaksanaannya tumpang tindih dan simpang siur. Buat yang tinggal di ibukota Jakarta saja, seperti dikutip Kompas, sejumlah warga miskin pemegang Kartu Perlindungan Sosial, gagal menukarkan kartu itu dengan Kartu Keluarga Sejahtera untuk memperoleh dana bantuan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar. Mereka juga bingung dengan banyaknya kartu- kartu jaminan sosial yang telah diberikan pemerintah selama ini dengan nama yang berbeda-beda. (Kompas 5 November 2014).

Kabinet Presiden Joko yang sudah dicover dengan bungkus yang amat apik—bagi bangsa Indonesia yang mayoritas Islam—dengan klaim kabinet anak santri itu ternyata tidak cukup, bahkan ketidak-konsistenan komitmen dan janji-janji Presiden Joko dalam waktu singkat dan cepat telah menjadi bumerang yang  bisa mematikan diri sendiri. 

Adalah Wakil Ketua DPR Fadli Zon melalui lembaga yang dipimpinnya Institue For Polisy Studies (IPS), hanya dua pekan pasca pelantikan Presiden Joko, Fadli meluncurkan  buku berjudul : 100 Janji Jokowi-JK. Menurut Fadli buku itu ditulis berdasarkan pernyataan Presiden Joko-JK yang terdokumentasi di media massa juga pada visi missi Joko-JK yang diserahkan ke KPU. Dalam buku itu disusun sepuluh bab yang mencakup janji Joko-JK di sektor energi, infrastruktur, pertanian, kelautan, pertahanan keamanan, pertanian, pendidikan, politik, hukum, ekonomi dan kesejahteraan. 

Membaca janji-janji Presiden Joko yang dikutip ulang buku 100 Janji Joko-JK itu, betapa berat dan fantastis jika hendak konsisten mewujudkannya. Orang bijak mengingatkan siapa saja tidak boleh berburuk sangka, atau suudzon terhadap niat-niat baik seorang Presiden Joko yang baru menduduki jabatannya beberapa pekan saja. Namun demikian, kiprah sang presiden yang juga baru dua pecan itu pun ternyata juga bisa dinilai banyak pihak secara gamblang. Betapa rawannya program kartu-kartu yang diluncurkan Presiden Joko, dan dikomentari sangat sarkastis oleh kawan sehaluannya sendiri yakni Efendi Simbolon seperti dikutip di atas. Apalagi jika merinci 100 janji Joko-JK yang dkiutip buku terbitan IPS itu, betapa fantastis, bahkan mustahil semua janji-janji diwujudkan. 

Program besar lainya yakni gencar bertekad menaikkan BBM sampai Rp 3000/liter pada November 2014 ini juga, betapa rawannya tekad itu diwujudkan. Khususnya JK begitu antusiasnya dan tak sabaran untuk segera menaikkan premium dan solar bersubsiidi, seolah-olah jika terlambat rakyat Indonesia celaka dibuatnya. Seolah-olah jika BBM tidak dinaikkan akan mencelakai bangsa Indonesia. Apalagi di sejumlah TV diwawancarai orang awam dengan rekayasa rakyat bodoh itu dibuat berkata : Saya setuju BBM dinaikan bahkan dihapuskan subsidinya, daripada BBM sulit dicari dan harganya pun melambung setinggi-tingginya melebihi kenaikan yang dirancanakan pemerintah. Sungguh rekayasa opini yang sangat merugikan rakyat kecil secara semena-mena. Sikap keras pemerintah dan tidak peduli, bahwa BBM harus dinaikkan hanya membuktikan di balik tekad itu adalah “titah” atau perintah asing.

Padahal jalan keluar membengkaknya subsidi dan telah membuat bobol APBN, sampai Rp300 Trilyun itu, oleh ekonom Rizal Ramli, ia sodorkan ide yang sangat sederhana dan memberi solusi total. Caranya pemerintah kata Rizal Ramli segera memproduksi premium dengan oktan yang rendah, tapi dijual dengan harga seperti harga premium saat ini yakni Rp6500/liter. Premium jenis ini dijual khusus untuk rakyat kecil misalnya pengguna sepeda motor atau mobil cc kecil. Dan bagi mobil mewah yang nekad membeli BBM octan rendah itu, niscaya mesin mobinya akan hancur. Nah dari penurunan octan itu, maka kata Rizal pemerintah akan mengutip keuntungan Rp40 Trilyun/tahun, jumlah yang lebih banyak daripada menaikkan harga BBM Rp 3000/liter. Apakah ide Rizal Ramlli ini akan dijalankan pemerintah ? 

Jika pemerintah ngotot tidak mau menjalankan ide  itu, dipastikan ada udang di balik batu. Kemungkinan pertama karena petinggi tertinggi di negeri ini (apakah Presiden Joko atau JK) bisa disimpulkan membonceng atau ikut berbisnis minyak dan dengan kenaikkan BBM itu dia diuntungkan. Kemungkinan kedua pemerintah Presiden Joko-JK tak bisa dipungkiri memang antek Asing seperti diduga selama ini.

Apa yang bisa diharapkan dari pemerintahan presiden Joko yang sudah centang-perenang dalam usianya yang baru dua pekan ini? Tidak bermaksud suudzon dan mengecilkan hati, masa depan pemerintah yang baru ini sungguh-sungguh sangat muram. Di tengah jajaran kabinet yang sudah diprediksi  para pakar jauh dari kemampuan standard itu, maka masa depan itu semakin suram saja. Di antara 34 anggota kabinet yang dianggap patut menduduki jabatannya sesuai kemampuannya hanya 4 orang saja. Pantaslah jika banyak pihak sangat pesimis. Apalagi ditambah kalangan pendukung dan pengusung Joko-JK sendiri kini berteriak tidak puas dengan segala macam motif masing-masing. Yang jadi korban niscaya rakyat Indonesia.

(Dicuplik dari tulisan HM Aru Syeiff Assadullah Pemimpin Redaksi Tabloid Suara Islam berjudul Pendukung dan Pengusung Geger Hebat : Kabinet Joko Widodo 45 Persen Anak Santri, si online Sabtu, 15/11/2014 18:00:47)

(Dibaca 657 kali, 1 untuk hari ini)