Said Aqil Siradj, MA, akhirnya menyampaikan klarifikasi melalui youtube soal jenggot.

Klarifikasi itu justru menunjukkan tidak rapinya tata pikir Said Aqil Siradj, hingga ungkapannya terkesan berakibat menikam dirinya sendiri. Masih pula terkesan seakan membuat syariat baru pula.

Bahasa pasarannya: Maunya membela diri, tak tahunya malah kejeblos lebih dalam lagi.

Inilah berita dan sorotannya.

***

 

Akhirnya Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj Mengklarifikasi Soal Jenggot

Bekasibusiness.com – Setelah ramai kecaman soal hujatan terhadap jenggot, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA, akhirnya menyampaikan klarifikasi melalui youtube:

Berikut keterangan dan penjelasan lengkap pendapat Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirajd, MA:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh…

Memelihara jenggot adalah termasuk salah satu sunnah Rasullah SAW. Konsekuensinya orang yang memanjangkan jenggot harus mengikuti perilaku dan akhlak rasulullah. Karena misi yang paling subtansi dari rasulullah adalah membangun akhlakul karimah, bukan sekedar aksesoris yang menghiasi dirinya, tapi akhlaknya jauh dari perilaku akhlak mulia dan akhlak rasullah.

Masalah jenggot, menurut saya, orang yang memiliki jenggot itu mengurangi kecerdasanya. Karena syaraf yang sebenarnya mendukung untuk kecerdasan otak sehingga menjadi cerdas, (karena tumbuh jenggot) akan tertarik sampai habis. Sehingga jenggotnya menjadi panjang.

Nah, orang yang berjenggot panjang, walaupun kecerdasannya berkurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih, tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, apalagi jabatan. Kemudian menjadi orang yang ikhlas lillahita’ala.

Oleh karena itu, apabila kita melihat ulama-ulama sufi atau para wali, itu semuanya berjenggot. Artinya kecerdasannya sudah pindah dari otak menuju hati. Orang yang berjenggot seharusnya mengikuti beliau-beliau ini. Perpanjang jenggot itu silahkan, tapi hatinya harus mulia. Tidak ada rasa takabur, tidak ada hubbu al dunya (mencintai dunia), cinta kedudukan maupun jabatan. Karena jenggot menunjukan simbol kebersihan hatinya dan simbol karifan jiwanya.

Bagi yang belum mencapai maqom tersebut, menurut saya, seyogyanya tidak memenghiasi dirinya penampilan jenggot panjang, bergamis, dan malah menjadikannya sombong akhirnya dengan penampinnya tersebut. Dia merasa paling benar, paling mengikuti sunnah rasul. Silahkan berjenggot panjang, tapi hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah. Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh…

Bagi yang belum mencapai maqom tersebut, menurut saya, seyogyanya tidak memenghiasi dirinya penampilan jenggot panjang, bergamis, dan malah menjadikannya sombong akhirnya dengan penampinnya tersebut. Dia merasa paling benar, paling mengikuti sunnah rasul. Silahkan berjenggot panjang, tapi hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah.

CANDAAN INTERNAL
Sebelumnya Cendikiwanan dan Ulama Muda Indonesia, Bachtiar Nasir menilai pernyataan Ketua Umum Nahdhatul Ulama (NU), Said Aqil Siradj tentang orang yang jenggotnya semakin panjang semakin bodoh karena syarafnya tertarik oleh jenggot hanya candaan di internal saja. Sayangnya candaan itu masuk ke ranah sosial media (sosmed) membuat bahasa kamar menjadi keluar ke ruang publik.

“Saya kira itu hanya candaan internal saja. Candaan dalam kamar yang keluar ke sosmed atau ruang publik. Memang ada pendapat dari kalangan minoritas di Islam yang sangat kontradiktif seperti yang dikemukakan itu yang bertentangan dengan mahzab yang ada. Pendapat ini kemudian yang dijadikan candaan,” kata Bachtiar ketika dihubungi jpnn, Selasa (15/9).

Bachtian menyayangkan itu dijadikan candaan karena selain bertentangan dengan sunnah memelihara jenggot itu shahih karena Nabi Muhammad dan para pengikutnya melakukan itu termasuk Pendiri NU, KH Hasyim Ashari berjenggot, juga karena tidak ada bukti empiris atau ilmiah yang membenarkan hal itu.

“Tentunya sangat disayangkan karena Nabi Muhammad dan pengikutnya, termasuk Pendiri NU, KH Hasyim Ashari berjenggot, juga karena pernyataan itu tidak ada dasarnya. Tidak ada satupun bukti ilmiah yang pernah mengatakan bahwa semakin panjang orang berjenggot, semakin bodoh orang itu,” tegas Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini.

Terkait pernyataan Said Aqil bahwa paham yang diikuti itu bukan ajaran Islam tapi hanya mengambil budaya Arab sehingga yang terjadi bukan Islamisasi tapi Arabisasi, Bachtiar melihatnya bahwa hal itu hanya bentuk akumulasi kekesalan NU terhadap kelompok tertentu yang kerap menyerang NU dengan tuduhan bahwa ritual di NU banyak yang bid’ah atau mengada-ada.

“Saya lihat ada kekesalan dengan kelompok tertentu, yang saya akui memang ada di antara teman-teman para pendakwah yang mempraktekkan agama yang rigid atau kaku. Kelompok ini menyerang NU dan mungkin sangat menyakitkan NU. Kelompok ini kerap menghantam tradisi ritual NU dan NU selama ini diam. NU di bid’ah kan, dikatakan sesat. Ini mungkin terakumulasi, akhirnya terlontar candaan seperti ini. Sudah kelamaan NU disakiti nampaknya.

MASALAH ETNIS
Pengasuh Pondok Pesantren al-Bahjah Cirebon Buya Yahya mengatakan berbicara tentang kearaban (Nabi Muhammad) sudah masuk masalah etnis. Seperti yang terjadi saat ini yaitu muncul pemikiran-pemikiran yang ingin menjauhkan umat Islam dari Nabi Muhammad dengan membenci Arab.

“Menjauhkan umat Islam dari Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wa Salam, dengan mengajak orang membenci Arab hingga memunculkan kebencian,” kata Buya dalam sebuah video di Youtube yang diunggah oleh akun al-Bahjah TV dan dikutip hidayatullah.com, Ahad, (13/09/2015).

Buya memaparkan contoh bagaimana mengajak umat Islam membenci Arab, yaitu dengan merekam atau mempublish perilaku jahat orang-orang Arab, kemudian diblow up ke media dan mengatakan bahwa seperti itulah ajaran Islam. Padahal, Islam sendiri tidak pernah mengajarkan kejahatan.

“Kerakusan orang Arab, kejahatan yang ada di Arab, diambil kemudian disematkan kepada Islam, padahal Islam tidak seperti itu. Kalau ada Islam keras muncul dari Arab, ketahuilah Islam lembut yang ada di Indonesia ini datangnya dari ulama Hadratulmaut, serta para Ahlu Bait dari Arab,” ujar Buya.

Padahal menurutnya, Imam Ibnu Hajar Al Haitami membuat buku keutamaan Arab, berjudul “Mablaghul Arab fi Fakhril ‘Arab” dan banyak lainnya. Bahkan menurutnya, para muhaditsin (ahlis hadits) mengatakan, membenci Arab termasuk perbuatan nifaq (menampakkan perbuatan yang tidak sesuai dengan isi hatinya). (awe).

bekasibusiness.com, 16 september 2015

***

 

Ungkapan “menurut saya” dari Said Aqil Siradj

Mari kita ulangi ungkapan Said Aqil Siradj:

“Masalah jenggot, menurut saya, orang yang memiliki jenggot itu mengurangi kecerdasanya. Karena syaraf yang sebenarnya mendukung untuk kecerdasan otak sehingga menjadi cerdas, (karena tumbuh jenggot) akan tertarik sampai habis. Sehingga jenggotnya menjadi panjang.

Nah, orang yang berjenggot panjang, walaupun kecerdasannya berkurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih, tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, apalagi jabatan. Kemudian menjadi orang yang ikhlas lillahita’ala.

Oleh karena itu, apabila kita melihat ulama-ulama sufi atau para wali, itu semuanya berjenggot. Artinya kecerdasannya sudah pindah dari otak menuju hati. Orang yang berjenggot seharusnya mengikuti beliau-beliau ini. Perpanjang jenggot itu silahkan, tapi hatinya harus mulia. Tidak ada rasa takabur, tidak ada hubbu al dunya (mencintai dunia), cinta kedudukan maupun jabatan. Karena jenggot menunjukan simbol kebersihan hatinya dan simbol karifan jiwanya.

Bagi yang belum mencapai maqom tersebut, menurut saya, seyogyanya tidak memenghiasi dirinya penampilan jenggot panjang, bergamis, dan malah menjadikannya sombong akhirnya dengan penampinnya tersebut. Dia merasa paling benar, paling mengikuti sunnah rasul. Silahkan berjenggot panjang, tapi hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah. Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh…”

Ungkapan Said Aqil Siradj itu tampaknya mengada-ada bahkan kontradiktif, terutama alenia terakhir ketika jadi lanjutan alenia sebelumnya. Urutan berfikir yang wajar, seandainya pernyataan itu wajar untuk diterima, maka alenia terakhir itu mestinya justru berupa anjuran agar berjenggot, agar menjadi orang yang ikhlas lillahita’ala. Bukan malah: “menurut saya, seyogyanya tidak menghiasi dirinya (dengan) penampilan jenggot panjang,…”

Dari situ tampaknya Said Aqil Siradj justru menceburkan diri sendiri ke kubangan tragis. Maunya membela diri, tak tahunya malah kejeblos lebih dalam. Karena ungkapannya itu sendiri sudah “pating pecotot” tidak keruan, masih pula terkesan membuat syariat baru, yang tampaknya membatasi orang untuk mengikuti sunnah (anjuran Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam):

«جُزُّوا الشَّوَارِبَ، وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ»

”Potong/cukurlah kumis kalian dan panjangkanlah jenggot. Selisilah oleh kalian kaum Majusi” [HR. Muslim no. 260]. Syariat baru ciptaan Said Aqil Siradj yaitu menghalangi orang untuk berjenggot panjang ketika belum mencapai maqom tertentu. Hingga Said Aqil Siradj mengatakan: “Bagi yang belum mencapai maqom tersebut, menurut saya, seyogyanya tidak memenghiasi dirinya penampilan jenggot panjang,…”

Dengan klarifikasi itu, kasus yang telah berlangsung dan beredar luas –mau dibilang bercanda ataupun serius–, kenyataannya sudah serunyam ini.

 

(nahimunkar.com)

(Dibaca 13.994 kali, 6 untuk hari ini)