Ilustrasi Selepas Dzuhur di sebelah Masjid kecil di Bekasi, saya menemukan seorang kakek penjual mainan anak-anak dengan tubuhnya yang kurus dan bungkuk sedang membaca Al Quran./ foto muhamad yakub


Kondisi Lansia Melemah, tapi Sangat Berharga, Tergantung Mau Jadi Orang Terbaik atau Terburuk

{وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ } [يس: 68]

Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan? [Ya Sin:68]

الوجيز للواحدي (ص: 903)

{ومَنْ نعمره ننكسه في الخلق} مَنْ أطلنا عمره نكَّسنا خلقه فصار بدل القوة ضعفا وبدل الشَّباب هرماً {أفلا يعقلون} أنَّا نفعل ذلك

Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya).   – maka yang tadinya kuat lalu berganti jadi lemah, dan yang tadinya muda berganti jadi tua renta-  Maka apakah mereka tidak memikirkan? – bahwa Kami berbuat yang demikian. (Al-Wajiz oleh Al-Wahidu halaman 903/ maktabah syamilah).

Kondisi lansia itu melemah, namun penggunaan umurnya itu akan menentukan, apakah dirinya akan jadi manusia terbaik ataukah justru terburuk.

Orang yang Paling Baik

Manusia terbaik adalah yang mengisi waktu-waktunya dengan amalan yang mengantarkan kepada kebaikan dunia dan akhiratnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, lihat Shahih Al-Jami’ no. 3297)

Orang yang banyak kebaikannya, setiap kali dipanjangkan umurnya maka akan banyak pahalanya dan dilipatgandakan derajatnya. Maka bertambahnya umur akan bertambah pula pahala dan amalannya.

Dahulu ada dua orang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sama-sama masuk Islam. Salah satunya lebih semangat beramal dibandingkan temannya. Orang yang lebih semangat itu ikut dalam pertempuran dan terbunuh. Temannya yang satu masih hidup setahun setelahnya, lalu meninggal di atas ranjangnya. Maka ada seorang sahabat bernama Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiallahu ‘anhu bermimpi tentang dua orang tersebut. Dalam mimpinya, keduanya ada di pintu surga. Lalu orang yang matinya di atas ranjangnya dipersilakan untuk masuk surga terlebih dahulu. Setelah itu temannya yang terbunuh dipersilakan masuk. Paginya, Thalhah bercerita kepada orang-orang dan mereka takjub (heran) dengannya. Berita mimpi Thalhah dan takjubnya manusia pun sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Bukankah (orang yang mati di ranjangnya) ia masih hidup setahun setelah (kematian temannya yang terbunuh di jalan Allah) itu?” Sahabat menjawab: “Benar.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Dan ia mendapati bulan Ramadhan lalu ia puasa dan shalat sekian dan sekian dalam setahun?” Sahabat menjawab: “Benar.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jarak (derajat) antara keduanya lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi.” (Lihat Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3185)

Karena mahalnya umur seorang mukmin, maka dahulu ada seorang salaf mengatakan: “Sungguh, satu jam kamu hidup padanya yang kamu beristighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala lebih baik daripada kamu mati selama setahun.”

Dan dahulu ada seorang salaf yang sudah tua ditanya: “Apakah kamu ingin mati?” Jawabnya: “Tidak. Karena masa muda dan kejahatannya telah berlalu, dan kini datang masa tua bersama kebaikannya. Jika aku berdiri aku mengucapkan bismillah, jika aku duduk aku mengucapkan alhamdulillah. Aku ingin untuk terus dalam keadaan seperti ini.”

Dan ada (pula) seorang salaf lain yang sudah tua ditanya: “Apa yang masih tersisa dari keinginanmu dalam kehidupan ini?” Ia menjawab: “Menangisi dosa-dosa yang telah aku lakukan.”

Oleh karena itu, banyak dari salaf kita yang menangis ketika mau meninggal. Bukan karena berpisah dengan kenikmatan dunia, namun karena terputus dari amalan-amalan yang biasa dia lakukan berupa shalat malam, puasa, tilawatul Qur`an dan lainnya. Hal ini seperti yang dialami oleh Yazid bin Aban Ar-Raqqasyi rahimahullah. (Lihat syarah hadits Allahumma bi’ilmika al-ghaib –karya Ibnu Rajab rahimahullahhal. 25-26)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hasyr: 18)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Hisablah diri kalian sebelum dihisab, perhatikanlah apa yang sudah kalian simpan dari amal shalih untuk hari kebangkitan serta (yang akan) dipaparkan kepada Rabb kalian.” (Taisir Al-‘Aliyil Qadir, 4/339)

Telah Datang Peringatan

Terkadang telah datang kepada seseorang peringatan dari tubuhnya sendiri. Suatu hal yang menjadi cambuk supaya menyadari akan keadaannya. Sungguh uban yang meliputi kepala, kulit yang mulai keriput dan kekuatan yang mulai melemah merupakan peringatan bahwa ajal telah dekat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

“Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Fathir: 37)

Sebagian ahli tafsir menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas: “Dan telah datang kepada kamu peringatan” yakni: uban.

Demikian pula jika Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi umur kepada seseorang hingga 60 tahun, berarti Allah subhanahu wa ta’ala tidak meninggalkan lagi sebab untuk seorang memiliki alasan. Kesempatan telah Allah subhanahu wa ta’ala berikan dan umur telah dipanjangkan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَعْذَرَ اللهُ إِلَى امْرِئٍ أُخِّرَ أَجَلُهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّيْنَ سَنَةً

“Allah telah menyampaikan puncak dalam pemberian udzur/alasan kepada seorang yang diakhirkan ajalnya hingga mencapai umur 60 tahun.” (HR. Al-Bukhari no. 6419)

Maksud dari hadits ini adalah bahwa tidak lagi tersisa alasan baginya, seperti dengan mengatakan: “Kalau dipanjangkan ajalku, niscaya aku akan melakukan apa yang aku diperintah dengannya.” Dijadikannya umur 60 tahun sebagai batas udzur seseorang, karena itu adalah umur yang mendekati ajal dan umur (yang seharusnya) seorang itu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala, khusyu’ dan mewaspadai datangnya kematian. Seorang yang berumur lebih dari 60 tahun hendaklah menekuni amalan-amalan akhirat secara total, karena sudah tidak mungkin lagi akan kembali kepada keadaannya yang pertama ketika masih kuat dan semangat. (Lihat Fathul Bari, 11/240)

Umur Umat Ini

Allah subhanahu wa ta’ala telah menakdirkan bahwa umur umat ini tidak sepanjang umur umat terdahulu. Yang demikian mengandung hikmah yang terkadang tidak diketahui oleh hamba. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70, dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (Dihasankan sanadnya oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari, 11/240)

Maksud dari hadits ini adalah bahwa keumuman ajal umat ini antara umur 60 hingga 70 tahun, dengan bukti keadaan yang bisa disaksikan. Di mana di antara umat ini ada yang (mati) sebelum mencapai umur 60 tahun. Ini termasuk dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan kasih sayang-Nya supaya umat ini tidak terlibat dengan kehidupan dunia kecuali sebentar. Karena umur, badan dan rizki umat-umat terdahulu lebih besar sekian kali lipat dibandingkan umat ini. Dahulu ada yang diberi umur hingga seribu tahun, panjang tubuhnya mencapai lebih dari 80 hasta atau kurang. Satu biji gandum besarnya seperti pinggang sapi. Satu delima diangkat oleh sepuluh orang. Mereka mengambil dari kehidupan dunia sesuai dengan jasad dan umur mereka, sehingga mereka sombong dan berpaling dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan manusia pun terus mengalami penurunan bentuk fisik, rizki, dan ajal. Sehingga menjadilah umat ini sebagai yang terakhir, yang mengambil rizki sedikit, dengan badan yang lemah dan pada masa yang pendek, supaya mereka tidak menyombongkan diri. Ini termasuk dari kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala terhadap mereka. Demikian makna ucapan Al-Imam Ath-Thibi rahimahullah seperti dalam Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir (2/15).

(Dipetik seperlunya dari artikel ‘Umur, Anugrah yang Banyak Diabaikan’

Oleh Redaksi  17/11/2011 di Asy Syariah Edisi 036, Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc. ).

***

Untuk menjaga kesehatan agar mampu melakukan amal shaleh lilLahi Ta’ala hingga umurnya sangat berharga di ssi Allah, silakan simak berikut ini. (Arikel umum tentang kesehatan lansia, namun insya Allah bermanfaat).

***

Masalah Kesehatan pada Lansia

Oleh: Yosephin Anandati Pranoto/Dietetic Internship FK UB

Ketika seseorang telah memasuki usia lanjut (lansia) seluruh fungsi fisiologis tubuhnya berubah dan berbagai penyesuaian harus dilakukan untuk menjaga kondisi tetap sehat. Menurut WHO, lansia adalah mereka yang telah berusia ≥60 tahun. Kelompok usia ini semakin meningkat jumlah populasinya di seluruh dunia yang berarti usia harapan hidup yang bertambah namun juga berarti dalam beberapa tahun ke depan proporsi penduduk dunia dalam jumlah cukup besar adalah mereka yang berada di usia lanjut. Hal ini dapat menjadi suatu masalah apabila kaum lansia tidak mendapatkan perhatian khusus sedari awal. Mereka yang menginjak usia lanjut tidak lagi berada pada usia produktif dalam hidupnya dan akan memiliki tingkat kemandirian yang semakin rendah (ketergantungan akan orang lain) seiring dengan bertambahnya masalah kesehatan yang mereka miliki. Beberapa masalah yang sering ditemukan pada lansia mencakup: malnutrisi, penyakit kronis, penurunan kognitif dan disabilitas. Penyakit kronis yang sering dialami lansia contohnya adalah hipertensi, penyakit cardiovasculer, dan diabetes serta komplikasinya.

Masalah gizi pada lansia merupakan hal yang amat penting. Semakin dini kita memperhatikan masalah gizi pada seseorang akan semakin optimal pula status gizi dan kesehatan kita hingga usia lanjut nantinya. Pada lansia, masalah gizi yang dihadapi di usia produktif dapat menimbulkan penyakit kronis hingga komplikasi beberapa penyakit. Selain dampak kronis, biasanya lansia akan mengalami malnutrisi atau status gizi buruk oleh karena tidak tercapainya kebutuhan gizi yang adekuat. Pencapaian kebutuhan gizi pada lansia memiliki faktor-faktor penghambat, antara lain adalah fungsi fisiologis yang berubah pada organ pencernaan, seperti: penurunan ukuran liver, stabilisasi dan absorpsi kolesterol yang kurang efisien, fibrosis dan atrofi kelenjar saliva, pengurangan otot cerna di usus, berkurangnya kecepatan pengososngan perut, penurunan sekresi lambung. Beberapa perubahan tersebut berakibat langsung terhadap penurunan nafsu makan hingga anorexia pada lansia. Keterbatasan fisik/disabilitas juga menjadi hambatan karena lansia mengalami kesulitan untuk memperoleh makanan secara mandiri (asupan menjadi inadekuat). Status gizi yang adekuat dan dijaga dengan baik dapat menjadi faktor penting baik untuk mencegah maupun mengatasi penyakit kronis. Status gizi pada lansia juga sangat erat kaitannya dengan fungsi imunitas yang dapat mendukung proses penyembuhan dan pencegahan penyakit infeksi (Watson, 2009).

Hipertensi pada lansia sangat erat hubungannya dengan kematian dan membutuhkan usaha keras untuk meningkatkan kesadaran akan pencegahan dan perawatannya. Prevalensi penderita hipertensi meningkat seiring meningkatnya populasi lansia di dunia. Nilai tekanan darah yang tergolong dalam kondisi hipertensi adalah ≥ 140 mmHg untuk sistolik dan ≥ 90 mmHg untuk diastolik. Salah satu penelitian yang dikembangkan di Amerika, Eropa, Cina dan Tunisia membuktikan bahwa terapi antihipertensi sedini mungkin dapat memberikan manfaat kesehatan bagi lansia terutama mereka yang berusia di atas 80 tahun. Manfaat kesehatan yang didapat dari pengobatan antihipertensi pada lansia berkaitan dengan resiko seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung hingga kematian. Resiko stroke dapat turun sebesar 28% dan resiko komplikasi penyakit jantung dapat turun hingga 15% dengan pengobatan antihipertensi pada lansia. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin dan terapi antihipertensi yang terbaik adalah dengan mentargetkan penurunan tekanan darah hingga mencapai ≤150 mmHg. Salah satu penemuan tentang hubungan antara hipertensi pada lansia dengan kematian menyebutkan bahwa lansia yang memiliki kecepatan berjalan tinggi (≥ 0,8 m/s) memiliki resiko lebih tinggi daripada mereka yang memiliki kecepatan berjalan yang rendah (Beckett, dkk., 2012 ; Michelle, dkk., 2012).

Salah satu penyakit kronis yang sering dialami oleh lansia adalah diabetes. Beberapa penelitian yang terdahulu seringkali berfokus pada  tekanan darah, kolesterol dan kontrol gula darah untuk mencegah terjadinya komplikasi pada penderita diabetes. Namun bagaimana pencegahan dan penanganan diterapkan dalam golongan lansia belum begitu jelas, maka sebuah penelitian di Amerika melakukan evaluasi hubungan antara kulaitas hidup lansia dengan komplikasi diabetes. Penelitian ini menemukan bahwa kualitas hidup lansia yang memiliki diabetes amat penting untuk diperhatikan karena dapat mencegah timbulnya komplikasi diabetes. Yang dimaksud dengan kualitas hidup adalah antara lain: fungsi fisik, keterbatasan aktivitas karena gangguan fisik, rasa nyeri pada tubuh, vitalitas, fungsi sosial, keterbatasan aktivitas emosional, kesehatan mental dan persepsi kesehatan secara umum. Selain kualitas hidup, mengatasi sindroma geriatri dan mencegah hipoglikemia juga menjadi prioritas utama dalam mencegah komplikasi diabetes pada lansia (Laiteerapong, dkk., 2011).

Disabilitas karena lumpuh dan cacat fisik juga sering ditemukan pada lansia dan hal ini turut mempengaruhi kemandirian untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk pemenuhan kebutuhan gizi. Resiko disabilitas meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Yang dimaksud dengan disabilitas adalah kondisi di mana seseorang mengalami hambatan dalam mobilitas, aktivitas dasar dan aktivitas sehari-hari. Menurut Artaud, dkk. (2013), disabilitas juga dapat muncul oleh karena kebiasaan/perilaku yang tidak sehat. Yang dimaksud dengan perilaku yang tidak sehat antara lain: aktivitas fisik yang rendah, konsumsi buah dan sayur < 1 kali/hari, merokok aktif dan ketergantungan terhadap alkohol. Disimpulkan bahwa lansia dengan tiga perilaku tidak sehat memiliki resiko untuk mengalami disabilitias 2,5 kali lipat dibandingkan lansia dengan kebiasaan hidup yang sehat. Maka sebaiknya memang sedini mungkin kita melakukan peningkatan kualitas hidup dengan melakukan aktivitas fisik rutin, menjaga pola makan agar sesuai kaidah gizi seimbang dan menghindari kebiasaan merokok. Selain perilaku hidup sehat, bagaimana secara mental dan sosial lansia berinteraksi juga ternyata dapat menentukan resiko kematian mereka. Kelalaian terhadap diri akibat fungsi kognitif dan fisik pada lansia yang terbatas dapat meningkatkan resiko mortalitas. Kasus kelalaian atau bahkan penyiksaan yang dialami lansia hingga kini kurang mendapatkan perhatian terutama pada negara dengan populasi lansia yang semakin meningkat di dunia ini (Dong, dkk., 2009).

Daftar Pustaka:

Antaud Fanny, dkk. (2013) Unhealthy behaviours and disability in older adults: three-city dijon cohort study. BMJ 2013:347.

Beckett N., dkk. (2012) Immediate and late benefits of treating very elderly people with hypertension: results from active treatment extention to hypertension in the very elderly Randomized Control Trial. BMJ 2012:344.

Dong, dkk. (2009) Elder self-neglect and abuse and mortality risk in a community-dwelling population. JAMA 2009; 302(5).

Laiteerapong N., dkk. (2011) Correlates of quality of life in older adults with diabetes. Diabetes Care 34:1749-1753.

Odden C. Michelle, dkk.  (2012) Rethinking the association of high blood pressure with mortality in elderly adults: the impact of frailty. Arch Intern Med. 172(15):1162-1168.

Watson. 2009. Nutrition in The Aged. Boca Raton: CRC Press./anandati.wordpress.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.480 kali, 1 untuk hari ini)