Ada orang bernama Saiton, dan ada juga yang bernama Tuhan

Kini lagi heboh, ada orang bernama Saiton (guru di Palembang) dan nama Tuhan (tukang kayu di Banyuwangi). Para Ulama menyarankan, nama itu agar diganti. Namun rupanya keduanya tetap “ngeyel” tidak mau mengganti namanya.

Mengenai nama Saiton, ternyata ada peran wali setan alias dukun yang sebutannya orang pinter.

Liputan6.com memberitakan, di usia 3 tahun, ungkap Saiton, dia pernah memprotes namanya itu. Sebab, namanya sering diolok-olok temannya. Orang tuanya pun mengganti namanya menjadi Iskandar. Namun saat diganti, Saiton sakit-sakitan selama 3 tahun. Kendati sudah diobati dan disuntik, ia masih tidak bisa jalan dan berbicara.
Warga bernama Saiton

Warga bernama Saiton di Palembang, Sumatera Selatan. (Liputan6.com/Nefri Inge)

Orang tuanya pun panik dan beranggapan Saiton tidak akan berumur panjang seperti saudaranya yang lain. Saiton akhirnya dibawa ke orang pintar dan disarankan untuk mengembalikan namanya seperti sedia kala. (Liputan6.com, Asal Muasal Warga Palembang Ini Diberi Nama Syaiton

By Nefri Inge on 27 Agu 2015 at 07:48 WIB)

Peran wali setan

Nah, dari pengakuan Saiton itu, ternyata yang menyarankan agar nama Saiton tetap dipakai dan tidak usah diganti adalah orang pintar alias dukun.
Dukun itu sendiri memang wali setan, sehingga ada orang bernama Saiton justru dikuatkan untuk tetap dipakai nama itu.

{وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ } [الأنعام: 121]

وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ ١٢١ [سورة الأنعام,١٢١]

Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik [Al An’am121]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan dalam sebuah hadits tentang cara pengajaran ilmu perdukunan oleh setan:

إِذَا قَضَى اللهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خضَعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعَ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضَهُ فَوْقَ بَعْضٍ -وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَّفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذا كَذَا وَكَذَا؟ فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَ مِنَ السَّمَاءِ

Apabila Allah memutuskan sebuah urusan di langit, tertunduklah seluruh malaikat karena takutnya terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan-akan suara rantai tergerus di atas batu. Tatkala tersadar, mereka berkata: “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab: “Kebenaran, dan dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan). Demikian sebagian mereka di atas sebagian yang lain -Sufyan menggambarkan tumpang tindihnya mereka dengan telapak tangan beliau lalu menjarakkan antara jari jemarinya-. (Pencuri berita) itu mendengar kalimat yang disampaikan, lalu menyampaikannya kepada yang di bawahnya. Yang di bawahnya menyampaikannya kepada yang di bawahnya lagi, sampai dia menyampaikannya ke lisan tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka terkena bintang pelempar sebelum dia menyampaikannya, namun terkadang dia bisa menyampaikan berita tersebut sebelum terkena bintang tersebut. Dia menyisipkan seratus kedustaan bersama satu berita yang benar itu. Kemudian petuah dukun yang salah dikomentari: “Bukankah dia telah mengatakan demikian pada hari demikian?” Dia dibenarkan dengan kalimat yang didengarnya dari langit itu.” (HR. Al-Bukhari no. 4522 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anahu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menandaskan sebuah kedok dan sekaligus topeng mereka yang dipergunakan untuk menipu umat, yaitu satu kali benar dan seratus kali berdusta. Dengan satu kali benar itu, dia melarismaniskan seratus kedustaan yang diciptakannya. Dan kedustaannya itu tidak dibenarkan melainkan karena satu kalimat tersebut. (Lihat Tafsir As-Sa’di, 1/700 dan Al-Qaulus Sadid hal. 71)

Inilah sesungguhnya tujuan setan mencuri kebenaran dari langit, yaitu menipu manusia dan mencampurkan kebenaran dengan kebatilan serta mengaburkan kebenaran tersebut dengan kebatilan. Jika mereka membawa kebatilan yang murni, niscaya tidak ada seorang pun membenarkannya. Namun jika mereka mencampurkan kebatilan itu dengan sedikit kebenaran, akan menjadi fitnah (ujian) bagi orang yang lemah iman dan akalnya. (Lihat I’anatul Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid 1/408)

Bolehkah Mendatangi Dukun dan Tukang Ramal?

Telah jelas dalam pembahasan di depan tentang hakikat dukun, siapa dia dan bagaimana kiprahnya di tengah umat sebagai “jagoan dalam berpetuah” tentang nasib seseorang. Lalu bagaimanakah hukum mendatangi mereka dan bertanya dalam berbagai persoalan kelangsungan hidup, susah atau senang, beruntung atau gagal, celaka atau selamat, dan sebagainya? Telah dibahas oleh para ulama hukum mendatangi mereka:

Pertama: Mendatanginya untuk bertanya tentang sesuatu tanpa membenarkan apa yang dikatakan. Ini termasuk sesuatu yang haram dalam agama. Ancamannya, tidak akan diterima shalatnya 40 malam, sebagaimana dalam hadits:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal, lalu dia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya 40 malam.” (HR. Muslim no. 2230 dari istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Kedua: Mendatangi mereka untuk bertanya kepadanya dan dia membenarkannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang telah dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا -قَالَ مُوسَى فِي حَدِيثِهِ: فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ؛ ثُمَّ اتَّفَقَا- أَوْ أَتَى امْرَأَةً -قَالَ مُسَدَّدٌ: امْرَأَتَهُ حَائِضًا- أَوْ أَتَى امْرَأَةً -قَالَ مُسَدَّدٌ: امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا- فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ عَلَى مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa mendatangi dukun -Musa (perawi hadits) berkata: lalu dia membenarkan petuah dukun tersebut; kemudian mereka berdua sepakat dalam periwayatannya- atau mendatangi istrinya -Musaddad berkata: istrinya dalam keadaan haid- atau dia mendatangi istrinya -Musaddad berkata: istrinya pada duburnya- maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada Muhammad.” (HR. Abu Dawud no. 9304 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anahu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu) (Lihat Dukun dan Tukang Ramal Budak Setan , Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman, http://alfirqatunnajiyyah.blogspot.com/).

Mengenai nama Saiton dan Tuhan, inilah beritanya.

***

Nama Orang Saiton dan Tuhan, MUI : Haram dan Dibenci Hukumnya

wrga bernama tuhan

Warga Dusun Krajan Desa Kluncing Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jawa Timur, memiliki nama unik yaitu Tuhan. Sehari-hari Tuhan berprofesi sebagai tukang kayu.

Warga bernama Saiton1

Warga bernama Saiton di Palembang, Sumatera Selatan. (Liputan6.com/Nefri Inge)

merdeka.com

warga banyuasin

Warga Banyuasin bernama Saiton kumpul bersama keluarganya

Nama yang tidak umum dan menjadi polemik sehingga banyak orang membicarakannya. Tidak mau ketinggalan, ulama pun ikut mengomentarinya. Seperti nama yang dimiliki Saiton (39) warga Palembang, akhirnya direspon sejumlah ulama di Sumsel.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumsel, KH Sodikun menegaskan, nama tersebut sebaiknya diganti karena hukumnya haram.

Menurutnya, dalam agama Islam umat manusia dianjurkan memberi nama dan panggilan kepada anak-anaknya dengan yang baik dan memiliki arti yang baik pula.

“Tidak boleh asal kasih nama, wajib yang baik dan benar. Itu karena nama adalah doa,” tegas Sodikun saat dihubungi merdeka.com, Kamis (27/8/2015).

Sementara nama yang bertentangan dengan doa dan mempengaruhi kelakuan, seperti nama Saiton, setan, iblis atau sejenisnya, Islam melarang tegas. Nama tersebut, haram hukumnya diberikan kepada anak-anak. “Haram hukumnya jika namanya seperti itu,” tandasnya.

Sedangkan nama Tuhan yang juga heboh diperbincangkan, Sodikun mengatakan harus ditambah dengan abdu atau abdi, seperti Abdullah, Abdillah, atau yang lainnya. Sebab, nama-nama yang bersinggungan dengan Allah atau asmaul husna, dibenci hukumnya.

“Nama seperti itu yang dibenci, harus diberi tambahan awal abdi atau abdu,” tandasnya.

Rachmat Iskandar/ http://www.galamedianews.com/ 18 jam lalu

Asal Muasal Warga Palembang Ini Diberi Nama Syaiton

By Nefri Inge

on 27 Agu 2015 at 07:48 WIB

Warga bernama Saiton1

Warga bernama Saiton di Palembang, Sumatera Selatan. (Liputan6.com/Nefri Inge)

Liputan6.com, Palembang – Belakangan ini, Tanah Air dihebohkan oleh orang-orang bernama unik. Setelah gembar-gembor tentang warga Banyuwangi yang bernama Tuhan, muncul juga 2 nama unik lainnya yakni Saiton — sebelumnya disebut Syaiton — dan Rupiah. Dua orang terakhir ini merupakan warga Palembang, Sumatera Selatan.

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Palembang sempat membantah keberadaan warga bernama Saiton tersebut. Namun setelah ditelusuri, ternyata benar ada warga bernama itu.

Dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), nama warga tersebut tertulis Saiton. Tercatat sebagai warga di Perumahan Taman Mekarsari Blok D2 Desa Sugirawas, Kelurahan Talang Jambi, Kecamatan Sukarami Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).

Saiton lahir di Paldas Banyuasin, 10 Febuari 1976. Nama tersebut, kata dia, merupakan pemberian kedua orang tuanya, Cik Nang dan Saimubah.

Asal muasal diberi nama tersebut karena dari 12 saudaranya yang lahir, hanya dua orang yang bisa bertahan hidup. Sepuluh saudaranya hanya bisa hidup di usia 5-7 tahun. Saat Saiton lahir, kedua orang tuanya pesimis jika anak bungsunya ini akan bertahan hidup seperti kedua saudaranya.

“Jika hidup semua, kami keluarga besar dengan 13 saudara. Namun rata-rata kakak saya meninggal usia 5-7 tahun. Saat saya lahir, orang tua saya berpikiran tidak mungkin hidup. Kemungkinan karena kesal anaknya meninggal terus, jadi saat saya hidup orang tua saya mengira saya sedang diganggu setan,” ujar Saiton kepada Liputan6.com, Kamis (27/8/2015) di Palembang.

“Karena itu, saya dikasih nama Saiton. Orang tua saya mungkin sudah kepalang bingung mau kasih nama apa,” lanjut dia.

Di usia 3 tahun, ungkap Saiton, dia pernah memprotes namanya itu. Sebab, namanya sering diolok-olok temannya. Orang tuanya pun mengganti namanya menjadi Iskandar. Namun saat diganti, Saiton sakit-sakitan selama 3 tahun. Kendati sudah diobati dan disuntik, ia masih tidak bisa jalan dan berbicara.

Warga bernama Saiton di Palembang, Sumatera Selatan. (Liputan6.com/Nefri Inge)

Orang tuanya pun panik dan beranggapan Saiton tidak akan berumur panjang seperti saudaranya yang lain. Saiton akhirnya dibawa ke orang pintar dan disarankan untuk mengembalikan namanya seperti sedia kala.

“Setelah pakai nama Saiton lagi, alhamdulillah saya sembuh dan hingga kini tidak ada penyakit yang parah menimpa saya. Hingga usia saya 39 tahun, hanya pada saat usia 3 tahun itulah saya merasakan disuntik. Kalau sekarang hanya sakit ringan saja,” paparSaiton.

Di dalam KTP maupun Surat Izin Mengemudi (SIM), Saiton tertulis berprofesi sebagai guru dan telah menyandang gelar pascasarjana. (Sun/Tnt)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 15.439 kali, 1 untuk hari ini)