Perlu dipertanyakan, apakah tidak ada orang lain, kok Ahmad Tohari pengarang cerita khayal tentang ronggeng (wanita penjoget, dekat dengan jurusan zina) dan diusung koran katolik, tiba-tiba dijadikan kordinator atau pengomando penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Banyumasan. Umat Islam lega lila (tulus ikhlas) kah dengan cara-cara seperti itu?

Seorang bloger menuls: Ahmad Tohari dipercaya oleh Kementrian Agama untuk menjadi komando secara redaksional penerjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa Banyumasan. (/ http://little-dad.blogspot.co.id)

Perlu diketahui, di zaman Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, kalau ada wa’idh, penceramah agama, tapi membawa cerita-cerita khayal, maka ditangkap. Kemudian di zaman Umar bin Abdul Aziz, bukan hanya ditangkap tapi juga dipenjarakan. (lihat di buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar Jakarta).

Anehnya, di zaman sekarang, pengarang cerita khayal saja tentang ronggeng dan diusung oleh koran katolik, malah dijadikan kordinator atau pengomando penerjemahan Al-Qur’an (proyek Kemenag). Iki ketemu pirang perkara wahai Pak Menteri Agama Pak Lukman Hakim Saifuddin?

Persoalan lain lagi, proyek penerjemahan Al-Qur’an ke bahasa Banyumas itu, Kementrian Agama (Kemenag) pusat, menggarapnya melalui Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN, kini jadi IAIN) Purwokerto.

Apa persoalannya?

Di saat Umat Islam sedang resah dan ramai dengan makin mencuatnya gejala bahaya aliran sesat syiah, justru IAIN Purwokerto menghadirkan pentolan syiah untuk seminar bersama “kyai gereja”. Maka muncullah protes dari masyarakat dan mencuat di media. Ternyata acara yag seakan mempropagandakan syiah itu justru disertai dan disambut pula oleh Rektor IAIN Purwokerto, sedang bicaranya sang rektor di seminar itu berisi ungkapan yang menunjukkan dukungannya terhadap syiah. Bahkan bernada menyanggah kepada yang meyakini syiah itu sesat.

Rektor IAIN Purwokerto Membela Syiah dengan Kedangkalannya

Posted on Jun 8th, 2015/nahimunkar.com

Foto stislmorg

Foto stislmorg

Diberitakan, Seminar Nasional “Titik Temu Suni – Syiah; Memperkokoh Islam Nusantara” pada Selasa 12 Mei 2015 diselenggarakan di IAIN Purwokerto dengan disambut oleh rektor.

Pada bagian akhir sambutanya, DR. Lutfi, Rektor IAIN Bayumas pria kelahiran Lamongan, doktor lulusan IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini mengungkapkan keheranannya terhadap orang-orang yang getol mengkafirkan Syiah.

“Kalau memang Syiah itu kafir, mana mungkin diizinkan memasuki Mekah dan Madinah. Jelaslah, orang kafir jelas tidak diperbolehkan memasuki dua kota suci tersebut. (lihat satuislam.org, on 14 May 2015 in Nasional 1).

Ternyata, seorang doktor yang jadi rektor IAIN pun bagai orang awam dalam kedangkalannya mengenai kesesatan syiah. Sambutan sang rektor IAIN itu cukup memalukan bagi orang terpelajar.

Marilah kita simak tulisan berikut ini yang menjelaskan betapa dangkalnya alasan seperti itu.

***

Syiah Sering Berkelit dengan Dibolehkannya Berhaji ke Makkah

Posted on Apr 8th, 2015/nahimunkar.com

Syiah sering berkelit dengan dibolehkannya berhaji ke Makkah dan datang ke Madinah, jadi tidak sesat apalagi kafir, kata mereka.
Mudah saja kita jawab.
Lha dedengkot munafik Abdullah bin Ubai bin Salul ya boleh shalat di Masjidil Haram, bahkan shalatnya di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Masjid Nabawi Madinah, karena memang mengaku Islam atau covernya Islam walau isinya kafir dan bahkan haram mayatnya dishalati.
Karena Allah Ta’ala berfirman:

{وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ (84) وَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ } [التوبة: 84، 85]

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir [At Tawbah,84-85]

Ayat 84 Surat At-Taubah tersebut turun berkaitan dengan matinya Abdullah bin Ubai bin Salul. Dalam Hadits Bukhari dijelaskan (ringkasnya): … Saat Rasul hendak menshalati mayat Abdullah bin Ubai, Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menshalatinya, padaha Allah telah melarang untuk menshalati orang munafik?” Rasul menjawab, “Sesungguhnya Allah memberiku pilihan.” Umar bin Khatthab berkata, “namun ia seorang munafik”. Rasulullah tetap menshalatinya, maka turunlah ayat ini. (Lihat HR Bukhari dan Muslim).

Jadi syiah juga begitu, karena covernya Islam, walau isinya majusi hingga menjuluki Baba Syuja’uddin (Bapak pahlawan agama yang pemberani) terhadap Abu Lu’lu’ah si majusi pembunuh Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu, maka (syiah yg mengaku Islam itu) ya boleh berhaji ke Makkah. Karena covernya Islam, sebagaimana dedengkot munafik Abdullah bin Ubai bin Salul tersebut, ya boleh shalat di Masjidil Haram, bahkan shalatnya di belakang Nabi saw di Masjid Nabawi Madinah, walau ketika dia mati, mayatnya dilarang untuk dishalati karena isinya adalah kafir, namun covernya Islam.

Jadi Umat Islam jangan mudah dibodohi oleh syiah dengan dalih bolehnya berhaji ke Makkah, atau lafal “Islam” dalam apa yang mereka sebut “Republik Islam Iran”. Republik Islam kok melarang didirikan masjid di Teheran, hingga orang Kuwait, Syaikh Abdullah Nafisi al-Kuwaiti (anggota majlis taqrib yg didirikan dedengkot syiah Ali Taskhiri) sangat protes karena sudah survey di Teheran kemudian mengumpulkan uangbersama jamaahnya untuk mendirikan masjid di Teheran karena tidak ada masjid Islam (Ahlus Sunnah/ Sunni), ternyata dilarang oleh Iran.
Jadi lebih kejam mana, negeri-negeri kafir yg membolehkan didirikannya masjid Islam ataukah negeri syiah Iran dalam hal ini?
Lihat berita ini: https://www.nahimunkar.org/video-republik-iran-resmi…/
https://www.nahimunkar.org/syiah-sering-berkelit-dengan-dib…/

***

Selanjutnya, soal penerjemahan yang kita bicarakan ini, perlu dipertanyakan, kenapa justru Kementerian Agama mempercayakan penerjemahahan Al-Quran melalui lembaga yang dipimpin oleh rektor pembela syiah seperti itu? Padahal, syiah itu baik secara referensinya maupun kenyataannya adalah menodai agama, yaitu menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi.  Dan itu telah sah dari keputusan Mahkamah Agung dalam kasus Tajul Muluk pentolan syiah Sampang yang divonis penjara 4 tahun karena terbukti sah menodai agama, karena menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi.

Dalam kasus ini, Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa ajaran syiah menyimpang dari agama Islam sebagaimana tertuang dalam Putusan Mahkamah Agung No.1787 K/Pid/2012 dengan terpidana Tajul Muluk yang merupakan salah seorang petinggi Syiah.

“Kasus Tajul Muluk jelas terbukti ajaran Syiah menyimpang dari Islam dan merupakan penodaan terhadap Agama Islam sebagaimana disebutkan dalam Pasal 156 huruf a KUHP. Kasusnya tersebut sudah inkracht van gewijsde, artinya sudah berkekuatan hukum tetap,” ujar Sylvi Direktur Eksekutif SNH Advocacy Center kepada Islampos, Kamis (29/10 2015). https://www.nahimunkar.org/snh-advocacy-centre-mahkamah-agung-telah-putuskan-syiah-menyimpang/

Adapun perkataan rektor IAIN Purwokerto yang mengindiksikan dia itu membela syiah telah tersebar beritanya, di antaranya ini: Rektor IAIN Purwokerto Membela Syiah dengan Kedangkalannya https://www.nahimunkar.org/rektor-iain-purwokerto-membela-syiah-dengan-kedangkalannya/

Persoalan lain lagi, masih ada. Secara skala prioritas, dan bahkan secara kepentingan umat, apakah penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Banyumasan yang biasa disebut Bahasa Ngapak itu tepat guna dan memang perlu?

Apakah itu merupakan kebutuhan mendesak? Dan apakah tidak akan menambah urusan belaka?

Soalnya, bahasa Ngapak itu sendiri hanyalah sub dari Bahasa Jawa. Kemudian Bahasa Ngapak (Banyumasan) itu terbatas sekali skup kawasannya. Hingga seakan tersekat-sekat menjadi beberapa kawasan per lokal, masing-masing saling berbeda. Lokal kidul beda dengan lokal utara, lokal timur beda dengan barat, lokal pinggir beda dengan tengah. Itu belum menyangkut kasar dan halusnya.

Mengenai kasar dan halusnya, secara psikologis, atau bahkan jadi rahasia umum, bahasa Banyumasan atau bahasa Ngapak itu kadang ada yang menyebutnya Jawa kuwek, maksudnya kurang lebihnya adalah bahasa Jawa namun kurang halus. Citra bahasa kurang halus bahkan kadang dianggap kasar ini sendiri sebenarnya ketika dijadikan (diangkat) untuk menerjemahkan Al-Qur’an yang merupakan Kitab Suci, dan bahasanya pun sastra mulia serta tinggi, maka secara perasaan ada ganjalan. Ini bukan berarti merendahkan Bahasa Banyumasan, tetapi citra sebagai Bahasa Jawa yang kurang halus itu sudah dirasakan oleh masyarakat.     Sehingga persoalannya:

  1. Berbeda-bedanya lokal bahasa yang tersekat-sekat itu tadi sudah jelas akan rentan dengan akan timbulnya kurang faham bahkan salah faham. Secara gampangnya dapat digambarkan, orang yang pakai bahasa Ngapak kulon, beda dengan yang wetan; kidul beda dengan lor, pinggir beda dengan tengah. Jadi dapat dibayangkan, betapa menimbulkan kesimpang siuran. Karena seakan secara gampangnya, bahasa Ngapak itu sub dari bahasa Jawa, dan masih pula ada blok-blok ngapak yang berbeda-beda.
  2. Secara rasa bahasa, ketika masyarakat memandang citra bahasa Ngapak itu sendiri adalah bukan bahasa Jawa halus, maka ketika untuk menerjemahkan Al-Qur’an, belum tentu mampu mengejawantahkan Ayat-ayat suci itu sebagai ayat suci yang bahasanya tinggi, halus dan indah. Sehingga, maksud untuk difahami oleh pemakai bahasa itu belum tentu tercapai, tentang keindahannya, ketinggiannya dankemuliaannya; sedang dari segi pemahaman pun belum tentu tercapai karena skup bahasanya itu tadi yang sangat terbatas, hingga di sebalah sana sedikit sudah tidak faham bahkan bisa salah faham.
  1. Secara penjagaan Al-Qur’an, sudah ada contoh menyejarah. Untuk menghindari perbedaan-perbedaan dialek bacaan Al-Qur’an (yang kemungkinan menimbulkan kerumitan dan problem bagi Umat) maka Khalifah Utsman menjadikan Al-Qur’an itu satu bentuk mush-haf saja, sehingga kaum muslimin tidak berbeda bacaannya.  Maka sampai kini disebut Mush-haf utsmani. Dari sejarah itu, semangat mempersatukan Umat Islam agar tidak terjadi perbedaan-perbedaan yang akan menimbulkan problem, itu justru yang ditempuh. Tetapi penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Banyumasan ini tampak arahnya jadi terbalik. Bukan menuju pemahaman dan rasa penghormatan kepada ayat suci yang menyatu dan lebih baik, namun justru akan menimbulkan beda-beda pemahaman, dan akan kagok, tidak pas ketika menengok betapa tingginya bahasa Al-Qur’an, dan betapa jauhnya dari tingkat kefasohahan Bahasa Banyumasan yang untuk menerjemahkan ini.
  2. Ternyata masih ditambah lagi dengan yang sama sekali tidak sinkron dengan kesucian Al-Qur’an, yakni penerjemahan ini justru dikomandoi oleh seorang pengarang cerita khayal saja berupa cerita khayal tentang ronggeng yang jurusannya kemusyrikan dan maksiat. Masih ditambah lagi, jalur penerjemahan ini dipercayakan kepada lembaga yang direktori oleh seorang yang membela syiah penoda agama yang aliran itu menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi.
  3. Sebenarnya Al-Qur’an dan Umat Islam ini mau dikemanakan, kok sampai sebegitunya itu?

Dari berbagai segi, penerjemahan Al-Qur’an dengan Bahasa Banyumasan itu mengandung sejumlah persoalan seperti tersebut di atas. Oleh karena itu, seyogyanya Menteri Agama berlonggar dada secara legowo, tidak meluncurkannya seperti yang diberitakan (akan diluncurkan 3 Desember 2015). Sebaiknya dicermati benar-benar lebih dulu untuk memecahkan persoalan yang masih menggelayutinya. Apakah pnerjemahan ini akan ada maslahatnya atau justru menimbulkan aneka macam madharat, bahkan adanya dugaan-dugaan negatif yang dapat menukik padanya.

***

Catatan tambahan

 Jadi ingat berita tentang pameran buku internasional di Jerman: Menag Lukman “Jualan” Islam Nusantara di Jerman dengan Para Dedengkot Syiah, Liberal, Kristen, dan Pendukung Lia Edenhttps://www.nahimunkar.org/menag-lukman-jualan-islam…/

pinmas-kemenag-ri

Menag Lukman “Jualan” Islam Nusantara di Jerman dengan Para Dedengkot…

NAHIMUNKAR.COM

Tpaknya, arah merusak Islam lewat kementerian agama kini terendus. Ini buktinya: Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Bergerilya Mensyiahkan Umat Islam? Cover belakang buku Qalbun Salim Hati yang Pasrah karangan Abdullah Husein Dasteghib –yang isinya mengkafirkan Umat Islam yang tidak mengimani imamah syiah– mencantumkan semacam label berupa nomor Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (dahulu Departemen Agama) NOMOR DJ 1/375/2009.https://www.nahimunkar.org/ditjen-pendidikan-islam…/

Bk-Qulsa_8246328537401-674x1024

Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Bergerilya Mensyiahkan Umat…

NAHIMUNKAR.COM

Bila dirujukkan kepada Hadits Nabi saw maka gejala buruk ini dikhawatirkan termasuk dalam hadits tentang ruwaibidhah dan lebih celakanya lagi keadaan ini dikhawatirkan termasuk pertanda imarah sufaha’.

حَدِيث أَنَس ” أَنَّ أَمَام الدَّجَّال سُنُونَ خَدَّاعَات يُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق وَيُصَدَّق فِيهَا الْكَاذِب وَيُخَوَّن فِيهَا الْأَمِين وَيُؤْتَمَن فِيهَا الْخَائِن وَيَتَكَلَّم فِيهَا الرُّوَيْبِضَة ” الْحَدِيث أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَأَبُو يَعْلَى وَالْبَزَّار وَسَنَده جَيِّد , وَمِثْله لِابْنِ مَاجَهْ مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة وَفِيهِ ” قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة ؟ قَالَ الرَّجُل التَّافِه يَتَكَلَّم فِي أَمْر الْعَامَّة “( فتح الباري).

Hadits Anas: Sesungguhnya di depan Dajjal ada tahun-tahun banyak tipuan –di mana saat itu– orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana berbicaralah Ruwaibidhoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, apa itu Ruwaibidhoh? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan orang banyak/ umum. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Al-Bazzar, sanadnya jayyid/ bagus. Dan juga riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Lihat Kitab Fathul Bari, juz 13 halaman 84 ).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad menyatakan isnadnya hasan dan matannya shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam al-Shahihah no. 1887)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

الراوي : جابر بن عبدالله المحدث : الألباني

المصدر : صحيح الترغيب الصفحة أو الرقم: 2242 خلاصة حكم المحدث : صحيح لغيره

/Dorar.net

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ka’b bin’ Ujroh, “Semoga Allah melindungimu dari pemerintahan orang-orang yang bodoh”, (Ka’b bin ‘Ujroh Radliyallahu’anhu) bertanya, apa itu kepemerintahan orang bodoh? (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Yaitu para pemimpin negara sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku, barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kebohongan mereka serta menolong mereka atas kedholiman mereka maka dia bukanlah golonganku, dan aku juga bukan termasuk golongannya, mereka tidak akan datang kepadaku di atas telagaku, barang siapa yang tidak membenarkan mereka atas kebohongan mereka, serta tidak menolong mereka atas kedholiman mereka maka mereka adalah golonganku dan aku juga golongan mereka serta mereka akan mendatangiku di atas telagaku.
(Musnad Ahmad No.13919, shahih lighairihi menurut Al-Albani dalam Shahih at-Targhib).

Allahul Musta’an. Wa laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adhiim.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 7.716 kali, 1 untuk hari ini)