Dicabuli Pendeta hingga Depresi, Gadis ABG Bunuh Diri Tenggak Racun

 


MINUM RACUN— Jenazah gadis 16 tahun menjadi korban pencabulan mantan pendeta si Mntawai Sumatera Barat meninggal dunia setelah meminum racun jenis roundup yang biasa digunakan membasmi rumput./ pstmtrpdg

 

Aksi pencabulan yang dilakukan RP (46), eks pendeta di Mentawai berujung tragis kepada korbannya.

Gadis kecil yatim piatu KL (16 tahun), korban aksi bejat pendeta itu tewas (28/6/2020) setelah meminum racun jenis roundup (Intoksikasi glisophate) pada Rabu, (10/6/2020). Korban melakukan tindakan tersebut diduga karena mengalami depresi atas perbuatan percabulan oleh mantan pendeta RP (46 tahun).

Nyawa korban tak tertolong setelah sempat menjalani perawatan di RSUD Kabupaten Kepulauan Mentawai. Korban dinyatakan meninggal dunia pada Ahad (28/6/2020) sekira pukul 12.47 WIB.

Direktur RSUD Mentawai, dr. Jimmy Yul Ambarita seperti dikutip Suara.com dari Covesia.com, Selasa (30/6/2020), mengatakan penyebab korban meninggal akibat racun yang masih ada dalam tubuhnya.

“Sakitnya masih terkait kejadian sebelumnya karena minum racun,” ujarnya.

Jenazah korban disemayamkan di pihak keluarga satu marga di Tuapeijat, Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai, rencananya akan dimakamkan besok tempat pemakaman yang berada di Satuan Pemukiman (SP) 3, Sipora Utara.

Korban adalah anak yang diambil dari yayasan panti asuhan di Padang, kemudian dibawa pelaku RP ke Mentawai menjadi anak asuh, sekaligus membantu merawat orang tua pelaku yang sudah lanjut usia.

Selama di Sioban, korban justru menjadi tempat pelampiasan nafsu selama berbulan-bulan di tempat tinggalnya.

Pelaku adalah RP(46) diketahui mantan pendeta di Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Perbuatan pencabulan anak tersebut telah berulang kali dilakukan pelaku kepada korban. Kasus ini lama terkuak karena tidak ada yang mengetahui dan korban merasa tertekan dan tertutup untuk melaporkannya tentang apa yang telah dialaminya.

 

Dalam kasus pencabulan yang dilakukan RP masih terus diproses di Polres Mentawai.

Atas perbuatannya itu, pendeta cabul tesebut dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 81ayat (1) jo Pasal 82 ayat (1), jo Pasal 76 jo pasal 76D, 76E Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, kemudian Undang-Undang RI Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan Perpu nomor 1 tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sumber: covesia.com

 

Agung Sandy Lesmana

jogja.suara.com, Selasa, 30 Juni 2020 | 12:35 WIB

 

***

 

Sebelum meninggalnya gadis 16 tahun korban perkosaan pendeta itu, sang pendeta pemerkosanya telah ditahan polisi.

Inilah beritanya.

***

 

Seorang Pendeta Ditahan di Mapolres Mentawai Atas Dugaan Pencabulan Anak

  • Reporter: Patrisius Sanene – Editor: Gerson M Saleleubaja

     Kapolres Mentawai, AKBP Dodi Prawiranegara (kiri) didampingi Kasatreskrim, Iptu Irmon memperlihatkan barang bukti tindak pidana pencabulan anak pada Jumat, (29/5/2020). ( Foto : Patris/MentawaiKita)

     

    TUAPEIJAT-Seorang  pendeta yang berinisial RP (46) yang menjadi pendeta di Sipora Utara, Mentawai ditahan di Markas Kepolisian Resort Mentawai atas dugaan pencabulan anak di bawah umur, Selasa (26/5/2020).

    Tersangka RP menyerahkan diri ke Mapolres Mentawaiyang diantarkan oleh keluarganya pada Selasa (26/5/2020) 

    Kapolres Mentawai, AKBP Dodi Prawiranegara, mengatakan peristiwa yang menimpa korban seorang anak perempuan yang berinisial KL (16) berawal saat dia di rumah RP pada Januari 2020.

    Korban merupakan anak perempuan yang diasuh oleh orang tua tersangka diambil dari sebuah yayasan panti asuhan yang ada di Kota Padang, kemudian dibawa ke Mentawai niatnya untuk membantu merawat orang tua pelaku.

    “Jadi seharusnya korban ini dilindungi, diambil dari yayasan panti asuhan tidak punya ayah ibu dan harusnya mengharapkan kasih sayang tetapi ternyata oleh pelaku dijadikan manfaat yang lain,” kata Kapolres Mentawai, AKBP Dodi Prawiranegara didampingi Kasatreskrim, Iptu Irmon pada Jumat, (29/5/2020).

    Menurut keterangan polisi, kejadian berawal pada Januari 2020, korban pada saat itu ada di rumah tersangka RP sedang memasak kemudian pelaku menyetubuhi korban di dapur rumah pelaku, kejadian tersebut secara berulang dilakukan pelaku hingga bulan Februari 2020.

    Pada Maret 2020, korban disuruh bekerja untuk merawat orang tua tersangka yang berada di Sioban sebagai ART (Asisten Rumah Tangga), kejadian ini berlanjut pada bulan Mei pada korban. Selama di rumah orang tua tersangka, RP kembali mengulang perbuatan cabul tersebut hingga Mei 2020 di rumah orang tua RP di Sioban, Kecamatan Sipora Selatan. 

    Peristiwa ini lama terkuak karena tidak ada yang mengetahui dan korban merasa tertekan dan tertutup untuk melaporkannya tentang apa yang telah dialaminya.

    Kasus ini kemudian terungkap bahwa ada masyarakat di Sioban yang mengetahui informasi dari korban, korban tersebut juga pernah bercerita kepada seorang bidan. Informasi yang terus tersebar dari seorang bidan tersebut kemudian diceritakan kepada orang tua KL yang kebetulan bertemu pada saat ibadah di Saureinu’.

    Kemudian orang tua korban tersebut menyampaikan informasi ini kepada seorang pendeta di Saureinu’, lalu pendeta tersebut  menyampaikan informasi tersebut ke pengurus yayasan panti asuhan di Padang.

    “Dari informasi tersebut, Selasa, (26/5/2020) Satreskrim Polres Kepulauan Mentawai turun melakukan penyelidikan ke lapangan setelah turun di lapangan dengan menghimpun bukti bahwa benar ada kejadian tindak pidana pencabulan terhadap anak yang disertai persetubuhan dengan anak di bawah umur,” kata Kapolres Kepulauan Mentawai, AKBP Dodi Prawiranegara.

    Terkait kasus tersebut Kapolres Kepulauan Mentawai, AKBP Dodi Prawiranegara mengatakan akan memberikan pasal dan ancaman hukuman yang terberat atas perbuatan pelaku. 

    “Saya sudah perintahkan ancaman hukuman yang diterapkan pada pelaku hukuman yang terberat karena ini menimbulkan traumatik tersendiri bagi korban, dan saya koordinasi dengan PPA di Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk tak henti-hentinya memberikan pendampingan kepada korban agar traumatik ini tidak berkelanjutan,” Kapolres Kepulauan Mentawai, AKBP Dodi Prawiranegara.

    Kapolres Mentawai juga berharap ada partisipasi masyarakat untuk melaporkan jika ada kasus serupa. 

    “Jangan sampai ini dimanfaatkan predator baru karena ini sesuatu kebiasaan atau yang terjadi tahun demi tahun, dan saya yakin ini masih banyak terjadi, kami berharap kepada masyarakat untuk berani melaporkan jika mengetahui ada kasus serupa segera melapor ke Polsek terdekat, supaya generasi penerus di Mentawai ini menjadi produktif, saya berharap ke depan tidak ada lagi kasus serupa sehingga anak-anak ceria melaksanakan kegiatan sehari-hari tanpa ada ancaman dari luar,” ucap Kapolres.

    Tersangka diancam dengan pidana  pasal berlapis yakni pasal 81ayat (1) jo pasal 82 ayat (1), jo pasal 76 jo pasal 76D,76E Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, kemudian jo Undang-Undang RI Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan Perpu nomor 1 tahun 2016 Tentang Perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan pasal 64 ayat (1) KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana)

    Alat bukti yang diamankan yakni celana dalam pria dewasa celana panjang hitam milik tersangka, lalu celana pendek, baju lengan pendek, singlet dan celana dalam milik korban, sementara pelaku kini sudah ditahan di Mapolres Kepulauan Mentawai. 

  • mentawaikita.com/
    Jumat, 29-05-2020 13:37 WIB

     

    (nahimunkar.org)


     

(Dibaca 1.119 kali, 1 untuk hari ini)