Ilustrasi: Emha dengan grupnya, Kiai Kanjeng, menyuguhkan medley lagu Ave Maria dan Sholawat Nabi dinyanyikan bergantian oleh Kyai Kanjeng dan ibu-ibu gereja di Gereja Katholik Pugeran Yogyakarta Agustus 2007/ foto dok-istimewa

Kementerian Agama merilis 200 daftar nama muballigh atau ustaz/ustazah untuk bisa dijadikan rujukan masyarakat untuk mengisi kegiatan-kegiatan keagamaan.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Kemenag menerima banyak pertanyaan dari masyarakat terkait nama muballigh yang bisa mengisi kegiatan keagamaan mereka.

Menag berharap rilis daftar nama muballigh ini bisa memudahkan masyarakat dalam mengakses para penceramah yang mereka butuhkan. Langkah ini diharapkan akan memperkuat upaya peningkatan kualitas kehidupan beragama sesuai misi Kementerian Agama.

Demikian berita yang beredar Jumat 2 Ramadhan 1439H/ 18 Mei 2018.

Dalam daftar itu ada nama bahkan jajaran terawal, diduga mereka adalah pembela Lia Eden manusia murtad pendiri agama Salamullah yang telah divonis penjara karena menodai agama.

Dua nama yang diduga membela Lia Eden namun direkomendasikan sebagai muballigh oleh Kemenag itu adalah A Rumadi dan Abdul Moqsith Ghozali.

Apabila dua nama itu orang dari UIN Jakarta, maka dia diduga adalah sebagai orang yang pernah menulis artikel berisi membela Lia Eden tokoh penoda agama, pendiri agama salamullah dan menghalalkan daging babi.

Nama satu lagi yang masuk daftar, namun apakah dia pantas sebagai dai yang direkomendasikan untuk umat Islam, adalah pentolan Pemusik yang mengoplos Shalawat dengan Nyanyian Gereja dan nyanyian Yahudi Israel. Dia adalah Emha Ainun Najib, dikenal punya grup musik kyai kanjeng. 

Dalam“Shalawat Global” made in Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), budayawan asal Jombang, Jawa Timur – satu daerah dengan dukun cilik Ponari dan tukang jagal Ryan. Shalawat ini mencuat setelah video pementasannya di depan jamaah Pengajian Tombo Ati disebarluaskan di internet.

Dalam video Shalawat Global, tampak Emha dan anak buahnya berseragam putih-putih, para penyanyi pria mengenakan peci putih sedangkan wanitanya memakai jilbab putih. Dengan wajah-wajahsumringah penuh semangat, mereka melantunkan beberapa lagu gerejayang sangat populer dengan aransemen khas gamelan Jawa. Lirik lagu-lagu gereja tersebut diubah, diarabkan dan diisi dengan shalawat nabi yang begitu populer di kalangan Nahdliyin (orang NU). Dua lagu populer gereja yang dicomot Emha adalah “Hevenu Shalom Aleikhem” dan lagu Natal “Joy to the World.”

Lagu “Hevenu Shalom Aleikhem” ciptaan Goldfarb, seorang Rabi Amerika Israel pada bulan Mei 1918 ini sangat populer di kalangan orang Israel maupun umat kristiani. Sedemi­kian masyhurnya melodi ini di berbagai bela­han dunia, sampai-sampai ada yang meng­anggap bahwa lagu ini adalah warisan Nabi Musa di Gunung Sinai. Bagi orang Yahudi, Shalom Aleikhem adalah lagu adat dinyanyikan pada malam Sabtu (Sabbath Yahudi) dengan sangat gembira dan penuh suka cita.

Lirik lagu ini adalah sbb: “Havenu shalom, shalom aleikhem, shalom, shalom aleikhem. Havenu shalom, shalom aleikhem, shalom, shalom aleikhem. Shalom, shalom aleikhem. Ku bawa b’rita sejahtera, damai, damai t’lah datang. Ku bawa b’rita sejahtera, damai, damai bagimu. Damai, damai bagiku.”

Oleh Emha, lagu Israel ini diplagiat menjadi unsur Shalawat Global dengan mengarabkan liriknya menjadi: “Alaika salam alaikum. Alaika salam alaikum. Alaika salam, salam, salam alaikum…”

Sedangkan “Joy to the World” ciptaan Issac Watts (Inggris) tahun 1719 adalah lagu Natal yang sangat populer bagi umat Kristen, karena di setiap perayaan Natal lagu ini dikuman­dangkan, bersama lagu natal yang lain: Malam Kudus (Silent Night), Gita Surga Bergema (Hark, The Herald Angels Sing), White Christmas, Jingle Bells,[1]dll.

Di Indonesia, himne natal “Joy to the World” bisa ditemui dalam Kidung Jemaat 119 dengan judul “Hai Dunia Gembiralah” dengan lirik sebagai berikut:

“Hai dunia, gembiralah dan sambut Rajamu! Di hatimu terimalah! Bersama bersyukur, bersama bersyukur, bersama-sama bersyukur. Hai dunia, elukanlah Rajamu penebus! Hai bumi, laut, gunung, lembah, bersoraklah terus, bersoraklah terus, bersorak-soraklah terus!”

Lirik lagu tersebut diambil dari nas kitab Mazmur 98, karena ayat ini diyakini menubuatkan kedatangan Yesus Kristus (sang Mesias) dan penggenapan Perjanjian Baru, bahwa Yesus lahir untuk mati di atas kayu salib menggantikan/menebus orang berdosa. Pujian dalam lagu ini me­nyata­kan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan yang disambut dengan penuh suka cita.

Dalam pandangan Islam, doktrin penebusan dosa oleh darah Yesus di tiang salib adalah akidah yang batil

https://www.nahimunkar.org/gombal-emha-ainun-nadjib-dalam-shalawat-global/

Pentolan pemusik yang mengoplos shalawat dan dimusikkan, namun dimasukkan daftar 200 dai Indonesia versi Kemenag, lantas sebenarnya Islam macam apa yang akan didakwahkan? Itukah yang sesuai dengan misi kemenag sebagaimana dikemukakan dalam merilis daftar da’i tersebut?

Adapun mengenai dua sosok lainnya, arsip berita berikut ini silakan disimak.

***

Orang UIN membela Lia Eden

BUKAN cuma Abd Moqsith Ghazali yang membela Lia Eden dan komunitasnya, ada juga Rumadi seorang dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum di UIN (Universitas Islam Negeri, dahulu IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Keduanya doctor di lingkungan UIN Jakarta.

Ketika Lia dan komunitasnya diamankan dan dievakuasi aparat kepolisian pada 18 Desember 2005 lalu, Abd Moqsith Ghazali menyuarakan pembelaannya melalui sebuah artikel berjudul Kriminalisasi Komunitas Eden, yang dipublikasikan Koran Tempo edisi Senin 2 Januari 2006. (lihat tulisan berjudul Lakon Buruk Anggota AKKBB Pendukung Porno-pornoan dan Kesesatan, nahimunkar.com July 17, 2008 1:48 am).

Sedangkan Rumadi, pembelaannya kepada Lia Eden dan komunitasnya dituangkan dalam sebuah tulisan berjudul Penodaan Agama untuk Lia Eden yang dipublikasikan di situs wahidinstitute.org tanggal 10 Mei 2006. Rumadi dan Moqsith tampaknya memang tenaga di lembaga yang berkaitan dengan Gus Dur dan puterinya, yang biasanya justru “berangkulan” dengan orang-orang kafir atau bahkan yang terbukti menodai Islam seperti Lia Eden

Rumadi antara lain mengatakan, “…Sebagian orang Islam mengatakan bahwa ajaran LiaEden telah menodai agama Islam. Lia Eden bilang dia adalah Jibril yang mendapat wahyu dari Tuhan, seorang anggotanya dikatakan reinkarnasi Nabi Muhammad, dan sebagainya. Sampai di sini saya belum merasa ada penodaan terhadap Islam, meskipun orang mungkin mengatakan bahwa membawa-bawa nama Jibril dan Nabi Muhammad tidak dalam posisi ‘sewajarnya’ adalah bentuk penodaan terhadap Islam.”

Itulah bentuk pembelaan yang telah tampak cara berfikirnya saja saling bertabrakan antara perkataan yang satu dengan lainnya.

Posted on 25 Desember 2008 – by Nahimunkar.com

https://www.nahimunkar.org/lia-eden-memerintahkan-penghapusan-islam/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.384 kali, 1 untuk hari ini)