Sedikitnya delapan dari 16 makam yang terdaftar di kota Timbuktu Mali, dihancurkan, dalam kampanye untuk menghapus jejak dari apa yang mereka anggap sebagai penyembahan berhala dan tidak Islami.

BAMAKO – Dalam upayanya untuk mencegah perbuatan-perbuatan kemusyrikan, pejuang Islam Mali kembali menghancurkan kuburan-kuburan yang ada di wilayah Timbuktu Mali yang biasa digunakan orang untuk berbuat musyrik.

Kelompok pejuang Islam Mali pada hari Selasa (10/7/2012) menghancurkan dua kuburan yang ada di masjid terkenal abad ke-14, Djingareyber, di Timbuktu, yang diklasifikasikan oleh UNESCO sebagai situs warisan dunia, kata penduduk.

Sekitar selusin pejuang Islam tiba di sebuah truk lapis baja 4 WD, dengan senjata serta kapak dan cangkul. Mereka menembakkan senjata ke udara untuk membubarkan orang-orang yang tengah melakukan ritual di tempat itu dan mulai menghancurkan makam, kata Ibrahim Cisse, yang menyaksikan adegan itu.

“Mereka memblokir dua jalan utama yang menuju ke makam. Ketika mereka melihat orang yang berkumpul untuk upacara di dekatnya, mereka mulai melepaskan tembakan ke udara,” kata seorang penduduk, Mahamad Ould Ibrahim.

Kerusakan baru muncul setelah serangan pekan lalu di tempat-tempat bersejarah dan agama lainnya di Timbuktu yang UNESCO menyebutnya sebagai “penghancuran nakal”.

Pejuang Islam dari kelompok Anshar Al-Dine mengatakan kuil berabad-abad dari kelompok Sufi lokal tersebut adalah musyrik.

Anshar Al-Dine dan sekutunya, termasuk sempalan Al-Qaidah MUJWA, telah membajak sebuah pemberontakan separatis oleh pemberontak lokal Tuareg MNLA dan kini menguasai dua pertiga dari gurun utara Mali, wilayah yang mencakup daerah Gao, Kidal dan Timbuktu.

Mereka telah menghancurkan sedikitnya delapan dari 16 makam yang terdaftar di kota tersebut, bersama dengan sejumlah makam dan pintu suci di Masjid Sidi Yahya, dalam kampanye mereka untuk menghapus jejak dari apa yang mereka anggap sebagai penyembahan berhala dan tidak Islami.

Menurut UNESCO, masjid Djingareyber, bersama dengan Sankore dan Sidi Yahia, dikenal sebagai tiga masjid besar di kota itu. Djingareyber dibangun oleh sultan Kankan Moussa setelah kembali pada tahun 1325 dari ziarah ke Mekah. (an/reuters) voais, Pejuang Islam Mali Kembali Hancurkan Kuburan Tempat Kemusyrikan di Timbuktu

 Selasa, 10 Jul 2012

(nahimunkar.com)

(Dibaca 751 kali, 1 untuk hari ini)