Di Indonesia, Dosen IAIN Surabaya dan STAIN Jember Mendemonstrasikan Menginjak-injak Lafal Allah

Inilah beritanya.

***

Pria di Saudi Dihukum Mati karena Merobek dan Menginjak Al-Qur’an

RIYADH– Pengadilan Syari’ah di Arab Saudi telah menghukum mati seorang pria karena menyatakan kemurtadannya dan memposting video di situs media sosial yang menunjukkan dia sedang merobek al-Qur’an dan kemudian menginjaknya dengan sepatunya, sebagaimana dilansir oleh Daily Mail, Selasa (24/2/2015).

Pria yang tidak disebutkan namanya berusia sekitar 20 tahunan, dari Hafr-Al-Batin, memposting sebuah video di situs media sosial yang menunjukkan dia merobek al-Qura’n dan menginjaknya dengan sepatu.

“Dia sekarang telah dijatuhi hukuman mati karena mencela agama Islam dan berbagai tindakan penghinaan lainnya.”

Sebuah sumber dari Pengadilan Umum mengatakan: “Dalam video tersebut dia mengutuk Allah, Nabi Muhammad dan putrinya Fatimah dan merobek al-Qur’an dan menginjaknya dengan sepatu.”

”Hukuman mati itu dikeluarkan setelah kemurtadannya terbukti,” ungkap harian Saudi berbahasa Inggris, Saudi Gazette pada Selasa (24/2).

Komisi untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan Cabang Hafr Al-Batin menangkap pria itu tahun lalu dan kasusnya diteruskan ke Biro Investigasi dan Kejaksaan.

Di bawah interpretasi hukum Syari’ah Islam yang diterapkan Saudi, murtad merupakan tindak kriminal dan dapat dijatuhi hukuman mati. Di Saudi, hukuman karena murtad, sama halnya seperti hukuman pelanggaran agama lainnya, seperti mempraktikkan ilmu sihir.

(ameera/arrahmah.com) Ameera Rabu, 6 Jumadil Awwal 1436 H / 25 Februari 2015 12:38

***

Di Indonesia, Dosen IAIN Surabaya dan STAIN Jember Mendemonstrasikan Menginjak-injak Lafal Allah

Di Indonesia ada dosen yang di hadapan para mahasiswanya mendemonstrasikan penentangannya terhadap Allah Ta’ala dengan menulis lafal Allah (tulisan Arab) lalu sengaja menginjaknya pakai sepatu. Seperti yang dilakukan oleh dosen Sulhawi Ruba di IAIN Sunan Ampel Surabaya beberapa waktu yang lalu, dan belakangan disusul pula oleh dosen di STAIN Jember Jawa Timur, dia menulis lafal Allah di papan tulis, lalu dia hapus pakai sepatunya, lalu sepatu yang dicopot sebentar untuk menghapus lafal Allah itu dipakainya lagi.

Begitulah penentangan dan penghinaan terhadap Islam, dan itulah sejatinya pemurtadan lewat perguruan tinggi Islam di Indonesia, sebagaimana telah ditulis dalam buku Ada Pemurtadan di IAIN, karya Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2005.

Siapa yang rela terhadap penentangan Islam apalagi secara sistematis seperti itu, maka insya Allah benar-benar berdosa pula. Apalagi yang melakukan bahkan melariskannya atau bahkan mencari tenaga-tenaga untuk lebih merusak Islam lagi, tentu akan mendatangkan murka Allah Ta’ala.

Para ulama atau siapa saja yang mengerti Islam dan mampu untuk berupaya mengatasinya, namun diam saja, apalagi pura-pura tidak tahu, dan bahkan lebih asyik membela aliran sesat seperti syiah, LDII, Ahmadiyah dan semacamnya, sambil mengkampanyekan aneka bid’ah; maka daftar catatan amal telah tersedia. Betapa menyesalnya kelak bila mereka tercatat sebagai ulama su’ (jahat) namun berpenampilan shalih. Sehingga antara yang liberal yang merusak Islam secara sistematis tersebut dengan yang mengusung dan mempertahankan atau membela aneka bid’ah pakai aneka dalih, kelak di akherat tinggal menyesal belaka. Maka sebaiknya mereka bertaubat. Yang memasarkan faham liberal yang merusak Islam, kembali ke Islam yang benar. Yang mengusung dan mempertahankan bid’ah, kembali ke Islam yang sesuai dengan yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan menjadikan hawa nafsu sebagai panglima.

Di Indonesia ini, kenapa gerombolan liberal itu semakin nglunjak, di antara faktornya adalah karena mereka juga tahu, para pengusung bid’ah dan pembela kesesatan walaupun berpenampilan seshalih apapun, sejatinya juga tidak jauh beda dengan mereka. Bedanya, mereka tidak ada yang disebut wali, walaupun sampai mencapai title professor doctor, tapi kalau berkecimpungnya di lingkungan yang lain maka bisa disebut wali. Padahal sama-sama merusak Islam. Itu saja. https://www.nahimunkar.org/inilah-cara-manusia-menentang-al-quran-zaman-sekarang/

 (nahimunkar.com)

***

Waqaf Quran NM

Penghinaan Lafadz Allah

By nahimunkar.com on 6 January 2012

NU Kecam Dosen STAIN yang Menghina “Lafadz Allah”

Kampus perguruan tinggi Islam kembali ternoda dengan ulah salah seorang dosennya yang dinilai telah melakukan pelecehan dengan cara menghapus lafadz  Allah dengan sepatu.

Peristiwa pelecehan ini dilakukan seorang dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Jember, Jawa Timur berinisial WU, sebagaimana diberitakan Koran milik NU, Duta Masyarakat, Kamis (05/01/2012).

Seperti ditulis media itu, pelaku, yang merupakan seorang dosen ilmu filsafat, di hadapan para mahasiswanya menyatakan, menginjak al-Quran tidak berdosa dalam hukum Islam.

Dikutip Duta, mencuatnya kasus ini bermula ketika dosen kelahiran Ponorogo Jawa Timur itu dinilai melakukan pelecehan Asma Allah oleh para mahasiswanya yang kemudian diadukan ke beberapa dosen lain hingga ke pengurus NU Jember.

“Penistaan nama Allah itu dilakuan Win (panggilan pelaku) ketika memberikan kuliah kepada mahasiswanya, “ ujar Sekretaris NU Jember , H Misbahussalam, dikutip harian itu.

Alkisah, kala itu, sang dosen mengajukan pertanyaan kepada para mahasiswanya  mengatakan, “Lebih mulia mana antara alif, lam, lamha’ (lafadz Allah) dengannya (si pelaku, red).”

Pertanyaan ini diajukan si pelaku sambil menunjuk lafadz Allah dengan namanya sendiri yang ia tulis di papan tulis.

Mendengar pertanyaan itu, masih menurut H. Misbah, spontan mahasiswa menjawab; “Ya jelas lebih mulialafadz Allah.”

Tapi yang mengagetkan, si dosen mengambil sepatu dan sejurus kemudian menghapuskan lafadz Allahtersebut dengan sepatunya. Tak urung peristiwa ini meresahkan para mahasiswa hingga beritanya sampai ke PCNU Jember.

Menurut salah dosen STAIN, Abdul Harits, M.Ag,  peristiwa ini sudah terjadi bertahun-tahun, hanya saja pelaporannya baru dilakukan beberapa mahasiswa semester satu bulan Desember ini. Karena itu ia berharap pihak STAIN harus cepat bertindak.

“Ini kasus lama tapi baru mencuat sekarang setelah ada yang melapor, “ ujarnya kepada hidayatullah.com, Jumat (06/01/2012).

Sementara itu, Ketua STAIN Jember, Dr Khusnuridho, mengatakan, meski apa yang dilakukan pelaku membahayakan akidah, namun yang dilakukan masih pada wilayah akademik.

“Ya masih bias dipertanggungjawabkan secara akademik. Diskusi kalau di level doctor itu kan sampai begitu parah, “ ujarnya dikutip Duta, Kamis (05/01/2012).

Namun Rais Syuriah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad mengaku keberatan perilaku dosen tersebut. Apalagi, menurutnya, 90% mahasiswa STAIN adalah warga NU.

Lebih jauh, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam ini mengatakan, kasus ini sudah masuk pada wilayah kekeliruan akidah. Bahkan menurutnya, ulama Salaf sudah mengkategorikan sebagai kufur (keluar dari Islam, red), kecuali melakukan syahadat lagi.

“Jangankan ulama salaf, ulama yang modern seperti Rasyid Ridho dalam Al Manar, menyebut tindakan dosen ini sudah kufur,” ujarnya kepada hidayatullah.com.

Secara khusus, Sabtu, 31 Desember 2011 lalu, PCNU Jember langsung melakukan kajian ilmiah dan lahirnya Keputusan Bahtsul Masail tentang “Hukum Penistaan Agama Islam” terkait kasus “Lafadz Allah” yang dilakukan dosen STAIN Jember.

Hasilnya, menunjukkan, apa yang dilakukan oleh si dosen tersebut merupakan penghinaan dan meremehkan terhadap simbol-simbol agama Allah, yang dihukumi haram, dan menyebabkan kemurtadannya dari Islam, dan baginya berlaku semua hukum-hukum murtad.

Hasil Batstul Masail ini didasarkan pengambilan beberapa pendapat al-Quran, hadits dan beberapa pendapat ulama muktabar.

Di antaranya adalah pendapat Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (w 974 H) berkata dalam kitab al-I’lam bi-Qawathi’ al-Islam h. 349, yang pernah mengatakan, “Di antara yang menyebabkan kekafiran adalah melemparkan mushhaf pada kotoran tanpa ada uzur dan tanpa ada indikasi yang menunjukkan pada tidak meremehkan meskipun indikasi tersebut lemah. Yang dimaksud dengan kotoran di sini adalah perkara najis secara mutlak, bahkan kotoran yang suci juga demikian sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama. Al-Ruyani berkata: “Sama halnya dengan mushhaf dalam hal tersebut adalah kertas-kertas ilmu syariat, dan hal ini diperkuat oleh keterangan berikut tentang seseorang yang berkata, satu mangkuk bubur lebih baik dari pada ilmu. Kitab-kitab hadits dan setiap kertas yang berisi salah satu Asma Allah, lebih utama dengan hukum tersebut dalam hal melemparkannya ke tempat yang kotor menyebabkan pada kekafiran.”

Sebelum ini, tahun 2006, seorang dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya bernama Sulhawi Rubah telah melakukan hal sama. Di hadapan para mahasiswanya, ia menginjak-injak lafadz Allah dengan alasan, al-Quran sebagai kalam Allah hanyalah makhluk ciptaan-Nya.

Rep: Panji Islam

Red: Cholis Akbar Jum’at, 06 Januari 2012

Hidayatullah.com—

(nahimunkar.com)

(Dibaca 44.800 kali, 1 untuk hari ini)