Dikhawatirkan Pelantikan Presiden Disertai Salam Islam Dilanjutkan Salam Agama-Agama Lain yang Bisa Mengakibatkan Murtad

 


Presiden Joko Widodo (ANTARA/Yudhi Mahatma) dalam acara pelantikan yang digelar di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/10/2014). Jokowi pidato sejak 11.40 WIB sampai 11.50 WIB.

 

Dikhawatirkan, saat Presiden dilantik 20 Oktober 2019, pidato perdananya dibuka dengan salam oplosan (slam Islam -Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh—diteruskan dengan salam agama-agama lain) yang merusak iman, bahkan bisa mengakibatkan murtad.

Salam Islam assalamu’alaikum warahmatullahi wa bararakatuh, dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain (sebagaimana Jokowi lakukan pada pelantikan 2014 yang lalu); itu sama sekali tidak diajarkan dalam agama yang dipeluk presiden yaitu Islam, dan sangat membahayakan iman, bisa mengakibatkan pelakunya murtad alias keluar dari Islam. (https://www.nahimunkar.org/bisa-murtad-dan-musyrik-mengucapkan-salam-islam-disertai-salam-agama-lain/ ).

Dikhawatirkan pula, setelah dilantik yang kedua kalinya 20 Oktober 2019, akan mengulangi pula perbuatan yang sudah difatwakan haramnya oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) tentang haramnya mengikuti/ menghadiri upacara natal (bagi Muslim).

Apalagi kini yang akan dilantik itu juga adalah Wapres yang orangnya adalah ketua umum MUI Ma’ruf Amin, yang baru saja dikukuhkan lagi untuk tetap menjabat sebagai ketua umum MUI sampai 2020. Maka fatwa MUI tentang haramnya mengikuti perayaan natal itu bila dilanggar oleh presiden, apalagi juga wapres yang Ketua Umum MUI, maka betapa khianatnya terhadap agama Islam dan Umat Islam Indonesia.

 

Menyambut Pelantikan Presiden dan Wapres yang Petinggi Ulama

 

Perkenankan kami menyampaikan sekadar untaian kata-kata berikut ini, karena yang dilantik jadi presiden, Jokowi adalah ‘Tokoh Islam Berpengaruh’ (menurut satu buku internasional), dan wapresnya Ma’ruf Amin adalah petinggi ulama, ketua umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang tidak mau melepas jabatannya itu walau mau jadi Wapres, dengan alasan tidak melanggar (hukum).

 

‘Salam Oplosan’ Itu Haram dan Bisa Menjadikan Murtad, Sedangkan Ikut Upacara Perayaan Agama Lain Itu Telah Resmi Difatwakan Haram oleh MUI

 

Dari situ kami pandang ada perlunya memperingatkan muslimin agar tidak pakai ‘salam Islam –assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh– dilanjutkan dengan salam agama-agama lain’, dan agar tidak ikut perayaan imlek, natalan, dan perayaan agama selain Islam. Kalau mau mengucapkan salam, sebagai orang Islam, siapapun dia, ketika dihadapannya ada orang Islamnya, maka cukup dengan salam Islam saja. Apabila tidak ada yang Muslim, maka bukan salam Islam yang disampaikan tapi ucapan selamat penghormatan biasa. Misal selamat pagi dan sebagainya. Karena Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam ketika kirim surat ke raja-raja yang bukan Muslim, bukan assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, yang beliau sampaikan, tapi adalah:

سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الهُدَى

Salaamun ‘ala manit-taba’al huda (keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk).

Mungkin orang akan bilang, itu kan Nabi, kita kan bukan nabi. Ya, kita bukan nabi, tapi perlu diketahui, salam itu doa, doa itu dalam Islam termasuk ibadah. Sedang ibadah itu hanya ikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kami menyadari, mungkin ada kilah yang dianggap tepat, misalnya ungkapan: Lha saya ini kan bukan hanya pemimpin Umat Islam tapi pemimpin bangsa… dst.

Ya, benar. Tetapi perlu diingat, setinggi apapun kepemimpinan dan seluas apapun jangkauannya, masih tetap kalah jauh dibanding kepemimpinan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan bahkan ketetapan atau keputusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu disahkan secara resmi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diikuti. Di antara keputusannya yang direkomendasikan langsung oleh Allah Ta’ala adalah:

{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا } [الأحزاب: 36]

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al Ahzab:36]

Tidak ada pilihan lain itu di antaranya ketetapan ayat:

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦ [ الـكافرون:6-6]

“Untuk kalian agama kalian, dan untukkulah, agamaku”. [Al Kafirun:6]

Untuk kalian maksudnya adalah orang bukan Islam. Sedang untukku maksudnya adalah orang Muslim, agamaku yaitu Islam.

Sehingga dalam hal agama (peribadahan), Umat Islam hanya mengikuti cara Islam, tidak boleh mengikuti agama lain. Sedang salam itu termasuk doa, dan doa itu adalah ibadah menurut Islam. Maka tidak boleh memakai yang bukan dari Islam.

Ini bukan pengekangan, karena agar memurnikan agama yang diyakini. Bila mengikuti cara Islam tapi disertai mengikuti cara agama selain Islam, maka sudah merupakan pelanggaran dari ketentuan tersebut. Apalagi kalau itu mengandung keyakinan mengenai Ketuhanan.

Dalam salam Islam itu mengandung lafal Allah, yang tentu saja ketuhanan Yang Maha Esa, Tauhid. Ketika salam Islam itu membawa lafal Allah yakni Yang Maha Esa, lalu juga mengikrarkan salam agama lain yang ketuhanannya adalah polyteisme, maka rusaklah keislamannya. Karena mengakui Allah satu2nya Tuhan yang berhak disembah, yakni Allah Yang Maha Esa, namun juga sekaligus mengakui bahkan mengikrarkan salam yang muatannya ketuhanan polyteisme, yang sama sekali bukan keyakinan Islam. Maka bisa murtad alias keluar dari Islam. Itu resikonya. Makanya, siapapun yang mengaku dirinya muslim, lalu mengucapkan salam Islam, dilanjutkan dengan salam-salam agama lain, maka bisa rusak Islamnya. Dan itu sangat fatal menurut keyakinan Islam.

Dan ini bukan karena tidak toleransi, tapi karena aturan Islam menetapkan itu, dan wajib diikuti. Sebagaimana misalnya ada jamuan makan di situ ada babinya, lalu tidak makan yang daging babi itu, bukan berarti tidak menghormati, namun karena Islam mengharamkannya. Semoga difahami.

 

Mungkin pandangan kami salah lihat, tapi tingkah polah manusia tampaknya sudah tidak mudah dinasihati. Sudah ada fatwa MUI tentang haramnya ikut perayaan agama lain (selain Islam), namun oleh sebagian orang-orang sombong (menolak kebenaran dan meremehkan manusia, menurut Hadits), fatwa itu tidak digubris. Bahkan mereka sengaja-ngaja untuk datang. Bahkan di barisan depan pula. Lebih dari itu, bahkan ada kelompok tertentu yang mengaku Muslim seperti PKB (kebanyakan orang NU-Nahdlatul Ulama) tapi justru mengadakan perayaan agama (selain Islam) di markaz mereka (orang Muslim).

 

Inti Fatwa MUI

Memfatwakan

  1. Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas.
  2. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.

  3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H

7 M a r e t 1981

Komisi Fatwa

Majelis Ulama Indonesia

Ketua: K.H.M SYUKRI GHOZALI

Sekretaris: Drs. H. MAS’UDI

Sumber: Himpunan Fatwa Mejelis Ulama Indonesia 1417H/ 1997, halaman 187-193

http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=71

(nahimunkar.org)

(selengkapnya dapat dilihat di sini:
https://www.nahimunkar.org/fatwa-majelis-ulama-indonesia-tentang-perayaan-natal-bersama-4/ ).


 

Gejala pengkhianatan tampak sudah bahkan oleh Ketua Umum MUI itu sendiri, ketika sebelum mencalonkan diri sebagai cawapres, dia (Ma’ruf Amin) mengharamkan mengucapkan selamat natal. Pengharaman itu lewat isi fatwa MUI resmi, dan juga perkataan dia. Namun begitu dia mencawapreskan diri, justru sengaja-ngaja mengucapkan selamat natal untuk kaum kristiani, videonya pun beredar.

 

KH Ma’ruf Amin dan Oknum MUI Ketularan Bohong? Ingkari Fatwa MUI Sendiri Soal Haramnya Mengucapkan Selamat Natal

Posted on 28 Desember 2018

by Nahimunkar.com

 
 



KH Ma’ruf Amin dan Oknum MUI telah mengingkari Fatwa MUI yang mereka keluarkan sendiri, yang dalam fatwa itu telah tegas mencantumkan haramnya Mengucapkan Selamat Natal. Diantaranya dicantumkan:

“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan…”. Bahkan pelakunya dikenai hukuman ta’zir.

Mengenai haramnya ucapan selamat natal, dalam fatwa MUI itu, judul fatwanya adalah

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 56  Tahun 2016
Tentang
HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM.

Fatwa itu Ditetapkan di :   Jakarta, 14 Rabi’ul Awwal 1437 H/ 14 Desember  2016 M

Di dalam Fatwa  itu dicantumkan di antaranya:

Dalam poin

MEMPERHATIKAN :

  1. Pendapat Imam Khatib al-Syarbini dalam kitab “Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj”, Jilid 5 halaman 526, sebagai berikut:

ﻭَﻳُﻌَﺰَّﺭُ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺃَﻋْﻴَﺎﺩِﻫِﻢْ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻤْﺴِﻚُ ﺍﻟْﺤَﻴَّﺔَ ﻭَﻳَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺬِﻣِّﻲٍّ ﻳَﺎ ﺣَﺎﺝُّ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻫَﻨَّﺄَﻩُ ﺑِﻌِﻴﺪِﻩِ….

“Dihukum ta’zir terhadap orang-orang yang menyamai dengan kaum kafir dalam hari-hari raya mereka, dan orang-orang yang mengurung ular dan masuk ke dalam api, dan orang yang berkata kepada seorang kafir dzimmi ‘Ya Hajj’, dan orang yang mengucapkan selamat kepadanya (kafir dzimmi) di hari raya (orang kafir)…”.

(Kemudian poin MEMPERHATIKAN pada butir ke-6):

  1. Pendapat Imam Ibnu Qoyyim al Jauzi dalam kitab Ahkam Ahl al-Dzimmah, Jilid 1 hal. 441-442:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan. Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari raya ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan “selamat pada hari raya ini” dan yang semacamnya. Maka ini, jika orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, maka ini termasuk perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka setara dengan ucapan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”

(Selengkapnya dapat dibaca di sini: https://www.nahimunkar.org/kh-maruf-amin-dan-oknum-mui-ketularan-bohong-ingkari-fatwa-mui-sendiri-soal-haramnya-mengucapkan-selamat-natal/? )

 
 

Dengan demikian, dua perkara besar yakni (1) salam oplosan, (2) Mengikuti/ Menghadiri upacara natal; jangan sampai diulangi lagi. Karena bukan saja mengkhianati Umat Islam Indonesia, namun lebih dari itu adalah menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika petunjuk sudah disampaikan. Itu sangat berbahaya. https://www.nahimunkar.org/mencontohi-salam-oplosan-dikhawatirkan-tergolong-pembuka-pintu-keburukan/u

Tidak ada alasan, misalnya karena negeri ini bukan hanya milik umat Islam, kami ini bukan hanya pemimpin umat Islam; itu tidak bisa begitu dalam beragama Islam. Bila mengaku sebagai orang Muslim maka ada aturan2 yang wajib ditepati, dan dilarang dikhianati. Diantaranya yang juga berkaitan dengan masalah ini , dan segala urusan, adalah ketetapan Alkah Ta’ala ini:

{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا } [الأحزاب: 36]

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al Ahzab:36]

Ini penting dipegangi oleh setiap Muslim, apalagi oleh pemimpin yang didampingi ketua umum ulama resmi yang memimpin ratusan juta manusia.

Perlu difahami betul, Salam oplosan yang sangat membahayakan iman bahkan bisa mengakibatkan murtad alias keluar dari Islam itu jangan sampai diulangi lagi dalam pelantikan presiden maupun acara-acara apapun. Karena khawatir, pelakunya jadi pintu pembuka keburukan.

Mencontohi Salam ‘Oplosan’, Dikhawatirkan Tergolong Pembuka Pintu Keburukan

Posted on 19 Agustus 2019

by Nahimunkar.org

Dalam kasus penyebaran salam ‘oplosan’ (ucapan salam Islam -Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh- disertai salam2 agama selain Islam –yang muatannya adalah bukan Tauhid tapi kemusyrikan-, dikhawatirkan itu sebagai pembuka pintu keburukan.

Hakekatnya: Mengucapkan salam Islam disertai salam agama selain Islam pada hakekatnya adalah penodaan terhadap Islam secara terang-terangan (karena mencampur aduk Tauhid dengan kemusyrikan). Bahkan bila disengaja atau bahkan disengaja agar ditiru, maka berarti punya misi pemurtadan secara massal.

Mencontohi praktek salam Islam disertai salam agama selain Islam, resikonya mendapatkan dosa, masih pula memperoleh dosa dari para penirunya tanpa mengurangi dosa para penirunya. Betapa beratnya, menumpuk dosa. Orangnya (yang mencontohi itu) sudah meninggal pun bila ajaran atau contohnya itu masih dilakukan orang, maka tetap masih mendapatkan aliran dosa . Betapa beratnya. Maka sebaiknya para pelakunya (yang mencontohi itu) mengumumkan untuk mencabut dari kesalahannya dan bertaubat. Semoga saja.

Mari kita tengok sorotan masalah salam oplosan, di antaranya ini:

Musibah Agama! Salam Islam Dilanjutkan dengan Salam Agama-Agama Lain

 
 

Posted on 14 April 2019

by Nahimunkar.com

Astaghfirullah. Capres 01 Jokowi dan Capres 02 Prabowo  sama-sama mengucapkan salam Islam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh) lalu dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain. Itu berlangsung dalam debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu malam (13/4/2019).

Mereka sama-sama orang Islam. Perlu diketahui benar-benar, Salam dalam Islam itu termasuk doa. Doa itu ibadah. Sedangkan dalam Islam sudah jelas melarang mencampur ibadah dengan ritual agama lain. Ditegaskan, ibadah itu haram dicampur atau disertai ritual agama-agama lain. Karena telah ditegaskan dalam QS Al-Kafirun: 6.

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ  ٦ [ الـكافرون:6-6]

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. [Al Kafirun:6]

Dengan demikian, mengucapkan salam Islam, lalu dilanjutkan dengan salam agama-agama lain itu jelas-jelas melanggar. Bahkan dapat menjadikan pelakunya murtad alias keluar dari Islam, membatalkan syahadat. Karena sama dengan mengikrarkan ketuhanan agama lain yang otomatis kontradiksi dengan Syahadat. Ini berlaku bagi setiap Muslim, tanpa terkecuali capres maupun presiden.

Ini musibah agama!

Ini biangnya. Nasaruddin Umar imam besar Masjid Istiqlal Jakarta berdoa untuk membuka debat kelima (terakhir) capres cawapres 2019. Nasaruddin Umar imam besar Masjid Istiqlal Jakarta mengucapkan salam Islam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh), lalu dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain dan bahkan aliran kepercayaan. ini di antara biangnya, karena telah diketahui, Nasaruddin Umar Menyamakan konsep Asmaul Husna dalam Islam dengan doktrin ketuhanan Trinitas dalam Kristen. Maka dia pantas untuk bertanggung jawab atas musibah agama, dua capres (Jokowi dan Prabowo) pun kemudian mengucapkan salam Islam disertai salam-salam agama-agama lain.

***

Bisa Murtad dan Musyrik! Mengucapkan Salam Islam Disertai Salam Agama Lain

Posted on 30 Oktober 2014 – by Nahimunkar.com


Presiden Joko Widodo (ANTARA/Yudhi Mahatma) dalam acara pelantikan yang digelar di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/10/2014). Jokowi pidato sejak 11.40 WIB sampai 11.50 WIB. Ia membuka pidatonya dan menyampaikan salam menurut 4 agama: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya.

  • Salam Oplosan Mencopot Iman, Miras Oplosan Mencopot Nyawa.
  • Salam Oplosan, Haram! Dapat Membatalkan Iman bagi Muslim. Lebih dahsyat bahayanya dibanding miras oplosan yang dapat mengakibatkan copotnya nyawa.
  • Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang monothetisme itu sangat dikecam oleh Hindu.

Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010) menyatakan: “Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).

Oleh karena itu, orang Islam yang mengucapkan salam Hindu, Om Swastiastu (yang itu kental dengan ketuhanan Hindu) maka dapat mengeluarkannya dari Islam alias bisa murtad dan musyrik. Na’udzubillahi min dzalik! Bila meninggal dalam keadaan tetap belum bertaubat, bila terhitung musyrik, maka haram masuk surga, dan kekal di nereka. Na’udzubillahi min dzalik!

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Walaupun sama-sama sangat berbahaya antara salam oplosan dengan miras oplosan, namun sejatinya lebih berbahaya salam oplosan, karena jatuhnya ke syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya, yang itu dosa paling besar dan tidak diampuni bila meninggal dalam keadaan belum bertaubat.

Lebih lengkapnya dapat dilihat di sini: https://www.nahimunkar.org/musibah-agama-salam-islam-dilanjutkan-dengan-salam-agama-agama-lain/

  
 

***

Celakalah Pembuka Pintu Keburukan

Rasulullah  bersabda:


إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ.

“Sesungguhnya di antara manusia ada kunci-kunci (pembuka pintu) kebaikan dan gembok-gembok (penutup pintu) keburukan. Dan di antara manusia ada kunci-kunci (pembuka pintu) keburukan dan gembok-gembok (penutup pintu) kebaikan. Beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan tersebut di kedua tangannya. Dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan di kedua tangannya.” (HR. Ibnu Majah dihasankan oleh Al-Albani).

(slengkapnya dapat dibaca di sini: https://www.nahimunkar.org/mencontohi-salam-oplosan-dikhawatirkan-tergolong-pembuka-pintu-keburukan/ ).

Bila masih tetap diterjang

Apabila masalah yang membahayakan aqidah itu masih pula diterjang, maka yang penting kalimat-kalimat ini telah kami ungkapkan. Umat Islam Indonesia dan juga para Malaikat, bahkan Allah Ta’ala akan menyaksikan. Di samping itu catatan keburukan sebelumnya yang menyakiti Umat Islam jutaan manusia pun masih terngiang. Di antaranya pembabatan alias penghapusan perda-perda bernafaskan Islam yang dibuat sebelum berkuasanya seseorang, namun begitu seseorang itu berkuasa, maka dihapuslah. Sakit hati Umat Islam Indonesia ini dibuatnya.

Inilah di antaranya.

Astaghfirullah, Ini Perda Bernafaskan Islam yang Dihapus Presiden Jokowi

Posted on 18 Juni 2016

by Nahimunkar.com

 
 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi telah menghapus 3143 peraturan daerah (perda) yang dinilai menghambat pertumbuhan ekonomi dan bertentangan dengan peraturan yang dibuat pemerintah pusat.

Saya sampaikan bahwa Mendagri sesuai dengan kewenangannya telah membatalkan 3.143 Perda yang bermasalah tersebut,” ujar Jokowi di Istana Merdeka, seperti dilansir liputan6, Senin (13/6/2016).

Sementara koran Radar Bogor edisi selasa, 14 Juni 2016, merelease sejumlah Perda yang bernafaskan Islam termasuk yang dihapus. Perda bernafaskan Islam dinilai bersifat intoleransi.

Berikut ini beberapa perda bernafaskan Islam yang termasuk dalam daftar perda yang dihapus Jokowi.

  • Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat :Surat Imbauan Bupati Tanah Datar No.451.4/556/Kesra-2001, Perihal Himbauan berbusana Muslim/Muslimah kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Tenaga Kerja.
  • Kabupaten Bengkulu Tengah: Perda No.05 Tahun 2014 tentang Wajib bisa baca Al-Qur’an bagi siswa dan calon pengantin.
  • Kabupaten Cianjur Jawa Barat: Keputusan Bupati no.451/2712/ASSDA.I/200 tentang kewajiban memakai Jilbab di Cianjur.
  • Kabupaten Pasuruan Jawa Timur: Perda No.4/2006 tentang Pengaturan membuka rumah makan, rombong dan sejenisnya pada bulan Ramadhan.
  • Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan: Perda No.10/2001 tentang larangan membuka restoran, warung, rombong dan sejenisnya serta makan, minum atau merokok di tempat umum pada bulan Ramadhan.
    Perda No.4/2004 tentang Khatam Al-Qur’an bagi peserta didik pada pendidikan dasar dan menengah.
  • Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat
    a). Perda No. 11/2004 tentang tata cara pemilihan kades (materi muatanya mengatur keharusan calon dan keluarganya bisa membaca Al-Qur’an yang dibuktikan dengan rekomendasi KUA).
    b). SK Bupati Dompu No KD.19.05/HM.00/1330/2004, tentang pengembangan Perda No.1 Tahun 2002. Isinya menyebutkan :
    – Kewajiban membaca Al-Qur’an bagi PNS yang akan mengambil SK/Kenaikan pangkat, calon pengantin, calon siswa SMP dan SMU dan bagi siswa yang akan mengambil ijazah.
    – Kewajiban memakai busana Muslim (Jilbab).
    – Kewajiban mengembangkan budaya Islam (MTQ, Qosidah dll).
  • Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat : Instruksi Bupati Lombok Timur No.4/2003 tentang pemotongan gaji PNS/Guru 2,5% setiap bulan. [suaranasional/repelita.com]

    https://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-perda-bernafaskan-islam-dihapus-presiden-jokowi/

     

***

Menjawab Penghujat

Bagaimana kalau ada yang nyinyir: Ngapain muat-muat yang beginian, soal bahayanya salam oplosan dan fatwa haramnya mengikuti upacara natal bagi Muslim. Toh para pejabat yang tidak sayang kepada Islamnya dan golongan terbalik yang justru kasih-kasihan dengan orang kafir ya tetap akan bercengkerama dengang kafirin?

Jawaban cukup dibacakan ayat ini:

{وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ} [الأعراف: 164]

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian, dan supaya mereka bertakwa [Al A’raf164]

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 267 kali, 1 untuk hari ini)