Ngabisin energi kalau terus nyolek dia. Yang ada, dirinya malah bangga karena jadi pusat perhatian. Manusia kayak dia, adalah tipe manusia yang ada kelainan otak.

Umumnya manusia waras akan malu apabila di perlihatkan kesalahan dirinya. Malu dan berpikir untuk selanjutnya gak akan mengulangi. Tapi dia, beda.

Setiap kesalahan seperti bacaan stensil yang bisa memuaskan diri sambil tersenyum puas. Semakin di bicarakan, maka semakin dia menjadi kelakuannya.

Yang saya tau,

Dia Ansor
Dia Banser
Dia NU

Jika anak itu sudah gak bisa kita nasehati dan kita ingati atas kenakalannya, maka temui orang tuanya atau Colek orang tuanya agar mendidik anaknya yang nakalnya dah di luar batas normal.

NU selalu membanggakan Islam yang sejuk. Jika membawakan sikap manusia laknat ini, apakah Islam sejuk itu terlihat dari perbuatannya?

Ansor selalu berkata PANCASILA dan persatuan NKRI. Jika sikap si laknat ini di jadikan cerminan, apakah boleh menyebut Ansor hanya pandai berkata tanpa pandai mengamalkannya?

Toleransi dan berkata indah selalu di teriakkan oleh kaum sarungan. Namun saat Anggita sendiri berlaku bak binatang, dimana tanggung jawab mereka membina anak sendiri?

Jika saya yang b*j*ng*n ini mencontoh sikap dia, gak terima saat ulama saya di Katai “Tonggos” dan Goblok, dan saya membalas ucapan itu dengan ikut menghina kyai mereka. Apakah para sarung mania itu akan terima?

Gak usah bermain kata dengan mengaburkan pada siapa sebutan itu di tujukan.

Saya b*j*ng*n. Gak pernah ikut didikan pesantren. Gak pernah tau kitab kuning, gak pernah nyanyi sholawatan juga. Kalau saya berkata kasar dan menghinakan ulama mereka, kayaknya saya lepas dari tanggung jawab sebagai santri atau orang yang tau ajaran agama.

Tapi ada batasan yang saya jaga. Batasan yang tidak mau saya umbar ketika diri emosi melihat perlakuan Dusta mereka.

Jika hanya menghina, yakinlah…Hinaan saya lebih pedas dari siapapun. Kamu kasih satu, saya bisa balas 1000.

Walau bajingan, saya bukan binatang yang akan balas menggigit ketika di sakiti. Yang saya pertanyakan, bagaimana tanggung jawab NU dan Ansor sebagai wadah bagi si laknat ini menerima ajaran agama Islam?

Jika si laknat ini adalah hasilnya, maka baiknya NU dan Ansor segera rapikan tenda dan menggulung karpet sebagai tanda bahwa jualan yang mereka pajang adalah BARANG PALSU BELAKA.

Jika punya tanggung jawab, segera tarik dari peredaran barang2 jahanam itu. Lakukan klarifikasi dan perbaiki akhlak sendiri sebelum mengoreksi akhlak orang lain.

Banyak kumpulan ulama dan gus-gus di sana, tapi tidak mampu memperbaiki seorang si laknat ini.

Kayak gini kok mau ngubah indonesia dan mau Go publik ke dunia. Ngurus satu nyawa aja gak mampu, kok koar2 mau ngurus akhlak orang lain.

Sejauh ini, sampai detik ini…Saya mau kasih pesan…

SAYA BANGGA BUKAN nu dan ansor

Belum End.

Penulis: Setiawan Budi

 

portal-islam.id, 23 Agustus 2019

 

***

 

Diharamkannya Melukis dan Membuat Patung Serta Pengaruhnya Dalam Aqidah

Pertanyaan

Saya mendapat kesulitan menjelaskan kepada salah seorang saudara saya seiman bahwa membuat patung itu hukumnya haram dan tidak Islami. Jawabanya, bahwa wanita yang akan dibuatkan patungnya termasuk pahlawan kebangsaan. Karena ia berperang melawan kaum muslimin demi membela negaranya. Ia masih termasuk nenek teman saya itu di masa sebelum masuknya Islam. Apakah mungkin bagi seorang mukmin untuk menyembah patung? Atau membuat patung untuk mengingat jasa-jasanya sebagai pahlawan? Sampai apabila pahwalan itu bukanlah seorang muslim?

Teks Jawaban

Al-Hamdulillah. 

Pertama, bisa dipahami dari pertanyaan tersebut bahwa kemungkaran perbuatan tersebut karena keberadaan asal patung itu adalah orang kafir. Artinya, bila itu dibuat sebagai patung dari orang muslim, itu boleh. Yang demikian itu adalah keliru. Segala bentuk patung benda bernyawa adalah haram. Tidak ada bedanya antara patung yang dibuat meniru jasad orang muslim atau kafir, semuanya sama haramnya. Akan tetapi membuat patung orang kafir itu lebih haram lagi, karena di situ terkumpul dua bentuk keburukan; keburukan membuat patung, dan keburukan mengagungkan orang kafir.


Berikut ini rincian persoalan haramnya patung dan monumen.


1. Persoalan membuat patung, tidak berhenti hanya sekedar sebagai persoalan fikih saja, tetapi berlanjut sampai pada persoalan aqidah. Karena Allah lah yang hanya memiliki kekhususan untuk menciptakan makhluk-Nya dengan bentuk yang terbaik. Melukis (atau mematung) berarti upaya meniru ciptaan Allah. Masalah ini juga berkaitan dengan akidah dari sisi bahwa terkadang patung-patung itu menjadi sesembahan selain Allah. Di antara buktinya adalah bahwa membentuk makhluk itu adalah perbuatan Allah Ta’ala adalah dalil-dalil berikut:
a. Firman Allah:

“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya..” (QS. Ali Imran : 6)

Demikian juga firman Allah:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat:”Bersujudlah kamu kepada Adam”..” (QS. Al-A’raaf : 11)

Juga firman Allah:

“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik..” (QS. Al-Hasyr : 24)

Juga firman Allah:

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu..” (QS. Al-Infithaar (6-8)

Seluruh ayat diatas menetapkan akidah yang tidak diragukan lagi bahwa membuat bentuk makhluk adalah merupakan hak Rabb sebagai Pencipta dan Pemberi bentuk.
Tidak ada hak bagi seseorang untuk bersikap lancang berusaha menandingi Allah dalam mencipta dan membentuk.

b. Dari Aisyah Ummul Mukminin, Ummu Habibah dan Ummu Salamah menyebutkan tentang gereja yang pernah mereka lihat di Habasyah. Di dalamnya terdapat berbagai lukisan. Mereka menceritakannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kebiasaan orang-orang seperti mereka, apabila ada salah satu di antara mereka yang meninggal dunia, akan mereka dirikan masjid di atas kuburan mereka, lalu mereka buat lukisan-lukisan tersebut. Mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk di sisi Allah di Hari Kiamat nanti.” (HR. Al-Bukhari 416 dan Muslim 528)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
“Hadits tersebut mengandung pengharaman terhadap lukisan.” (Fathul Baari I : 525)
An-Nawawi berkata:
“Para ulama, termasuk sahabat-sahabat kami menyatakan bahwa melukis banda-benda hidup hukumnya adalah haram seharam-haramnya; termasuk kategori dosa besar, karena sudah terkena ancaman yang disebutkan dalam banyak hadits. Tidak ada bedanya antara gambar yang bukan hiasan atau yang berupa hiasan, membuatnya tetap haram hukumnya, kapan dan di manapun juga. Karena itu merupakan sikap meniru-niru ciptaan Allah Ta’ala. Tak juga beda antara gambar di kaus, karpet, uang logam maupun kertas, cawan, dinding dan yang lainnya. Adapun menggambar pepohonan, pelana unta dan sejenisnya yang tidak mengandung benda-benda bernyawa, hukumnya tidak haram. Demikianlah las dari melukis benda hidup.” Lihat Syarah Muslim (XIV : 81)

c. Dari Said bin Abul Hasan diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Saya pernah duduk dalam majelis Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma. Tiba-tiba las a seorang lelaki bertanya: “Wahai Abu Abbas! Saya ini orang yang kerjanya Cuma dengan cara ini. Saya seorang pelukis.” Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma menjawab: “Saya hanya akan memberitahukan kepadamu apa yang kudengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pernah mendengar beliau bersabda: “Barangsiapa yang melukis gambar, pasti akan disiksa oleh Allah sampai ia mampu meniupkan ruh ke dalam gambar-gambar tersebut. Padahal ia tidak akan mampu meniupkan ruh tersebut selamanya.” Serta merta lelaki tadi merangkak dengan susah payah, wajahnya memucat. Maka Ibnu Abbas berkata: “Kalau kamu masih membandel, silakan kamu menggambar pepohonan dan segala sesuatu yang tidak bernyawa.” HR. Al-Bukhari (2112) dan Muslim (2110)

d. Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling berat siksanya di Hari Kiamat nanti adalah para pelukis.” HR. Al-Bukhari (5606) dan Muslim (2109)

e. Dari Abdullah bin Amru bin Aash Radhiallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang membuat lukisan ini akan disiksa di hari kiamat nanti, lalu diperintahkan kepada mereka: “Hidupkan apa yang kalian ciptakan itu.” HR. Al-Bukhari (5607) dan Muslim (2108).

f. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia pernah masuk ke Al-Madinah. Tiba-tiba ia lihat di bagian atas kota tersebut terdapat lukisan. las an berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (menceritakan firman Allah):

“Tidak ada yang lebih zhalim dari orang yang menciptakan sesuatu meniru ciptaan-Ku. Coba mereka coba menciptakan biji-bijian atau sebiji dzarrah!” HR. Al-Bukhari (5609) dan Muslim (2111).

Iman An-Nawawi menyatakan: “Sabda beliau: “Coba mereka coba menciptakan biji-bijian atau sebiji dzarrah!” arti: coba mereka menciptakan biji dzarrah yang bernyawa dan beraktivitas sendiri sebagaimana yang diciptakan oleh Allah. Demikian juga, coba mereka menciptakan biji gandum dan sejenisnya yang memiliki rasa, dapat dimakan, ditanam dan tumbuh, serta memiliki segala kriteria yang terdapat dalam biji gandum dan berbagai jenis biji-bijian lain yang diciptakan oleh Allah. Perintah itu untuk menunjukkan ketidakmampuan manusia melakukannya sebagaimana dijelaskan sebelumnya.” Lihat Syarah Muslim oleh An-Nawawi (XIV : 90). Karena yang mampu menciptakan biji-bijian yang hidup dari sebelumnya tidak ada hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

g. Dari Abu Jahfah diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah melarang menjual anjing dan darah, melarang orang membuat tato atau dibuatkan tato, melarang orang yang memberi dan memakan riba, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaknat para pelukis (benda hidup).” HR. Al-Bukhari (1980).

2. Syariat Islam telah memerintahkan berhala-berhala untuk dihancurkan dan dibumihanguskan, bukan dibuat dan dilestarikan. Dalil yang membuktikan hal itu adalah sebagai berikut:

a. Dari Abdullah bin Mas’ud diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk kota Mekkah. Kala itu disekitar Ka’bah terdapat tiga ratus enam puluh patung. Beliau langsung menusuk patung-patung itu dengan kayu seraya bersabda: “Telah las a kebenaran, dan hancurlah kebatilan..” HR. Al-Bukhari (2346) dan Muslim (1781).

b. Dari Abul Hayyaz Al-Asadi diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu pernah berkata: Aku akan mengutusmu sebagaimana dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutusku. Tugasmu adalah: setiap kali engkau mendapatkan patung, hendaknya engkau menghancurkannya. Dan setiap engkau mendapatkan kuburan yang ditinggikan, hendaknya engkau meratakannya dengan tanah.” Dalam riwayat lain: “Dan setiap engkau mendapatkan lukisan benda hidup, hendaknya engkaupun menghancurkannya.” (HR. Al-Muslim (969).
Ibnul Qayyim menandaskan: “Tamatsil dalam las a Arab adalah jamak dari kata timsal, yakni gambar tiga dimensi (patung dan sejenisnya).” Lihat Al-Fawa-id hal. 196.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan segala gambar tiga dimensi yakni patung dari orang mati, atau patung yang dibangun di atas kuburan agar dihancurkan, karena keduanya dapat menimbulkan kemusyrikan.” (Majmu’ Al-Fatawa 462 : 17)

3. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengancam orang yang memiliki lukisan benda hidup agar tidak memasukkannya ke dalam rumah. Beliau menyebutkan dosa-dosa akibat perbuatan tersebut, serta kebaikan yang hilang karena keberadaan lukisan tersebut. Di antara dalil-dalilnya:

a. Dari Abu Thalhah diriwayatkan bahwa ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya para malaikat itu tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing atau lukisan benda hidup.” HR. Al-Bukhari (3053) dan Muslim (2106).

b. Dari Aisyah Ummul Mukminin Radhiallahu ‘anha bahwa ia menceritakan pernah membeli sebuah bantal yang ada gambarnya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau langsung berdiri saja di depan pintu rumahnya dan tidak mau masuk. Aisyah las melihat ketidaksenangan di wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. las an bertanya: “Wahai Rasulullah! Aku bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada Rasul-Nya. Dosa apakah gerangan yang telah kulakukan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dari mana engkau dapatkan bantal ini?” Aisyah menjawab: “Aku yang membelinya untuk engkau gunakan duduk-duduk dan bersandar.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaba: “Sesungguhnya orang-orang yang melukis benda-benda hidup ini akan disiksa di Hari Kiamat nanti. Dikatakan kepada mereka: “Coba kalian hidupkan lukisan-lukisan yang kalian buat itu!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: “Sesungguhnya rumah yang ada gambar semacam itu tidak akan dimasuki oleh para malaikat.” HR. Al-Bukhari (1999) dan Muslim (2107).

4. Membuat lukisan termasuk jalan yang menghantarkan kepada perbuatan syirik. Karena perbuatan syirik itu dimulai dengan penghormatan terhadap gambar atau lukisan tersebut, terutama dengan sedikitnya ilmu, atau bahkan tanpa ilmu sama sekali. Di antara dalilnya adalah:

a. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma diriwayatkan bahwa beliau menceritakan: “Berhala-berhala yang dahulu ada di kalangan umat Nabi Nuh, akhirnya berpindah ke negeri Arab pada masa selanjutnya. Adapun berhala Wudd, ada di Daumatul Jandal. Berhala Suwaa’, ada di kalangan Bani Hudzail. Sementara Yaghuts ada di kalangan Bani Ghatthaf di daerah Jauf di Saba. Ya’uq adalah milik Bani Hamdaan. Sementara berhala Nashr menjadi milik Humair, dari keluarga Dzil Kilaa’. Mereka pada asalnya adalah orang-orang shalih dari umat Nabi Nuh. Setelah mereka meninggal dunia, syetan membisikkan kepada kaumnya agar membuat patung mereka di majelis-majelis yang biasa mereka hadiri, menamakan patung-patung itu dengan nama mereka. Merekapun mengerjakan apa yang dibisikkan oleh syetan tersebut. Pada awalnya, patung-patung itu tidaklah disembah. Tetapi setelah mereka meninggal dunia pula, ilmu tentang perkara itupun sudah tidak diketahui lagi, akhirnya patung-patung itupun disembah. (HR. Al-Bukhari 4636)
Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan: “Demikian juga halnya dengan Al-Laata. Sebab ia disembah adalah pengaggungan terhadap kuburan orang yang dianggap shalih yang menjadi kebiasaan di kala itu.” Lihat Iqtidhaa-ush Shiratil Mustaqiem II : 333. Beliau melanjutkan: “Sebab ini (yakni pengagungan)yang akhirnya menjadi las an syariat melarang membuat patung. Itulah yang telah menjerumuskan banyak umat ke dalam syirik besar, atau syirik yang lebih kecil dari itu.” Shiratil Mustaqiem II : 334)

Ibnul Qayyim -Rahimahullah–menjelaskan tentang permainan syetan terhadap orang-orang Nashrani: “Syetan mempermainkan mereka sehingga mereka mau membuat lukisan-lukisan di gereja-gereja mereka. Tidak akan kita dapatkan di gereja mereka yang manapun yang tidak terdapat lukisan Maryam, Masih, Georgea, Petrus dan yang lainnya dari kalangan yang menurut mereka adalah orang-orang suci. Kebanyakan mereka akhirnya bersujud kepada lukisan-lukisan tersebut, meminta doa kepada mereka selain juga kepada Allah. Melalui jalan Aleksanderia, telah ditulis sepucuk surat kepada Raja Romawi yang menjelaskan las an kenapa mereka bersujud kepada lukisan-lukisan tersebut. Mereka mengisahkan bahwa Allah pernah memerintahkan Nabi Musa untuk membuat lukisan Sarwis di kuburan Az-Zaman. Sulaiman bin Dawud ketika membuat semacam candi, juga membuat gambar Sarwis dari emas, lalu beliau pasang dalam candi tersebut.” Dalam surat yang sama disebutkan: “Permisalan dari perbuatan ini adalah seperti seorang raja yang menulis surat kepada para bawahannya. Si bawahan mengambil surat tersebut, menciumnya dan meletakkanya di dinding, lalu ia berdiri menghormatinya. Penghormatan itu bukanlah untuk kertas tersebut, juga bukan untuk tinta pada kertas itu, tetapi untuk sang raja. Demikian juga sujud kepada lukisan itu bukanlah penghormatan terhadap warna dan cat lukisan tersebut, tetapi kepada pemilik nama yang tergambar pada lukisan itu.” Padahal dengan cara itu pulalah, terjadi berbagai penyembahan berhala yang ada.” Ighatsatul Lahfaan (II : 292)
Ibnul Qayyim juga menyatakan: “Kebanyakan syirik yang terjadi di tengah umat berasal dari lukisan-lukisan dan kuburan-kuburan itu.” Zadul Ma’aad III : 458)

5. Dari ayat-ayat dan hadits-hadits terdahulu terbukti bahwa las an diharamkannnya lukisan itu ada tiga:
Pertama: Meniru ciptaan Allah.
Kedua: Meniru perbuatan orang-orang kafir.
Ketiga: Merupakan sarana pengagungan yang akhirnya menjerumuskan kepada perbuatan syirik.

Dari semua penjelasan terdahulu juga terbukti diharamkannya membuat patung, baik itu patung orang muslim atau kafir. Orang yang membuatnya berarti telah berusaha meniru ciptaan Allah. Ia berhak mendapatkan laknat. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan hidayah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan oleh Allah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Refrensi: Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid

 7222

Tanggal Tayang : 09-04-2002

 

https://islamqa.info/id/answers/7222/diharamkannya-melukis-dan-membuat-patung-serta-pengaruhnya-dalam-aqidah

***

تحريم التصوير واتّخاذ التماثيل وأثر ذلك على العقيدة

 7222

تاريخ النشر : 04-04-2000

المشاهدات : 78384

 

السؤال

أجد صعوبة في أن أشرح لأحد أخواني المسلمين هنا أن عمل تمثال غير إسلامي حرام ، وقد كانت إجابته أن المرأة التي يراد عمل التمثال لها من أبطال البلد إذ أنها حاربت المسلمين دفاعا عن بلادها، وهي من جداتي في الفترة قبل دخول الإسلام .
هل يمكن للمسلم أن يعبد تمثالا ، أو أن يعمل تمثالا كتذكار لأحد الأبطال ؟ حتى لو كان هذا البطل غير مسلم ؟.

نص الجواب

الحمد لله

أولاً :

قد يُفهم من السؤال أنّ الإنكار لكون التمثال لكافر ، وأنه إن كان لمسلم فإنه يجوز صنعه ، وهذا خطأ ، فتماثيل ذوات الأرواح كلها حرام ، ولا فرق من حيث كونه صنماً في التحريم سواء كان معمولا على صورة شخص مسلم أو كافر ، لكن صُنع تمثالٍ لكافرٍ أشدَّ في الحرمة لما فيه من جمع بين شرَّين ، شر صنع التمثال ، وصنع تعظيم هذا الكافر .

وفيما يلي تفصيل لمسألة تحريم الأصنام والتماثيل :

  1. إن قضية صنع التماثيل لا تتوقف على كونها قضية فقهية ، بل تتعداها إلى أبواب الاعتقاد، وذلك أن الله تعالى اختص بتصوير خلقه وإبداعهم على أحسن صورة ، فكان التصوير مضاهاة لخلق الله تعالى ، وكذا يتعلق الأمر في باب الاعتقاد من حيث اتخاذ هذه الأصنام آلهة تُعبد من دون الله عز وجل .

ومما يدل على أنّ من أفعاله تعالى التصوير ما يلي :

  1. قوله تعالى هو الذي يصوركم في الأرحام كيف يشاء  ( آل عمران / 6 ) .

  وقوله تعالى   ولقد خلقناكم ثم صورناكم ثم قلنا للملائكة اسجدوا لآدم  ( الأعراف / 11) .

وقوله تعالى  هو الله الذي لا إله إلا هو الخالق البارئ المصور له الأسماء الحسنى يسبح له ما في السموات  والأرض وهو العزيز الحكيم  ( الحشر / 24 ) .

وقوله تعالى يا أيها الإنسان ما غرك بربك الكريم . الذي خلقك فسواك فعدلك . في أي صورة ما شاء ركبك  ( الانفطار / 6 8 ) .

فهذه الآيات تقرر عقيدة لا شك فيها أن تصوير الخلق هو من قِبل ربهم وخالقهم ومصورهم ، فلا يحل لأحد أن يتعدى على ربه تعالى فيضاهي الله في خلقه وتصويره .

ب.          عن عائشة أم المؤمنين أن أم حبيبة وأم سلمة ذكرتا كنيسة رأينها بالحبشة فيها تصاوير فذكرتا للنبي صلى الله عليه وسلم فقال إن أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح فمات بنوا على قبره مسجدا وصوروا فيه تلك الصور فأولئك شرار الخلق عند الله يوم القيامة .  رواه البخاري ( 417 ) ومسلم ( 528 ) .

    قال الحافظ ابن حجر :

    وفي الحديث دليل على تحريم التصوير . ” فتح الباري ” ( 1 / 525 ) .

وقال النووي :

قال أصحابنا وغيرهم من العلماء : تصوير صورة  الحيوان  حرام شديد التحريم ، وهو من الكبائر لأنه متوعد عليه بهذا الوعيد الشديد المذكور في الأحاديث وسواء صنعه بما يمتهن أو بغيره فصنعته حرام بكل حال لأن فيه مضاهاة لخلق الله تعالى ، وسواء ما كان في ثوب أو بساط أودرهم أو دينار أو فلس أو إناء أو حائط أو غيرها وأما تصوير صورة  الشجر ورحال الإبل وغير ذلك مما ليس فيه صورة  حيوان فليس بحرام هذا حكم نفس التصوير . ” شرح مسلم ” ( 14 / 81 ) .

ت.          عن سعيد بن أبي الحسن قال كنت عند ابن عباس رضي الله عنهما إذ أتاه رجل فقال يا أبا عباس إني إنسان إنما معيشتي من صنعة يدي وإني أصنع هذه التصاوير فقال ابن عباس لا أحدثك إلا ما سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول سمعته يقول من صور صورة فإن الله معذبه حتى ينفخ فيها الروح وليس بنافخ فيها أبدا فربا الرجل ربوة شديدة واصفر وجهه فقال ويحك إن أبيت إلا أن تصنع فعليك بهذا الشجر كل شيء ليس فيه روح .  رواه البخاري ( 2112 ) ومسلم ( 2110 ) .

ث.          عن عبد الله بن مسعود قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : إن أشد الناس عذابا عند الله يوم القيامة المصورون . رواه البخاري ( 5606 ) ومسلم ( 2109 ) .

ج.          عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إن الذين يصنعون هذه الصور يعذبون يوم القيامة يقال لهم أحيوا ما خلقتم .  رواه البخاري ( 5607 ) ومسلم ( 2108 )  .

ح.          عن أبي هريرة أنه دخل داراً بالمدينة فرأى أعلاها مصورا يصور قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي فليخلقوا حبة وليخلقوا ذرَّة .  رواه البخاري ( 5609 ) ومسلم ( 2111 ) .

قال النووي  :

وأما قوله تعالى ” فليخلقوا ذرة أو حبة أو شعيرة ” : فالذرَّة بفتح الذال وتشديد الراء ، ومعناه : فليخلقوا ذرة فيها روح تتصرف بنفسها كهذه الذرة التي هي خلق الله تعالى وكذلك فليخلقوا حبة حنطة أو شعير ، أي : ليخلقوا حبة فيها طعم تؤكل وتزرع وتنبت ويوجد فيها ما يوجد في حبة الحنطة والشعير ونحوهما من الحب الذي يخلقه الله تعالى وهذا أمر تعجيز كما سبق . ” شرح مسلم ” ( 14 / 90 ) . إذ لا يقدر على إنشاء النبات الحيّ من العدم إلا الله عزّ وجلّ .

خ.          عن أبي جحيفة قال : نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن ثمن الكلب وثمن الدم ونهى عن الواشمة والموشومة وآكل الربا وموكله ولعن المصور .  رواه البخاري ( 1980 ) .

2.          وقد جاءت الشريعة بهدم الأصنام وتحطيمها لا بصنعها وترميمها ، ومما يدل على ذلك :

أ.          عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : دخل النبي صلى الله عليه وسلم مكة وحول الكعبة ثلاث مائة وستون نصبا فجعل يطعنها بعود في يده وجعل يقول  جاء الحق وزهق الباطل  الآية .  رواه البخاري ( 2346 ) ومسلم ( 1781 ) .

ب.          عن أبي الهياج الأسدي قال : قال لي علي بن أبي طالب : ألا أبعثك على ما بعثني عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ أن لا تدع تمثالا إلا طمسته ولا قبرا مشرفا إلا سويته وفي رواية ( ولا صورة إلا طمستها ) .  رواه مسلم ( 969 ) .

    قال ابن القيم :

  والتماثيل جمع تمثال وهو الصور الممثلة .

الفوائد ” ( ص 196 ) .

  قال شيخ الإسلام :

  فأمره بمحو التمثالين الصورة الممثلة على صورة الميت و التمثال الشاخص المشرف فوق قبره فإن الشرك يحصل بهذا و بهذا . ” مجموع الفتاوى ” ( 17 / 462 ) .

3.           وقد توعد النبي صلى الله عليه وسلم صاحب الصور أن يدخلها في بيته ، ورتب على ذلك آثاماً وحرماناً للخير ، ومما يدل على ذلك :

أ.          عن أبي طلحة قال :  سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ” لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب ولا صورة تماثيل ” .  رواه البخاري ( 3053 ) ومسلم ( 2106 ) .

ب.          عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها أنها أخبرته أنها اشترت نمرقة فيها تصاوير فلما رآها رسول الله صلى الله عليه وسلم قام على الباب فلم يدخله فعرفت في وجهه الكراهية فقلت : يا رسول الله أتوب إلى الله وإلى رسوله صلى الله عليه وسلم ماذا أذنبتُ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما بال هذه النمرقة ؟ قلت : اشتريتها لك لتقعد عليها وتوسدها ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن أصحاب هذه الصور يوم القيامة يعذبون فيقال لهم أحيوا ما خلقتم وقال : إن البيت الذي فيه الصور لا تدخله الملائكة .

رواه البخاري ( 1999 ) ومسلم ( 2107 ) .

4.          واتخاذ الصور وسيلة للوقوع في الشرك ، لأن بداية الوقوع فيه التعظيم لصاحب الصورة ، وخاصة مع قلة العلم أو انعدامه ، ويدل على هذا :

عن ابن عباس رضي الله عنهما : صارت الأوثان التي كانت في قوم نوح في العرب بعد أما ( ود ) كانت لكلب بدومة الجندل وأما ( سواع ) كانت لهذيل وأما ( يغوث ) فكانت لمراد ثم لبني غطيف بالجوف عند سبأ وأما ( يعوق ) فكانت لهمدان وأما ( نسر ) فكانت لحمير لآل ذي الكلاع أسماء رجال صالحين من قوم نوح فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون أنصابا وسموها بأسمائهم ففعلوا فلم تعبد حتى إذا هلك أولئك وتنسخ العلم عبدت . رواه البخاري ( 4636 ) .

قال شيخ الإسلام ابن تيمية :

وأيضا فإن اللات كان سبب عبادتها تعظيم قبر رجل صالح كان هناك . ” اقتضاء الصراط المستقيم ” ( 2 / 333 ) .

وقال :

وهذه العلة أي : التعظيم التي لأجلها نهى الشارع هي التي أوقعت كثيراً من الأمم إما في الشرك الأكبر أو فيما دونه من الشرك . ” الاقتضاء ” ( 2 / 334 ) .

وقال ابن القيم رحمه الله في بيان تلاعب الشيطان بالنصارى :

وتلاعب بهم في تصوير الصور في الكنائس وعبادتها فلا تجد كنيسة من كنائسهم تخلو عن صورة مريم والمسيح وجرجس وبطرس وغيرهم من القديسين عندهم والشهداء وأكثرهم يسجدون للصور ويدعونها من دون الله تعالى حتى لقد كتب بطريق الاسكندرية إلى ملك الروم كتابا يحتج فيه للسجود للصور : بأن الله تعالى أمر موسى عليه السلام أن يصور في قبة الزمان صورة الساروس وبأن سليمان بن داود لما عمل الهيكل عمل صورة الساروس من ذهب ونصبها داخل الهيكل ثم قال في كتابه : وإنما مثال هذا مثال الملك يكتب إلى بعض عماله كتابا فيأخذه العامل ويقبله ويضعه على عينيه ويقوم له لا تعظيما للقرطاس والمداد بل تعظيما للملك كذلك السجود للصور تعظيم لاسم ذلك المصور لا للأصباغ والألوان .   

وبهذا المثال بعينه عبدت الأصنام . ” إغاثة اللهفان ” ( 2 / 292 ) .

وقال :

وغالب شرك الأمم كان من جهة الصور والقبور . ” زاد المعاد ” ( 3 / 458 ) .

5.          فما سبق من الآيات والأحاديث يدل على أن علة تحريم الصور ثلاثة أمور :

الأول : المضاهاة لخلق الله .

والثاني : أنه مشابهة للكفار .

والثالث : أنه وسيلة للتعظيم والوقوع في الشرك .

مما سبق يتبين تحريم عمل التماثيل ، سواء كان ذلك لمسلم أو لكافر ، وأن من فعل ذلك فقد ضاهى الله في خلقه ، واستحق اللعنة ، نسأل الله السلامة والهداية وصلى الله على نبينا محمد .

المصدرالشيخ محمد صالح المنجد

https://islamqa.info/ar/answers/7222/%D8%AA%D8%AD%D8%B1%D9%8A%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D8%B5%D9%88%D9%8A%D8%B1-

 
 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 4.103 kali, 1 untuk hari ini)