Pada Konferensi Persatuan Islam Sedunia yang berlangsung 4-6 Mei 2008 di Teheran, Iran, Din Syamsuddin antara lain mengatakan, bahwa Sunni dan Syi’ah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’yat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Menurut Din, Sunni dan Syi’ah berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, yakni Ali bin Abi Thalib.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga mengatakan, sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini (Sunni dan Syi’ah) bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Detikcom 5 Mei 2008)

Salah satu ulama Syi’ah Al-Kulaini dalam Kitab Ushul Kafi halaman 158 (cetakan India) mengatakan: “Para Imam tahu kapan akan datang ajalnya, dan mereka mati atas kehendak Imam sendiri. Abi Abdillah Ja’far mengatakan, apabila Imam tidak tahu apa yang akan menimpanya dan ke mana dia akan pergi, tidaklah berhak menjadi Imam.”

Begitulah akidah musyrik Syi’ah. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala .berfirman:

قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ(65)

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS An-Naml: 65).

Contoh di atas hanyalah salah satu saja dari akidah musyrik Syi’ah, yang bertolak belakang dengan akidah umat Islam pada umumnya. Lha, masak yang kayak gini ini oleh Din Syamsuddin dikatakan akidahnya (Syi’ah) sama (dengan Islam/ Sunni), hanya beda masalah cabang atau furu’iyah. (haji/tede)

Selengkapnya dapat iliht di sini: https://www.nahimunkar.org/sekali-lagi-din-syamsuddin-nggak-ngerti-syiah/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.308 kali, 1 untuk hari ini)