.

 

  • Pihak Syiah tampaknya mendorong Din Syamsuddin untuk menjadikan program petamanya agar mengganjal beredarnya buku tentang penyimpangan Syiah yang kini sedang marak dibedah di mana-mana

Dengan dipilihnya Din Syamsuddin jadi Ketu Umum MUI sejak Selasa malam (18/2 2014) menggantikan Kyai Haji Sahal Mahfudz yang meninggal bulan lalu (24/01/2014); pihak Syiah tampaknya sudah mendorong-dorong Din untuk kepentingan Syiah.

Puja puji dan harapan kepada Din Syamsuddin sudah diusung oleh media-media berbau syiah dan sekuler dengan mewawancarai orang-orang yang membela aliran sesat syiah, baik dari MUI sendiri seperti Muhyidin Djunaidi yang pernah menandatangani  kerjasama dengan lembaga syiah di Karbala Irak, maupun orang dari luar MUI.

Mulai dipujilah Din Syamsuddin memimpin MUI bagai Buya Hamka dulu. (Bagaimana disejajarkan dengan Buya Hamka yang pilih mundur dari MUI daripada mengikuti tekanan untuk mencabut fatwa MUI tentang haramnya ucapkan selamat dan hadiri natal, sedang Din Syamsuddin sangat jauh dari sikap istiqomah seperti itu. Malah asset Muhammadiyah yang Din pimpin pernah dia umumkan agar dipakai oleh orang Kristen untuk acara natalan. Na’udzubillahi min dzalik!).

 Lalu Din diharapkan oleh pembela syiah yang diwawancarai, agar dalam memimpin MUI bersikap netral. Lafal netral di situ disusul dengan harapan agar mengganjal adanya buku yang beredar dari MUI mengenai penyimpangan syiah.

 Pihak syiah tampaknya mendorong Din untuk menjadikan program petamanya agar mengganjal beredarnya buku penyimpangan syiah yang kini sedang marak dibedah di mana-mana itu.

Sosok Din yang sudah berkali-kali bicara membela syiah namun kini bisa nangkring di tingkat teratas pada jajaran MUI itu tampaknya merupakan peluang besar bagi syiah untuk lebih intensip bergerilya lewat MUI.

Begitu Din disebut naik jabatan di MUI, langsung ada media berbau syiah yang menulis dengan memasukkan syiah sebagai madzhab utama dalam Islam, hingga Din diharapkan mengikuti kemauan ala syiah . Di antaranya ditulis:

Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini telah terjadi politisasi MUI yang sangat gencar, di mana beberapa unsur dalam MUI berusaha mempertajam pertentangan antara 2 mazhab utama Islam, yaitu Sunni-Syiah di Indonesia. Hal ini terlihat jelas dengan beredar-luasnya buku anti-Syiah yang mengatasnamakan MUI yang tidak mampu dicegah oleh MUI sendiri. Din Syamsudin yang dikenal kuat sebagai tokoh yang toleran diharapkan tidak akan membiarkan hal ini terus berlanjut.(ca/detiknews/republika.co.id/liputanislam) MAHDI-NEWS Wednesday, 19 February 2014 01:01

Kenapa pihak syiah begitu memuji Din dan mengarahkannya untuk menjadikan syiah sebagai madzhab utama dalam Islam? Inilah di antara jawabannya.

***

Sekali Lagi, Din Syamsuddin Nggak Ngerti Syi’ah?

Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin menegaskan organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu bukan beraliran Sunni maupun Syiah.

“Muhammadiyah juga tidak mengikuti Sunni maupun Syiah. Kita Islami,” kata Din kepada wartawan usai menghadiri penganugerahan gelar Doktor (HC) untuk Karni Ilyas di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sabtu (28/09).

Din juga memuji kalangan cendekiawan muslim termasuk filosof banyak yang berasal dari kalangan Syiah. “Kalau kita tilik dari sejarah, banyak pemikir, filsuf, ilmuwan muslim di masa lalu berasal dari kalangan Syiah,” papar Din.

Kata Din, Syiah yang mempertuhankan dan mengangkat Ali tidak berkembang di Indonesia. “Memang dulu pernah berkembang Syiah yang keras dan cenderung sesat, tapi setahu saya tidak berkembang di sini,” papar Din.

Selain itu, Din meminta tidak mudah mengkafirkan seseorang termasuk berbeda dalam aliran. “Seseorang sudah dengan ikhlas mengucapkan dua kalimat syahadat maka dia telah menjadi seorang muslim,” papar Din. (Posted On 28 Sep 2013 By : Achsin itoday.co.id).

Demikian berita berjudul Din Syamsuddin: Muhammadiyah Bukan Sunni dan Syiah yang ditulis itoday.co.id 28 Sep 2013

Lima tahun yang lalu, pada Konferensi Persatuan Islam Sedunia yang berlangsung 4-6 Mei 2008 di Teheran, Iran, Din Syamsuddin antara lain mengatakan, bahwa Sunni dan Syi’ah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’yat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Menurut Din, Sunni dan Syi’ah berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, yakni Ali bin Abi Thalib.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga mengatakan, sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini (Sunni dan Syi’ah) bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Detikcom 5 Mei 2008)

Din Syamsuddin nggak ngerti Syi’ah?

Bagi kita yang mengenal akidah Syi’ah, tentu timbul pertanyaan, Apakah Din Syamsuddin nggak ngerti Syi’ah?_ Rasanya memang tidak mungkin ulama atau ilmuwan Islam atau tokoh Islam sekaliber Din Syamsuddin nggak ngerti Syi’ah. Masalahnya, sering kita temukan, mereka (para ulama atau ilmuwan Islam) yang sebelum berkecimpung di dunia politik sangat mengerti Syi’ah bahwa itu benar-benar sesat, namun setelah terjun ke dunia politik, sikap dan pandangannya tentang Syi’ah berubah, seolah-olah awam alias nggak ngerti soal Syi’ah.

Rupanya seorang ulama atau ilmuwan bila sudah terjun ke dunia politik, maka politik itu dapat merubah pandangannya. Itu hanya salah satu sebab. Sebab lainnya adalah akibat gencarnya para misionaris Syi’ah lokal dan internasional yang begitu gigih (namun tanpa gegap gempita) terus menyebarkan paham Syi’ah melalui berbagai cara. Sementara itu, sudah cukup lama para pemerhati dan peneliti aliran dan paham sesat mengurusisepilis (sekulerisme, pluralisme agama –menyamakan semua agama alias kemusyrikan baru— dan liberalisme), Ahmadiyah, LDII alias Islam Jama’ah dan sebagainya, sehingga hampir seluruh perhatiannya tersita untuk itu. Akibatnya, paham sesat Syi’ah aman-aman melenggang di atas panggung akidah umat Islam. Sampai-sampai orang besar sekaliber Din Syamsuddin pun seolah tanpa beban berani mengatakan bahwa akidah umat Islam dan Syi’ah adalah sama. Kalau Din Syamsuddin saja sudah mulai teracuni Syi’ah, bagaimana pula dengan orang awam yang kurang bekal, pasti lebih mudah teracuni akidah Syi’ah.

Para tokoh Syi’ah atau Ahlul Bait (menurut penamaan dari mereka) seperti Jalaluddin Rakhmat bahkan lebih jauh dari sebelumnya, kini tampil menjajakan ajarannya melalui kiriman sms pada ponsel dengan namaJalan Rahmat. Begitu juga dengan Komaruddin Hidayat, salah seorang pendukung Syi’ah (juga pluralisme dan liberalisme plus Ahmadiyah serta dekat dengan Lia Eden), mengikuti jejak Jalaludin Rakhmat.

Ummat Islam diajak kerjasama dengan Syi’ah di dalam memerangi apa yang Din sebut musuh bersama yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. Benarkah kemiskinan itu musuh bersama? Dari mana dasarnya kalau kemiskinan itu musuh bersama? Sedangkan sahabat Nabi saw yang sangat berjasa dalam periwayatan hadits yaitu Abu Hurairah justru dengan kemiskinannya itu dia hidup mengikuti Rasulullah saw sampai menjadi orang yang tinggi derajatnya dalam menyampaikan ilmu.

1469 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : إِنَّكُمْ تَزْعُمُونَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهُ الْمَوْعِدُ كُنْتُ رَجُلاً مِسْكِينًا أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي وَكَانَ الْمُهَاجِرُونَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالأَسْوَاقِ وَكَانَتِ الأَنْصَارُ يَشْغَلُهُمُ الْقِيَامُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَبْسُطْ ثَوْبَهُ فَلَنْ يَنْسَى شَيْئًا سَمِعَهُ مِنِّي فَبَسَطْتُ ثَوْبِي حَتَّى قَضَى حَدِيثَهُ ثُمَّ ضَمَمْتُهُ إِلَيَّ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا سَمِعْتُهُ مِنْهُ

1469 Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Adakah kamu menuduh bahwa Abu Hurairah memperbanyak Hadis dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ؟ Demi Allah aku akan membuktikannya. Sesungguhnya aku seorang yang miskin, aku menjadi khadam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan hanya diberi makan saja. Ketika Orang-orang Muhajirin berdagang di pasar-pasar dan Orang-orang Anshor sibuk mengembangkan harta benda mereka. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa yang membentangkan pakaiannya, maka dia tidak akan lupa apa yang dia dengar dariku. Aku terus membentangkan pakaianku dan beliau memberikan semua Hadits beliau hingga selesai. Kemudian aku mengumpulkannya dan tidak lupa apa-apa yang aku dengar dari beliau. (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat ini, kemiskinan yang dialami Abu Hurairah sama sekali tidak dijadikan musuh oleh Nabi Muhammad saw. Seandainya kemiskinan itu merupakan musuh, bahkan musuh bersama seperti yang Din Syamsuddin pidatokan di Iran itu, maka tentu saja Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam orang pertama yang memusuhi kemiskinan yang ada di rumah beliau itu. Dan tentu mengajak para sahabat untuk memusuhinya. Namun ternyata tidak, dan justru dengan kemiskinannya itu ternyata ada manfaat yang begitu besarnya, yaitu Abu Hurairah senantiasa mengikuti Nabi Muhammad saw, kemudian mendapatkan hadits yang banyak, hingga jadi periwayat hadits yang terkemuka. Artinya menyampaikan ilmu (sabda-sabda Nabi saw) kepada umat ini dalam jumlah yang banyak.

Ya memang sangat dianjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin. Anjuran-anjuran itu sangat tegas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun kaitannya bukan kemiskinan sebagai musuh namun adalah sebagai lahan untuk memperbanyak amal, dan meraih surga serta menyelamatkan diri dari neraka.

Bagaimana kemiskinan itu dianggap sebagai musuh bahkan musuh bersama, sedangkan Nabi Muhammad saw berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dihidupkan dalam keadaan miskin, dimatikan dalam keadaan miskin, dan dikumpulkan dengan rombongan orang miskin di akherat.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« اللَّهُمَّ أَحْيِنِى مِسْكِينًا وَأَمِتْنِى مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِى فِى زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهَا : وَلِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ :« لأَنَّهُمْ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا يَا عَائِشَةُ لاَ تَرُدِّى الْمِسْكِينَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ يَا عَائِشَةُ أَحِبِّى الْمَسَاكِينِ وَقَرِّبِيهِمْ فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata; Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang miskin di hari qiyamat.“Maka Aisyah ra bertanya tentang itu: Kenapa wahai Rasulallah? Beliau menjawab; Karena mereka akan masuk surga sebelum orang-orang kaya dengan 40 tahun (lebih dahulu). Wahai Aisyah jangan kamu tolak orang miskin walau (hanya) dengan (memberi) sebelah kurma, wahai Aisyah cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, maka sesungguhnya Allah akan mendekatimu di hari qiyamat. (HR Al-Baihaqi dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits gharib, dihasankan Al-Albani karena hadits lainnya).

Adapun ada hadits tentang berlindung dari kefakiran dan kemiskinan, maka menurut Imam Al-Baihaqi adalah berlindung dari fitnah/ ujian kefakiran dan kemiskinan sebagaimana berlindung dari fitnah/ ujian kekayaan.

Miskin ada tuntunannya yang menjadikan beruntungnya orang mukmin yaitu sabar, sedang kaya juga ada tuntunannya yang menguntungkan mukminin yakni agar bersyukur. Dengan demikian, orang yang mengatakan bahwa kemiskinan itu musuh bahkan musuh bersama, itu perlu mengemukakan dalil secara jelas.

 Syetan penganjur kesesatan itu musuh bersama

Adapun musuh bersama yang sebenarnya, justru syetan itulah musuh yang nyata.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلالاً طَيِّبًا وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(168)

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah: 168).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(208)

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah: 168).

قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ(15)

Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). (Al-Qashash: 15).

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ(6)

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS Fathir: 6).

وَلاَ يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(62)

Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Az-Zukhruf: 62).

Imam Ibnu katsir menjelaskan, jangan kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan dari mengikuti kebenaran. Imam Al-Qurthubi menerangkan, dan jangan tertipu dengan bisikan syetan dan menyerupai orang-orang kafir.

Dari ayat-ayat itu maka jelas, musuh bersama itu adalah syetan yang kerjanya menyesatkan. Maka yang harus dihindari oleh manusia ini adalah kesesatan dalam aneka bentuknya dan perangkatnya. Bentuk-bentuk kesesatan itu di antaranya adalah kekafiran, kemusyrikan, kemaksiatan dan kemunkaran. Sedang senjata kesesatan adalah dusta atau bohong, karena syetan itu sendiri sifatnya adalah pembohong. Maka kalau mau ditarik garis, musuh bersama yang harus dihadapi adalah kesesatan (dalam aneka jenisnya) dan dusta. Yang harus diperjuangkan adalah kebenaran dan kejujuran, ya itulah Islam.

Singkatnya, cukup dikatakan: Tegakkan kebenaran dan kejujuran; dan berantas kesesatan dan kedustaan. Itulah amar ma’ruf nahi munkar, yang di Muhammadiyah tempo dulu senantiasa dikobarkan oleh pengikutnya dengan semboyan fastabiqul khoirot (berlomba-lombalah kamu —dalam berbuat— kebaikan). Namun rupanya ketua umum Muhammadiyah yang sekarang Din Syamsuddin sudah lupa atau memang tidakngeh (tak peduli) tentang itu. Hingga di tingkat internasional, yang keluar adalah kata-kata, “Sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini (Sunni dan Syi’ah) bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan.”

Seandainya pernyataan Din Syamsuddin itu tepat, yaitu yang dianggap musuh bersama itu syetan yang ujud untuk diberantas adalah kesesatan dan kedustaan, dan yang mesti ditegakkan adalah kebenaran dan kejujuran; itupun jangan sampai dalam mengupayakan itu dengan menggadaikan akidah. Lha ini hanya gara-gara mau bekerja sama memerangi kemiskinan dan keterbelakangan (yang itu dianggap sebagai musuh bersama, padahal anggapan yang tidak berlandaskan dalil) lantas menganggap akidah mereka sama.

Akidah Islam tidak sama dengan Syi’ah

Sesungguhnya, akidah kita umat Islam tidak sama dengan akidah Syi’ah. Meski kelak suatu saat (ini baru misal saja) ada kerja sama antara umat Islam dengan kalangan Syi’ah di dalam memerangi kemiskinan dan keterbelakangan, bukan berarti akidahnya sama. Selain tidak sama, Syi’ah jauh lebih berbahaya dibanding berbagai aliran sesat yang lahir berikutnya seperti Ahmadiyah, LDII (Islam Jama’ah), Islam Liberal, dan sebagainya. (Ini bukan mengecilkan bahaya kesesatan aliran-aliran sesat itu, namun sekadar perbandingan). Karena, Syi’ah itu merupakan induk kesesatan.

Jadi ajakan Din Syamsuddin itu sebuah kerancuan yang luar biasa. Sudah sasaran yang ingin diperangi bukan sasaran yang ada petunjuknya untuk diperangi karena hal yang lebih prinsipil justru dibiarkan; sedang anggapan bahwa sama antara umat Islam dan orang Syi’ah itu sudah penipuan yang nyata.

KH Irfan Zidny MA (almarhum, Ketua Lajnah Falakiah PBNU) pernah merasa amat gusar terhadap sikap sejumlah intelektual dan ulama yang memposisikan Syi’ah sama saja dengan Sunni, padahal mereka itu tidak tahu banyak soal Syi’ah. Kegusaran itu sangat beralasan, mengingat beliau pernah tinggal di negara-negara yang mayoritas penduduknya penganut aliran Syi’ah, belajar kepada ulama-ulama Syi’ah, tinggal bersama masyarakat Syi’ah, bergaul dengan mereka, selama delapan belas tahun. Sementara itu, para pendukung Syi’ah termasuk simpatisannya tidak pernah menghabiskan waktu dalam jangka waktu lama mempelajari Syi’ah dari sumbernya, paling lama hanya beberapa bulan, namun sudah sok tahu dan dengan gegabah mengatakan akidah Syi’ah sama dengan umat Islam pada umumnya.

Muhammad Abdul Sattar Al-Tunsawi (Pakistan, 1985), pernah menulis buku berjudul Beberapa Kekeliruan Akidah Syi’ah berupa penjelasan sekitar penyimpangan penganut Syi’ah dan hal-hal yang mereka ada-adakan terhadap Islam. Tulisan tersebut mendasarkan pada buku-buku pegangan ajaran Syi’ah sendiri.

Kekeliruan akidah Syi’ah itu oleh Al-Tunsawi dijabarkan ke dalam tujuh belas hal, yaitu:

01. Syirik Terhadap Allah.

02. Kepercayaan Bada-a.

03. Imam Yang Duabelas Yang Bersifat Maksum.

04. Kepercayaan bahwa al-Qur’an yang ada sekarang ini sudah berubah, ada ayat yang dikurangi dan ditambah.

05. Penghinaan Terhadap Rasul saw dan Penghinaan terhadap Ali, Hasan dan Husein.

06. Kepercayaan Menghinakan Ummahat Mukminin, istri-istri Rasulullah saw.

07. Penghinaan terhadap anak-anak perempuan Rasulullah, terutama penghinaan terhadap Saidah Fathimah.

08. Penghinaan terhadap Abbas dan anaknya Abdullah dan penghinaan terhadap Aqil bin Abi Thalib ra.

09. Penghinaan terhadap Khulafaur Rasyidin, orang Muhajirin dan Anshar.

10. Penghinaan terhadap ummahat mukminin dan anak-anak Fathimah ra.

11. Kepercayaan Taqiyah dan keutamaannya dalam ajaran Syiah.

12. Akidah mut’ah dan keutamaannya menurut ajaran Syi’ah.

13. Kepercayaan boleh meminjam budak untuk seks.

14. Kepercayaan Boleh Seks Anal (Sodomi) Dengan Istri.

15. Akidah ruj’ah (Rasul dan para Sahabat bangkit kembali sebelum hari kiamat).

16. Akidah “Thinah”.

17. Kepercayaan menyesali diri serta meratapi kematian Husein ra, dengan menyobek-nyobek kantong dan menampar pipi.

Salah satu ulama Syi’ah Al-Kulaini dalam Kitab Ushul Kafi halaman 158 (cetakan India) mengatakan: “Para Imam tahu kapan akan datang ajalnya, dan mereka mati atas kehendak Imam sendiri. Abi Abdillah Ja’far mengatakan, apabila Imam tidak tahu apa yang akan menimpanya dan ke mana dia akan pergi, tidaklah berhak menjadi Imam.”

Begitulah akidah musyrik Syi’ah. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala .berfirman:

قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ(65)

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS An-Naml: 65).

Contoh di atas hanyalah salah satu saja dari akidah musyrik Syi’ah, yang bertolak belakang dengan akidah umat Islam pada umumnya. Lha, masak yang kayak gini ini oleh Din Syamsuddin dikatakan akidahnya (Syi’ah) sama (dengan Islam/ Sunni), hanya beda masalah cabang atau furu’iyah. (haji/tede)

(nahimunkar.com)

– See more at: https://www.nahimunkar.org/sekali-lagi-din-syamsuddin-nggak-ngerti-syiah/#sthash.FKXiRP3r.dpuf

***

 Sesatnya Syiah, Umar Shihab dan Din Syamsuddin agar Merujuk Keputusan MUI dan Ulama Terpercaya

By nahimunkar.com on 30 October 2013

MUI telah menetapkan kriteria sesat tidaknya satu kelompok atau pemahaman sebagai berikut :

1.     Mengingkari rukun iman dan rukun Islam.

2.     Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`iy (Alquran dan as-sunah).

3.     Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.

4.     Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Qur’an.

5.     Melakukan penafsiran Al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.

6.     Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam.

7.     Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.

8.     Mengingkari Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi dan rasul terakhir.

9.     Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah.

10.   Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i.

Dari sepuluh kriteria di atas, menurut saya Syi’ah mempunyai delapan di antaranya.[14] Saya persilakan Umar Syihab dan Din Syamsuddin untuk mencocokkan fakta yang saya sebut di atas dengan kriteria sesat yang telah MUI tetapkan : sesat atau tidak sesat menurut mereka berdua.[15] Hanya saja, saya akan sebutkan:

Beberapa perkataan ulama Ahlus-Sunnah, bagaimana pandangan mereka tentang kelompok Syi’ah Raafidlah.

1.     ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’iy rahimahullah (kibaarut-taabi’iin, w. 62 H).

عَنْ عَلْقَمَةَ، قَالَ: ” لَقَدْ غَلَتْ هَذِهِ الشِّيعَةُ فِي عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَمَا غَلَتِ النَّصَارَى فِي عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ “

Dari ‘Alqamah, ia berkata : “Sungguh Syi’ah ini telah berlebih-lebihan terhadap ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu sebagaimana berlebih-lebuhannya Nashara terhadap ‘Iisaa bin Maryam” [Diriwayatkan ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah no. 1115 dan Al-Harbiy dalam Ghariibul-Hadiits 2/581; shahih].

2.     Az-Zuhriy rahimahullah.

وَأَنْبَأَنَاهُ أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الْحُلْوَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: ” مَا رَأَيْتُ قَوْمًا أَشْبَهَ بِالنَّصَارَى مِنَ السَّبَائِيَّةِ “، قَالَ أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ: هُمُ الرَّافِضَةُ

Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Yahyaa Al-Hulwaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdillah bin Yuunus, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Az-Zuhriy, ia berkata : “Aku tidak pernah melihat satu kaum yang lebih menyerupai Nashara daripada kelompok Sabaa’iyyah”. Ahmad bin Yuunus berkata : “Mereka itu adalah Raafidlah” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syaari’ah, 3/567 no. 2083; shahih].

3.     Maalik bin Anas rahimahullah.

أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ الْمَرُّوذِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ: عَنْ مَنْ يَشْتِمُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعَائِشَةَ؟ قَالَ: مَا أُرَآهُ عَلَى الإِسْلامِ، قَالَ: وَسَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ: قَالَ مَالِكٌ: الَّذِي يَشْتِمُ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ لَهُ سَهْمٌ، أَوْ قَالَ: نَصِيبٌ فِي الإِسْلامِ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Al-Marwadziy, ia berkata : Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah tentang orang yang mencaci-maki Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aaisyah ?. Maka ia menjawab : “Aku tidak berpendapat ia di atas agama Islam”. Al-Marwadziy berkata : Dan aku juga mendengar Abu ‘Abdillah berkata : Telah berkata Maalik (bin Anas) : “Orang yang mencaci-maki para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka ia tidak mempunyai bagian (dalam Islam)” – atau ia berkata : “bagian dalam Islam” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam As-Sunnah no. 783; shahih sampai Ahmad bin Hanbal].

4.     Asy-Syaafi’iy rahimahullah.

أنا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، ثنا أَبِي، قَالَ: أَخْبَرَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ، يَقُولُ: لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ الأَهْوَاءِ، أَشْهَدُ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan : Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Harmalah bin Yahyaa, ia berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy berkata : “Aku tidak pernah melihat seorang pun dari pengikut hawa nafsu yang aku saksikan kedustaannya daripada Raafidlah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Aadaabusy-Syaafi’iy, hal. 144; hasan]

عن البويطي يقول: سألت الشافعي: أصلي خلف الرافضي ؟ قال: لا تصل خلف الرافضي، ولا القدري، ولا المرجئ….

Dari Al-Buwaithiy ia berkata : “Aku bertanya kepada Asy-Syafi’iy : ‘Apakah aku boleh shalat di belakang seorang Rafidliy ?”. Beliau menjawab : “Janganlah engkau shalat di belakang seorang Raafidliy, Qadariy, dan Murji’” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 10/31].

5.     Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

وَأَخْبَرَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: ” مَنْ شَتَمَ أَخَافُ عَلَيْهِ الْكُفْرَ مِثْلَ الرَّوَافِضِ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ شَتَمَ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا نَأْمَنُ أَنْ يَكُونَ قَدْ مَرَقَ عَنِ الدِّينِ “

Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Abdul-Malik bin ‘Abdil-Hamiid ia berkata : Aku mendengar Abu ‘Abdillah berkata : “Barangsiapa yang mencaci-maki, aku khawatir ia akan tertimpa kekafiran seperti Raafidlah”. Kemudian ia melanjutkan : “Barangsiapa yang mencaci-maki para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka kami tidak percaya ia aman dari bahaya kemurtadan” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam As-Sunnah no. 784; shahih].

أَخْبَرَنِي يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ سُئِلَ، وَأَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ، قَالَ: ” سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ، عَنْ جَارٍ لَنَا رَافِضِيٍّ يُسَلِّمُ عَلَيَّ، أَرُدُّ عَلَيْهِ؟ قَالَ: لا “

Telah mengkhabarkan kepadaku Yuusuf bin Muusaa : Bahwasannya Abu ‘Abdillah pernah ditanya. Dan telah mengkhabarkan kepadaku ‘Aliy bin ‘Abdish-Shamad, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang tetanggaku Raafidliy yang mengucapkan salam kepadaku, apakah perlu aku jawab ?”. Ia menjawab : “Tidak” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam As-Sunnah no. 787; hasan].

6.     Al-Bukhaariy rahimahullah berkata :

مَا أُبَالِي صَلَّيْتُ خَلْفَ الْجَهْمِيِّ، وَالرَّافِضِيِّ أَمْ صَلَّيْتُ خَلْفَ الْيَهُودِ، وَالنَّصَارَى، وَلا يُسَلَّمُ عَلَيْهِمْ، وَلا يُعَادُونَ، وَلا يُنَاكَحُونَ، وَلا يَشْهَدُونَ، وَلا تُؤْكَلُ ذَبَائِحُهُمْ

“Sama saja bagiku shalat di belakang Jahmiy dan Raafidliy, atau aku shalat di belakang Yahudi dan Nashrani. Jangan memberikan salam kepada mereka, jangan dijenguk (apabila mereka sakit), jangan dinikahi, jangan disaksikan (jenazah mereka), dan jangan dimakan sembelihan mereka” [Khalqu Af’aalil-‘Ibaad, 1/39-40].

7.     Al-Qaadliy ‘Iyaadl rahimahullahu berkata :

وَكَذَلِك نقطع بتكفير غلاة الرافضة فِي قولهم إنّ الْأَئِمَّة أفضل مِن الْأَنْبِيَاء

“Dan begitu pula kami memastikan kafirnya ghullat Raafidlah tentang perkataan mereka bahwasannya para imam lebih utama dari para Nabi” [Asy-Syifaa bi-Ahwaalil-Mushthafaa, 2/174].

8.     Ibnu Hazm Al-Andaaluusiy rahimahullah berkata :

وأما قولهم ( يعني النصارى ) في دعوى الروافض تبديل القرآن فإن الروافض ليسوا من المسلمين ، إنما هي فرقة حدث أولها بعد موت رسول الله صلى الله عليه وسلم بخمس وعشرين سنة .. وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر

“Adapun perkataan mereka (yaitu Nasharaa) atas klaim Raafidlah tentang perubahan Al-Qur’an (maka ini tidak teranggap), karena Raafidlah bukan termasuk kaum muslimin. Ia hanyalah kelompok yang muncul pertama kali 25 tahun setelah wafatnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam…. Raafidlah adalah kelompok berjalan mengikuti jalan orang Yahudi dan Nashara dalam dusta dan kekufuran” [Al-Fishal fil-Milal wan-Nihal, 2/213].

9.     Dan lain-lain.

Seandainya ‘ijtihad’ dua profesor : ‘Umar Syihaab dan Diin Syamsuddin tetap menghasilkan kesimpulan Syi’ah tidak sesat, Anda dapat mengira-ira siapa sebenarnya yang ia bela : Ahlus-Sunnah atau Syi’ah Raafidlah ?.

Anyway,…. Syi’ah Raafidlah sering menggunakan dalih mencintai Ahlul-Bait untuk menutupi hakekat busuk ‘aqidah mereka, dan untuk menipu umat. Kecintaan mereka itu palsu. Kecintaan yang tidak diridlai oleh Ahlul-Bait sendiri. Ahlul-Bait berlepas diri dari mereka, dan mereka pun berlepas diri dari Ahlul-Bait.

عَنْ عَلِيَّ بْنَ حُسَيْنٍ، وَكَانَ أَفْضَلَ هَاشِمِيٍّ أَدْرَكْتُهُ، يَقُولُ: ” يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَحِبُّونَا حُبَّ الإِسْلامِ، فَمَا بَرِحَ بِنَا حُبُّكُمْ حَتَّى صَارَ عَلَيْنَا عَارًا “

Dari ‘Aliy bin Al-Husain – dan ia adalah seutama-utama keturunan Bani Haasyim yang aku (perawi) temui – berkata : “Wahai sekalian manusia[16], cintailah kami dengan kecintaan Islam. Kecintaan kalian kepada kami senantiasa ada hingga kemudian malah menjadi aib bagi kami” [Ath-Thabaqaat, 5/110; shahih[17]].

عَنْ فُضَيْل بْنُ مَرْزُوقٍ، قَالَ: سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ الْحَسَنِ بْنِ الْحَسَنِ، أَخَا عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ يَقُولُ: ” قَدْ وَاللَّهِ مَرَقَتْ عَلَيْنَا الرَّافِضَةُ كَمَا مَرَقَتِ الْحَرُورِيَّةُ عَلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ “

Dari Fudlail bin Marzuuq, ia berkata : Aku mendengar Ibraahiim bin Al-Hasan bin Al-Hasan, saudara ‘Abdullah bin Al-Hasan, berkata : “Sungguh, demi Allah, Raafidlah telah keluar (ketaatan) terhadap kami (Ahlul-Bait) sebagaimana Al-Haruuriyyah telah keluar (ketaatan) terhadap ‘Aliy bin Abi Thaalib” [Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniydalam Fadlaailush-Shahaabah no. 36; hasan].

Ibraahiim bin Al-Hasan bin Al-Hasan adalah anggota Ahlul-Bait dari jalur Al-Hasan bin ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Ibnu Hibbaan berkata : “Ia termasuk di antara pemimpin penduduk Madiinah, dan Ahlul-Bait yang mulia/agung” [Masyaahir ‘Ulamaa Al-Amshaar, hal. 155 no. 995].

Ya, kecintaan Syi’ah terhadap Ahlul-Bait telah menjadi ‘aib bagi kemuliaan Ahlul-Bait. Mereka telah melakukan banyak kedustaan atas nama Ahlul-Bait untuk merusak ‘aqidah Islam dari dalam.

Wallaahul-musta’aan.

[abul-jauzaa’ – wonokarto, wonogiri, 5761s – 1433 H].

[14]     Admin situs nahi munkar mengatakan tujuh (https://www.nahimunkar.org/5243/mui-dari-10-kriteria-sesat-7-diantaranya-dimilik-syi%E2%80%99ah/).

[15]     Catatan saja, MUI tidak mensyaratkan terpenuhi kesepuluh kriteria itu satu kelompok atau pemahaman dikatakan sesat.

[16]     Dalam sebagian lafadh disebutkan : Wahai penduduk ‘Iraaq’ atau ‘Wahai penduduk Kuufah’.

[17]     Baca uraian riwayatnya dalam artikel : Islam dan Ahlul-Bait Menolak Kecintaan ‘Berhala’ala Syi’ah.

[18]     Sumber : http://news.okezone.com/read/2011/12/31/337/549808/organisasi-syiah-indonesia-bantah-bolehkan-nikah-mut-ah  dan http://arrahmah.com/read/2011/12/31/17124-ijabi-berdusta-katakan-syiah-haramkan-nikah-mutah.html.

Dikutip dari bagian akhir tulisan Abul Jauzaa’ berjudul Syi’ah Itu Sesat Juragan (Sebuah Masukan untuk Bapak Profesor Umar Syihab dan Bapak Profesor Din Syamsuddin) dalam blog http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/01/syiah-itu-sesat-juragan-sebuah-masukan.html

(nahimunkar.com)

(Dibaca 7.745 kali, 1 untuk hari ini)