Gerakan Pemuda Cinta Bangsa (GPCB) tolak Festival Belok Kiri .Fest. (Safari/HanTer)


Jakarta, HanTer-Sedikitnya tujuh elemen mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Cinta Bangsa (GPCB) menolak kegiatan berhaluan komunis dengan nama “Festival Belok Kiri.Fest”. Alasannya, festival yang akan di gelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta tersebut bisa mengadu domba anak bangsa dan mengancam perpecahan NKRI.

Diantara 7 elemen mahasiswa dan pemuda yang menolak festival yan akan digelar selam sepekan tersebut adalah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), Front Aktivis Jakarta (Froaja), Lembaga Bantuan Hukum Duta, Korps Mahasiswa GPII, Korps Brigade PII, Himpunan Mahasiswa Lombok Jakarta (HIMALO) dan Pemuda Cinta Tanah Air (Pecat)

Koordinator Presedium GPCB, Ujang Rizwansyah mengatakan, pihaknya menolak Festival Belok Kiri.Fest karena Indonesia adalah negara yang penuh dengan luka sejarah. Beragam model sejarah telah dialami Indonesia baik sejarah yang menumpahkan darah bangsa Indonesia melawan imperialisme maupun pertumpahan darah antar sesama anak bangsa.

“Sejarah ini tentu membawa luka tersendiri dari kedua belah pihak, yang rasanya tidak perlu dibenturkan oleh masalah-masalah khilafiyah siyasah (sistem politik) dalam perjuangan,” kata Ujang Rizwansyah saat menggelar konprensi pers di Aula Buya Nasir Menteng Raya. 58, Jakarta, Jumat (26/2/2016).

Menurut Ujang, menjadi NKRI maka memerdekakan seluruh anak bangsa dari segala bentuk penjajahan. Melawan imperialisme maka konsekuensi logis dari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu NKRI dengan Pancasila dan UUD 1945 merupakan jalan lurus bagi bangsa Indonesia. “Negeri ini seringkali oleng karena sebagian penguasanya mengarahkan bangsa untuk belok ke kanan dan ke kiri,” jelas Ujang.

Dengan adanya pihak yang ingin membelokan arah politik Indonesia bahkan ada yang mengelu-elukan ideologi kiri, ujar Ujang, maka pihaknya sangat meyayakan dengan akan digelarnya Festival Belok Kiri. Apalagi ada TAP MPR No. 26 tahun 1966 tentang larangan paham komunisme di Indonesia yang masih berlaku hingga sekarang sehingga penyebaran ajaran komunisme adalah bentuk perlawanan terhadap hukum.

“Tapi dalam festival ini, negara melalui Direktur Jendral Kebudayaan RI Hilmar Farid dan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli malah justru ikut serta berperan aktif dalam sebuah acara yang jelas-jelas melanggar ketentuan hukum,” tegasnya.

Ujang menegaskan, dengan digelarnya festival belok kiri maka merupakan bentuk pelecehan terhadap NKRI yang saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi untuk mencapai cita-citanya melalui jalan yang lurus.

Oleh karena itu bubarkan segera festival Belok Kiri, Tegakkan TAP MPR No. 26 Tahun 1966, Tolak segala bentuk usaha adu domba antar Anak Bangsa. “Kami juga menolak ideologi yang menghalalkan kekerasan dalam memperjuangkan cita-citanya,” paparnya.

Sumber: nasional.harianterbit.com/Safari

(nahimunkar.com)