Siaran pers tentang Pertunjukan Seni oleh Bramantyo Prijosusilo dinilai mengandung penghinaan terhadap Islam, maka dia dilaporkan ke polisi.

Bramantyo dilaporkan karena dinilai menghina dan menistakan agama (Islam) sekaligus melakukan penyesatan dan menghina kaum muslim dengan melecehkan Kitab suci Al-Qur’an (surat Al-Fatihah) dengan menyatakan bahwa: “Bila seseorang merasa yakin dirinya tidak sesat maka tidak perlu membaca Al-Fatihah. Membaca Al-Fatihah merupakan pengakuan setiap insan, setiap diri yang membutuhkan membacanya, senantiasa berpotensi sesat….”

Inilah beritanya.

***

Majelis Mujahidin Laporkan Bramantyo ke Polisi Karena Menista Agama

Shodiq Ramadhan | Rabu, 15 Februari 2012 | 08:02:21 WIB

Jakarta (SI ONLINE) – Majelis Mujahidin melaporkan budayawan penista agama, Bramantyo Prijosusilo, ke Polda DI Yogyakarta. Bramantyo dilaporkan atas tindakannya menista agama Islam dan memfitnah Majelis Mujahidin. Tahun lalu, Bramantyo juga hampir dilaporkan ke polisi oleh Budayawan Taufik Ismail karena telah mencemarkan nama baik Taufik.

Dalam surat laporan bernomor 202/MM LT/III/1433 tertanggal 21 Rabi’ul Awal 1433 H/ 14 Februari 2011 M yang ditandatangani oleh Ketua Tanfidziyah Irfan S Awwas dan Sekretaris M Shabbarin Syakur, Majelis Mujahidin mendasarkan laporannya itu dengan bukti siaran pers yang dilampirkan pada surat Pemberitahuan Pertunjukan Seni oleh Bramantyo Prijosusilo kepada Kapolsek Kotagede Yogyakarta, yang rencananya akan dilaksanakan pada jam 9 pagi hari Rabu, 15  Februari 2012 di depan Markaz Majelis Mujahidin Pusat di Jl. Karanglo No. 94 Kotagede Yogyakarta.

“Bahwa pertunjukan ini dilakukan atas nama seni budaya, tapi dengan cara menista agama dan memfitnah ormas agama, Majelis Mujahidin”, tulis Majelis Mujahidin dalam suratnya yang diterima Suara Islam Online, Rabu (15/2/2012).

Menurut Majelis Mujahidin, Bramantyo Prijosusilo secara dusta dan tidak beradab, telah memfitnah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dengan menyebarkan kebencian di kalangan anggota masyarakat, serta mengadu domba ormas Islam dengan Kesultanan Ngayogjokarto melalui siaran pers yang isinya antara lain:

  1. Mendiskreditkan gerakan Islam yang konsisten terhadap amar ma’ruf nahi mungkar dan penegakan Syari’ah Islam sebagai pemecahbelah dan memicu konflik horizontal.
  2. Menghina MMI sebagai institusi yang menentang dan merampas hak-hak Sultan Ngayogjokarto Hadiningrat.
  3. Menuduh MMI dan Laskar Islam melakukan penekanan terhadap kelompok minoritas.
  4. Menghina dan menistakan agama (Islam) sekaligus melakukan penyesatan dan menghina kaum muslim dengan melecehkan Kitab suci Al-Qur’an (surat Al-Fatihah) dengan menyatakan bahwa: “Bila seseorang merasa yakin dirinya tidak sesat maka tidak perlu membaca Al-Fatihah. Membaca Al-Fatihah merupakan pengakuan setiap insan, setiap diri yang membutuhkan membacanya, senantiasa berpotensi sesat….”

Berdasarkan tindakan dan siaran pers tersebut, maka Majelis Mujahidin menuntut tindakan yang adil dari pemerintah dan aparat keamanan, dengan Melaporkan Bramantyo Prijosusilo ke Kapolda DIY dan seluruh jajarannya supaya:

Pertama, menghalau pertunjukan Budayawan Penista Agama Bramantyo Prijosusilo yang melakukan kegiatan Seni bernuansa SARA tersebut di seluruh wilayah Indonesia, khususnyaYogyakarta.

Kedua, menangkap yang bersangkutan karena penghinaannya terhadap Agama Islam, yang dikhawatirkan memicu amarah kaum Muslim dan Laskar Islam di Jogjakarta, sehingga mengancam keamanan yang bersangkutan.

Ketiga, menuntut Bramantyo Prijosusilo meminta maaf kepada MMI dan kaum muslim. Jika menolak meminta maaf, maka seluruh Perwakilan Majelis Mujahidin akan mencari keberadaannya untuk dimintai pertanggungjawaban, dan menuntutnya hingga yaumul akhir.

Surat laporan Majelis Mujahidin ini juga ditembuskan ke sejumlah instansi pemerintah seperti Kementerian Agama, Kementerian dalam Negeri, dan Mabes Polri. Surat juga ditembuskan ke DPR, Ormas dan media massa.

Rep: Shodiq Ramadhan/ suaraislam online.

***

Untuk mengetahui siapa bramantyo, inilah beritanya.

Siapa Sebenarnya Sang Penuduh Taufiq Ismail, Bramantyo Prijosusilo?

Pebriansyah Ariefana – detikhot

Jumat, 15/04/2011 08:35 WIB

Jakarta – Nama Bramantyo Prijosusilo tiba-tiba menjadi ‘terkenal’ di kalangan sastrawan Indonesia. Namanya terbilang paling mencuat di antara ramainya perbincangan mengenai tuduhan plagiarisme yang ditujukan kepada penyair Taufiq Ismail. Taufiq pun sempat mau mempolisikannya. Siapakah dia sebenarnya?

Dia muncul memenuhi undangan perdamaian yang difasilitasi oleh Fadli Zon. Pria berjenggot ala Osama Bin Laden itu muncul dengan busana nyentrik khas seniman. Kain batik yang diikatkan sebagai blankon di kepala dan celana pencak silat.

Datang dari Ngawi, Jawa Timur, dia mengaku sebagai seorang petani, dengan lahan seluar 7 hektar yang ditanami tumbuhan organik seperti padi, jamu-jamuan, dan buah-buahan.

Di luar pekerjaannya sebagai petani, mantan wartawan BBC London itu juga gemar menulis opini dan pemikirannya di media massa atau pun untuk konsumsi pribadi. Bramantyo juga mencintai puisi sejak SMP.�

“Saya juga banyak menulis opini di media massa, tentang masalah sosial, politik dan budaya,” kata pria kelahiran 9 Agustus 1965 itu saat berbincang seusai acara perdamaiannya dengan Taufiq Ismail di Fadli Zon Library, Benhil, Kamis, Jakarta (14/4/2011).

Meski suka menulis, sebenarnya jenjang pendidikan Bram hanya sampai SMA. Ia pernah kuliah di Institut Kesenian Jakarta, namun hanya bertahan selama 9 hari. Bram kemudian menghabiskan masa mudanya di Bengkel Teater Rendra.

“Di sana saya banyak belajar tentang hidup disiplin, untuk diterapkan dalam segala bidang,” katanya yang setelah itu langsung menjajal menjadi wartawan radio berkelas internasional sekitar awal 90-an.

Lalu setelah itu, Bram juga sempat menullis puisi yang akhirnya dinyanyikan oleh Iwan Fals dan Sawung Jabo. Tiga anaknya sudah besar dan saat ini berada di Inggris (ebi/mmu) ./ dtk

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.230 kali, 1 untuk hari ini)