ilustrasi, (kiri) Nusron pembela Ahok, (kanan) Wasekjen MUI/ posmetro


Bila ada mobil, lampu seinnya nyala yang kanan tetapi ternyata beloknya ke kiri, maka jelas mengecoh, bikin mangkel orang dan bahkan memunculkan cacian atau bahkan bisa terjadi tabrakan.

Bagaimana pula kalau dalam beragama, orang mengaku dirinya Muslim (beragama Islam) tapi sepak terjangnya dan koar-koarnya justru membela orang kafir. Aneh tenan (sungguh aneh). Sikap yang tidak jelas (ora cetho, bahasa Jawa) semacam itu akan menjerumuskan pelakunya sendiri dan bahkan menjerumuskan orang lain pula.

Mari kita simak gejala adanya manusia-manusia yang sikapnya tidak jelas seperti itu akhir-akhir ini.

***

KH Najih Maimoen: Bela Ahok, Agama Nusron Cs ‘Uang’

“Melihat tindak tanduk Nusron cs yang ngalor ngidul teriak bela Ahok, kami menilai kayaknya agama Nusron cs adalah ‘uang’,” kata Putra kiai kharismatik KH Maimoen Zubair, KH Najih Maimoen (Gus Najih) dikutip dari situs NU Garis Lurus.

Kata Gus Najih, sudah menjadi rahasia umum, politikus Partai Golkar itu pelobi ulung demi uang dan jabatan.

 “Umat Islam sudah kenyang sampai ‘nek’ mendengar ucapan Nusron menyinggung agama Islam. Kalau memang orientasi hidupnya memang ‘uang’, kenapa ndak sekalian aja jadi santrinya Kanjeng Dimas Taat Pribadi,” tegas Gus Najih.

Gus Najih mengatakan, memilih Ahok-Kafir Zhalim- adalah sikapnya orang Fasiq atau munafiq, namun jika sampai merasa bangga dengan kepemimpinan kafirnya, bisa berakibat kemurtadan.

Sedangkan orang yang membela mati-matian kepemimpinan kafir zhalim Ahok adalah adalah golongan kaum yang menampakkan kekufurannya,” papar Gus Najih.

https://www.nahimunkar.org/putra-mbah-maimoen-zubair-bela-ahok-agama-nusron-cs-uang/

***

Budayawan Bicara Agama Tanpa Ada Juntrungannya

Di saat sedang ramai, Umat Islam jangan memilih pemimpin kafir, karena dilarang dalam Al-Qur’an di antaranya Surat Al Maidah ayat 51; lalu ada budayawan (Emha) yang tampaknya membela calon gubernur kafir, bilang: “Yang bilang gubernur itu pemimpin itu siapa?” “Itu pembantu rumah tangga dalam skala provinsi. Ko’ disebut pemimpin,” katanya seperti dikutip sebuah media online.

Perkataan budayawan itu aneh tenan (sungguh aneh). Karena yang namanya gubernur itu sendiri dalam pemerintahan disebut kepala daerah provinsi, ko’ dianggap bukan pemimpin. yang namanya kepala daerah, kepala desa, kepala negara dan sebagainya itu ya tentu saja pemimpin.

Anehnya lagi, perkataan budayawan yang tidak jelas juntrungannya itu malah dibanggakan.

Ada media ditengarai berbau syiah memuat berita sebagai berikut.

***

Penjelasan Cak Nun Ini Skak Mat Kaum Sumbu Pendek Yang Gak Faham Tafsir Almaidah 51

cak-nun

… kata Cak Nun, “Yang bilang gubernur itu pemimpin itu siapa?” Gubernur, bagi pria asal Jombang ini, bukanlah pemimpin tapi petugas.

Gubernur sebagaimana pejabat lainnya ialah orang yang dibayar oleh rakyat untuk bekerja mengurus transportasi publik, kemacetan, banjir dan hal-hal semacamnya.

“Itu pembantu rumah tangga dalam skala provinsi. Ko’ disebut pemimpin,” katanya mengajak kembali menggali konsep hakiki ‘pemimpin’ dalam Islam.

sumber: islamiindonesia.id/
islamnkri.com – Tuesday, October 11, 2016 

***

Bandingkan dengan Tafsir Departemen Agama RI berikut ini.

Surat Al Maidah 51 Menurut Tafsir Depag RI

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١ فَتَرَى ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يُسَٰرِعُونَ فِيهِمۡ يَقُولُونَ نَخۡشَىٰٓ أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٞۚ فَعَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَ بِٱلۡفَتۡحِ أَوۡ أَمۡرٖ مِّنۡ عِندِهِۦ فَيُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَآ أَسَرُّواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ نَٰدِمِينَ ٥٢ [سورة المائدة,٥١-٥٢]

(51) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (52) Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka  [Al Ma”idah,51-52]

Tafsir

Pada ayat ini (51) Allah SWT melarang orang-orang yang beriman, agar jangan menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman akrab yang akan memberikan pertolongan dan perlindungan, apalagi untuk dipercayai sebagai pemimpin.

Selain dari ayat ini masih banyak ayat-ayat yang lain dalam Al-Qur’aan yang menyatakan larangan seperti ini terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Diulangnya berkali-kali larangan ini dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’aan, menunjukkan bahwa persoalannya sangat penting dan bila dilanggar akan mendatangkan bahaya yang besar. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, juz 6, halaman 442-443, Departemen Agama Republik Indonesia, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an 1985/1986).

***

Bandingkan pula dengan ketegasan Umar bin Khatthab berdasarkan ayat 11 Surat al-Maaidah berikut ini.

***

Kisah Nyata Saat Al Maidah 51 Ditegakkan Oleh Umar Bin Khattab Radhiallahu Anhu

Sudah tahu belum KISAH NYATA saat Al-Maidah 51 ditegakkan oleh Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu ketika mengetahui bahwa salah satu pejabatnya adalah non-muslim?

____________________________________

عَنْ عِياض: أَنَّ عُمَرَ أَمَرَ أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ مَا أَخَذَ وَمَا أَعْطَى فِي أَدِيمٍ وَاحِدٍ، وَكَانَ لَهُ كَاتِبٌ نَصْرَانِيٌّ، فَرَفَعَ إِلَيْهِ ذَلِكَ، فَعَجِبَ عُمَرُ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ] وَقَالَ: إِنَّ هَذَا لِحَفِيظٌ، هَلْ أَنْتَ قَارِئٌ لَنَا كِتَابًا فِي الْمَسْجِدِ جَاءَ مَنِ الشَّامِ؟ فَقَالَ: إِنَّهُ لَا يَسْتَطِيعُ [أَنْ يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ] فَقَالَ عُمَرُ: أجُنُبٌ هُوَ؟ قَالَ: لَا بَلْ نَصْرَانِيٌّ. قَالَ: فَانْتَهَرَنِي وَضَرَبَ فَخِذِي، ثُمَّ قَالَ: أَخْرِجُوهُ، ثُمَّ قَرَأَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ [بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ] }

“Suatu hari Umar bin Khathab Radhiallahu Anhu memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari Radiallahu Anhu untuk segera menunjuk pemimpin kepercayaan untuk pencatat pengeluaran dan pemasukan pemerintah Islam di Syam”.

Abu Musa lalu menunjuk seorang yang beragama Nasrani dan Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi.

Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Lalu Umar berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk rapat melaporkan laporan di depan kami?’.

Abu Musa menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram (Mekkah dan Madinah)’.

Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’.

Abu Musa menjawab: ‘Bukan, karena ia seorang Nasrani’.

Umar pun langsung marah, menegurku keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘Pecat dia! cari dan angkat seorang muslim”.

(maksud Umar; ‘apa tidak ada muslim lain yang lebih baik, pasti Allah Subhaanahu Wa Taala telah menyediakan banyak calon pemimpin muslim yang lebih baik untuk umat’, cari sampai ketemu).

Umar lalu membacakan ayat:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengangkat orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengangkat mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka (kafir). Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim‘”. (QS. Al Maidah: 51)

(Sumber : Tafsir Ibnu Katsir, 3/132)/ Deliana Dahlan

***

Budayawan bicara agama tanpa ada juntrungannya

Yang dipecat atas perintah Umar bin Khatthab itu juga hanya petugas mencatat, dia orang Nasrani. Dalam hal ayat 11 Surat Al-Maaidah ini, siapa yang lebih faham. Lebih faham Khalifah Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu ataukah budayawan yang tampak ngeles tanpa dasar itu? Silakan renungkan sejenak. Semoga kita tidak ikut cengengesan dalam hal agama tanpa ada juntrungannya.

(nahimunkar.com)

***

Profesor tapi tidak jelas perkataannya

Ada profesor pernah digolongkan sebagai cendekiawan Muslim tapi membela orang kafir dengan ucapan yang ga’ jelas, hingga membuat herannya banyak orang.

***

Ga’ Kenal, Kok Asyik Makan Bareng?

ahok-syafii-maarif

Ahok dan Syafii Maarif

Wawat Kurniawan

Kenapa Buya tidak Netral lagi pendapatnya sbg ulama? Rupanya Sering ditraktir ahok…(kekenyangan)

Ingat tadi di ILC Buya bilang Ga Kenal Ahok ????(Buya diusiamu yang sudah diujung Senja kok malah jadi Ga JUJUR?)

***

syafii-maarif-luncurkan-buku-biografi

Wawat Kurniawan

Oo Asli KECEBONG nya ahok toh ternyata hahahaha… duhh buya…buya ngaku ga kenal kok muji2

Buya NAKAL nya TELAT… 😛

***

Menjadikan Orang Kafir Sebagai Auliya, Sifat Orang Munafik

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” (QS. An Nisa: 139)

Ibnu Katsir berkata:

ثُمَّ قَالَ: {بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا} يَعْنِي: أَنَّ الْمُنَافِقِينَ مِنْ هَذِهِ الصِّفَةِ فَإِنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا، فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ وَصَفَهُمْ بِأَنَّهُمْ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ، بِمَعْنَى أَنَّهُمْ مَعَهُمْ فِي الْحَقِيقَةِ، يُوَالُونَهُمْ وَيُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ، وَيَقُولُونَ لَهُمْ إِذَا خَلَوْا بِهِمْ: إِنَّمَا نَحْنُ مَعَكُمْ، إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ. أَيْ بِالْمُؤْمِنِينَ فِي إِظْهَارِنَا لَهُمُ الْمُوَافَقَةَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى مُنْكِرًا عَلَيْهِمْ فِيمَا سَلَكُوهُ مِنْ مُوَالَاةِ الْكَافِرِينَ: {أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ} ؟

ثُمَّ أَخْبَرَ تَعَالَى بِأَنَّ الْعِزَّةَ كُلَّهَا لِلَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلِمَنْ جَعَلَهَا لَهُ. كَمَا قَالَ فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى: {مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا} [فَاطِرٍ: 10] ، وَقَالَ تَعَالَى: {وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ} [الْمُنَافِقُونَ: 8] . تفسير ابن كثير ت سلامة (2/ 435)

“Lalu Allah Ta’ala menyemat sebuah sifat kepada orang-orang munafik yaitu lebih memilih menjadikan orang kafir sebagai auliyaa daripada orang mu’min. Artinya, pada hakikat orang-orang munafik itu pro terhadap orang kafir, mereka diam-diam loyal dan cinta kepada orang kafir.

Ketika tidak ada orang mu’min, orang munafik berkata kepada orang kafir: ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah main-main’. Yaitu ketika orang munafik menampakkan seolah setuju terhadap orang mu’min. Maka Allah pun membantah sikap mereka terhadap orang kafir yang demikian itu dalam firman-Nya:

أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ

‘Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir?‘.

 Lalu Allah Ta’ala mengabarkan bahwa sesungguhnya izzah (kekuatan) itu semuanya milik Allah semata, tidak ada yang bersekutu dengan-Nya, dan juga milik orang-orang yang Allah takdir kepadanya untuk memiliki kekuatan” (Tafsir Ibni Katsir, 2/435)

Jarot Prasetyo

(nahimunkar.com)

***

Pakar tafsir tapi bicaranya tidak bisa dipegangi

Ada juga orang disebut pakar tafsir, tapi bicaranya saja tidak bisa dipegangi, apalagi bila dicocokkan dengan kenyataan, belum tentu yang di sampaikan itu benar.

***

Masih Ada yang Percaya Quraish Shihab?

buya-hamka-dan-istri

Buya Hamka dan Siti Raham. Sumber foto: Dokumentasi Keluarga

Berbeda sekali dengan perkataan Quraish Shihab yg mengatakan istri Buya Hamka tidak pakai jilbab agar memuluskan niat busuknya mengatakan JILBAB Tidak Wajib, sehingga ia berani menghujat ketetapan Allah yg telah diabadikan dalam Al Qur’an dalam beberapa ayat akan wajibnya wanita muslimah untuk berhijab.. Diantaranya surat al ahzab ayat 59..
Quraish Shihab memang “beda”.. anak nya aja tak pakai jilbab.
Orang ini kok bisa di katakan “ulama”

FB Eri Mul Yanto – 3 jam

(nahimunkar.com)

***

Pentolan Liberal  membela orang kafir dengan menuduh Muslimin

Ada lagi pembela orang kafir dalam kasus penistaan Al-Qur’an justru melontarkan tuduhan sekenanya. Inilah contohnya.

***

Pendiri JIL Pecinta Zionis-Israel Ini Tuding Pendemo Anti Ahok Sebagai ISIS, Ini Wajahnya

luthfi-assyaukanie

Posted on 27 Oktober 2016 by nahimunkar.com

Eramuslim.com – Pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) semakin kalap menghadapi aksi umat Islam yang mendesak Kepolisian untuk segera memproses kasus penistaan agama oleh Ahok.

Pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) Luthfi Assyaukanie yang juga pernah berkunjung ke wilayah jajahan Zionis-Israel dan memuji-muji Zionis-Israel, menuding umat Islam yang akan menggelar “Aksi Bela Islam II’ pada 4 November 2016, sebagai kelompok yang ingin mengubah NKRI menjadi ISIS atau Taliban.

“Benar. Ahok cuma sasaran antara. Tujuan mereka mengubah NKRI jadi ISIS atau Taliban,” tulis Luthfi di akun Twitter ‏@idetopia.

Kicauan @idetopia itu menanggapi tudingan tokoh liberal Saidiman Ahmad di akun ‏@saidiman. @saidiman menulis: “Yang demo-demo anti-Ahok itu sepertinya sama dengan yang biasa demo anti-demokrasi, anti-NKRI, anti-Pancasila, anti-kebhinekaan. Benar gak?”

Sebelumnya, pengamat politik Muslim Arbi mengingatkan, Joko Widodo bisa jatuh dari kursi Presiden RI jika terus melindungi Ahok dari kasus penistaan Al Quran. “Jokowi jangan merasa hebat dengan para relawan dan media, kekuatan yang digalang umat Islam dan anti-Ahok kekuatan luar biasa yang bisa menduduki Istana,” tegas Muslim kepada intelijen (24/10).

Jum’at, 4 November 2016, merupakan batas akhir waktu tiga pekan bagi penuntasan kasus Ahok atas penistaan Al-Quran seperti diultimatum Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habieb Rizieq Shihab pada “Aksi Bela Islam”, Jumat 14 Oktober 2016.

Terkait hal itu, Jumat, 4 November 2016, akan digelar “Aksi Bela Islam jilid II”. Aksi besar-besaran ini akan digelar mulai dari Masjid Istiqlal dilanjutkan di depan Istana Presiden.(ts/pm)

Sumber: eramuslim.com/Kamis, 26 Muharram 1438 H / 27 Oktober 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 9.473 kali, 1 untuk hari ini)