Menurut Kyai NU di Malang, H. Luthfi Bashori, tidak semua pengurus PBNU itu orang alim (ulama),… sehingga (walau jadi pengurus PBNU tapi) tidak dapat membedakan mana aqidah yang benar dan mana yang salah, bahkan tidak tahu amanat KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU yang mengharamkan warga NU ikut nimbrung dengan penganut Syiah dimanapun berada.

Inilah ulasan Kyai NU H. Luthfi Bashori menjawab Soal Rais Syuriah PBNU KH. Syaifuddin Amsir yang hadir dan memberikan sambutan dalam

peringatan Hari Raya Agama Syiah, Idul Ghadir . Ulasan ini dalam bentuk ada yang mengirimkan pertanyaan ke situs pejuangislam, kemudian dijawab oleh Kyai NU H. Luthfi Bashori.

***

Pengirim: Khoirul Anwar  – Kota: Jombang

Tanggal: 28/10/2013

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kyai, pada hari Sabtu, tgl 26 Oktober 2013 lalu, di Gedung Smesco, Pancoran, Jakarta Selatan, Rais Syuriah PBNU KH. Syaifuddin Amtsir hadir dan memberikan sambutan dalam peringatan Hari Raya Agama Syiah, Idul Ghadir yg diselenggarakan oleh Ijabi.

Bgmn qt hrs menyikapinya? Dan tlg dijelaskan peristiwa Ghodir Khum versi Ahlussunnah.  Smg umat ini disadarkan Allah atas bahaya agama Syiah ini.

Mator Suwon.

 ***

Jawaban Ustadz H. Luthfi Bashori

[Pejuang Islam Menanggapi]


BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM


Tidak semua pengurus PBNU itu orang alim (ulama), tapi banyak juga yang sekedar berbackground aktifis muslim, lantas berkarir dalam organisasi NU hingga bisa menjabat pengurus PBNU, namun pemahaman agamanya masih minim, sehingga tidak dapat membedakan mana aqidah yang benar dan mana yang salah, bahkan tidak tahu amanat KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU yang mengharamkan warga NU ikut nimbrung dengan penganut Syiah dimanapun berada.

Masalahnya, banyak sekali tokoh Islam yang sejatinya awam agama yang berambisi menjadi pengurus PBNU (dan sebagian mereka berhasil jadi pengurus), karena melihat NU sebagai ormas Islam terbesar ini layak ‘dijual’ untuk mencari dana yang dapat menguntungkan kepentingan pribadi.

Hadits Ghadir Khum yang Shahih Menurut Ahlissunnah:

ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﻐﺪﻳﺮ :

ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﺻﻠﻪ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺃﺭﻗﻢ –ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ –  ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ”: ﻗﺎﻡ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺍﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻮﻣﺎ ﻓﻴﻨﺎ ﺧﻄﻴﺒﺎ ﺑﻤﺎﺀ ﻳﺪﻋﻰ ﺧﻤﺎ ﺑﻴﻦ ﻣﻜﺔ ﻭﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻓﺤﻤﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺛﻨﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﻭﻋﻆ ﻭﺫﻛﺮ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺃﻧﺎ ﺑﺸﺮ ﻳﻮﺷﻚ ﺃﻥ ﻳﺄﺗﻲ ﺭﺳﻮﻝ ﺭﺑﻰ ﻓﺄﺟﻴﺐ ﻭﺃﻧﺎ ﺗﺎﺭﻙ ﻓﻴﻜﻢ ﺛﻘﻠﻴﻦ : ﺃﻭﻟﻬﻤﺎ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻬﺪﻯ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ﻓﺨﺬﻭﺍ ﺑﻜﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﺳﺘﻤﺴﻜﻮﺍ ﺑﻪ ( ﻓﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﻏﺐ ﻓﻴﻪ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ) ﻭﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻲ ﺃﺫﻛﺮﻛﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻲ ﺃﺫﻛﺮﻛﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻲ ﺃﺫﻛﺮﻛﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻲ ” . ﻭﺟﺎﺀ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﻃﺮﻕ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻣﺮ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻓﺄﺧﺬ ﺑﻴﺪ ﻋﻠﻲ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﻓﻘﺎﻝ ”: ﺃﻟﺴﺖ ﺃﻭﻟﻰ ﺑﺎﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ؟ ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﺑﻠﻰ . ﻗﺎﻝ ﺃﻟﺴﺖ ﺃﻭﻟﻰ ﺑﻜﻞ ﻣﺆﻣﻦ ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﺑﻠﻰ ﻗﺎﻝ : ﻓﻬﺬﺍ ﻭﻟﻲ ﻣﻦ ﺃﻧﺎ ﻣﻮﻻﻩ ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻭﺍﻝ ﻣﻦ ﻭﺍﻻﻩ ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻋﺎﺩ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺍﻩ” .ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ” ﻣﻦ ﻛﻨﺖ ﻣﻮﻻﻩ ﻓﻌﻠﻲ ﻣﻮﻻﻩ “

Masalah berdalil dengan hadits Ghadir khum maka ada banyak bantahannya,

a.   Tidak ada dalam hadits ghadir isyarat sekecil apapun bahwa Nabi mengangkat Ali atau lainnya dari ahlil bait sebagai Khalifah atau imam. Sebab wurud hadits adalah karena ada beberapa orang yang berbicara menggunjing sahabat Ali radhiyallahu a’nhu karena telah melarang ereka untuk menggunakan onta zakat dan meminta mereka mengembalikan perhiasan-perhiasan yang dilepaskan untuk mereka oleh wakilnya. Maka ketika nabi saw pulang dari haji di tempat yang namanya Ghadir Khum beliau berkhutbah membersihkan nama Ali dan meninggikan kedudukannya di sisinya agar hilang apa yang ada di hati banyak orang.

b.   tidak ada seorang sahabat pun yang memahami dari hadits ini bahwa Ali ditunjuk menjadi khalifah, tidak secara tersurat maupun tersirat. Oleh karena itu saat mereka berkumpul di SAQIFAH BANI SAIDAH (waktu membaiat Khalifah Abu Bakar assiddiq ra) tidak ada seporang pun yang berhujjah dengan hadits ini, karena memang para sahabat ra memahami bahwa al-maula yang ada hadits ini adalah untuk kecintaan dan kesetiaan. Bukan untuk imamah dan imarah. Bahkan Ali ra sendiri mengingkari orang yang memanggilnya dengan ya mawlana. Seandainya beliau memahami bahwa kata mawlana sinonim dari ya amirana ya mamana tentu beliau tidak mengingkari mereka.

c.   antara peristiwa Ghadir dan wafat Nabi saw kira-kira hanya 70 hari, ini dengan ijma’nya orang syiah sebab mereka mengatakan bahwa peristiwa itu tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10. Berdasarkan kesepakatan bahwa afatnya Rasul tanggal 28 shafar tahun 11, jadi jaraknya hanya 70 hari. Apakah masuk akal jika seluruh sahabat dalam waktu yang singkat ini melupakan hadits ini?!!. Bagaimana mungkin 100 ribu sahabat itu-  eperti yang diyakini syiah- setelah 70 hari saja melupakan baiat yang telah mereka lakukan bersama nabi mereka?!! Sungguh tidak ada duanya kejadian seperti ini dalam sejarah manusia!!!

Maka jika faktor untuk mengutip hadits itu ada dan penghalang dari itu tidak ada, tetapi tetap hadits itu tidak muncul maka ini menunjukkan kalau nash itu benar-benar tidak ada!!!

d.   Kata mawla menurut ibnul atsir bisa berarti:

ﺍﻟﺮﺏ ﻭﺍﻟﻤﺎﻟﻚ ﻭﺍﻟﻤﻨﻌﻢ ﻭﺍﻟﻨﺎﺻﺮ ﻭﺍﻟﻤﺤﺐ  ﻭﺍﻟﺤﻠﻴﻒ ﻭﺍﻟﻌﺒﺪ ﻭﺍﻟﻤﻌﺘﻖ ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﻌﻢ ﻭﺍﻟﺼﻬﺮ

“Tuhan, Yang Memiliki, Yang memberi nikmat, penolong, mencintai,  ekutu, hamba/budak, orang yang memerdekakan budak, saudara sepupu, dan menantu.”

Kalau nabi saw ingin mengan gkatnya menjadi khalifah tentu tidak menggunakan istilah yang mengandung banyak makna, lebih utama kalau nabi yang sangat fashih dan nashih itu mengatakan: “Khalifah adalah Ali”.

e.   Yang dimaksud dengan “Man kuntu mawlahu fa aliyy mawlahu” adalah kecintaan dankesetiaan serta wasiat untuk berbuat baik kepada ahlul bait, dan menjelaskan tingginya kedudukan ahlul bait. Tidak ada dalam redaksi maupun mafhumnya bahwa Ali adalah imam atau khalifah!

f.   Seandainya Nabi saw menginginkan awla tentu tidak akan mengatakan mawla akan tetapi akan mengatakan awla. Kalau kita mengalah bahwa maksud dari mawla adalah awla niscaya maksudnya adalah bukan wilayah, hukum dan kepemimpinan mengatur urusan kaum muslimin, karena Allah telah berfirman:

{ ﺇﻥ ﺃﻭﻟﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺈﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻟﻠﺬﻳﻦ ﺍﺗﺒﻌﻮﻩ ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ }

Maka apakah para pengikut Nabi Ibrahim menjadi pemimpin atas Nabi Ibrahim? Atau apakah para pengikut Ibrahim menjadi pemimpin semua?

g.   Sebagian ulama syiah sendiri menolak jika hadits Ghadir khum diartikan sebagai pernyataan atas imamah Ali setelah Rasulullah saw. An-Nuri al-Thubrusi berkata:

:” ﻟﻢ ﻳﺼﺮﺡ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻟﻌﻠﻲ ﺑﺎﻟﺨﻼﻓﺔ ﺑﻌﺪﻩ ﺑﻼ ﻓﺼﻞ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻐﺪﻳﺮ ﻭﺃﺷﺎﺭ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺑﻜﻼﻡ ﻣﺠﻤﻞ ﻣﺸﺘﺮﻙ ﺑﻴﻦ ﻣﻌﺎﻥ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﻓﻲ ﺗﻌﻴﻴﻦ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﻣﻨﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﻗﺮﺍﺋﻦ

h.   Adapun riwayat dengan lafazh “wa huwa waliyyukum min ba’di” maka telah didhaifkan oleh para pakar hadits. Ia datang dari 2 jalur, dalam sanadnya ada ja’far ibn Sulaiman dan Ajlaj al-Kindiy yang sangat lemah. Adapun tambahan min ba’di maka kata al-Mubarakfuri adalah tambahan dari dua perawi syiah tadi. Kbeliau berkata:

:” ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻥ ﺯﻳﺎﺩﺓ ) ﺑﻌﺪﻱ ( ﻓﻲ  ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﻦ ﻭﻫﻢ ﻫﺬﻳﻦ ﺍﻟﺸﻴﻌﻴﻴﻦ ﺟﻌﻔﺮ ﺑﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﻭﺍﻷﺟﻠﺢ ﻭﻳﺆﻳﺪﻩ ﺃﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺭﻭﻯ ﻓﻲ ﻣﺴﻨﺪﻩ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﻦ ﻋﺪﺓ ﻃﺮﻕ ﻟﻴﺴﺖ ﻓﻲ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻣﻨﻬﺎ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ

i.   Meskipun kita anggap benar misalnya maka hadits ini bertentangan dengan keyakinan orangh syiah sebab mereka meyakini keimamahan Ali
semenjak Nabi masih hidup berdasarkan ayat:

{ ﺇﻧﻤﺎ ﻭﻟﻴﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻘﻴﻤﻮﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﻳﺆﺗﻮﻥ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻭﻫﻢ ﺭﺍﻛﻌﻮﻥ

Lalu bagaimana ada tambahan “min ba’di?!”

http://www.pejuangislam.com

Demikian jawaban Kyai NU di Malang itu.

***

PBNU pilih Islam atau Syiah?

Dalam perjalanan kepengurusan PBNU, Kyai Alie Yafi pilih mundur dari kepengurusan PBNU ketika Ketua Umum PBNU Gus Dur menerima dana dari lembaga YDBKS pengelola judi (lotre) nasional SDSB. Walau Gus Dur berkilah bahwa tidak tahu kalau YDBKS itu pengelola SDSB, tetap saja Kyai Ali Yafie mengundurkan diri dari kepengurusan PBNU.

Lha sekarang, ada pengurus PBNU yang hadir dan berpidato “menjilat” Syiah sambil berdusta lagi, dalam acara perayaan mencaci sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebut Idul Ghadir di Jakarta, Sabtu 26/10 2013. (lihat berita Cara Syaifuddin Amsir Tokoh NU Berdusta dan « Menjilat » Syiah  https://www.nahimunkar.org/cara-syaifuddin-amsir-tokoh-nu-berdusta-dan-menjilat-syiah/ ).

Pertanyaannya sekarang, masih adakah Kyai di kepengurusan PBNU yang sikapnya seperti Kyai Ali Yafie?

Padahal kasusnya justru lebih parah sekarang, dan lebih membahayakan bagi aqidah Umat Islam.

Kalau NU tidak menindak pelakunya, kemungkinan umat Islam akan mulai itung-itungan dalam menghadapi syiah. Kemungkinan plus menghadapi NU. Dan itu boleh jadi sama sekali tidak akan menguntungkan bagi NU pula. Karena sebagian orang NU yang masih sayang-sayang kepada agamanya (Islam) maka akan menolak syiah. Contohnya adalah kader NU di Puger Jember Jawa Timur yang dibunuh oleh orang Syiah beberapa waktu yang lalu. (Kader NU Dibunuh Syiah, Sampai Kapan Said Aqil Siradj Mesra dengan Syiah? Added on 13 September 2013 https://www.nahimunkar.org/kader-nu-dibunuh-syiah-sampai-kapan-said-aqil-siradj-mesra-dengan-syiah/ ).

Umat Islam boleh jadi akan melihat, apakah NU (PBNU) pilih Islam atau poilih syiah. Itu saja.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.211 kali, 1 untuk hari ini)