Rujukan itu bukan lakon orang, tapi ayat dan hadits. Siapapun, ketika tidak sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits, ya tidak benar. Termasuk perkataan ngawur orang-orang yang berkasih-kasihan dengan kafirin, musyrikin, munafiqin, dan para penyesat.

Cocokkan dengan ayat ini:

لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ [سورة الـمجادلـة,٢٢]

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. [Al Mujadilah22]

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ  [سورة الفتح,٢٩]

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. [Al Fath29]

Anehnya kini, sebagian orang bahkan mengaku tokoh Islam, namun lebih mesra dengan orang-orang kafir. Sebaliknya, justru begitu sengit terhadap orang Muslim. Pantaskah mereka mengaku sebagai pengikut setia Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam?

Para muqollid butanya pun memuji sikap yang sangat bertentangan dengan al-Qur’an itu.

Di samping itu tasyabbuh atau menyerupai mereka yang menentang Allah pun termasuk golongan mereka. Karena ada hadits:

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ وَفِي لَفْظٍ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum (komunitas), maka dia termasuk bagian dari kaum (komunitas) tersebut.” (HR. Abu Daud)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 853 kali, 1 untuk hari ini)