Anggota Komisi III DPR Muhammad Syafii mempertanyakan Densus 88 yang tak terjun menangani kelompok teroris separatis di Papua. Dia pun menyoroti perbedaan perlakuan terhadap kelompok yang dianggap teroris dari kalangan Islam.

“Papua seolah tidak menjadi wilayah operasional dari Densus, padahal ini kan jelas-jelas membahayakan keutuhan NKRI, dan juga mereka melakukan teror, menakut-nakuti rakyat bahkan memaksa rakyat” kata Muhammad Syafii kepada Kiblat, Kamis (19/05).
Berikut ini sorotannya.

***

Pengamat: Pemerintah harus tegas terkait tantangan teroris OPM

OPM

Kelompok teroris OPM menantang TNI dan Densus 88 perang rebuka.

JAKARTA (Arrahmah.com) – Pemerhati kontrateroris Harits Abu Ulya, mengatakan dalam kasus gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) terlihat pemerintah tidak adil dalam memberikan fokus perhatian.

“Kalau pemerintah bisa gerakkan Densus plus lebih dari seribu personel Brimob dan satuan lainnya untuk kejar jaringan Santoso Cs kenapa tidak dilakukan hal yang sama terhadap kelompok teroris separatis Papua?” ujar Harits Selasa (26/5/2015), dikutip dari Okezone.

Dia menambahkan, pemerintah harusnya lebih tegas dalam kasus tantangan terbuka teroris OPM kepada TNI dan Polri. “Sebab, OPM lebih terorganisir, dengan visi politik yang jelas dan ada unsur-unsur asing backup. Jika dibiarkan maka akan berpotensi melahirkan disintergrasi secara serius,” sambungnya.

Harits menegaskan, skala ancaman teroris OPM jauh lebih serius dibandingkan jaringan teroris Santoso di Poso. Menurutnya, TNI sangat bisa masuk untuk operasi di Papua, karena sudah masuk ranah kedaulatan.

“Kalau pemerintah serius, ya Presiden tinggal keluarkan Perpres untuk TNI agar take over sepenuhnya. Tapi sering kali kepentingan politik yang tidak jelas menjadi faktor kasus OPM terkesan diambangkan,” tutur Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu.

Sebelumnya, kelompok gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Puron Wenda dan Enden Wanimbo yang bermarkas di Lany Jaya, Papua menantang perang secara terbuka terhadap TNI, Polri dan masyarakat non Papua.

Perang terbuka itu, kata Enden, untuk menyatakan ketegasan bahwa perjuangan Papua merdeka tetap menjadi harga mati. Mereka pun menolak segala bentuk dialog yang ditawarkan pemerintah. (azm/arrahmah.com) – Rabu, 9 Sya’ban 1436 H / 27 Mei 2015

***

Densus Tak Tangani Teroris Separatis Papua, Legislator: Apa Karena Pelakunya Bukan Islam?

Anggota Komisi III DPR Muhammad Syafii mempertanyakan Densus 88 yang tak terjun menangani kelompok teroris separatis di Papua. Dia pun menyoroti perbedaan perlakuan terhadap kelompok yang dianggap teroris dari kalangan Islam.

“Papua seolah tidak menjadi wilayah operasional dari Densus, padahal ini kan jelas-jelas membahayakan keutuhan NKRI, dan juga mereka melakukan teror, menakut-nakuti rakyat bahkan memaksa rakyat” kata Muhammad Syafii kepada Kiblat, Kamis (19/05).

Politisi Partai Gerindra itu pun menilai ada perbedaan penindakan terhadap kelompok teroris separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Menurutnya penanganan terhadap OPM tidak seserius dalam menindak kelompok lain yang dianggap teroris, seperti kelompok Santoso di Poso.

Terkait Santoso, lanjut Syafii, negara telah mengerahkan ribuan personelnya. Bahkan pengerahan itu dilakukan secara terus-menerus dalam beberapa operasi berbeda. Terakhir, Operasi Tinombala kembali diperpanjang dengan anggaran mencapai Rp 25 miliar.

“OPM yang jelas-jelas mengancam keutuhan NKRI kayaknya tidak ditangani seserius Santoso dan Siyono, ini aneh juga,” ujarnya.

Ketimpangan lain yang disebutkan oleh Syafii adalah perlakukan terhadap kelompok teroris yang berlatar belakang Islam. Dia mencontohkan dua orang di Jawa Timur yang dengan memakai serban dan menyatakan akan mendirikan negara Islam. Selanjutnya, yang terjadi adalah dia dianggap sebagai teroris besar.

“Sementara yang di Papua ini sudah membunuh puluhan polisi dan tentara, bahkan membakar markas mereka, serta mengancam orang, membuat tulisan dan pernyataan provokatif, serta membakar bendera Indonesia. Itu kenapa tidak ditangani, apakah karena pelakunya bukan Islam?” ujar Syafii.

Dia pun menegaskan bahwa tindakan OPM selama ini sudah di luar batas. Pasalnya mereka membuat pertemuan-pertemuan dan pernyataan yang sangat terbuka, yang intinya siapapun yang menghalangi negara Papua merdeka adalah musuh mereka.

Separatisme di Papua kembali disorot menyusul adanya konvoi bendera Israel di Papua beberapa waktu lalu. Selama ini aparat dianggap tak bertindak tegas terhadap kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Sumber : kiblat.net/ tribunislam.com – Sabtu, 21 Mei 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 968 kali, 1 untuk hari ini)