.

WONOGIRI (Voa Islam) – Perlakuan yang tak semestinya dan boleh dikatakan kurang menghargai warga negara indonesia (WNI) dilakukan oleh Pemerintah Singapura. Hal itu dialami oleh rombongan mahasiswa S2 magister manajemen rumah sakit Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam rangka studi banding di dua RS di Kuala Lumpur Malaysia. Bahkan salah satu mahasiswa yang merupakan warga Wonogiri, Rosyid Ridho,  harus rela dideportasi pihak Kantor Imigrasi Singapura.

Saat dijumpai di kediamannya di Brumbung, Kaliancar, Selogiri, Rosyid Ridho membenarkan, dirinya bersama ke 21 rekannya sesama mahasiswa S2 UMY pada Rabu (7/5) lalu mendapat tugas dari kampus untuk melakukan studi banding didua rumah sakit ternama di Malaysia yakni Hospital UKM dan Hospital KMJ. Mereka pun berangkat menuju Kualalumpur Malaysia dengan melalui agent travel. Perjalanan mereka melalui Singapura kemudian dijadwalkan city tour melalui jalan darat, dan Kamis(8/5) tiba di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Sesampainya di Bandara Changi, Singapura saat itu memang pemeriksaan ketat sekali. Kalau tidak salah saya saat itu diperiksa petugas imigrasi kurang lebih hampir tujuh jam, sebelum saya dideportasi lagi ke Indonesia,” terang Rosyid Ridho yang juga Dirut RS Amal Sehat Slogohimo kepada Timlo.net, Jumat (9/5).

Menurut Rosyid, perlakuan petugas Imigrasi Singapura tergolong tidak menghargai dan terkesan sentimen dengan warga Indonesia. Dirinya saat itu pun terpisah dari rombongan mahasiswa lainnya, bahkan ia dikarantina dan dilarang berkomunikasi .Terlebih lagi paspor yang ia miliki sudah hampir habis masa berlakunya.

Dan yang paling tidak mengenakkan saat itu, yakni pertanyaan petugas saat menginterogasinya berawal dari rekam paspor perjalanan miliknya tertera pada awal Januari 2013 lalu dirinya melakukan perjalanan menuju Turki, itu pun dalam rangka misi kemanusian, lantaran Rosyid sendiri merupakan relawan medis yang tergabung dalam HASI (Hilal Ahmar Society Indonesia) dan menurut dirinya, hal itulah yang menjadi pemicu kenapa dirinya dideportasi. Sedangkan mahasiswa lainnya rata-rata paspor yang mereka gunakan tergolong baru.

“Saat diperiksa itu dua buah handphone saya juga disita, dan juga sampai diinterogasi seputar saya saat di Turki,dan saat juga hampir setengah jam dua HP saya itu dibawa keluar mungkin saja dicuri datanya atau apa saya juga tidak tau,” katanya.

Menurut Rosyid Ridho, alasan kenapa dirinya dideportasi sempat ditanyakan kepada pihak petugas kantor Imigrasi Singapura. Namun, alasan yang dilontarkan pihak Imgrasi kuranglah jelas dan tanpa alasan pasti.

“Saya sempat tanya kepada petugas yang memeriksa saya, dan alasannya, dia hanya menjalankan tugas, dan ini merupakan kebijakan negara saya,” jelas Rosyid menirukan ucapan petugas Imigrasi Singapura.

Sampai saat ini dirinya belum memikirkan langkah apa selanjutnya. Sedangkan rekan-rekan mahasiswa lainnya sudah tiba di Malaysia dan melakukan studi banding. (timlo/Voa Islam)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.528 kali, 1 untuk hari ini)