Alim Ulama Kota Bogor Dukung Penuh Walikota Menutup Gereja Ilegal Yasmin

  • Disesalkan, pihak GKI Yasmin berusaha memecah belah ukhuwah Ummat Islam di Kota Bogor dengan cara mengadu domba tokoh Islam yang satu dengan tokoh Islam yang lain. Ummat Islam yang menolak pembangunan gereja illegal disebut sebagai salafi wahabi dan kaum pendatang.
  • Patut diketahui, berdirinya GKI Yasmin di Jl. KH. Abdullah bin Nuh, adalah pintu gerbang masuknya  200 gereja yang nantinya akan menyusul pembangunanya di Kota Bogor.
  • Jika GKI Yasmin betul-betul berdiri, maka Kota Bogor akan dikelilingi  200 gereja, padahal di lingkungan berdirinya gereja tersebut, banyak dihuni oleh masyarakat Muslim Bogor. Ini tentu membuat kita prihatin.
  • Ketua FKUB Kota Bogor menjelaskan di DPRD, sampai detik ini GKI Yasmin belum ada komunikasi dengan FKUB. Yang jelas FKUB tidak akan  memberi rekomendasi kepada pihak terkait untuk pembangunan GKI Yasmin. Mengingat, keberadaannya sudah sangat meresahkan masyarakat, ditambah lagi sering melakukan penyimpangan peraturan yang ada, diantaranya memalsukan tandatangan. Bahkan GKI Yasmin sudah diputuskan bersalah dalam pengadilan.

***

Bogor – Ketua Forum Ummat Islam (FUI) Bogor Ustadz Iyus Khairunnas kepada voa-Islam menyesalkan pihak GKI Yasmin yang berusaha memecah belah ukhuwah Ummat Islam di Kota Bogor dengan cara mengadu domba tokoh Islam yang satu dengan tokoh Islam yang lain. Ummat Islam yang menolak pembangunan gereja illegal disebut sebagai salafi wahabi dan ikut campurnya kaum pendatang.

“Saya selaku Ketua FUI Bogor telah melakukan tabayun dan klarifikasi kepada tokoh-tokoh Islam yang ada di Kota Bogor, agar isu perpecahan ini bisa dihindari. FUI mencoba memfasilitasi para tokoh Islam dan pimpinan ormas Islam kota Bogor untuk berkumpul sekaligus berkomunikasi untuk tujuan meredam ketegangan sesama kaum muslimin akibat upaya adu domba pihak tertentu,” ujar Ustadz Iyus.

Jika tidak diantispiasi, bukan tidak mungkin ada upaya dari pihak-pihak tertentu untuk mendisain persoalan ini pada sebuah operasi intelijen, dengan memanfaatkan figur orang  atau kelompok yang emosional dalam menyelesaikan masalah kasus GKI Yasmin.

“Komunikasi kami, Ummat Islam di Bogor yang all out  menetang gereja sepertinya disadap. Informasi yang kami kirim ada kesan terpotong bahkan tidak terkirim. Ada telepon masuk, tapi putus begitu saja.

Ketika ditanya, kenapa tokoh-tokoh ulama di Bogor tidak sepenuhnya turun untuk menunjukkan solidaritasnya? “Kami berkhusnuzan saja. Mungkin mereka memantau dari jauh saja. Namun yang jelas, ada pihak yang menginginkan Ummat Islam dan tokoh Islam di Kota Bogor berpecah –belah. Berkali-kali dihembuskan stigma kepada tokoh Islam yang getol menentang pembangunan gereja selama ini. Belum lagi, media massa yang memberitakan kasus ini secara sepihak, dan sering diputarbalikkan faktanya,” ungkap Yus.

Ustadz Iyus yang lahir dan tinggal di Bogor pun dituding orang Sukabumi, dan Ketua Forkami Ahmad Iman sebagai orang Medan  dan Ustadz Al Khaththath sebagai orang Pasuruan.  Jadi semua orang yang menentang keberadaan GKI Yasmin dianggap  pendatang.

Forum Cinta Damai Antek Gereja

Isu perpecahan diantara Ummat Islam sekarang berkembang ke bawah. Kelompok Forum Masyarakat Bogor Barat Cinta Damai (FMBBCD) yang membela Gereja berusaha menyalib dan menghalangi FORKAMI yang selama ini menolak pembangunan gereja illegal.

Terbetik kabar, Forum Cinta Damai ini terbentuk setelah Nuriyah Abddurrahman Wahid (istri mendiang Gus Dur) dan Yenny Wahid (dari Wahid Institute) mengunjungi Madrasah Al Ghazali pimpinan KH. Muhammad Mustofa atau yang biasa disapa Ustadz Toto (putra bungsu dari KH. Abdullah bin Nuh). Itulah sebabnya, Ustadz Toto tidak pernah berada di barisan FUI Bogor ataupun Forkami dalam menentang keberadaan GKI Yasmin.

Saat ini, pihak gereja kerap menggunakan siasat “main uang”. Diprediksi hingga mencapai Rp. 8 miyar. Maruarar Sirait sebagai bendahara Kristen Asia Tenggara dikabarkan telah mengucurkan dana milyaran rupiah untuk memenangkan pertarungan GKI Yasmin versus Ummat Islam Bogor. Sehingga ada ungkapan, “Kalau mencari duit ke tempat lain susah, tetapi ke gereja kok mudah.”

Ustadz Yus membantah jika penentangan Ummat Islam terhadap kehadiran gereja Yasmin di Bogor sebagai bentuk sikap yang tidak toleran. “Itu tuduhan yang tidak factual. Buktinya, kami Ummat Islam di Bogor tidak pernah mengganggu ibadah Ummat Kristiani di beberapa gereja yang ada di wilayah Bogor.”

Kekhawatiran itu sendiri bisa kita dengar dari seorang Sydney Jones (peneliti ICG). Dikatakan Sydney, Ummat Kristiani itu terlalu agresif dalam menyebarkan agamanya sehingga menimbulkan benturan. “Yang membuat benturan itu ya mereka sendiri,” kata Iyus menambahkan.

Patut diketahui, berdirinya GKI Yasmin di Jl. KH. Abdullah bin Nuh, adalah pintu gerbang masuknya  200 gereja yang nantinya akan menyusul pembangunanya di Kota Bogor. Jika GKI Yasmin betul-betul berdiri, maka Kota Bogor akan dikelilingi  200 gereja, padahal di lingkungan berdirinya gereja tersebut, banyak dihuni oleh masyarakat Muslim Bogor. Ini tentu membuat kita prihatin.

Ketidakpuasan GKI Yasmin terhadap kebijakan Walikota Bogor seharusnya menempuh jalur hukum, bukan malah mempolitisir dan menggunakan opini public, seolah pihaknya berada di posisi yang terzalimi. Hendaknya pula, Jemaat GKI Yasmin tidak bekedok ibadah, menggunakan trotoar, dan jalanan untuk melakukan misa kebaktian setiap hari Minggu. Itu namanya melarang Perda.

Walikota Bogor sesungguhnya sudah memberi tiga tempat alternatif (gedung serga guna), tapi pihak GKI Yasmin tetap saja ngotot. Yang pasti, para alim ulama dan pimpinan ormas Islam Kota Bogor menghendaki agar Bogor ini tetap aman. (Desastian) Kamis, 01 Dec 2011 (voa-Islam)

***

Alim Ulama Kota Bogor Dukung Penuh Walikota Tutup Gereja Ilegal Yasmin

Kamis, 01 Dec 2011

Bogor (voa-Islam) – Rabu (30/11) siang, sejumlah alim ulama, pimpinan Pondok Pesantren, Ormas Islam, Ketua DKM, Tokoh masyarakat Kota Bogor dan seluruh kaum muslim Bogor Raya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Muslim Indonesia (Forkami) mendatangi gedung DPRD Kota Bogor untuk mendorong para anggota dewan untuk mendukung Walikota Bogor dalam menyelesaikan persoalan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin yang berlokasi di Jl. KH. Abdullah bin Nuh, Bogor.

Forkami dalam pernyataan sikapnya, meminta kontribusi DPRD Bogor, terkait penyelesaian Kasus penyelesaian GKI Yasmin. Mengingat ini sudah 6 tahun berjalan, tetapi tidak ada upaya atau gagasan apapun dari DPRD untuk penyelesaian kasus ini. Kalaupun DPRD Bogor dapat membantu penyelesaian kasus ini dari awal, maka kasus ini tidak perlu diselesaikan sampai ke tingkat DPR RI dan lain-lain.

Seperti diketahui, Walikota Bogor H. Diani Budiarto telah mencabut Izin Mendirikan Bangunan (IMB) GKI Yasmin, sesuai prosedur yang berlaku. Maka, Forkami memohon Sidang Paripurna DPRD Bogor untuk mendukung tindak lanjut Pasca Pencabutan IMB GKI Yasmin, yaitu pembongkaran Bangunan Bedeng (bukan site plan sebuah gereja) yang selalu dijadikan simbol dukungan ke berbagai pihak, baik lokal, nasional maupun internasional okeh GKI Yasmin.

Dalam pertemuan itu, Forkami yang diketuai oleh Ustadz H. Ahmad Iman, mengutuk keras kepada siapapun yang berupaya mempolitisir kasus ini, karena sebenarnya persoalan ini adalah murni kasus ranah hukum. Kasus ini hanyalah kasus lokal yang sudah diselesaikan oleh Walikota Bogor sebagai pemegang kekuasaan otonomi daerah (Hak Deskresi Walikota). Walikota punya kewenangan menerbitkan dan mencabut IMB sesuai aturan yang berlaku.

PDI P Saja yang Menolak

Tampak hadir dalam pertemuan tokoh alim ulama dengan Anggota DPRD, diantaranya: Ustadz Ahmad Iman (Ketua Forkami), Ustadz Iyus Khairunnas (Ketua FUI Bogor), KH. Muhammad Al Khaththath (Sekjen FUI), Ari Prabowo (Sekretaris II Forkami), KH. Adam Ibrahim (Ketua Umum MUI Kota Bogor), dan tokoh Islam lainnya. Sementara itu juga hadir sejumlah fraksi DPRD Kota Bogor dari Partai Demokrat, Golkar, PDIP, PKS, dan Fraksi Gabungan (PAN, PPP, Gerindra dsb).

Dari Fraksi yang turut memberi dukungan hanya PDI P saja yang mengambang, plintat-plintut untuk menyelesaikan persoalan GKI Yasmin. Dalihnya, PDI P akan menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum. “Ini bukan persoalan dukung mendukung,” kata salah seorang anggota dewan mewakili Fraksi PDIP.

Dalam dialog di ruang yang sangat sempit dan berlangsung panas itu, kedua belah pihak sepakat untuk tidak menyelesaikan masalah GKI Yasmin di jalanan, melainkan di meja perundingan. Ini untuk menghindari tindakan anarkis dari pihak-pihak tertentu yang ingin Bogor menjadi tidak kondusif.

Hanya saja, Ketua Dewan diminta untuk konsisten melaksanakan aspirasi Ummat Islam Kota Bogor minimal sebelum Natal sudah harus selesai. Forkami mendesak DPRD untuk menuntaskan masalah GKI Yasmin pada tanggal 7 Desember 2011 ini (bukan tanggal 19 Desember).  “Jangan terlalu lama. Jika anggota dewan tidak melaksanakan aspirasi kami, yang pasti kami akan datangi lagi gedung DPRD untuk menagih janji ketua dan anggota dewan,” kata Ahmad Iman didukung alim ulama lainnya.

Ketua FKUB Kota Bogor menjelaskan di ruang pertemuan itu, sampai detik ini FKUB Kota Bogor, GKI Yasmin belum ada komunikasi dengan FKUB. Yang jelas FKUB tidak akan  memberi rekomendasi kepada pihak terkait untuk pembangunan GKI Yasmin. Mengingat, keberadaannya sudah sangat meresahkan masyarakat, ditambah lagi sering melakukan penyimpangan peraturan yang ada, diantaranya memalsukan tandatangan. Bahkan GKI Yasmin sudah diputuskan bersalah dalam pengadilan.

FKUB Kota Bogor menegaskan, selama ini tidak ada kekerasan agama di kota Bogor, apalagi sampai mendiskreditkan dengan tidak memberi ruang gerak pada kaum minoritas. Tapi yang berkembang di dunia maya, dari Australia hingga Amerika, seolah masyarakat muslim Kota Bogor telah bertindak diskriminatif terhadap minoritas. Ini persoalan ranah hukum, bukan SARA. Ada peraturan yang telah diabaikan oleh pihak GKI Yasmin itu sendiri.

“Ini bukan masalah kerukunan beragama , tapi masalah proses perizinan. Walikota Bogor sudah melaksanakan keputusan MA, yaitu mencabut pembekuan. Tapi yang diputarbalikkan faktanya adalah walikota membangkang keputusan MA,” kata Ketua FKUB menyesalkan.

Dalam kesempatan yang sama, pemuda yang mewakili LPM mengatakan, kami sebagai masyarakat telah dirugikan 100% dengan kegiatan kebaktian jemaat GKI Yasmin di jalanan. LPM meminta agar Dewan segera mengeksekusi gereja tersebut.

“Kami sudah toleran dan musyawarah beberapa kali ditempuh, tapi pihak gereja memaksakan diri. Terus terang, banyak masyarakat yang dirugikan. Contohnya, pernah ada seorang ibu hamil yang mau melahirkan hendak menuju RS Hermina, tidak bisa melalui jalan itu karena diblokir, disebabkan jalan itu digunakan untuk kebaktian,” katanya protes.  (Desastian)

***

Selasa, 22 Maret 2011 – 02:31:17 WIB

Terbukti Memalsu Surat dan Tandatangan, Akhirnya IMB Gereja Yasmin di Bogor Dicabut
Diposting oleh : Administrator

Alhamdulillah, IMB GKI Taman Yasmin telah dicabut oleh pemerintah Kota Bogor dengan Surat Keputusan (SK) Nomor 645.45-137 pada tanggal 11 Maret 2011. Keputusan ini menjadi hasil yang menggembirakan setelah penantian panjang sejak tahun 2006 lalu. Kasus ini bermula ketika Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bogor telah menyuap warga mengatasnamakan pembagian dana pembangunan wilayah. Dalam pembagian dana itu warga disuruh mendatangani tanda terima bantuan keuangan tersebut. Namun tanda tangan warga sebagai bukti telah menerima uang tersebut dimanipulasi oleh pihak GKI Bogor dengan cara memotong daftar warga yang telah hadir dan menerima uang tersebut lalu ditempelkan pada kertas yang kop suratnya berisi pernyataan warga tidak keberatan atas pembangunan gereja. Atas keputusan (IMB GKI Taman Yasmin telah dicabut oleh pemerintah Kota Bogor) ini warga muslim di Bogor bersyukur kepada Allah Swt, ucapan terima kasih salahsatunya dari KH. Didin Hafidudin, seorang ulama asal kota Bogor itu melalui smsnya mengatakan, “Syukur kepada Allah Swt dan terima kasih kepada walikota dan jajaran pemerintah daerah kota Bogor atas dikeluarkannya SK pencabutan IMB GKI Taman Yasmin, InsyaAllah merupakan amal sholeh yang tak terhingga nilainya disisi Allah Swt.” Sementara itu, KH. Iyus Khaerunnas (Ketua Forum Umat Islam Bogor) kepada Suara Islam beliau mengatakan, “Umat Islam akan mengawal SK ini secara arif dan bijaksana serta damai agar suasana tetap kondusif sehingga kerukunan umat beragama bisa terjalin secara baik dan proporsional. Dan apabila ada pihak-pihak tertentu yang akan mengeruhkan suasana maka umat Islam akan menjadi jadi garda terdepan untuk mengawal SK pencabutan IMB tersebut. Sumber: Forkami.com, Kamis, 17/03/2011 12:11 WIB Kasus pemalsuan tandatangan oleh pihak Gereja Yasmin Bogor itu telah divinis pengadilan. Sebagaimana telah nahimunkar.com beritakan: Gereja Yasmin Bogor Terbukti Memalsu Surat & Tandatangan Warga Permasalahan sesungguhnya yang terjadi, proses pembangunan Gereja GKI Yasmin di Bogor penuh dengan kebohongan, yaitu adanya pemalsuan surat dan tanda tangan masyarakat setempat untuk persyaratan keluarnya IMB (Izin Mendirikan bangunan). Oleh karena itu ulama dan seluruh komponen umat Islam Bogor yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) Bogor Raya kembali merapatkan barisan untuk melakukan aksi penolakan terhadap bangunan Gereja GKI Taman Yasmin yang berlokasi di Jl. KH. Abdullah bin Nuh, Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat, Bogor, Ahad (23/1) lalu. Pengadilan Negeri Bogor juga sudah membuktikan bahwa telah terjadinya pemalsuan dan tandatangan masyarakat, yaitu dengan dijatuhinya PUTUSAN BERSALAH Majelis Hakim kepada saudara Munir Karta pada hari Kamis 20 Januari 2011 lalu selaku terdakwa kasus pemalsuan surat dan tandatangan masyarakat setempat. Dengan adanya bukti-bukti tersebut sudah sangat jelas bahwa IMB GKI Yasmin statusnya CACAT HUKUM .

http://forkami.com/berita-124-terbukti-memalsu-surat-dan-tandatangan-akhirnya-imb-gereja-yasmin-di-bogor-dicabut.html

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.598 kali, 1 untuk hari ini)