Bangunan tiga lantai di Jalan DI Panjaitan, Krapyak Kulon, Bantul Yogyakarta yang diduga milik Anas Urbaningrum.

 .

Inilah beritanya.

***

KPK Sita Aset Anas di Yogyakarta

BANTUL – Minggu 09 Maret 2014.4Tim dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemarin menyita sejumlah lahan di Yogyakarta yang diduga aset milik tersangka kasus gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) Anas Urbaningrum.

Juru bicara KPK Johan Budi SP mengatakan, luas lahan aset Anas yang disita yakni dua bidang tanah di Kelurahan Mantrijero, Yogyakarta. Masing-masing ada yang 7.670meterpersegidan200meter persegi. Kedua lahan tersebut atas nama Attabik Ali, mertua Anas. Selanjutnya, tim KPK juga menyita tigabidang tanahdi Desa Panggungharjo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) atas nama Dina Az (anak KH Attabik Ali). Selain itu, KPK menyita tanah dan bangunan di Jalan Selat Makasar C9/22 di Duren Sawit, Jakarta Timur, dengan luas sekira 600 M2.

“Penyitaan ini diduga terkait dengan AU,” kata Johan Budi saat menghadiri kegiatan Rembuk Rasa Antikorupsi bersama PNPM Mandiri dan KPK di sebuah hotel di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kemarin. Kepala Dusun Krapyak Kulon, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul Kunaini mengaku dirinya tidak tahu soal tanah yang diatasnamakan Anas Urbaningrum. Hanya Kusnaini membenarkan bahwa mertua Anas, Attabiq, pernah membeli sebidang tanah seluas 200 meter persegi yang terletak di seberang jalan, berhadapan dengan pondok pesantren milik Kakak Attabiq.

“Beliau (Attabiq) membeli tanah di RT 10 dusun sini,” kata Kusnaini ditemui di rumahnya kemarin. Attabiq, kata Kunaini, membeli sebidang tanah milik Sukantini, yang dikuasakan kepada salah satu keluarganya. Namun Kusnaini mengaku tidak tahu persis siapa namanya. Karena tanah tersebut sudah bersertifikat akhirnya jual beli tanah ini diselesaikan lewat notaris atau pejabat pembuat akta tanah (PPAT) di Jalan Bantul. Kusnaini menceritakan, dulunya tanah tersebut berupa bangunan kios. Namun dalam setahun terakhir, keluarga Attabiq mulai membangunnya.

Kini, tanah tersebut berdiri bangunan empat lantai yang belum jadi. Tiga lantai menjulang di atas, sementara satu lantai berada dalam tanah. “Saya sendiri tidak tahu itu nantinya untuk apa,” ujar Kusnaini. Terkait nama-nama pemilik lahan lain seperti yang disampaikan juru bicara KPK Johan Budi, Kunaini mengaku tidak tahu menahu hal tersebut. Tetapi kemungkinan adalah pemilik lahan di lokasi yang berada berdekatan dengan rumah di barat jalan yang kini belum selesai dibangun tersebut.

Kusnaini mendengar ada tambahan tanah milik Mulyo Suwito yang sudah turun ke anak anaknya juga dibeli Attabik. Staf Bagian Pertanahan Desa Panggungharjo Sewon Bantul, Hermanu, membenarkan ihwal pembelian lahan 200 meter persegi oleh Attabik. Namun Hermanu tidak tahu persis siapa pemilik awal dan pemilik saat ini. Sebab tanah tersebut sudah bersertifikat sehingga urusan jual beli tanah tidak lewat desa tetapi langsung notaris. “Kami juga dapat info dari dusun, setelah KPK datang ke sini.

Namun, kalau sudah bersertifikat urusannya tidak lagi dengan desa tapi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN),” kata Hermanu. Hermanu mengakui bahwa sekitar dua bulan lalu ada petugas KPK yang datang ke Kantor Desa menanyakan perihal tanah milik Anas. Hemanu masih akan mencari data di kelurahan apakah ada transaksi jual beli tanah yang melibatkan Attabik Ali atau keluarganya, namun khusus untuk tanah yang belum bersertifikat.
_Menanggapi penyitaan asset oleh KPK, kuasa hukum Anas Urbaningrum, Handika Honggowongso menilai bahwa penyitaan aset hanya untuk melegitimasi sangkaan TPPU (tindak pidana pencucian uang ) terhadap kliennya. Sebab, langkah KPK menyita aset Anas tidak sesuai dengan tindak pidana awal yang disangkakan kepada Anas. /erfanto linangkung/ sindonews/ant

(nahimunkar.com)         

(Dibaca 786 kali, 1 untuk hari ini)