Hasan Al-Jaizy

Saya pernah bekerja di beberapa lembaga pendidikan. Pernah di kursusan independen (English) gratis berbasis masjid, pernah di les bahasa Inggris secara komersil, juga pernah di bimbel Islami. Yang pertama, murni dakwah dengan rekan-rekan yang ada nafas harokahnya (dan saya beda sendiri tapi itu urusan masing2). Yang kedua, ada sisi komersilitas bahkan kian lama lebih menitikberatkan komersilitas. Yang ketiga, dakwah di bawah naungan manhaj shahih dan ada sisi komersilitas.

Dari ketiganya, yang paling membuat hati tenang justru yang pertama. Yang diajar anak-anak kampung di Jakarta. Gratis.

Saya banyak belajar dari ketiganya. Alhamdulillah.

Ini bukan soal harakah atau bukan. Ini soal tarbiyah (pendidikan) dan hati. Justru komersilitas dalam pendidikan berpotensi (maaf) kemarukan, kurang syukur, kinerja melamban dan lebih berpatuk pada kuantitas. Ini tidak menyenangkan dan tidak menenangkan. Tapi itu pengalaman pribadi. Mungkin para pembaca punya pengalaman lain yang jauh lebih berharga.

Belajar dari itu semua, kami menjadikan majalis kami free bahkan kitab dibagikan. Dan dirasatnya harian. Tapi tentu dependant pada Allah Yang Maha Kaya kemudian pada orang-orang yang bersedia menderma. Tidak bisa sokong sendirian. Tidak mungkin.

Ekosistem yang saya canangkan: Saya punya materi (keilmuan) dan jasa transfernya sekaligus tarbiyah. Lalu saya mencari kekuatan dana dari orang-orang yang diberi kelebihan rejeki oleh Allah, biasanya secara random. Jadi saling sinergis. Dan perjanjian kita dengan Allah: tidak ‘nyemil’ dari dana muhsinin untuk kepentingan pribadi kecuali kitab (untuk maraji ke depannya) dan sisa makanan seperti sisa gorengan, saus dan sambal buat kami makan daripada mubadzir.

Ini sinergis.

Dan kami tidak menarik bayaran khusus dari hadirin, bahkan tidak memintanya secara langsung. Kalaupun ada kotak amal, itu dibagikan untuk masjid tempat kami belajar. Kalaupun ada sisa, maka semoga tidak masalah kami ambil; karena agreement kami kepada DKM: tidak semua uang kotak amal disetor ke masjid, melainkan boleh dimanfaatkan oleh pribadi pemateri. Itu pun kami tidak mengincarnya.

Kalau banyak pebisnis dan orang kaya lebih visioner lagi tentang umat dan akhirat, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan investasi untuk menghidupkan madrasah, kajian-kajian rutin yang dipercaya dan hal lain yang merupakan sumbu penting kebangkitan kaum muslimin. Berandil dalam kebangkitan umat puluhan tahun mendatang, adalah suatu pesona yang panennya nanti di akhirat. Manusia mungkin bisa luput mencatat dana masukan, dan biaya operasi madrasah atau majelis. Tapi semua perjuangan dan pengorbanan takkan luput dari pengawasan Allah Yang Maha Merajai.

Sepengalaman kami, mengeluh begitu saja bukanlah solusi, melainkan proses menimbun masalah dan kian membebani diri. Banyak orang ingin anaknya disekolahkan pintar dengan biaya murah, tapi sendirinya tidak mau ‘sekolah’ di kajian-kajian rutin yang bukan murah melainkan gratis. Ini kesalahan. Jika Anda ingin putra Anda pintar ilmu, maka Anda harus berusaha juga berilmu dan cari yang halal.

Saya melihat banyak anak-anak orang kaya tersiksa masa kecilnya dengan ‘belajar’. Jam belajar mereka overload. Pagi sampai siang, dituntut untuk menuntut ilmu di sekolah favorit. Sore masih harus dipaksa ikut les dan bimbel. Lebih-lebih hari jelang ujian akhir. Orang tua mereka mengira duit banyak adalah jalan satu-satunya menuju tarbiyah dan kesuksesan.

Hari Ahad pun tamasya, yang keluarkan uang banyak. Tapi depresi anak-anak tak terhindarkan. Saya melihat anak-anak orang kaya banyak yang akhlaknya buruk di luar sekolah dan luar rumah. Itu karena mereka ditekan dan tak didekati secara tulus. Mereka diplot untuk jadi orang pintar. Tapi secara cognitive saja. Teori saja. Secara sosial, anak-anak ini hilang kepekaan. Mereka sering lampiaskan kejenuhan dan depresi mereka di kursusan. Mereka kecewa dengan orang tua namun tidak mampu membahasakan, padahal mereka belajar dan memang pintar di sekolahnya.

Akhirnya guru bimbel bisa menjadi tempat curhat sekaligus tempat pembuangan kekesalan dan tekanan. Saya berasumsi anak-anak orang kaya yang miskin ini lebih butuh pada kelonggaran dan pendekatan orang tua.

Sekiranya orang tua mereka mau mengkiaskan diri mereka dengan anak-anak mereka ini di seusia mereka. Ditekan untuk full belajar. Walau dijemput oleh sopir, ojek dan lainnya sana-sini, mereka butuh berkicau di sore hari menceritakan tadi belajar apa, atau temannya punya tempat pensil baru, atau cerita riang lainnya di sore hari. Di sore hari. Tapi kerap mereka baru bisa cerita di akhir pekan. Itu pun kadang.

Saya takutkan kenakalan anak-anak pintar akan menjadi kejahatan orang-orang pintar. Faktanya, kejahatan orang pintar itu lebih masif dan lebih menyakitkan daripada kejahatan orang bodoh dan kurang asupan gizi.

Dan apakah supaya pintar, kita singkirkan saja moralitas dan religiusitas?

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.914 kali, 1 untuk hari ini)