Presiden Jokowi bertandang ke PBNU di Jakarta, Senin, 7 November 2016 sore. Dalam kesempatan tersebut, dia meminta masukan pasca Aksi Damai Bela Quran 4 November 2016 atau dikenal dengan aksi 411, langsung mendapat jawaban yang tegas dan telak.

“Menurut saya pernyataan Pak Ahok memang menyinggung perasaan umat Islam, tapi soal menista atau tidak kita serahkan kepada kepolisian,” tutur Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj.

Ketum PBNU juga mengimbau agar pemimpin berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan.

“Pemimpin tidak boleh berujar kalimat-kalimat kotor yang menimbulkan kontroversi bahkan melahirkan perpecahan. Seperti pepatah ‘keselamatan seseorang adalah dengan menjaga lisannya’,” imbuhnya lagi.

PBNU pun menyesalkan sikap pemerintah yang lamban dalam melakukan komunikasi politik dengan rakyat dan para ulama. Demikian berita di portalpiyungan.

Ditangkap dan Dipenjarakan karena Dianggap Menyinggung Masyarakat “Menurut saya pernyataan Pak Ahok memang menyinggung perasaan umat Islam”. Pernyataan Said Aqil itu menjadi tepat ketika diiringi sikap: PBNU pun menyesalkan sikap pemerintah yang lamban dalam melakukan komunikasi politik dengan rakyat dan para ulama.

Dalam kasus menyinggung perasaan umat Islam ini coba mari kita bandingkan sejenak dengan pengalaman saya (Hartono Ahmad Jaiz) yang menjadi saksi kasus ditangkapnya seorang aktivis PII, seorang da’i yang juga PNS dari Makassar Sulawesi Selatan tahun 1996-an.

Tiba-tiba aktivis da’wah itu ditangkap di Jakarta, saya pun dihadirkan ke polisi di Menteng Jakarta Pusat untuk jadi saksi, kemudian beberapa waktu selanjutnya saya dihadirkan untuk jadi saksi di pengadilan Jakarta Pusat.
Kenapa?

Begini jalan peristiwanya.

Di Gedung Muhammadiyah Menteng Jakarta ada seminar saat itu. Saya hadir sebagai wartawan koran nasional Harian Pelita. Dalam sesi tanya jawab, peserta yang dari Sulsel ini berbicara di antaranya mengemukakan gejala keprihatinan merosotnya moral akhlaq generasi muda. Beberapa contoh dikemukakan, di antaranya dia sebagai da’i prihatin, kemudian menyebut gejala pergaulan anak-anak sekolah dengan para turis di suatu kabupaten di Sulawesi yang sudah pada tingkat memprihatinkan. Sekian persen diduga mereka berzina dengan para turis. Masalah moral generasi ini sudah sangat memprihatinkan, menurutnya.

Kemudian ungkapannya itu dimuat di Harian Pelita. Dua atau tiga hari kemudian terjadi demo ke kantor Harian Pelita di wilayah Duku Atas Jakarta waktu itu. Masyarakat di Jakarta dari kabupaten yang disebutkan aktivis itu tadi merasa tersinggung dengan ungkapan aktivis tersebut. pendemo pun bergerak pula ke Departemen Penerangan yang menterinya Harmoko saat itu.

Aktivis tersebut langsung ditangkap, dan masih ada di Jakarta. Kemudian polisi dari Sulawesi didatangkan ke Menteng, dan saya didatangkan untuk jadi saksi. Tidak berapa lama kemudian aktivis itu diadili, saya dipanggil jadi saksi pula. Dia divonis penjara, kemudian dia harus meringkuk di dalam penjara di Jakarta.

Setelah selesai menjalani hukuman penjara, dia lalu datang untuk silaturahim ke kantor Harian Pelita, menemui saya juga, dan tiada dendam apa-apa. Dia dipenjara ya tidak menyesal, karena orang merasa tersinggung dengan ucapannya, suatu resiko dalam kehidupan. Dan tidak bersungut ke saya, karena memang yang saya beritakan ya yang dia ucapkan.

Semuanya terjadi dengan wajar: Dianggp menyinggung perasaan masyarakat, ditangkap, diadili kemudian dipenjara. Tidak bertele-tele.

Sebagai catatan tambahan, yang dipenjara itu aktivis Islam. Sedang yang merasa tersinggung itu masyarakat mayoritas Kristen.

Berbeda dengan kasus Ahok tahun 2016. Yang sangat tersinggung adalah Umat Islam, tingkat se-Indonesia bahkan sampai manca negara. Sedang Ahok pelaku yang telah menyinggung perasaan umat Islam itu adalah orang Kristen keturunan Cina. Kejadiannya di saat Umat Islam disuguhi pemandangan aneh, di antaranya para pembakar Masjid di Tolikara Papua justru diundng ke Istana di Jakarta. Sehingga kekecewaan dan ketersinggungan umat Islam makin menumpuk. Polisi pun sikap dan cara kerjanya tidak seperti yang digambarkan pada kasus yang menimpa aktivis Islam tersebut.

Allahul Musta’an. Wa laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil adhiim.

ilustrasi, jeruji/alsofwa

Via Fb Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 7.181 kali, 1 untuk hari ini)