Ilustrasi aliran menyimpang. (net)


Mereka membuat-buat tata cara ibadah haji yaitu hanya dengan mengelilingi empang (kolam) dianggap sudah menunaikan ibadah haji. Mereka itu apakah tidak takut ancaman neraka dari Allah Ta’ala. Sedangkan Allah telah menegaskan:

{أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (21) تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ} [الشورى: 21، 22]

21. Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih

22. Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar [Asy-Syura,21-22]

Inilah beritanya.

***

Aneh, Ritual Ibadah Haji di Kronjo Cuma Kelilingi Empang

Tangerang, Ajaran-ajaran kepercayaan yang menyimpang terus bermunculan di Indonesia. Bahkan di Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang ditemukan tata cara ibadah haji yang menyimpang dari ajaran Islam.

“Kita sudah berupaya mencegah meluasnya aliran di Kronjo. Di sana ada ritual dengan cara keliling empang sudah bisa melaksanakan ibadah haji,” kata Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nuralam, dalam sosialisasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat di Tigaraksa, Rabu (27/7/2016).

Ia mengaku, sejauh ini perwakilan MUI yang tersebar di 29 Kecamatan selalu proaktif melakukan pengawasan dan pembinaan. Terlebih, Kementerian Agama melansir ada 300 aliran kepercayaan yang menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam.

“Di Kabupaten Karawang juga ada aliran yang menganut ibadah salawatan diiringi dangdut dan tidak mewajibkan salat subuh. Ini harus dicegah,” kata dia.

Sementara Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang, Firdaus untuk menangkal berkembangnya aliran menyimpang itu diperlukan peran serta masyarakat, terutama tokoh agama.

“Para tokoh agama bisa memberikan pemahaman dan kesadaran tentang nilai-nilai ajaran yang baik dan benar, yang sesuai dengan tuntunan dan syariat Islam,” tandasnya.

Diketahui, kegiatan itu juga dihadiri perwakilan Kesbangpol Kabupaten Tangerang, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan tokoh masyarakat serta ulama. (day/one) PalapaNews.com – Diterbitkan  Kamis, 28 / 07 / 2016 11:00

***

Sekitar 300 Aliran Kepercayaan yang Menyimpang

Ada aliran di Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, bahwa sekelompok orang mengelilingi empang (kolam) dan mengganggap sudah menunaikan ibadah haji.

Seperti dilansir Antara, Sekretaris MUI Kabupaten Tangerang, Nuralam mengatakan pihaknya proaktif melakukan pembinaan kepada warga untuk menangkal ajaran menyimpang tersebut.

Nuralam menambahkan data dari Kementerian Agama bahwa terdapat sekitar 300 aliran kepercayaan yang dianggap menyimpang dari nilai ajaran Islam.

Sebagai contoh di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, katanya, ada aliran salawatan diiringi musik dangdut dan para pengikut tidak wajib shalat subuh.

Demikian pula ada aliran di Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, bahwa sekelompok orang mengelilingi empang (kolam) dan mengganggap sudah menunaikan ibadah haji.

Pihak MUI setempat telah melakukan pembinaan terhadap pengikut ajaran tersebut, dengan cara menyadarkan agar mereka mengikuti perintah agama Islam yang benar dan tidak menyimpang.

Padahal sebelumnya, aparat Polresta Tangerang dan MUI setempat berupaya untuk mencegah radikalisme agar tidak tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

Kapolresta Tangerang Kombes Pol Asep Edi Suheri mengatakan biasanya pemahaman tentang agama yang dangkal perlu ada upaya pencerahan dari ulama.

Asep mengatakan warga yang kurang pemahaman tentang agama, biasanya dengan mudah terpengaruh apabila ada seseorang yang mengajak untuk bertindak radikalisme.

Dia mengatakan agar paham radikalisme tidak tumbuh dan berkembang dengan subur perlu ada upaya pencegahan, maka perlu peran penting ulama dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat.

(Anu)/megapolitan.harianterbit.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.149 kali, 1 untuk hari ini)