Ditengarai, Pelajaran Agama Bakal Digusur dari Sekolah

… rencananya, Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, serta pendidikan karakter berbasis agama dan Pancasila menjadi mata pelajaran (mapel) utama di SD.

Perlu diperhatikan, yang disebut Pendidikan karakter itu, walau dikatakan berbasis agama dan pancasila, namun itu jelas bukan pendidikan/pelajaran agama. Itu boleh jadi merupakan trik menghapus pendidikan/ pelajaran agama dari sekolah.

Bila kurikulumnya diubah dengan menggusur pendidikan agama dari sekolah, berarti benar-benar melanggar tujuan pendidikan yang telah dicanangkan dalam UU Sisdiknas No 20Tahun 2003 yang tujuannya untuk menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia…

Apakah bisa, pendidikan tanpa pendidikan agama, mau mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia… ?

Apakah itu menunjukkan adanya semacam alergi agama?

Sejumlah pertanyaan pun mungkin akan muncul dari masyarakat, dengan adanya ketidak berbobotan fikiran (serta buta terhadap Undang-undang namun mengatur negara?) yang disasarkan ke bidang pendidikan untuk seluruh Indonesia ini.

 

 

Prihatin soal Menteri Pendidikan


ILustrasi foto slideplayer.info

 

Mengatur negara itu pakai undang2. Ketika sudah ada undang2 tapi tampaknya belum tentu digubris, maka pendidikan yang (dalam UU Sisdiknas) tujuannya untuk menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia… tapi ternyata kementrian pendidikan diserahkan ke orang yang agamanya saja jadi pertanyaan banyak orang.

Ini bagaimana?

https://www.nahimunkar.org/prihatin-soal-menteri-pendidikan/

Selanjutnya, silakan simak ini.

***

 

 

 

 

Kurikulum Bakal Berubah Lagi : Bahasa Inggris SMP-SMA Dihapus, SD 5 Mata Pelajaran


JAKARTA –, Kurikulum pendidikan di tanah air nampaknya bakal berubah lagi.

Hal itu terungkap saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengundang sejumlah organisasi guru ke kantornya. Dia ingin mendengar cerita dan solusi masalah pendidikan tanah air dari para guru.

Dalam pertemuan pada 4 November itulah muncul wacana mengubah kurikulum. Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim ikut hadir dan berdiskusi dalam acara itu.

Menurut dia, rencananya, Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, serta pendidikan karakter berbasis agama dan Pancasila menjadi mata pelajaran (mapel) utama di SD.

“Karena itu, mapel bahasa Inggris dihapus untuk SMP dan SMA. Sebab, sudah dituntaskan di SD,” kata Ramli.

Pembelajaran bahasa Inggris yang dimaksud Nadiem, lanjut dia, lebih fokus mengajarkan percakapan. Bukan tata bahasa.

Kemudian, untuk SMP tidak boleh lebih dari lima mapel yang diajarkan kepada siswa. Sedangkan di SMA, maksimal enam mapel tanpa penjurusan.

“Bagi siswa yang ingin fokus pada keahlian tertentu dipersilakan memilih SMK,” terang Ramli, menirukan ucapan Nadiem.

Karena SMK fokus mengajarkan keahlian tertentu, muncul wacana untuk menggunakan sistem SKS (Satuan Kredit Semester).

Dengan begitu, siswa yang dianggap pintar dan lebih cepat menguasai keahlian tertentu bisa lulus setelah dua tahun menempuh pembelajaran di sekolah. Sedangkan siswa yang lambat menyerap ilmu bisa sampai 4 tahun untuk lulus.

Menurut Ramli, Nadiem bahkan mengusulkan ujian kelulusan SMK tidak hanya normatif. Lebih ke praktis untuk mengukur ketrampilan dan keahlian siswa. “SMK tidak boleh kalah dari Balai Latihan Kerja yang hanya tiga, enam, atau 12 bulan saja,” ujarnya.

Sementara itu, Nadiem mengungkapkan bahwa dirinya hanya mengikuti arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meningkatkan dan mengelola sumber daya manusia Indonesia agar lebih maju. Menurut dia, mengubah kurikulum itu bukan hanya mengubah konten.

Esensinya adalah menyederhanakan dan mengubah cara penyampaian materi kepada siswa untuk tidak hanya sekadar menghafal.

“Dan itu adalah PR (pekerjaan rumah) saya untuk bisa mengubahnya. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa diubah dalam waktu cepat. Butuh pemikiran yang sangat matang dan butuh masukan dari para guru dan pihak lain. Jadi, penyempurnaan, penyederhanaan, dan perubahan kurikulum itu saya mengacu pada guru,” beber mantan bos Goj-Jek itu. Sebab, kata Nadiem, guru yang paling mengetahui apa yang dibutuhkan siswa-siswanya.

Menurut dia, guru-guru era sekarang sudah canggih. Mampu menggunakan teknologi sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan teknologi, guru bisa bebas memilih konten seperti apa yang cocok dengan materi pelajaran. Dengan begitu, banyak inovasi akan muncul.

Dari momen-momen tersebut bisa memicu pemerintah daerah untuk menggelar pelatihan guru berbasis teknologi. Dengan memanfaatkan teknologi, pembelajaran bisa menjadi lebih efisien dan fleksibel.

“Namun yang perlu diingat, teknologi tidak bisa menggantikan peran seorang guru. Karena pembelajaran yang sesungguhnya adalah adanya koneksi batin guru dan siswa. Teknologi adalah alat, bukan segalanya,” jelasnya.

Nadiem membenarkan, dalam pertemuan dengan beberapa organisasi guru itu, banyak guru yang ingin bebas dan merdeka untuk memberikan yang terbaik kepada siswanya. Dalam arti, mereka tidak dibebani tugas yang sifatnya administratif.

“Kalau kebanyakan tugas untuk guru itu soal administratif (seperti sertifikasi atau kenaikan pangkat), tentunya waktu untuk anak dan energi akan terkuras. Itu yang harus dipikirkan,” beber Nadiem. (han/oni)

radarbogor.id/ 18 November 2019

Ilustrasi foto ytb

***

Cara menghapus pendidikan agama?

Mari kita ulangi kalimat ini:

Menurut dia, rencananya, Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, serta pendidikan karakter berbasis agama dan Pancasila menjadi mata pelajaran (mapel) utama di SD.

Pendidikan karakter itu, walau disebut berbasis agama dan pancasila, namun itu jelas bukan pendidikan agama. Itu boleh jadi merupakan trik menghapus pendidikan agama dari sekolah.

 

(nahimunkar.org)



 

(Dibaca 383 kali, 1 untuk hari ini)