Isu persyaratan masuk BUMN yang melarang Jilbab syar’i beredar luas. Dimulai dari media sosial kemudian merebak ke pemberitaan media online dan cetak. (Jilbab yang dibolehkan adalah Jilbab batas leher, artinya Jilbab yang panjang melebihi batas leher dilarang).

Detikcom kemudian membuat tulisan dengan judul “Kisah Hoax Isu Jilbab di Kementerian BUMN yang Ramai di Media Sosial“.

Dwi Estiningsih (@estiningsihdwi, seorang psikolog di Yogyakarta) yang merupakan pihak PERTAMA yang meng-upload foto di twitter ini memberikan penjelasan detil melalui akun twitternya, Kamis (18/12/2014).

Berikut twit dari @estiningsihdwi (kami beri nomor biar mudah dibaca):

1. Berita tentang postingan gambar saya tempo hari ternyata mendapat respon yang sangat luas. Saya ingin memperjelas beberapa hal.

2. Ini satu-satunya fotonya yg saya tweet. Tanpa identitas apapun. “Kriteria rekruitmen SEBUAH bumn”

B5IrrLHCUAAtmUJ.jpg large

3. Foto itu asli, benar adanya yaitu FORM dan CATATAN untuk ASESOR (Penilai). BUKAN pengumuman. Saya ulangi… BUKAN selebaran atau sejenis.

4. Kriteria yg tercantum adl seleksi bagi frontliner. Masalahnya adl deskripsi kompetensi yg berisi hal-hal TENDENSIUS dan DISKRIMINATIF.

5. Frontliner tsb berkesempatan luas MEMBANGUN KARIR, dlm jangka waktu tertentu stlh bertugas, berpotensi punya POSISI STRATEGIS (promosi)

6. Oleh karena itu kriteria seleksi melibatkan beberapa tahap yang ketat.

7. Untuk keterangan foto akan saya jelaskan belakangan… Yang sabar ya… 🙂

8. Saya TIDAK PERNAH menyebut MENTERI manapun dalam tweet saya. Bisa dicek.

9. Saya menaruh hormat kepada segenap pejabat penyelenggara Negara termasuk para menteri khususnya yg saya muliakan, Bu Rini.

10. Benar bahwa rekrutmen dilaksanakan pada saat pemerintahan yg baru, namun sy tdk pernah katakan ini adl perintah dari Bu Menteri. Bisa dicek.

11. Saya TIDAK pernah bertemu WARTAWAN.

12. Masalah Telpon yg tdk sy angkat. Terlalu banyak nomer asing yg mengirim sms teror juga telpon ancaman. Nomer keluarga yg pasti sy angkat.

13. Untuk Koran NonStop (media cetak yang memuat berita tentang soal ini -red), Saya tdk pernah berhubungan dengan koran ini.

14. Saya menghargai rekan wartawan yg memberi perhatian. Mohon maaf bila sy tdk bisa memberikan banyak informasi.

15. Tujuan saya tweet foto tsb adl utk membuka mata masyarakat bahwa masih terjadi diskriminasi di sekitar kita.

16. Harapan saya adl subjek pelaku dan masyarakat sadar bahwa hal yg SUDAH BERLAKU UMUM ini tidak bisa dibiarkan berlangsung terus menerus.

17. Saya berharap banyak pihak akan ikut BERSUARA dan BERBAGI tentang perlakuan DISKRIMINASI di sekitarnya.

18. Saya merasa perkara kriteria yg TENDENSIUS dan DISKRIMINATIF ini bukan hal yang sepele.

19. SAYA MERASA PRIHATIN, terutama berkaitan dengan:
a. MASYARAKAT UMUM
b. PEMERINTAH
c. REKAN SEPROFESI (psikolog -red)

20. #Masyarakat umum harus disadarkan bahwa mereka, siapapun mempunyai HAK yang sama untuk dapat mengakses sumber-sumber penghidupan.

21. #Masyarakat umum harus disadarkan bahwa mereka bisa BERAKTUALISASI DIRI dengan difasilitasi oleh NEGARA… SIAPAPUN! TANPA TERKECUALI!

22. #Pemerintah ~ Saya yakin telah berusaha terapkan KEADILAN SOSIAL BAGI RAKYAT, hanya sistem & pelaksanaan masih perlu perhatian serius.

23. Harapan utk #Pemerintah ~ Mendukung & menciptakan iklim agar hilang perlakuan DISKRIMINATIF pd seluruh lembaga pemerintahan ataupun swasta.

24. Saya tidak ingin rekan-rekan #psikolog “terpaksa” secara tidak langsung diminta untuk mendukung terlaksananya hal-hal DISKRIMINATIF.

25. Harapan saya rekan-rekan #psikolog memberanikan diri menolak DISKRIMINASI vendor/user atau pihak manapun. Dan mengedukasi pengguna jasa.

26. Saya tidak ingin profesi #psikolog direndahkan.

27. Untuk kisah #foto lebih lanjut…

28. Saya sudah menulis kronologi beserta bukti dokumen.

29. Berkas yg ada sy mintakan pertimbangan pada “orangtua” yg bisa saya percaya.

30. Saya sedang menunggu saran & pertimbangan dari Kyai & alim ulama. Semoga Allah memudahkan langkah ini… Aamiin.

31. Selalu teringat pesan #Ibu… Banyak orang berlomba-lomba ber-“Amar Makruf”, tapi takut ber-“Nahi Mungkar”.

Demikian penjelasan @estiningsihdwi yang sampai berita ini dibuat, belum membeberkan lebih lanjut tentang “KISAH FOTO” yang lebih detil. @estiningsihdwi sudah menulis kronologis beserta BUKTI DOKUMEN tetapi Bu Esti masih menunggu pertimbangan “orang tua” apakah akan disampaikan ke publik atau bagaimana baiknya.

By: pkspiyungan.org/Jumat, 19 Desember 2014

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.795 kali, 1 untuk hari ini)