Ditunggu! Fatwa MUI tentang Haramnya Komunisme dan Salam Oplosan (Salam Islam Dilanjutkan dengan Salam-salam Agama Lain)

(Silakan klik di judul-judul biru tersebut)

Adapun hukum salam oplosan (Salam Islam Dilanjutkan dengan Salam-salam Agama Lain) yang sering dilakukan orang2 yang mengku Islam tapi sama sekali tidak menjaga keyakinan Islamnya, maka sudah diperingatkan oleh MUI Jawa Timur (MUI Jawa Timur Imbau Pejabat Muslim Tidak Ucapkan Salam Lintas Agama)

, namun kelihatannya mereka malah nekat, dan bahkan ada ketua Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama, Mukhlis Hanafi membela salam oplosan yang rawan kemusyrikan dan kemurtadan itu. (Aneh, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama, Membela Salam Oplosan Agama?)

Bahkan ada juga yang mengusulkan agar dipakai saja ‘salam pancasila’ (untuk mengganti dan membuang salam Islam?)

***

Bila ‘Salam Pancasila’ dan ‘Salam Oplosan’ untuk Ganti Salam Akhir Shalat

Posted on 11 Agustus 2020

by Nahimunkar.org

Ada orang yang mengusulkan agar salam Islam ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ diganti dengan Salam Pancasila. Alasannya ya dia bikin-bikin sekenanya.

Yudian Ketua BPIP/ Rektor UIN Jogja Usulkan Ganti Assalamu’alaikum dengan Salam Pancasila?
https://www.nahimunkar.org/yudian-ketua-bpip-rektor-uin-jogja-usulkan-ganti-assalamualaikum-dengan-salam-pancasila/

Ada pula orang-orang yang mengamalkan dalam membuka pidatonya dengan salam oplosan. Itu terjadi di mana-mana. Yaitu salam Islam ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain.

Salam Oplosan Mencopot Iman, Miras Oplosan Mencopot Nyawa

Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang

 OKT 22

Salam ‘Oplosan’ Merusak Iman dalam Pidato dan Doa pada Sidang Tahunan MPR 16 Agustus 2019

https://www.nahimunkar.org/salam-oplosan-merusak-iman-dalam-pidato-dan-doa-pada-sidang-tahunan-mpr-16-agustus-2019-2/

Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang monothetisme itu sangat dikecam oleh Hindu.
Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010) menyatakan: “Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).
Oleh karena itu, orang Islam yang mengucapkan salam Hindu, Om Swastiastu (yang itu kental dengan ketuhanan Hindu) maka dapat mengeluarkannya dari Islam alias bisa murtad dan musyrik. Na’udzubillahi min dzalik! Bila meninggal dalam keadaan tetap belum bertaubat, bila terhitung musyrik, maka haram masuk surga, dan kekal di nereka. Na’udzubillahi min dzalik!

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Walaupun sama-sama sangat berbahaya antara salam oplosan dengan miras oplosan, namun sejatinya lebih berbahaya salam oplosan, karena jatuhnya ke syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya, yang itu dosa paling besar dan tidak diampuni bila meninggal dalam keadaan belum bertaubat.

https://www.nahimunkar.org/salam-oplosan-mencopot-iman-miras-oplosan-mencopot-nyawa/

Orang-orang yang mengamalkan salam oplosan ataupun mengusulkan untuk mengganti salam Islam dengan salam Pancasila itu sudah ‘lancang pangucap’ (Bahasa Jawa, lancang dalam berkata-kata). Sudah menginterupsi, menginovasi, dan mengintervensi agama Islam yang itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada yang berhak untuk mengaduk-aduk semaunya, apalagi memasukkan hal-hal yang sangat bertentangan dengan Islam.

Itu disamping ‘lancang pangucap’, masih pula mengubah kayakinan Islam, dari Tauhid (menyembah hanya kepada Allah Ta’ala) menjadi syirik (menyekutukan Allah dengan lain-Nya). Satu kemunkaran terbesar alias paling puncak. Makanya bila sampai meninggal belum bertaubat, akibatnya masuk neraka selama-lamanya dan haram masuk surga, seperti telah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maaidah ayat 72 di atas.

Konsekuensi logis dari orang yang mau mengganti Assalamu’alaikum dengan salam Pancasila maka ketika dia mengakhiri shalatnya atau bahkan jadi imam shalat, maka shalatnya ditutup dengan ‘Salam Pancasila (toleh kanan), ‘Salam Pancasila’ (toleh kiri).

Astaghfirulaah… Astaghfirullaah… Astaghfirullaah…

Demikian pula konsekuensi logis dari orang yang mengamalkan salam oplosan dalam membuka pidato-pidatonya, maka seperti imam besar Masjid Istiqlal Jakarta Nasaruddin Umar (wong NU), Ketua Lajnah Pentashihan Al-Qur’an Kementerian Agama Mukhlis Hanafi (wong NU juga, sebagaimana Yudian Wahyudi pengusul salam Pancasila itu juga wong NU pula), Mukhlis Hanafi menulis pembelaan terhadap Salam Oplosan di media Kemenag, dan siapa saja yang berbuat lancang begitu itu, ketika mereka mengakhiri shalatnya atau bahkan jadi imam shalat, (konsekuensi logisnya) maka shalatnya ditutup tidak cukup dengan yang biasa dalam Islam yaitu ‘Assalamu’alaikum warahmatullaah’, tetapi masih dilanjutkan dengan salam agama Hindu (yang aqidahnya tidak sama dengan Islam tersebut) dan salam-salam agama lain. Maka sempurnalah praktek amalan kemusyrikan mereka.

Dari konsekuensi logis seperti itu akan lebih sempurna lagi, ketika dipimpin oleh ulamanya (wong NU juga) yang telah bertekad menerapkan Islam Nusantara.

Di Depan Partai Nasdem, Ma’ruf Amin Janji Terapkan Islam Nusantara Jika Terpilih

 

Posted on 17 September 2018

by Nahimunkar.org
https://www.nahimunkar.org/di-depan-partai-nasdem-maruf-amin-janji-terapkan-islam-nusantara-jika-terpilih/

 

Ketika sudah begitu, konsekuensi logisnya pula, maka Dzikir pagi dan petangnya, di antaranya diganti dengan:

 

Rodhiitu bi…. robban

 

Wa bi… (Islam Nusantara) diinan

 

Wa bi…. nabiyyan

 

 

Komplitlah sudah dalam merusak agama secara ramai-ramai menggunakan kekuasaan yang duit gaji mereka disedot dari rakyat yang penduduknya mayoritas Muslim, bahkan jumlah penduduk Muslimnya terbesar di dunia. Betapa mengerikannya…

 

Na’uudzubillaahi min dzalik!

 

(nahimunkar.org)

***

Mari kita simak artikel mengenai haramnya gunakan salam agama selian Islam berikut ini.

***

Hukum Salam Menggunakan Ucapan Salam non-Muslim


Salah satu syiar Islam adalah menebar salam kepada sesama muslim sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam

Jangan Berlebihan dalam Toleransi

Sebagian kaum muslimin ada yang menggunakan salamnya dengan menggabungkan salamnya muslim dan salam non-muslim. Tujuan utamanya adalah ingin menunjukkan toleransi dan ingin menyapa lebih hangat. Hal ini TIDAK diperkenankan oleh syariat dengan alasan:

  1. Seorang muslim mencukupi diri dengan salam mereka saja sesama muslim
  2. Salam non-muslim terdapat pengangungan terhadap agama atau tuhan mereka, tentu ini melanggar prinsip dasar tauhid dan aqidah seorang muslim
  3. Apabila tujuannya ingin toleransi, maka cukup menggunakan salam secara bahasa semisal “selamat pagi atau selamat malam”. 
  4. Apabila kita menggunakan salam secara Islam saja karena kita negara mayoritas Islam, maka hal ini tidak lah mengapa, walaupun ada juga yang tidak bergama Islam. Selama kita bermaksud menujukan salam keselamatan pada muslim saja. Selama ini, inilah yang berjalan dan tidak merusak toleransi sama sekali.

Baca Juga: Toleransi Bukan Berarti Korbankan Akidah

Bolehkah Memulai Salam kepada non-Muslim?

Hukum asalnya seorang muslim tidak boleh memulai salam kepada non-muslim. Apabila memulai salam saja tidak boleh, maka apalagi salam menggunakan salam non-muslim?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ 

“Janganlah kalian memulai kaum Yahudi dan jangan pula kaum Nashrani dengan ucapan salam.” [HR. Muslim]

An-nawawi menjelaskan,

قال بعض أصحابنا يكره ابتداؤهم بالسلام و لا يحرم، وهذا ضعيف، لأن النهي للتحريم فالصواب تحريم ابتدائهم

“Sebagian dari ulama mazhab menyatakan makruhnya memulai salam (kepada orang kafir), tidaklah diharamkan. Pendapat ini lemah, karena (konteks) larangan menunjukkan keharaman. Yang benar adalah haram memulai salam kepada mereka.” [Al-Azkar 1/323]

Baca Juga: Bukti Toleransi Islam Terhadap Agama Lainnya

Bolehkah Mendahului Salam dengan Ucapan Umum?

Perlu diketahui agama Islam bukanlah agama yang kaku total, para ulama menjelaskan bahwa boleh mendahului salam apabila ada kebutuhan dan mashlahat yang lebih besar, akan tetapi salamnya TIDAK menggunakan salam non-muslim. Gunakan salam secara bahasa misalnya selamat pagi, selamat malam atau selamat datang. Dalam al- Mausu’ah al-Fiqhiyyah disebutkan,

وإذا كانت هناك حاجة داعية إلى بدء الكافر بالتحية فلا حرج فيها حينئذٍ ، ولتكن بغير السلام ، كما لو قال له : أهلاً وسهلاً أو كيف حالك ونحو ذلك . لأن التحية حينئذ لأجل الحاجة لا لتعظيمه .

“Apabila ada kebutuhan/hajat untuk memulai salam, maka tidaklah mengapa, akan tetapi tidak menggunakan salam (doa keselamatan). (boleh) Mengatakan  ‘ahlan wa sahlan’ (selamat datang), ‘Kaifa haluk’ (bagaimana kabar) dan sejenisnya. Salam saat itu karena ada hajat, bukan untuk menghormati berlebihan’.” [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah 25/168]

Demikian juga penjelasan Ibnul Qayyim

و قالت طائفة – أي من العلماء – : يجوز الابتداء لمصلحة راجحة من حاجة تكون إليه ، أو خوف من أذاه ، أو لقرابة بينهما ، أو لسبب يقتضي ذلك

 “Sebagian ulama menjelaskan, boleh mendahului salam karena ada mashlahat yang lebih besar, misalnya ia membutuhkannya, takut dari gangguannya atau karena ada hubungan kerabat atau sebab lain yang menuntut ia harus memulai salam.” [Zadul Ma’ad 2/424]

Baca Juga: Menyoal Kembali Arti Toleransi Dalam Momentum Perayaan Natal

Macam-Macam Salam non-Muslim

Apabila kita melihat arti dan makna salam milik non-muslim tersebut, maka terdapat makna pengagungan terhadap agama mereka dan tuhan mereka.misalnya:

Salam Agama Hindu:
Om Swastyastu artinya ‘Semoga Selamat dalam Lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa’

Salam Agama Budha:
Namo Buddhaya artinya ‘Terpujilah Semua Buddha’

Salam Agama Kristen:
Shalom artinya ‘Keselamatan’. [Sumber: FB ustadz Dony Arif Wibowo]

Tentu hal ini tidak tepat dan sangat fatal, kita meminta doa perlindungan dan keselamatan dengan tuhan selain Allah.

Menggunakan Salam Islam kepada non Muslim?

Kemudian perhatikan poin ke-4:

“Apabila kita menggunakan salam secara Islam saja karena kita negara mayoritas Islam, maka hal ini tidak lah mengapa, walaupun ada juga yang tidak bergama Islam, selama kita bermaksud menujukan pada muslim saja. Selama ini, inilah yang berjalan dan tidak merusak toleransi sama sekali.”

Secara hukum hal ini diperbolehkan, sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani,

جواز السلام على المسلمين إذا كان معهم كفار وينوي حينئذ بالسلام المسلمين.

“Bolehnya mengucapkan salam  kepada kaum muslimin apabila bersama mereka orang kafir dan berniat salam itu hanya untuk muslim saja.” [Fathul Bari 8/230]

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau seribu masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen/ dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK 

 

Artikel www.muslim.or.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 87 kali, 1 untuk hari ini)