DKI Jakarta Kembali Berlakukan PSBB 14 Sept, Ini Aturan untuk Kegiatan di Rumah Ibadah

  • “Rumah ibadah di kampung, di komplek yang digunakan oleh masyarakat dalam kampung itu sendiri masih boleh buka,” kata Anies dalam jumpa pers di Gedung Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (9/9).
  • Tetapi untuk masjid raya yang jemaahnya datang dari mana saja, sementara ini kembali ditutup.

     

    Ilustrasi (Rifkianto Nugroho/detikcom)

 

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, memutuskan kembali menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Anies memutuskan menarik rem darurat setelah melihat kasus positif Covid-19 terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

PSBB akan kembali diterapkan pada 14 September nanti. Salah satu yang diatur terkait kegiatan di rumah ibadah.

“Untuk tempat ibadah akan ada sedikit penyesuaian. Warga setempat masih boleh digunakan asal menerapkan protokol kesehatan. Rumah ibadah di kampung, di komplek yang digunakan oleh masyarakat dalam kampung itu sendiri masih boleh buka,” kata Anies dalam jumpa pers di Gedung Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (9/9).

Tetapi untuk masjid raya yang jemaahnya datang dari mana saja, sementara ini kembali ditutup.

“Rumah ibadah raya yang jemaahnya datang dari mana-mana bukan dari dari lokasi setempat seperti masjid raya tidak diperbolehkan untuk dibuka, harus tutup. Di situ terjadi potensi interaksi yang ada potensi penularan ” jelasnya.

Meskipun masjid di sekitar tempat tinggal warga tetap diperbolehkan buka, Anies memberikan pengecualian.

“Perkecualian kawasan yang memiliki jumlah kasus yang tinggi kawasan-kawasan itu, ada datanya RW-nya, maka kegiatan beribadah harus dilakukan di rumah saja,” katanya.

“Meski begitu izinkan saya menganjurkan untuk lebih baik semua dikerjakan di rumah,” sambung Anies.


Kegiatan Pengumpulan Massa Tidak Boleh

Selain itu, Anies juga melarang warga melakukan kegiatan yang bersifat mengumpulkan warga atau menimbulkan kerumunan massa.

“Karena ingat, penularan itu ada dalam kegiatan-kegiatan komunitas besar, kumpul-kumpul seperti reuni pertemuan keluarga dan lain-lain yang sifatnya mengumpulkan orang dari berbagai tempat sebaiknya ditunda,” jelasnya.

“Ingat penularan di acara seperti ini potensinya sangat besar dan bila kita merasa aman merasa nyaman di acara seperti ini hanya karena kita kenal dengan orang lain potensi penularannya tetap tinggi,” tutupnya.

[lia]

Merdeka.com  Rabu, 9 September 2020 20:59Reporter Nur Habibie

 

(nahimunkar.org)